Lebih Dekat Dengan dr Felicitas Tallulembang : Rakyat Sekarang Lebih Banyak Apatis

Kerisauan melihat keadaan masih banyak masyarakat yang bergelut dalam kemiskinan membawa dr Felicitas Tallulembang Rudiyanto Asapa merasa perlu menceburkan diri dalam dunia politik. Sepuluh tahun menjadi kepala puskesmas di kampung nelayan di Sulawesi Selatan (Sulsel)( memberinya pengalaman batin yang amat berarti dalam melihat kondisi masyarakat. Pengalaman itu makin kaya dan beragam saat menjabat kepala Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Sinjai.

felicitasKenyataan itu membuat jalan hidup dokter lulusan Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar ini berbelok arah. Dia memilih berhenti dari pegawai negeri sipil (PNS), meninggalkan jabatan kepala rumah sakit, untuk memasuki dunia baru; politik praktis. Kedudukan suaminya, Andi Rudiyanto Asapa sebagai bupati Sinjai, memperkuat keyakinannya. “Saya mundur karena suami jadi bupati. Saya rasa tidak etis dan tentu akan banyak kalangan yang menilai ada kepentingan politik,” ucap Sita, sapaan akrab perempuan kelahiran Rantepao, Tana Toraja, 6 November 1959 ini.

Pemilu 2009, ia menjadi caleg Partai Republikan. Meski mendulang cukup suara, tapi perolehan total suara partai ini tidak cukup mengantarkannya berkantor di Senayan sebagai anggota DPR. Perolehan suara RepublikaN tidak melampaui ambang batas parlement threshold untuk bisa mengirim perwakilan ke Senayan. Sita akhirnya memasuki dunia bisnis.

Untuk meneruskan perjuangannya, sejak 2010 ia pun bergabung dengan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Dia merasa visi dan misi Gerindra sejalan dengan cita-cita perjuangannya. “Kalau terpilih, saya akan berjuang dengan idealisme saya untuk rakyat Indonesia sesuai visi dan misi Partai Gerindra,” dia menuturkan.

Lantas seperti apa pandangan ibu dari dua anak dan tiga cucu ini terhadap kondisi bangsa dan negara Indonesia? Bagaimana pula ia menyikapinya tantangan yang tengah dihadapi bangsa ini? Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda, bertempat di kantornya di bilangan Bendungan Hilir, dokter umum yang pernah dinobatkan sebagai dokter teladan untuk tingkat Kabupaten Takalar tahun 1994 ini menuturkan pandangan dan perjuangannya melayani kesehatan masyarakat kecil. Berikut petikannya:

Menurut Anda, bagaimana kondisi kepemimpinan Indonesia saat ini?

Sepertinya bangsa ini masih mencari jati diri. Rakyat sekarang lebih banyak apatis, padahal tujuan dari reformasi untuk kesejahteraan rakyat. Yang jelas kita membutuhkan pemimpin yang berani berbuat dan bertanggungjawab. Berani bilang A walaupun belum tentu benaratau salah, bukan bilang A lalu ngomong B. Jadi harus tegas dan berani.

Bukankah dengan sumber daya alam yang melimpah dapat mensejahterakan masyarakat?

Negeri ini memiliki kekayaan sumber daya alam yang begitu besar, tapi sayangnya tidak bisa dinikmati oleh seluruh rakyat, hanya sekelompok orang. Bahkan banyak kekayaan kita yang terkuras keluar negeri. Tak heran bila, ketimpangan sosial terjadi di mana-mana. Di samping itu, dengan kekayaan yang melimpah itu, pemerintah juga tidak mampu menciptakan lapangan kerja bagi rakyatnya. Di tambah lagi dengan gelombang resesi ekonomi yang terus menerpa di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Sepertinya Indonesia masih berada di persimpangan jalan liberalisasi.

Mestinya dengan sumber daya alam yang sangat besar ditambah sumberdaya manusia yang banyak, Indonesia bisa bangkit. Karena itu, seharusnya pemimpin kita berani bersikap dan jangan ragu-ragu. Yang terjadi sekarang adalah, tidak adanya keberanian, ketegasan dalam menentukan sikap sebagai bangsa yang berdaulat dalam perekonomian. Tak dipungkiri, bangsa ini akhirnya tidak bisa membuat apa-apa di tengah desakan liberalisasi ekonomi. Bahkan yang ada Indonesia menjadi pasar dunia, semua produk masuk ke negeri ini. Kita kalah dengan Cina, Malaysia, Vietnam bahkan Filipina dan Birma yang mampu tampil sebagai bangsa dan negara lebih maju. Tentunya, jika pemerintah dan rakyat Indonesia mampu bersinergi untuk melakukan upaya-upaya strategis mengatasi hal tersebut, saya yakin Indonesia menjadi modern, maju, dengan ekonomi yang berkelanjutan.

Menurut Anda, apa yang harus diperbaiki?

Yang musti dilakukan di Indonesia ini adalah perbaikan sistim. Kita tahu, beberapa sistim selalu berganti-ganti di Republik ini. Sistim yang satu belum selesai dan bahkan belum dilakukan ada lagi sistim yang baru. Sudah itu tidak hanya sistim pemerintahan yang belum baku, tapi lebih sering dilakukan sepotong-sepotong yang terkadang lebih mementingkan kelompok yang kuat. Lihat saja, semua Undang-undang lebih sering dibuat atas kehendak kelompok yang kuat. Padahal tugas DPR itu untuk mensejahterakan rakyat melalui perundang-undangan yang mereka buat. Parahnya lagi, ketidakberdayaan para anggota legislatif, lebih sering dimanfaatkan oleh kekuatan luar untuk mengintervensi penyusunan undang-undang yang mereka buat. Tak heran bila sebuah undang-undang yang telah mereka sahkan akhirnya harus digugat sekelompok masyarakat di Mahkamah Konstitusi karena dituding tidak memihak kepentingan publik.

Untuk itulah saya berharap DPR ke depan, pada waktu membuat undang-undang yang akan menjadi panduan hidup rakyat itu benar-benar untuk kepentingan rakyat bukan karena tekanan kelompok. Begitu juga dengan peraturan pemerintah atau peraturan daerah harus disesuaikan dengan kebutuhan rakyat bukan karena keinginan kekuatan sekelompok orang. Jadi ketika mereka bersidang membahas undang-undang yang ada di kepala mereka adalah rakyat. Rakyat. Rakyat. Bukan sekadar mengatasnamakan rakyat, tapi rakyat yang mana.

Menurut Anda apa yang dibutuhkan negara ini agar bisa bersaing?

Perlu seorang pemimpin yang kuat, berani mengambil sikap dan berani mengatakan yang benar untuk kepentingan Indonesia. Jika pemimpinnya kuat, mampu mengatakan dengan tegas kepada pihak asing, saya yakin Indonesia tidak hanya sekadar kaya, tapi akan menjadi negara yang diperhitungkan dunia dan bisa menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Pihak asing boleh saja masuk ke Indonesia, tapi kita yang menentukan bukan malah kita yang didikte atau malah ditekan. Sejarah bangsa-bangsa yang sukses dan besar mengajarkan kepada kita bahwa para pemimpin sejati adalah mereka yang memiliki keberanian untuk mencoba dan menawarkan solusi untuk mengatasi masalah-masalah besar.

Bagaimana dengan sumberdaya manusia yang dimiliki Indonesia?

Sejatinya sumberdaya manusia Indonesia tidak kalah kualitasnya, tapi ada yang harus diperbaiki yaitu sistim pendidikannya. Negeri ini terlalu banyak professor tapi apakah kapabel? Banyak perguruan tinggi tapi apakah keluarannya berkualitas. Yang terjadi di negeri ini banyak menciptakan doktor, professor tapi apakah mereka menghasilkan karya? Yang banyak adalah gelar, yang mengakibatkan malas. Ada yang bangga dengan gelar doktor, atau kesarjanaannya, tapi tidak mengerti dengan gelar yang disandangnya. Kalau begitu, lebih baik tukang jahit yang memang memiliki skil menjahit.

Diakui di Indonesia peneliti masih kurang, karena mereka tidak punya ruang dan kesempatan. Mereka lebih senang berada di negeri orang. Karena memang sistim yang mengatur itu masih tidak jelas. Tentunya, ini kembali lagi kepada pemimpinnya, mau dibawa kemana negara ini. Dia harus tahu prioritas apa yang harus dilakukan dan berani bertanggungjawab. Bukan berarti pemimpin itu membuat sesuatu hanya karena yang disuka masyarakat. Dengan kata lain, bukan pencitraan tapi sesuai kebutuhan rakyat.

Bagaimana dengan pendidikan politik di Indonesia?

Mustinya yang berani terjun ke dunia politik adalah seorang yang berani berjuang berani mati untuk negara ini layaknya seorang tentara/prajurit. Bukan untuk mencari makan, tapi bagaimana memperjuangkan kepentingan rakyat Indonesia. Pada dasarnya politik itu ideologi bukan profesi, bahkan kalau perlu barang kita jual untuk membiayai perjuangan politik kita. Itulah seharusnya dilakukan orang yang terjun ke politik. Sekarang bukan lagi seperti itu, tapi menjadi bidang pekerjaan. Akhirnya, ini yang menimbulkan sikap apatis masyarakat. Karena mereka tidak diperjuangkan. Wajar jika money politic merajalela karena ongkosnya sangat mahal. Akhirnya negara sendiri yang dirugikan.

Menurut Anda politik itu apa?

Politik itu idelogi. Ideologi yang harus diperjuangkan untuk merubah keadaan. Boleh jadi kata orang, politik itu jahat, kotor, menghalalkan segala cara. Padahal sebenarnya politik itu akan memberikan hal yang baik bila dipegang oleh orang yang benar, dan sebaliknya bisa menjadi malapetaka jika ada ditangan orang jahat.

Ke depan apa yang akan Anda dilakukan untuk memperjuangkan ideologi itu?

Selain mengurus majalah Garuda, saya juga sudah mendaftar sebagai bakal caleg dari dapil Sulsel 3, dan kalau terpilih saya akan berjuang dengan idealisme saya untuk rakyat Indonesia sesuai visi misi Partai Gerindra.

Sebagai kader Partai Gerindra, dengan kondisi itu apa yang harusnya dilakukan?

Karena bangsa ini membutuhkan pemimpin yang mampu mengatakan dan berbuat sesuatu, walaupun misalnya dinilai belum tentu benar. Tetapi yang jelas, ada keberanian dulu, tidak seperti sekarang. Untuk itu, sebagai kader Gerindra, kita harus terus bergerak memperjuangkan untuk memenangkan Gerindra dan Prabowo Subianto sebagai Presiden Republik ini. Ini adalah tantangan besar bagi segenap elemen partai yang memiliki tokoh sekelas Prabowo yang terus mendapatkan dukungan dari masyarakat. Karena, bisa jadi elektabilitas Prabowo terus naik, tapi kalau di Pemilu 2014 nanti perolehan suara Gerindra kurang atau tidak memenuhi batas president threshold. Itupun kalau tidak dijegal oleh kekuatan partai lain.

Untuk itu, marilah kita terus sosialisasikan Gerindra dan Prabowo ke tengah masyarakat baik dalam aktifitas politik maupun aksi sosial. Sehingga anggapan Prabowo itu Gerindra, dan Gerindra adalah Prabowo seiring sejalan. Jangan sampai rakyat mengenal Prabowo tapi tidak mengenal Gerindra, begitu juga sebaliknya. Ini juga menjadi tantangan bagi petinggi-petinggi Partai Gerindra untuk mensolidkan kader partai dari atas hingga ke bawah. Selain ini para pimpinan partai ini harus membumi, memiliki rasa kebersamaan, dan empati dengan apa yang dialami rakyat.

Yang jelas, perputaran politik tidak hanya butuh kapabilitas, tapi dana yang besar. Untuk itu kita harus bekerja bersama rakyat sehingga beban ini menjadi lebih ringan. Tapi kalau perjuangan partai ini digerakkan hanya oleh segelintir orang, maka akan terasa berat. Memang tak ada perjuangan yang ringan, semuanya berat dan penuh tantangan. Tapi kalau kita bersama-sama melakukannya, dan ada kemauan serta komitmen, saya rasa aka nada rasa memiliki pada masyarakat terhadap Gerindra.

Apa saja yang akan Anda perjuangkan bagi Sulsel?

Kalau bagi saya sih Sulawesi Selatan bagian dari Indonesia yang tidak jauh beda dengan daerah lain. Saya orang medis yang pernah jadi kepala puskesmas selama 10 tahun kemudian kepala RSUD selama hampir 10 tahun. Latar belakang saya sebagai tenaga medis, tentu saya akan memperjuangkan yang berkaitan dengan bagaiamana masyarakat miskin itu dilayani negara. Itulah yang akan menjadi fokus perjuangan saya.

Apakah terjunnya Anda di panggung politik ini sebagai bentuk kerisauan?

Ya, sangat risau. Dulu saya sebagai dokter umum yang bertugas di puskesmas yang tidak pernah membuka praktek umum di sebuah daerah yang miskin sekali. Pengalaman saya sebagai dokter, bahwa kebahagiaan yang tiada taranya itu bukan pada materi tapi bagaimana keikhlasan bisa melayani masyarakat dikala susah. Kalau kita ikhlas, itulah yang berharga di dunia ini, bahkan dibanding ketika saya jadi kepala Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) atau menjadi ibu Bupati, sangat jauh sekali. Karena dari itu, akhirnya saya berpikir harus masuk dunia politik, karena masyarakat kan harus diatur dengan peraturan daerah dan itu adanya di dunia politik.

Bisa diceritakan perjalanan perjuangan yang akhirnya membuat Anda risau itu?

Menjadi kepala puskesmas selama 9 tahun dan kemudian menjadi kepala RS Sinjai 10 tahun. Di sana saya membuat sistim semacam jamkesda yang akhirnya dimasukan dalam peratudan daerah (perda) pada tahun 2003. Sementara nasional baru ada 2005, meski belum sempurna, tapi seluruh masyarakat Kabupaten Sinjai itu tidak lagi memikirkan biaya ketika sakit.

Kenapa Anda berhenti menjadi kepala rumah sakit?

Saya mundur karena suami jadi bupati. Saya rasa tidak etis dan tentunya akan banyak kalangan yang menilai ada kepentingan politik. Jadi meski baru mencapai golongan pangkat IV b yang seharusnya bisa hingga IV d. Tapi bukan karena itu juga, saya keluar dari PNS, tapi setelah saya mempelajari, saya lebih ingin memperjuangkan kepentingan rakyat. Akhirnya saya masuk sebuah partai politik, meski waktu itu saya sudah menduga akan tidak lolos, namun saya jadikan sebagai tempat belajar berpolitik. Bahkan waktu Pemilu 2009 lalu, saya sengaja masuk di daerah yang bukan yang saya tidak kenal sebelumnya. Karena memang saya ingin memulai dari bawah dengan kerja keras.

Bagaimana dengan profesi Anda sebagai dokter?

Seumur hidup saya sebagai dokter saya tidak membuka praktek umum. Tahun 1990 saya di puskesmas di darah nelayan dan miskin, jadi dengan gaji 80 ribu, karena saya mau hidup saya punya anak, walaupun suami saya seorang pengacara, saya pun nyambi praktek di Telkom dari sore sampai malam, dan gaji dari situ untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kemudian saya dipercaya menjadi kepala Rumah Sakit.

Apa saja pengalaman Anda saat bertugas di puskesmas?

Di puskesmas itu masyarakatnya sangat miskin, di daerah Galesong yang 70 persen nelayan, kebetulan saya menjadi dokter perempuan yang pertama masuk. Ada satu kampung kalau siang lelakinya pada tidur, kalau malam entah kemana. Saya selalu bawa sendiri mobil menyusuri kampung-kampung, kalau tidak ujan dijemput, tapi kalau ada pasien-pasien di pesisir pantai, saya terpaksa pakai motor dibonceng perawat. Sampai sekarang masyarakat di situ masih mengenal saya. Bahkan sampai sekarang kalau lebaran mereka kirim ketupat, walau saya ada atau tidak ada di rumah.

Saya rasa yang paling berarti dalam hidup saya adalah pada saat menjadi dokter puskesmas. Gaji dari pemerintah yang kecil, tapi saya lebih sering mendapatkan kiriman dari masyarakat. Padahal saya kan alergi ikan, tapi mereka sering membawakan ikan, ayam dan sayuran sebagai ucapan terimakasih mereka terhadap saya. Akhirnya kalau sampai rumah saya bagi-bagikan itu ikan ke pada tetangga. Kebetulan puskesmas saya rawat inap sehingga pasien yang ditolak Rumah Sakit kerap ditampung di puskesmas.

Ada pengalaman lain?

Dulu waktu itu belum ada undang-undang kesehatan, apalagi tentang mal praktek dan yang lainnya, saya dokter umum, mustinya tidak boleh melakukan bedah. Tapi waktu itu karena emergensi saya lakukan operasi bedah tumor kecil pada pasien dengan silet, tapi Alhamdulillah berhasil dan sembuh. Kalau sekarang dibayar berapapun saya tidak mau. Bahkan waktu itu ada pasien yang divonis kanker payudara, saya ini dokter dan rasional, tapi saya percaya dengan keajaiban Tuhan. Jadi waktu itu ada pasien penderita kanker payudara dengan kondisi sudah lubang payudaranya, rupanya dia tolak Rumah Sakit karena tidak mampu membayar. Dia akhirnya datang ke puskesmas, mendatangi saya. Saya berpikir, kalau dokter Rumah Sakit saja sudah menolak apa lagi saya? Tapi suster saya bilang, dokter kasihan itu orang, pokoknya dokter pegang saja itu orang, biar dia merasa senang. Saya berpikir bagaimana caranya, akhirnya saya lihat dan pegang itu orang, lalu saya masuk ke gudang obat untuk siapkan obat sambil berpikir obat apa? Saya campur-campur itu salap dan beberapa obat, lalu kita racik sendiri, tentunya tak lupa memberikan antibiotic dan vitamin untuk meredakan rasa sakitnya.

Hasilnya bagaiman?

Setelah dua minggu berlalu, dia datang lagi kelihatan sehat, yang tadinya sudah busuk, kelihatan merah dan ia merasa tidak sakit lagi, jadi saya bingung sendiri. Sambil bersimpuh di kaki saya, ia bilang terimakasih telah menyembuhkan dirinya. Saya bilang bukan saya yang sembuhkan, tapi itu kehendak Tuhan. Saya pun bingung, karena itu memang bukan obatnya bahkan saya sendiri lupa racikannya. Dia bilang obatnya sudah habis, makanya dia datang untuk minta lagi. Tapi saya sendiri lupa obat apa saja yang ia racik waktu itu. Akhirnya saya masuk bikin racikan sembarang lagi. Alhamdulilah orang itu sembuh bahkan 5 tahun kemudian orangnya saya lihat masih sehat.

Ada juga soerang nenek kena kanker serviks yang parah. Sudah tua miskin lagi, saya tidak mungkin ini menangani kasus ini. Tapi orang sekitar, bilang sudah pegang saja, memang akhirnya saya pegang, lalu saya berikan obat dan vitamin. Tiga minggu kemudian, dia datang lagi sambil menangis terharu dia terus mengucapkan terimakasih, karena penyakitnya sudah mulai berkurang. Karena obatnya habis, dia pun minta lagi. Ini betul-betul keajaiban Tuhan, padahal saya pun lupa kasih obat apa itu nenek-nenek. Dan memang di puskesmas hanya ada obat-obatan dan vitamin golongan obat generic yang saya campur. Hingga pada akhirnya kalau ada orang datang, suster maupun keluarga pasiennya selalu bilang dan meminta untuk memegangnya. Saya pikir saya dokter, tapi rasanya seperti dukun saja. Jadi kalau ada yang sakit harus dipegang, kalau tidak dipegang mereka marah.

Ada pengalaman batin yang sulit dilupakan?

Pernah juga saya merasa sangat bersalah ketika menangani seorang anak yang memang terkena diare akut dan terlambat penanganan hingga akhirnya Tuhan berkehandak lain. Dengan kejadian itu untuk beberapa waktu saya tidak tega melihat anak-anak yang datang ke puskesmas. Saya hanya memberikan obat saja. Tapi memang dasar, masyarakat sana berkeyakinan dan memiliki sugesti bahwa kalau berobat dengan saya harus dipegang, kalau tidak dipegang mereka pun marah. Saya pun mau tidak mau memegangnya dan mereka pun merasa senang kalau sudah dipegang saya. Jadi saya pikir saya ini dokter atau dukun sebenarnya yang bertugas di puskesmas.

Daerah itu dikenal banyak penderita kusta, tubercolosis (TBC), saya pun harus bersama suster terjun langsung untuk memberikan obat, termasuk mengawasi mereka dalam meminum obanya. Selain itu saya juga ikut terjun penyuluhan pertanian kepada masyarakat sekitar bagaimana bercocok tanam sayur-sayuran, atau tanaman obat. Akhirnya hingga sekarang masih banyak yang ingat dengan saya, tidak sekadar sebagai dokter, tapi penyuluh kesehatan, penyuluh pertanian.

Bagaimana eran Anda sebagai penyuluh kesehatan?

Dulu ada juga yang namanya ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) masuk desa manunggal KB (Keluarga Berencana) dimana saya menjadi tenaga medis yang ditugasi untuk memasang alat kontrasepsi KB. Suatu ketika saya pun melakukan pemasangan susuk pada ibu-ibu kampung itu. Besoknya, orang-orang yang ternyata para suami-suaminya datang, ada yang bawa parang yang meminta saya untuk melepaskan kembali itu susuk. Akhirnya saya lepas saja dari pada berurusan dengan masyarakat. Tapi seiring berjalannya waktu, karena kedekatan saya dengan masyarakat, banyak suami-suami yang mengantarkan sendiri istrinya datang ke saya untuk dipasangi susuk KB. Dengan kejadian itu saya pun dinobatkan sebagai juara satu dalam hal penyuluhan KB.

Jadi menurut Anda pelayanan kesehatan di Indonesia sendiri seperti apa?

Setidaknya ada kemajuan, dengan adanya layanan kesehatan gratis yang kini diterapkan di mana-mana. Akan tetapi karena sistim di Indonesia dalam pengurusan Kartu Tanda Penduduk (KTP) masih membutuhkan biaya, masyarakat miskin tidak mengurusnya, sehingga mereka tidak memiliki KTP yang pada akhirnya mereka pun tidak mendapatkan layanan kesehatan, karena tidak ada datanya. Dilemanya, kalaupun petugas medis mau melayani orang yang benar-benar miskin tapi tidak memiliki KTP, bisa jadi menimbulkan kasus berikutnya, dituduh manipulasi data, sehingga menjadi temuan auditor dan itu sangat sering dimanfaatkan oleh oknum dari pihak tertentu.

Bagaimana dengan program kesehatan gratis yang saat ini diterapkan di banyak daerah?

Saya sangat setuju dengan pelayanan kesehatan gratis, tapi harus jelas aturannya. Jadi pada saat menentukan sistim layanan kesehatan tidak boleh ada kepentingan dari kelompok tertentu baik itu dari industri kesehatan maupun kekuatan-kekuatan lainnya. Saya yakin Indonesia memiliki banyak pakar kesehatan yang mumpuni untuk bisa menyusun sistim kesehatan nasional.

Menurut Anda sistim peraturan yang berlaku di Indonesia?

Sangat carut marut. Karena kembali lagi sistim dan ketegasan pemimpin. Penempatan orang-orang yang menjadi pengambil keputusan yang tidak tepat dan tidak sesuai kapasitas. Jadi memang, kuncinya ada di Senayan dan eksekutif dalam melayani kepentingan rakyat. Mestinya, ketika membuat undang-undang, maka yang ada di kepala anggota DPR itu, ya rakyat, bukan sekadar mengatasnamakan rakyat seperti sekarang ini. Rakyat yang mana?

Jadi sebenarnya rakyat itu bisa diatur ?

Rakyat sangat bisa diatur, rakyat itu nurut dengan apa yang dikatakan dan dilakukan pemimpinnya. Kenapa mereka ikut ambil uang (money politic) karena kepala kampungnya ambil uang, ya rakyat pun mengikutinya. Dulu tidak ada, mereka masih menghormati aturan adat, aturan agama dan patuh pada pemimpin tapi sekarang sudah luntur, sekarang malah rancu. Dan ini menjadi tanggungjawab seorang pemimpin. Kembali lagi karena sistim yang carut marut.

Sebagai perempuan yang terjun di dunia politik, peran politik perempuan menurut Anda?

Sebenarnya dengan adanya 30 persen kuota untuk perempuan karena kesalahan kita sendiri sebagai perempuan. Padahal secara ilmu dan kemampuan sama dalam hal untuk berkarya. Pada hakekatnya sebenarnya perempuan harusnya malu cuma diberikan 30 persen, karena hak dalam membela negara itu sama, kecuali dalam segi agama, perempuan jadi makmum, laki-lakilah yang harus jadi imam. Seharusnya sama porsinya, tapi memang negara ini masih menempatkan perempuan menjadi kelas nomer dua. Tapi dengan 30 persen mudah-mudahan bisa memperjuangkan kaumnya sendiri, meskipun memang sebenarnya selama ini laki-laki pun ikut memperjuangkan perempuan. Misalnya dengan menempatkan perempuan di posisi yang tepat. Jadi tidak ada masalah, perempuan dan laki-laki sama haknya dalam berkontribusi untuk bangsa dan negara.

Bisa diceritakan dari siapa Anda belajar dalam berpolitik?

Setidaknya kegigihan suami yang mewarnai saya dalam berpolitik. Memang, sebenarnya awalnya suami bukan orang partai, tapi dia pengacara dan aktivis, akhirnya dia pun direkrut salah satu partai. Sementara orangtua saya dulu menjadi politisi PNI pada jaman bung Karno kemudian masuk ke Golkar di masa Suharto. Jadi jauh sebelum itu saya banyak belajar tentang politik dari orangtua saya. Selain itu saya lebih suka mempelajari sejarah, ada banyak tokoh dunia bagaimana mereka berjuang merebut dan mempertahankan kekuasaan tentu saja itu bagian dari politik. Jadi marilah belajar dari apa yang ada di sekeliling kita. Kalau bangsa ini tidak mengerti bagaimana Indonesia ke depannya, bagaimana nasib anak cucu kita nanti. [G]

DR FELICITAS TALLULEMBANG

Tempat Tanggal Lahir:

Rantepao Tana Toraja, 6 Nopember 1959

Jabatan:

Dewan Pembina Majalah GARUDA

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Februari 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, dr Felicitas Tallulembang maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 1 untuk daerah pemilihan (dapil) Sulawesi Selatan III

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s