Lebih Dekat Dengan Oo Sutisna: “Satu Suara untuk Prabowo”

Keresahannya melihat nasib petani yang tak kunjung berubah mengantarkannya untuk maju ke barisan depan. Dilahirkan dan dibesarkan di keluarga petani tentu paham betul akan hal itu. Ia pun bertekad untuk merubah nasib petani yang masih tertindas oleh kebijakan yang lebih banyak ditentukan bukan seorang petani. Mau tidak mau ia pun harus terjun ke pentas politik praktis

Setidaknya itulah yang menjadi tekad Oo Sutisna (60), yang sejak 2008 silam dipercaya oleh Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto untuk memimpin Partai Gerindra di Propinsi Jawa Barat. Memang, keterlibatan di partai besutan mantan Komandan Jenderal Kopassus itu tak datang begitu saja. Jauh sebelum Partai Gerindra lahir, sebagai seorang petani, suami dari Ai Mulyani itu sudah berada di belakang barisan sang pendiri partai, melalui organisasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dan Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA).

“Sejak awal petani tidak setengah-setengah mendukung Prabowo. Karena kami yakin, Prabowo mampu membawa perubahan bagi para rakyat kecil khususnya petani dan nelayan. Beliau tahu apa yang rakyat mau. Beliau pemimpin yang mau memikirkan dan menangis dengan apa yang dirasakan petani,” tegasnya.

Ya, pria kelahiran 12 Maret 1952 itu sudah mengenal sosok Prabowo sejak ia masih bergelut di Forum Komunikasi Tani Nelayan Karya –sebuah organisasi bentukan Partai Golkar— dan KTNA. Ia pun tercatat sebagai orang yang mengusung Prabowo pada saat Konvensi Partai Golkar pada 2004, meski akhirnya harus kalah dengan calon lain. Namun tak berhenti disitu, di tahun yang sama ia pun lantas memperjuangkan Prabowo untuk memimpin HKTI.

Suatu ketika di tahun 2008 ia tengah sibuk mengumpulkan petani di daerah Sumedang, namun tiba-tiba mendapat telepon dari Jakarta untuk segera menghadap ke Prabowo Subianto. Akhirnya ia ditemani seorang teman langsung menuju Jakarta pada hari itu juga. Sesampainya di Jakarta, tepatnya di Jalan Brawijaya IX, ia disodori secarik kertas dan tertulis namanya sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah Jawa Barat. Tentu saja, sang empunya nama kaget dan hampir tak percaya atas amanat itu. “Saya ini belum pernah menjadi ketua parpol di tingkat kecamatan sekalipun. Tapi karena itu amanat dari Pak Prabowo, maka saya siap mengembannya,” ujarnya mengenang masa itu.

Sejak saat itu, ia pun harus bahu membahu mendirikan partai di bumi parahiyangan yang 60 persen penduduknya adalah petani. Sebagai anak seorang petani, tentu ini merupakan amanat yang berat sekaligus kesempatan untuk merubah nasib petani. Memang diakuinya, sebagai orang yang bergelut di bidang pertanian, ia bukanlah termasuk dalam kategori petani gurem, tapi setiap harinya ia bercengkrama dengan petani gurem. Untuk itu ia pahal betul liku-liku perjuangan para petani dalam memenuhi kebutuhan hidup di tengah kebijakan yang sama-sekali belum memihak petani.

“Selama ini petani terbelenggu oleh aturan orang yang yang tidak peduli dan bukan dari komunitas kita sebagai petani. Inilah kesempatan untuk merebut simbol-simbol kekuasaan itu dengan apa yang diperjuangkan Gerindra,” tegas pencetus ide pengadaan lahan sawah abadi di Jawa Barat.

Secara politis, keberadaan Jawa Barat yang berbatasan langsung dengan ibukota republik ini sangatlah penting. Terlebih propinsi Jawa Barat penduduknya terbesar. Untuk itu, baginya, mengakomodir berbagai golongan, kelompok yang ada di propinsi ini sudah menjadi keharusan. Meski memang, rasa kesukuan di Jawa Barat masih kental. Yang jelas, perpaduan antara kota dan desa dalam kepengurusan akan menunjang penerapan 8 program aksi Gerindra di Jawa Barat. Perjuangannya pada Pemilu 2009, tak boleh dianggap enteng, ia pun berhasil mengantarkan empat orang kadernya ke Senayan dan delapan orang kadernya ke DPRD Propinsi Jawa Barat.

Lantas seperti apa perjalanan dan perjuangan Partai Gerindra di bawah komandonya dalam percaturan politik baik lokal maupun nasional. Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Garuda, ditemani beberapa jajaran DPD Partai Gerindra Jawa Barat, ia memaparkan perjuangannya dalam sebuah wawancara sekretariat yang berlokasi di jalan Cimanuk nomer 42, Bandung, beberapa waktu lalu. Berikut petikannya:

Bisa diceritakan aktifitas apa yang akhirnya menggiring Anda terjun ke dunia politik praktis?

Katanya republik  ini sudah merdeka, tapi apa yang terjadi? Nyatanya yang merdeka itu penguasa saja. Petani sebagai rakyat sampai hari ini belum merdeka. Petani masih terjerat kemiskinan. Tidak saja dirundung persoalan dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari, tapi kebijakan-kebijakan penguasa yang tak memihak bahkan kerap menindas. Tidak hanya itu, pasar Indonesia pun sudah menjadi keranjang sampahnya internasional. Lihat saja kapal rusak dibeli lalu dikasih buat nelayan dengan dalih bantuan, kereta api bekas dibeli bahkan kentang, beras, hingga garam pun didatangkan dari luar. Kursi dewan pun sampai harus diimpor yang harganya Rp 24 juta. Tentunya berbagai kebijakan yang aneh itukan semua ada di parlemen. Sementara kita (petani dan nelayan) tidak punya wakil di parlemen. Inilah yang akhirnya membawa saya terjun ke dunia politik. Karena parlemen hanya bisa dimasuki lewat partai politik.

Lantas kenapa memilih gabung di Partai Gerindra?

Awalnya dulu saya ikut di Partai Golkar yang waktu itu memang membentuk Forum Komunikasi Tani Nelayan Karya, saya sebagai sekjennya dengan ketuanya, Awal Kusumah (almarhum). Tapi karena dalam perjalanannya ternyata sama sekali tidak memihak pada petani dan nelayan, maka dalam sebuah forum saya menyatakan mundur. Begitu juga pada saat konvensi, kita mati-matian mendukung Pak Prabowo, meski akhirnya kalah. Jadi bukan karena ikut-ikutan arus mengusung Prabowo, sejak awal petani tidak setengah-setengah mendukungnya  Pak Prabowo. Hal ini dibuktikan sejak 2004 kita pun mengusung beliau untuk memimpin HKTI. Kemudian pada 2005, dalam sebuah kesempatan beliau juga dikukuhkan menjadi anggota kehormatan KTNA Nasional. Semua histeris, menangis ingin merubah nasib petani dan nelayan.

Jadi saya sebagai petani memilih Prabowo bukan karena saya ada di Gerindra, tapi saya lakukan sejak dia kita usung untuk memimpin HKTI. Karena pada waktu itu kita butuh figur yang mau menangis melihat nasib petani, mau memikirkan dan peduli dengan rakyat kecil khususnya petani. Dan Prabowo orangnya.

Bisa ceritakan proses awal bergabungnya Anda ke Gerindra?

Suatu ketika saya dipanggil ke Jakarta, pada 8 Februari 2008, padahal waktu itu saya sedang mengumpulkan petani di Sumedang, waktu itu belum ada Gerindra. Sesampainya di Jakarta, tepatnya di jalan Brawijaya ternyata ada parpol baru bernama Gerakan Indonesia Raya. Saya pun disodori secarik kertas kecil dan tertulis disana nama saya sebagai ketua DPD Jawa Barat. Saya ini belum pernah menjadi ketua parpol di tingkat kecamatan sekalipun. Memang saya pernah menjadi Sekjen KTNA Nasional, sewaktu di Golkar pun saya menjadi sekjen Forum Komunikasi Tani Nelayan Karya. Karena ini amanat dari Pak Prabowo, saya pun menyatakan siap memimpin Jawa Barat. Yang jelas, dengan adanya pertemuan lebih awal dengan Pak Prabowo di KTNA dan HKTI kita lebih tahu karakternya. Dan beliau tahu apa yang rakyat mau. Rakyat maunya pemimpin yang tegas, lugas, jujur.

Bisa diceritakan seperti apa animo masyarakat Jawa Barat (Jabar) terhadap Gerindra?

Meski ketika dulu kita mendirikan partai hanya ada lima orang, tapi alhamdulillah kita bisa mengirimkan delapan orang di DPRD Jabar dan empat orang kader ke DPR-RI jabar. Sama dengan partai PPP yang umurnya sudah 40 tahun. Jadi dulu bisa jadi peribasa dalam Siliwangi memang benar adanya, ‘saeutik ge mahi’ hanya dengan sedikit orang juga kita bisa dapat 8 kursi yang lumayan. Waktu itu saya berpikir saya tidak harus menang, tapi gerindra harus menang. Sekareang pun seperti itu, saya tidak berambisi untuk menjadi dewan, tapi berpikir bagaimana gerindra harus  menang dan mengusung Prabowo jadi presiden. Dulu cari orang untuk jadi pengurus saja susahnya minta ampun, apalagi unsure perempuan. Memang dulu di awal2 kita dibantu pusat. Tapi selepas pileg kita berjalan sendiri. Meski itu persoalannya, kita tetap berjuang.

Apa yang diperjuangkan Gerindra Jabar?

Yang sedang kita perjuangkan adalah bagaimana kita membangun bangsa. Jadi tidak saja memperjuangkan kader-kader Gerindra agar  kelak jadi dewan, tapi merebut tampuk kekuasaan melalui cara-cara yang legal yakni melalui pilpres. Karena Pilpres tidak akan terpenuhi jika posisi kursi di parlemen tidak mencukupi ambang batas minimal. Kita sepakat untuk mendukung Pak Prabowo, maka kita sepakat mengawalinya dengan memenangkan partai di parlemen. setidaknya Jabar memiliki 26 kabupaten/kota, 625 kecamatan, dan 5874 kelurahan/desa merupakan medan yang berat karena bisa jadi dua tahun kedepan bisa bertambah lagi.

Lalu apa yang diperjuangkan kader partai yang ada di parlemen?

Tentunya tidak boleh lepas dari 8 program aksi partai Gerindra baik melalui partai murni maupun parlemen. Untuk di parlemen tingkat provinsi kader kita sedang memperjuangkan soal pertanahan, lingkungan dan ketahanan pangan. Salah satunya kita mengusulkan pengadaan lahan wasah abadi seluas 100 hektar di Jawa Barat. Begitu juga halnya dengan kader-kader kita yang duduk di Senayan, karena terus terang yang kita perjuangkan adalah nasib para petani yang hingga kini masih tertindas. Apalagi Jawa Barat 60 persen penduduknya adalah petani. Untuk itu harus ada keterkaitan antara yang diperjuangkan partai dan anggota dewan baik di kabupaten/ kota, propinsi maupun di pusat.

Kekuatan Gerindra di Jabar sendiri seperti apa, dan ada dimana saja kantong-kantongnya?

Bicara masalah anggota, hingga saat ini kita sedang melaksanakan KTAnisasi baru. Tentunya masih belum bisa dikalkulasi. Jika menengok empat tahun silam menjelang Pemilu 2009, kita pernah membukukan 980 ribu KTA, tidak termasuk yang dicetak oleh pusat. Dari 980 ribu itu, pada Pemilu 2009 kita meraih suara 950 ribu. Nah, target hingga akhir tahun ini, setiap DPC mampu mencetak 5000 KTA baru. Dan jika mengok pengalaman Pemilu 2009 lalu, kantong-kantong Gerindra dulu ada di wilayah Jawa Barat bagian barat. Sementara wilayah Priangan Timur masih kurang. Tapi insya allah, dalam Pemilu 2014 mendatang, kita optimis semua cabang bisa mengimbangai dan bisa lari cepat. Saya meyakini itu. Buktinya, meski waktu itu kekuatan Gerindra belum merata, kita bisa mengirimkan empat orang kader di DPR-RI dan delapan di DPRD propinsi.

Lalu target perolehan kursi parlemen pada Pemilu 2014 nanti berapa?

Sesuai arahan DPP, dengan kekuatan yang ada, kita menargetkan setiap dapil kecil (kabupaten/kota) minimal satu kursi. Jika di setiap kabupaten/kota ada 6 dapil, maka setidaknya ada 6 orang kader yang harus lolos ke DPRD kabupaten/kota. Dengan perhitungan itu, kita bisa menargetkan meraih 18 kursi di DPRD Jabar dan 14 kursi di DPR-RI. Itu kalau dengan perhitungan satu dapil kecil satu kader.

Stategi apa yang bakal dilakukan guna mewujudkan target itu?

Pertama kita membentuk struktur partai hingga ranting sampai anak ranting. Paling tidak kita harus perkuat terlebih dulu di tingkat ranting. Kita juga perkuat sayap-sayap, komunitas-komunitas pendukung partai dan Pak Prabowo, badan-badan non struktural. Setidaknya, di Jawa Barat ini ada banyak komunitas atau kelompok seperti komunitas guru, kelompok petani, nelayan, pedagang pasar yang siap mendukung perjuangan Gerindra. Kita juga melihat ada hal yang luar biasa, seperti sayap Tunas Indonesia Raya (Tidar) yang teridiri dari anak-anak muda sebagai pemilih pemula. Begitu pula dengan militansi yang ditunjukkan kader golongan dewasa muda yang tergabung dalam Satuan Relawan Indonesia Raya (Satria). Ini yang membuat saya merinding ketika antusiasme mereka begitu tinggi untuk bergabung di Gerindra.

Di samping itu, agenda pemilukada yang digelar di Jawa Barat merupakan ajang pemanasan bagi kita menjelang 2014 nanti. Meskipun kita baru bisa mengantarkan satu kader Gerindra yang berhasil menjadi bupati dari 7 putaran. Dan di tahun 2012 ini ada lima putaran pemilukada, dan termasuk di 2013 akan ada pilgub juga pilkada kabupaten/kota. Tentu saja ini menguras tenaga, waktu dan finansial yang tak sedikit. Tentu saja, Gerindra Jawa Barat tidak mau tinggal diam.

Menjelang pilgub apa yang dilakukan?

Selama ini kita masih dalam taraf silaturahmi dengan parpol-parpol yang ada tentunya itu hal yang wajar. Nah, kalaupun ada pemberitaan seputar pertemuan-pertemuan jelang pilgub itu ditafsirkan sebagai bentuk koalisi, ya monggo. Tapi menurut saya, jangan dulu, karena kita jujur saja masih menunggu arahan dari pimpinan pusat. Sikap kita selama ini masih wait and see. Karena kita harus menang. Memang kita punya calon, bisa saja diambil dari pengurus, orang pusat atau tokoh masyarakat mumpuni yang mendapat restu dan disetujui DPP. Sebagai kader partai kita tidak bisa menolak ketika mendapat tugas dari partai. Siapapun dia.

Jika melihat situasi dan kondisinya, ke mana arah anginnya?

Sampai saat ini belum terlihat. Masih remang-remang. Makanya saya katakana sikap kita masih wait and see. Bisa jadi orang beranggapan Gerindra sebagai partai baru bisa dikerjain. Untuk itu kita tetap waspadai. Selama ini kita menggunakan pepatah si kabayan. Dimana kabayan itu bukan orang yang hebat tapi dia hebat. Dia bisa ngibing (menari) dalam semua lini, dia juga tidak bisa dibodohi orang-orang yang guminter (merasa pinter). Tanda-tanda ke arah sana itu sudah ada dan kita rasakan, makanya kita tidak mau terjebak ke arah itu. Yang terpenting, ajang pilgub ini harus menguntungkan Gerindra yang berunjung pada upaya untuk mengusung Prabowo jadi presiden. Karena capresnya itu dari Jawa Barat, kan Pak Prabowo dari Bogor,  Jawa Barat.

Dimata Anda, kondisi kepemimpinan saat ini seperti apa?

Bagi saya, sementara ini Indonesia belum punya pemimpin menunggu 2014, nanti pemimpinnya Prabowo Subianto. Nanti saya akan tunjukkan sebuah gambar yang diambil dari sejarah Islam. Dimana  sejarah membuktikan hanya burung garuda (hud-hud) itulah yang bisa menghancurkan penguasa lalim. Gambar itu hanya ada di DPD Jabar. Gambar itu akan saya persembahkan untuk Pak Prabowo. Tapi pengambilalihan kekuasaan itu tetap melalui proses legal dan konstitusional. Saya yakin berhasil jika kita harus padukan dengan sejarah dan karakter kita yang memang kuat.

Sebagai pimpinan partai sekaligus petani bagaimana mengatur waktunya?

Partai itu alat penyaluran, perjuangan, sementara rakyat itu bukan butuh omong, tapi butuh apa yang bisa kita berikan. Saya membagi waktu sesuai dengan keahlian. Kita tiap tahun mengirimkan petani ke Jepang, meski tidak mengatasnamakan Gerindra tapi dia akan tahu bahwa yang memperjuangkan itu orang Gerindra. Kita memberlakukan piket bagi jajaran pengurus. Tidak sekadar menunggu kantor saja, tapi harus bisa mencurahkan ide, pemikirannya dan solusinya yang tengah dibutuhkan partai. Selain itu kita terjunkan kader-kader ke daerah untuk membina jajaran yang ada di bawah. Itupun sesuai dengan kesanggupan dan kemauan para kader, mau di daerah mana?

Apa harapan dan pesan Anda pada Partai Gerindra dan para kadernya?

Sebagai kader kita harus mampu menopang manajemen partai dalam rangka merebut kekuasaan ini melalui pemenangan suara demi lolos parliament threshold dengan cara memberikan pemahaman partai yang benar dan sesuai dengan arahan untuk mengganti simbol-simbol kekuasaan ini oleh Gerindra. Jakarta pun harusnya menurunkan orang-orangnya terlebih dulu, ketika mau ada yang diturunkan ke daerah-daerah untuk lebih mengenal medan yang ada. Sehingga tidak salah jalan dan sesuai apa yang diinginkan.

Untuk para kader agar terus memperbaiki dan meningkatkan soliditas partai. Selain itu kader juga harus menumbuhkan solidaritas antar sesama kader partai. Kader partai juga harus tahu moral dan etika. Rusaknya partai itu bukan dari ekternal tapi dari internal, baik anggota atau pura-pura anggota.

Banyak sudah contohnya politisi yang tak punya moral dan etika. Ini yang harus kita waspadai, kalau hal ini ada di antara kita, mending istirahat dulu saja. Dan yang terpenting, jika di lapisan bawah masih ada yang ngomong A, ngomong B, tidak manut kepada putusan pimpinan, saya sarankan silahkan mundur saja dari partai ini. Kita ingin menciptakan kader-kader yang militan bukan kader-kader yang sekadar ikutan. [G]

* Catatan : Artikel ini ditulis dan dimuat di Majalah GARUDA, edisi 14/Februari/2012