Posted by: izoruhai on: December 29, 2006
Diakui atau tidak, krisis multidimensional yang melanda negeri ini membuka mata kita terhadap mutu pendidikan manusia Indonesia. Pun dengan sumber daya manusia hasil pendidikan yang ada di negeri ini. Memang, penyebab krisis itu sendiri begitu kompleks. Namun tak dipungkiri bahwa penyebab utamanya adalah sumber daya manusia itu sendiri yang kurang bermutu. Jangan harap bicara soal profesionalisme, terkadang sikap manusia Indonesia yang paling merisaukan adalah seringnya bertindak tanpa moralitas.
Dalam sebuah penelitian, diuangkapkan bahwa produktivitas manusia Indonesia begitu rendah. Hal ini dikarenakan kurang percaya diri, kurang kompetitif, kurang kreatif dan sulit berprakarsa sendiri (=selfstarter, N Idrus CITD 1999). Tentunya, hal itu disebabkan oleh sistem pendidikan yang top down, dan yang tidak mengembangkan inovasi dan kreativitas.
Dalam sebuah seminar yang bertajuk “Seminar Nasional Kualitas Pendidikan dalam Membangung Kualitas Bangsa” salah satu pembicaranya yakni Drs Engkoswara, M.Pd., dosen Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, menegaskan bahwa, memang dewasa ini, sepertinya pendidikan seakan mengalami kemajuan dengan pertumbuhan sarjana, pascasarjana hingga doktor di berbagai bidang dan munculnya gedung-gedung sekolah hingga perguruan tinggi yang cukup mewah. Sayangnya, hingga kini pendidikan tidak bisa diakses secara merata oleh penduduk Indonesia.
Seiring dengan itu, tokoh cendikiawan muslim, Nurcholis Madjid mengakui bahwa, di Amerika, Jepang dan negara-negara lain baik di Asia dan Eropa, perkembangan pendidikan hampir merata. Sebab, anggaran yang dialokasikan ke pendidikan besar dan berjalan lancar. Tentu saja, pendapat ini tidak begitu saja dilontarkan. Menurutnya, paling tidak 65% penduduk Indonesia berpendidikan SD, bahkan tidak tamat. Selain itu kualitas pendidikan di negara ini juga dinilai masih rendah bila dibandingkan dengan negara lain. Tak heran jika Indonesia hanya menempati urutan 102 dari 107 negara di dunia dan urutan 41 dari 47 negara di Asia.
Cak Nur –panggilan akrab sang profesor— menegaskan dalam laporan statistik, penyandang gelar doktor (S3) di Indonesia sangat rendah. Dari satu juta penduduknya, yang bergelar S3 (diraih secara prosedur) hanya 65 orang. Amerika dari satu juta penduduknya, 6.500 orang bergelar S3, Israel 16.500, Perancis 5000, German 4.000, India 1.300 orang. Semua itu hasil dari pendidikan yang bermutu. Bolehlah kita berkaca pada Korea Selatan. Negara ini memberikan prioritas untuk majukan pendidikan. Pengadaan sandang, pangan dan papan perlu tapi pembangunan pendidikan jangan sampai dianaktirikan. Kemajuan sebuah negara sangat ditentukan tingkat pendidikan sumber daya manusianya. Contoh lainnya, Malaysia yang pada tahun 1970-an, masih mengimpor tenaga pengajar dari Indonesia. Kini, pendidikan di Malaysia jauh di atas Indonesia. Mengapa? Pemerintahnya memberikan perhatian yang sangat serius. Tidak seperti di Indonesia, pendidikan kurang diperhatikan
Memang, tak dipungkiri kalau lulusan dari lembaga pendidikan di Indonesia kurang relevan dengan kebutuhan tenaga yang diperlukan, sehingga hasilnya kurang efektif dan mendorong terjadinya pengangguran intelektual. Permasalahan masih ditambah lagi dengan minimnya fasilitas pendidikan yang memadai.
Hal ini dipertegas lagi dengan pernyataan Rektor UPI, Prof Dr M Fakry Gaffar yang mengatakan bahwa universitas atau perguruan tinggi di Indonesia belum memiliki kemampuan untuk ”bertarung” dalam persaingan global. Karena itu, produk pendidikan negara ini masih kesulitan untuk bersaing dengan produk pendidikan negara lain. Namun, rendahnya kualitas itu tidak semata-mata karena sistem pendidikannya. Siswa atau mahasiswa Indonesia pun kurang memiliki upaya dan daya juang. Begitu pula dengan kurangnya akses masyarakat pada pendidikan itu sendiri. Bisa dibayangkan di negeri ini terdapat, 80 juta usia 6-24 tahun yang menuntut kesempatan untuk mendapatkan pendidikan. Namun sayang jumlah sebanyak itu belum tertampung.
Paling tidak, untuk mengatasi masalah ini, menurut Engkoswara ada dua hal yang harus dilakukan. Pertama adalah revitalisasi budaya bangsa. Artinya bangsa ini harus kembali berpedoman kepada Pembukaan UUD 1945, bahwa pendidikan adalah upaya utama untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang berbudaya, yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki semangat juang yang tinggi dan memiliki kreativitas pribadi yang terpuji. Kedua, mengenai manajemen pendidikan. Sistem pendidikan nasional yang disempurnakan dan disahkan pada 2003, implementasinya harus dilakukan dengan manajemen atau pengelolaan yang proporsional dan profesional, baik di tingkat makro maupun di tingkat mikro.
Lebih pada pelaksanaanya, Fakry mengajukan delapan poin paradigma pendidikan yang baru yakni openess and flexibility in learning, integrasi pendidikan ke dalam setiap aspek kehidupan manusia, responsif terhadap perubahan, total learning, learning strategies, teacher-student roles in leraning, ICT (information and communication technology) in learning process serta learning content and learning outcome.
Dengan delapan poin itu, paling tidak akan menjadi dasar agenda pendidikan ke depan yakni, pembahasan kurikulum, pembaruan dalam proses pembelajaran, pembenahan manajemen pendidikan nasional, pembenahan pengelolaan guru dan mencari serta mengembangkan berbagai sumber alternatif pembiayaan pendidikan.
Tentu saja semua itu tak lepas dari anggaran biaya. Dalam hal ini, anggaran pendidikan kudu memadai dan harus diupayakan secara sungguh-sungguh agar anggaran pendidikan negeri ini sekurang-kurangnya mencapai 20% dari APBN ataupun APBD. Dan yang paling penting adalah, lembaga pendidikan sebaiknya bebas pajak. Bahkan bila perlu ada pajak untuk pendidikan.
Menyikapi hal ini, Menteri Pendidikan Nasional, Bambang Sudibyo dalam sebuah pidatonya di acara peringatan Hari Pendidikan Nasional menegaskan sesuai Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan bahwa Pemerintah berkewajiban memenuhi hak setiap warganegara untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Oleh karena itu, pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan yang dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan, memberdayakan dan memberadabkan kehidupan bangsa sesuai amanat konstitusi dan Undang-undang Sisdiknas, dalam rangka mentransformasikan Indonesia menuju peradaban modern yang canggih, madani dan unggul.
Sebagai wujud nyatanya, pemerintah telah mengupayakan secara terus menerus perluasan dan pemerataan pendidikan, peningkatan mutu dan relevansi pendidikan agar memenuhi kebutuhan pengembangan masyarakat, dan pembangunan kepemerintahan yang baik atau good governance. Hal ini dituangkan dalam Rencana Strategis Departemen Pendidikan Nasional, untuk kurun waktu 2004 – 2009. Renstra ini merupakan acuan bagi seluruh jajaran penyelenggara pendidikan, baik pemerintah pusat maupun daerah, serta masyarakat dalam merencanakan dan melaksanakan pembangunan pendidikan sampai dengan 2009.
Konon, rencana strategis ini disusun dengan mempertimbangkan aspek legalitas, aspek prioritas, aspek perimbangan kewenangan pusat dan daerah dan melalui proses identifikasi masalah terhadap kondisi nyata pendidikan dewasa ini, baik pusat maupun daerah, yang selanjutnya dirumuskan dalam prioritas kebijakan pembangunan untuk kurun waktu lima tahun ke depan.
Dan sudah 61 tahun merdeka, mampukah kualitas pendidikan dapat diandalkan? Jawabanya, kembali lagi, bahwa mutu pendidikan, Indonesia ketinggalan jauh, di banding dengan negara-negara tetangga. Tentu saja, merosotnya mutu pendidikan, tidak terlepas dari kebijakan pemerintah. Selama ini dan cenderung masih berlangsung hingga sekarang, perhatian pemerintah untuk memajukan pendidikan kurang. Dan selagi pembangunan pendidikan ditempatkan diurutan ke sekian. Maka jangan berharap Indonesia mampu tampil di era globalisasi yang terus menggerus dunia ini.
tulisan ini emang diminta oleh seseorang teman.
Mutu pendidikan di indonesia memang tergolong minim,meski pemerintah sudah mengupayakan kemajuan pendidikan di indonesia,namun tetap saja masih belum bisa dibandingkan dengan negara lain.
Masih banyak anak-anak indonesia yang putus sekolah bahkan tidak sekolah sama sekali dikarenakan tidak adanya biaya,hal inilah yang menyebabkan adanya bangsa indonesia yang bodoh,padahal dalam UUD tertulis “mencerdaskan kehidupan bangsa”akan tetapi pendidikan di indonesia masih seperti ini.
Kapan negara indonesia bisa lebih maju??
“Seandainya saja…,orang-orang yang merasa memiliki materi berlebih mau membantu pendidikan anak-anak indonesia,khususnya anak-anak yang berasal dari keluarga yang kurang mampu,saya yakin bangsa indonesia akan lebih maju karena sebenarnya,banyak sekali orang pintar di indonesia.”
Artikel ini bagus sekali,saya tidak tahu siapa yang menulis,tapi saya harapkan ulasan seperti ini lagi.
hehehehehehe….
entah kenapa tenaga di jemariku lagi kurang neh tuh menetakkan di kotak-kotak yang diterai huruf-hurup itu… makasih doanya…
majukan mutu pendidikan Indonesia !
jangan truz menyalahkan !!!!!!!!
pendidikan akan maju bila semua berpikir bahwa pendidikan itu perlu bagi dirinya !!!!
tapi bagi orang pendidikan, jangan sampai melupakan pendidikan spiritualna karna jika cuma intelektual wae tapi emosinya engga pasti terjerumus !!!! betul tidak !!!!
jagalah hati jangan kau kotori, jagalah hati lentera hidup ini !!!!!
MATUR SUWUN !!!!
kalu kita udah tahu masalah pendidikan di indonesia sekarang ini,,
Lantas apa yg mesti kita lakukan sebagai orang yg peduli pendidikan kita???
selama ini saya selalu bingung menjawab hal ini…
inginnya kan, kita menjadi orang2 yang tidak hanya mengerti dan paham akan permasalahan bangsa namun juga bisa menawarkan solusi untuk bangsa ini juga…
ahh wong cilik..
salam kenal kembali bang…
semoga
pendidikan indonesia belum saatnya bangkit, karena masih tergantung pada stakeholder, saat ini indonesia belum bisa bermimpi sampai ke bulan, karena stakeholdernya tidak menghendaki yang demikian, pendidikan indonesia market oriented (tergantung pada kebutuhan pasar dan masyarakat) belum berorientasi pada ilmu pengetahuan yang sesungguhnya,
akibatnya pendidikan indonesia belum dapat melahirkan kebebasan akademik bagi masyarakatnya itu sendiri sehingga banyak masyarakat yang tidak mau sekolah… biayanya mahal…….
yup… yang terjadi saat ini memang demikian…
semoga hal itu tidak berlama-lama bercokol di negeri ini…
Tanks Bang, atas infonya. Trus biki tulusan seperti ini yaa, sangat bermanfaat bagi pembaca yang rungu terhadap mutu pendidikan kita. Bukan hanya bisa menyalahkan, tetapi mampu memberikan gambaran realita seperti tulisan di atas, dan juga harus memberikan solusi untuk meningkatkan mutu pendidikan kita (bangsa Indonesia) agar bisa bersaing bebas di dunia Internasional dan membebaskan diri dari penjajahan intelektual.
Disadari atau tidak, sekarang kita sedang dijajah oleh negara-negara yang memeiliki SDM yang tangguh dan mampu menelurkan ide-ide cemerlangnya dalam bentuk teknologi (komputer, mobil, motor, HP, dan alat elektronik lainnya). Kapan Indonesia mampu seperti itu. Sekarang semuanya tergantung pada malaikat-malaikan pendidikan kita yang sudah mulai membuka matanya terhadap mutu pendidikan di Indonesia. Mutu ini berkolerasi dengan SDM yang tercipta di masa depan. Harapan saya, Semoga Banyak Muncul Pemikir-Pemikir yang Ulet seperti Bapak. Terimakasih
matur tengkyu mas eka atas kunjunganya…
sejatinya memang harus begitu ketika kita mengungkapkan ide… sebisa mungkin tdk hanya bisa menghujat tapi memberi manfaat… semoga….
salam kenal…….
pendidikan di negri kita masih menjadi barang yang sangat mahal yg hanya bisa dinikmati orang2 besar, berduit, seperti jaman penjajahan. palagi setelah adanya UU BHP akan mengakibatkan kurangnya dana dari pemerintah yang semua kembali ke universitas dalam penyelenggaraan pendidikannya maka dapat menimbulkan semakin mahalnya dunia pendidikan.
dimana letak cita-cita negri ini yang tertuang dalam UUD 45 yang mencerdaskan kehidupan bangsa.
ingat dana yang pemerintah pakai smua dari rakyat tanpa pandang bulu kaya atau miskin jadi sepatutnya mereka semua mendapatkan fasilitas di negeri ini bukan hanya untuk kaum elit…..
yup….
saban tahun, bulan, minggu hingga hari-harinya para orangtua terkadang harus pusing tujuh keliling memikirkan biaya pendidikan anak… mulai dari uang fotokopilah, iuran inilah itulah, spp, uang buku, daftar ulang, uang gedung, uang kegiatan, uang bangku terkadang… gimana ga mahal coba?? bagaimana ya kabarnya sekolah gratis itu?? apa benar-benar gratis tis tis tuh???
konon… di dunia ini ga ada yang gratis kecuali buang angin doang…. bahkan kalo dah ga bisa buang angin… malah harus keluar uang bayak tuh…
yup…
dan yang tak terelakkan perannya adalah masyarakat itu sendiri. karena tanpa kepedulian masyarakat akan pendidikan juga menjadi biang bobroknya pendidikan di negeri ini…
thanks bang, dah bersedia kunjungi dan sudi meninggalkan pesan…
kalau memanglah demikian dunia pendidikan, cobadeh sinsingkan lengan untuk memperbaikinya,jgn analisa aja tanpa berbuat, tanpa di paparkan juga semua orang tau itu, coba sumbangkan tenaga untuk memperbaikinya jangan bilang semua tergantung pada pemerintah dan dana itu alasan klise dari dulu, coba deh berikan cara baru untuk mempercepat pertumbuhan dan peningkatan mutu pendidikan, jangan cuma komentar aja, ndak ada gunanya utnuk peningkatan mutu pendidkana. coba ciptakan pendidikan indonesia yang bebas bertanggung jawab dan kemandirian, brani tidak?
terimakasih atas kunjungannya…
pun dengan masukan serta ajakan bersama untuk memajukan pendidikan negeri ini… sejatinya memang begitu, semua lini, semua elemen anak bangsa harus bahu membahu membangun jiwa dan raga anak negeri ini…
Aku sangat sedih dengan pendidikan di Negri ku Tercinta ini……
Munculnya MBS ternyata tidak begitu mengubah sistem Sentralisasi Ke desentralisasi….
Lantas Apakah Pendidikan Kita sudah Berjalan Sistem Reformasinya Yang sempurnya??????
LA TAHZAN yang artinya Jangan Bersedih…
asal kita mau berusaha dan terus berusaha lalu tawakkal kepada-Nya atas usaha yang telah kita lakukan, insya Allah akan ada solusinya… ayo tetap semangat!!!
September 14, 2007 at 9:04 am
“sepertinya pendidikan seakan mengalami kemajuan dengan pertumbuhan sarjana, pascasarjana hingga doktor ….”
kalau saya kuliah lagi, waah nambah angka doang dong… heheh
nice artikel kang.. terusin bikin essay assoy