Lebih Dekat Dengan Sumarjati Arjoso : Politisi Perempuan Harus Berkualitas

Dia hanya tertawa ketika seorang teman mengajak bergabung di partai politik. Kala itu, politik dianggapnya dunia yang penuh intrik dan sandiwara. Belakangan ia berubah pikiran. Perubahan itu sampai mengantarnya berkantor di Senayan.

arjosoSebelumnya nama dr Sumarjati Arjoso, SKM sudah lama berkecimpung di lingkungan pemerintahan. Setidaknya ia pernah menduduki jabatan strategis di Departemen Kesehatan, Departemen Sosial dan terakhir di Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Kini ia tidak saja tercatat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tapi ikut aktif dalam Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) partai politik yang menjadi kendaraannya pada Pemilu 2009 lalu. “Awalnya dulu memang saya sama sekali tidak tertarik dengan dunia politik yang sukanya muter-muter, sementara saya kalau ngomong apa adanya,” ujar perempuan yang bulan ini genap berusia 67 tahun.

Di tengah pro kontra kunjungan soal studi banding anggota DPR ke luar negeri, namanya disebut-sebut sebagai anggota DPR dari Fraksi Gerindra yang kerap pergi ke luar negeri. Tak sedikit media yang menyoroti masalah ini. Pasalnya, hingga saat ini Partai Gerindra satu-satunya partai yang keukeuh melarang anggotanya bertandang ke luar negeri. Mau tidak mau, ia pun harus menjelaskan duduk persoalan ini baik ke masyarakat umum maupun kepada internal partai.

Menurut Sumarjati, kepergiannya ke luar negeri tidak pakai uang rakyat, sebagaimana yang dilakukan anggota DPR lainnya selama ini, tapi diundang oleh pihak lain. “Saya setuju bahwa ke luar negeri untuk studi banding itu tidak usah. Kecuali kalau ke luar negeri itu diundang dan menjadi peserta aktif. Itukan membawa nama negara di pentas dunia. Saya pergi tidak pernah pakai biaya negara sepeser pun,” ujar anggota DPR yang kerap diundang Parliamentary on Population and Development Forum ini.

Bagi dokter yang meniti karir dari bawah sebagai dokter Puskesmas ini, ketika menempati posisi apapun dan di manapun selalu ada tantangannya. Termasuk ketika istri dari politisi kawakan Amin Arjoso ini berada di lembaga legislatif. Menariknya, mantan Kepala BKKBN ini tak merubah sedikit pembawaan dan gaya bicaranya.

“Saya kalau ngomong apa adanya, tidak suka basa basi, tidak suka muter-muter, termasuk di DPR ini,” kata lulusan dari Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada dan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ini.

Keterlibatannya di panggung politik berawal ketika pertemuannya dengan sahabanya Halida Hatta pada Peringatan Hari Pancasila 1 Juni. Dalam kesempatan itu sang sahabat menyampaikan pesan Prabowo Subianto untuk mengajaknya bergabung di Partai Gerindra. Mendengar tawaran itu, ia malah tertawa. Waktu pun berlalu, Sumarjati pun sibuk mengisi masa-masa pensiunnya. Namun suatu hari, ia dihubungi Fadli Zon yang menyampaikan hal serupa. Setelah berdiskusi dengan keluarga, suami pun menyarankan untuk mengambil kesempatan itu. Meski waktu persiapan yang singkat, akhirnya Sumarjati pun berhasil melenggang ke Senayan di bawah bendera Gerindra.

Mengawali tugas sebagai anggota DPR, ibu dua anak itu ditempatkan di Komisi IX yang memang bidangnya. Tiga tahun kemudian dipindahkan ke Komisi XI. Tak lama kemudian, Sumarjati yang menjabat sebagai Ketua Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) ini kembali dirotasi ke Komisi VIII hingga sekarang. Dalam struktur partai berlambang kepala burung Garuda ini, selain duduk sebagai anggota Dewan Pembina, dan Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra, ia dipercaya sebagai Ketua Umum Perempuan Indonesia Raya (PIRA) pusat.

Dalam perbincangan dengan Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda di ruang kerjanya beberapa waktu lalu, perempuan kelahiran Yogyakarta, 29 Mei 1946 ini memaparkan bagaimana ia menjalani tugasnya di ranah politik sebagai anggota DPR dan politisi perempuan di tengah hingar bingar percaturan politik nasional yang kian memanas ini. Berikut petikan wawancaranya.

Bisa diceritakan, bagaimana perjalanan aktivitas politik Anda?

Awalnya, saya itu pensiun pada November 2006. Sementara Partai Gerindra lahir tahun 2008 awal. Pada waktu peringatan Hari Pancasila 1 Juni, saya bertemu dengan Ibu Halida Hatta. Dalam kesempatan itu dia menyampaikan pesan dari Prabowo Subianto kepada saya untuk bergabung. Kala itu saya hanya tertawa, karena saya memang tidak tertarik dunia politik. Cukup suami saya saja yang terjun di politik. Lah, saya itu orangnya polos, kalau ngomong ceplas ceplos, saya tidak suka yang muter-muter, sementara politik itu muter-muter.

Setelah beberapa waktu, saya kembali dihubungi politisi, kali ini oleh Fadli Zon yang meminta saya untuk bergabung sebagai caleg dari Gerindra. Padahal waktu pencalegan tinggal beberapa hari.  Setelah diskusi dengan keluarga, suami bilang terima saja, karena visi misi Gerindra bagus. Akhirnya saya mendaftar sebagai caleg Gerindra dengan syarat nomer satu. Saya pun ditempatkan di dapil Jateng 3 meliputi Grobogan, Pati , Blora, dan Rembang. Daerah pemilihan yang sama sekali tidak saya kuasai waktu itu.

Apa yang Anda lakukan waktu itu?

Saya ini tidak ngerti politik, meski suami saya orang politik. Selain sebagai advokat, dia aktif di politik, sementara saya sebelum di sini sibuk dengan tugas sebagai pegawai negeri. Saya pun sebelumnya tidak pernah bercita-cita untuk terjun di dunia politik. Akhirnya, ketika maju sebagai caleg Gerindra, mau tidak mau saya harus kerja keras dan dibantu oleh tim sukses dan teman yang ada di dapil itu saya pun keliling Grobogan, Pati, Blora dan Rembang di mana medannya sama sekali tidak saya kuasai sebelumnya. Tapi karena sudah terbiasa terjun ke masyarakat, ya saya jalani saja. Waktu itu saya tandem sekitar enam orang tapi yang lolos tiga orang, termasuk saya dengan perolehan 21.837 suara.

Sebelumnya apakah Anda terlibat di kepengurusan?

Waktu pencalegan saya belum berada di struktur kepengurusan. Nah, waktu itu Partai mau membentuk sayap Perempuan Indonesia Raya (PIRA), lalu saya diminta Ibu Halida Hatta untuk terlibat dalam pembentukan, hingga akhirnya diminta memimpin PIRA. Sekarang selain di PIRA, saya ditunjuk menggantikan posisi Ibu Halida Hatta sebagai Wakil Ketua Umum Bidang Kesejahteraan Rakyat sekaligus anggota Dewan Pembina.

Apakah ada bedanya dalam menjalani aktivitas dari eksekutif ke legislatif?

Saya rasa tidak ada bedanya, karena pada waktu di eksekutif saya lebih banyak terjun kegiatan bersama lembaga swadaya masyarakat. Jadi sudah sering bertemu dengan masyarakat. Selain itu, saya mengasuh Rubrik Dokter Anda di Majalah Kartini sejak tahun 1986 hingga sekarang. Kemudian program radio Pro Dokter di RRI sejak 1997. Saya kalau ngomong apa adanya, tidak suka basa basi, tidak suka muter-muter, termasuk ketika saya di DPR. Nah, mungkin bedanya saat memasuki dunia Senayan, mau tidak mau saya harus menghadapi beragam karakter yang tidak bedanya seperti sinetron, penuh dramatisasi dan akting. Tapi saya tetap apa adanya, karena menurut saya baiknya seperti itu.

Menurut Anda, seperti apa politisi Senayan saat ini?

Menjadi anggota DPR bukan sekadar kuantitas, tapi kualitas. Nah, sepanjang pengamatan saya, tidak semua anggota berkualitas. Maaf loh, sekali lagi maaf. Kadang ada anggota DPR sama sekali tidak menguasai masalah. Menurut saya tidak apa-apa, asal mau belajar. Seperti saya yang awalnya ditempatkan di Komisi IX, yang membidangi kesehatan, Keluarga Berencana (KB) tenaga kerja, memang bidang saya. Kemudian tiba-tiba dipindah ke Komisi XI tentang keuangan, perbankan misalnya, tapi saya sedikit tidaknya mengerti tentang keuangan, karena dulu waktu di Depkes juga pernah berurusan dengan menejemen keuangan, tapi sekali lagi saya harus belajar. Kemudian sekarang saya di Komisi VIII yang membidangi sosial, agama, perempuan. Nah untuk masalah sosial dan perempuan itu bidang saya, karena pernah menjadi pimpinan dirjen di Kementrian Sosial. Jadi tidak masalah, karena saya orangnya suka belajar.

Saya pikir anggota DPR tidak masalah latar belakangnya apa, yang penting mau dan mampu belajar. Ada kemauan dan kemampuan untuk belajar, tidak ada masalah. Dan yang penting mengerti akan tugasnya, harus mampu menyikapi setiap masalah dan memperhatikan konstituennya. Jangan sampai ketika sudah duduk di gedung DPR, tidak mau turun ke lapangan. Saya berharap DPR nanti lebih berkualitas, baik laki-laki maupun perempuan. Berkualitas bukan berarti berlebihan tapi menguasai masalah, berani mengemukakan argumentasi dan membela rakyat.

Lantas bagaimana dengan perempuan di parlemen?

Secara kuantitas dari 30 persen yang diharapkan, sekarang baru 18 persen. Nah dari 18 persen itupun belum 100 persen kualitasnya bagus. Tidak masalah, yang penting mau belajar. Sekali lagi kita sebagai anggota harus banyak belajar. Ke depannya, yang penting penempatan anggota sesuai dengan latar belakangnya.

Bagaimana dengan Partai Gerindra?

Memang, Partai Gerindra mengajukan 36 persen perempuan. Meski diakui juga dari 36 persen itu untuk caleg DPR-RI hanya ada sembilan caleg perempuan dari 77 dapil yang menempati posisi nomor urut satu. Padahal banyak perempuan yang potensial. Memang sekarang yang penting suara terbanyak, namun di tengah masyarakat kita nomor urut masih tetap berpengaruh.

Berarti anggapan perempuan di dunia politik masih dianggap nomer dua itu benar adanya?

Memang masih dinomerduakan. Sebetulnya perempuan banyak yang aktif. Tapi patut disyukuri, Gerindra memiliki dua kader perempuan yang dipercaya untuk tampil sebagai ketua DPD. Meski harus diakui, potensi perempuan di politik cukup besar. Tapi memang masih didominasi kaum laki-laki.

Menurut Anda politik itu apa?

Politik itu upaya untuk mencapai tujuan sesuai visi dan misi. Meski saya sadar betul dengan realitas di dunia politik itu tidak adanya teman abadi tapi kepentingan yang abadi. Tapi semua itu tidak masalah bagi saya, tidak membedakan dan saya tetap berteman sama siapa saja meski beda bendera.

Gerindra melarang anggotanya studi banding ke luar negeri, tapi Anda sering ke luar negeri. Bisa dijelaskan?

Memang, saya sering ke luar negeri. Sampai saat ini pun Gerindra melarang anggotanya ikut pergi studi banding ke luar negeri dengan biaya uang negara. Kalau saya pergi ke luar negeri tidak pakai uang rakyat, tapi diundang oleh pihak lain. Saya sering menghadiri Parliamentary on Population and Development Forum. Itu ada yang tingkat global, Eropa maupun Asia. Terakhir saya diminta untuk menjadi pembicara di European Parliamentary Meeting di London, soal KB (Keluarga Berencana) karena saya kan pernah menjadi kepala BKKBN. Jangan salah, kita di sana dihormati sekali. Saya pergi tidak pernah pakai biaya negara sepeser pun.

Saya setuju bahwa ke luar negeri untuk studi banding atau apapun istilahnya itu tidak usah. Kecuali kalau ke luar negeri itu diundang dan menjadi peserta aktif. Itukan membawa nama negara di pentas dunia, seperti saya sendiri diundang ke Kanada, Inggris, dan Ethopia pakai biaya sendiri, justru harusnya disangoni. Apalagi tiket yang diberikan kelas ekonomi padahal perjalanan jauh. Nah agar tidak terasa capek, biasanya saya ambil kelas bisnis, jadi otomatis saya nombok.

Apa komentar para petinggi Partai Gerindra waktu itu?

Begini, awalnya dilarang dan tidak dikasih ijin, termasuk Sekjen juga melarang. Waktu itu saya diundang ke Kanada, tidak berangkat. Lalu diundang ke Jepang, saya juga tidak berangkat. Dalam sebuah kesempatan saya jelaskan permasalah tersebut ke Pak Hashim. Lalu Pak Hashim bilang, kalau yang seperti itu boleh, tapi saya masih belum berani menghadiri beberapa undangan ke luar negeri. Kemudian suatu hari ketemu dengan Pak Prabowo di acara pernikahan anak Pak Murphy, saya pun ngomong ke Prabowo soal ini. Akhirnya beliau kasih ijin.

Berarti ini pengecualian?

Saya kira siapapun yang diundang dan sebagai peserta aktif dengan biaya pengundang, harusnya diijinkan, karena membawa nama negara. Di setiap pertemuan itu, saya selalu mengatasnamakan sebagai anggota DPR-RI, kecuali di acara tidak resminya baru saya mengatasnamakan Gerindra. Bahkan waktu saya ke London, ketemu orang Indonesia yang ingin membentuk Gerindra di London. Tentunya ini menguntungkan Gerindra dong.

Bagaimana reaksi mahasiswa di negara yang didatangi Anda?

Pernah waktu itu saya berangkat ke Belanda dan Inggris atasnama BAKN DPR-RI, tapi tidak dibiayai negara, kami dibiayai USAID. Kita bertemu dengan mahasiswa Indonesia di sana, malah mereka menghargai sekali kedatangan kita, karena saya jelaskan mulai dari jadwal kegiatannya hingga biaya perjalanannya yang nanggung pihak lain bukan negara.

Kalau perkembangan PIRA saat ini seperti apa?

Dalam perkembangannya PIRA lumayan baik dan sudah terbentuk sampai ke daerah, termasuk kegiatannya sudah mulai eksis. Tapi memang tidak semua pengurus aktif, tidak semua orang yang mau jadi pengurus itu mau aktif. Meski hampir terbentuk di setiap daerah, tapi yang aktif hanya separohnya. Padahal, saya lihat sebenarnya kekuatan perempuan cukup bagus, hal ini terbukti di beberapa daerah yang saya kunjungi. Hanya saja, selama ini belum banyak kesempatan yang diberikan kepada kaum perempuan. Biasanya kalau pengurus DPD-nya ganti, PIRA-nya pun ikut-ikutan ganti.

Apa harapan Anda terhadap perempuan Gerindra?

Ya bukan kader perempuan Gerindra saja, tapi perempuan Indonesia. Jadi, perempuan itu harus mengerti posisinya, memang dia harus tahu kodratnya, tapi dia juga harus maju. Kalau mau bersaing dengan kaum laki-laki, ya kita harus lebih baik sedikit di atasnya. Perempuan harus mau belajar seumur hidup, belajar dan berjuang. Jangan karena merasa perempuan, akhirnya menyerah dengan laki-laki. Karena untuk mencapai setara itu harus lebih baik. Terlebih masa depan tentu akan lebih berat, jadi harus berusaha keras, bekerja keras dan berjuang keras. Tapi ingat, perempuan juga tidak meninggalkan kodratnya dalam keluarga.

Kita berharap kader PIRA sebagai kelompok kekuatan perempuan akan menjadi penentu suara. Terlebih untuk menghadapi Pemilu 2014 nanti, kita berharap caleg perempuan mendapat dukungan moril dan materil dari tingkat pusat hingga daerah. Termasuk dari kader PIRA itu sendiri yang ada di daerah kita harapkan ikut berjuang mengkampanyekan caleg perempuan yang berkualitas agar jadi.

Lantas menurut Anda perempuan masa kini seperti apa?

Terus terang, saya prihatin dengan kondisi perempuan sekarang yang tidak mau belajar dengan baik, banyak yang malas, selalu nerima apa adanya, tidak fight. Buktinya, banyak perempuan yang mau kaya secara instan, tidak mau berjuang, itu merendahkan derajat perempuan sendiri.

Saya juga miris kok malah banyak perempuan yang ingin menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di negara orang. Nah, ini salah satu penyebabnya pemerintah yang kurang tegas dan tidak peduli terhadap persoalan perempuan. Harusnya lebih perhatian dengan menciptakan lapangan kerja untuk kaum perempuan. Meski ada kementrian perempuan tapi anggarannya lebih kecil dari dirjen. Saya berharap bisa dinaikkan tapi harus ditopang dengan kinerja yang lebih bagus. Semoga ke depan, Gerindra bisa mensejahterakan perempuan.

Pemilu 2014 nanti maju lagi?

Ya begitulah. Saya ditempatkan kembali di dapil yang sama,  Jateng 3 dengan nomer urut 1.

Apa harapan Anda di Pemilu nanti?

Pada pemilu nanti, saya berharap jangan ada money politic, meski sepertinya sulit. Bahkan sekarang ada istilah no wit no blos (tidak ada duit tidak nyoblos). Susah memang. Dan memang realitas di lapangan seperti itu. Inikan sangat menyedihkan. Bangsa ini menjelma jadi peminta-minta. Dulu tidak ada loh. Coba tengok, mulai dari pembagian zakat, angpao cap gomeh, daging kurban, dulu tidak ada yang rebutan. Sekarang antri, dan akhirnya rebutan. Mirisnya kalau dapat daging kurban dijual. Saya heran, kok negara kita ini jadi seperti itu. Pemerintahnya utang. Rakyatnya minta-minta. Ini memang lagi lagi kualitas bangsa.

Daripada memberikan ikan ke konstituen, saya lebih sering memberi pancingnya. Seperti beberapa waktu lalu saya bantu kelompok ibu-ibu dengan sejumlah mesin jahit yang bisa diberdayagunakan mereka. Biasanya selain menggunakan dana sendiri, saya sering cari program CSR pihak lain untuk membantu fasilitas umum yang dibutuhkan masyarakat. Saya sendiri selalu mengeluarkan iuran untuk PIRA dan partai sebagai bentuk kepatuhan anggota.

Dengan sederet jabatan, bagaimana Anda mengatur waktu?

Dalam hidup ini, setiap manusia mempunyai masalah sendiri-sendiri. Jalani saja dengan menerima apa adanya dan selalu bersyukur. Pekerjaan saya banyak, selain sebagai anggota DPR saya juga sebagai Ketua BAKN dan Ketua Kaukus Kesehatan. Di Senayan saja sudah seabreg kegiatan dengan permasalahannya, apalagi ketika turun ke daerah selalu menghadapi berbagai masalah. Kita jangan menghindar dari permasalahan. Ketika ada masalah harus dihadapi untuk diselesaikan. Prinsipnya usaha dan doa serta rasa syukur. [G]

DR SUMARJATI ARJOSO, SKM

Tempat, Tanggal Lahir:

Yogyakarta, 29 Mei 1946

Jabatan:

  • Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra
  • Ketua Umum PP Perempuan Indonesia Raya
  • Anggota Komisi VIII DPR-RI Fraksi Partai Gerindra
  • Ketua BAKN DPR-RI

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Mei 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Sumarjati Arjoso maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 1 untuk daerah pemilihan (dapil) Jawa Tengah III

Lebih Dekat Dengan Susi Marleny Bachsin: Gerindra Berjuang untuk Rakyat

Dunia politik acap kali masih dianggap sebagai dunia keras yang hanya dimiliki kaum laki-laki. Karena selama ini politik identik dengan perebutan kekuasaan. Terlebih dominasi laki-laki masih kental dalam struktur sosial dan budaya yang mempengaruhi kekurangaktifan perempuan dalam proses politik dan pengambilan keputusan.

susiAnggapan politik identik dengan laki-laki tidak berlaku bagi Susi Marleny Bachsin, SE, MM. Bagi perempuan cantik dan pemberani ini sejak semula perempuan memiliki kesetaraan dengan laki-laki. Pasalnya, perempuan memiliki kepentingan-kepentingan tertentu yang belum tentu dapat diwakili oleh kaum laki-laki. Baginya panggung politik adalah dunia yang setara milik kaum laki-laki dan perempuan. “Memisahkan perempuan dari politik sama saja memisahkan masyarakat dari lingkungannya. Terlebih undang-undang mengamanatkan keterwakilan perempuan sebesar 30 persen,” tegas perempuan kelahiran Jakarta, 19 November 1960 ini.

Keterlibatannya di panggung politik tak sekadar sebagai pelengkap, atau bahkan pemanis belaka. Lebih dari itu, berkat kepiawaiannya memadukan antara urusan keluarga, bisnis dan politik sungguh patut menjadi motivasi para aktifis perempuan untuk lebih serius terlibat dalam dunia politik. Sejak 2010, ia pun dipercaya sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Provinsi Bengkulu. “Saya merupakan satu-satunya perempuan yang diamanahi sebagai ketua DPD. Bukan karena apa-apa tapi atas dasar kinerja saya dalam membesarkan partai ini,” ujar ibu tiga anak ini.

Memang, diakui pada awalnya ia secara tidak sengaja bersinggungan dengan partai politik saat ia mengantarkan seorang teman yang hendak mendaftarkan diri sebagai caleg. Keberadaannya di Partai Gerindra dianggapnya sebagai sebuah takdir. Pasalnya, jauh sebelum itu ia kerap mendapat tawaran dari parpol lain untuk menjadi caleg, tapi dengan tegas ia tolak. “Tapi entah kenapa, ketika saya mengantar seorang teman untuk ikut mencalonkan diri di Partai Gerindra, malah saya tertarik. Bahkan hanya dalam waktu tiga hari saya bisa menyelesaikan semua persyaratan administrasinya yang diperlukan,” kenangnya.

Waktu itu ia pun memilih Bengkulu sebagai daerah pemilihannya. Meski tidak lolos ke Senayan, tak lantas membuatnya menyerah atau mundur. Malah ia bersyukur bahwa ini adalah takdir Allah yang menginginkannya untuk belajar dulu. “Kalau saya duduk di kursi Senayan saat itu mungkin saya tidak bakal ngerti apa-apa, tapi sekarang saya lebih siap dan merasakan langsung beratnya perjuangan,” ujar Donna yang hanya menempati posisi kelima dari empat kursi yang diperebutan dengan meraih sebanyak 30 ribuan suara pada pemilu 2009 lalu.

Kini, kecintaannya pada Gerindra telah mendarahdaging. Betapa tidak, ditengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, dengan penuh rasa tanggungjawab ia menjalankan tugas untuk kemajuan dan kebesaran partai. Bahkan tak jarang ia harus memboyong keluarganya ke Bengkulu ketika ada tugas yang menyita waktu lama. “Saya lebih sering berada di Bengkulu, sementara keluarga di Jakarta. Tapi semua itu saya jalani dengan amanah, dan keluarga pun memahami akan tugas ini,” tandas ibu dari Kara, Dasya dan Zeta ini.

Meski menjabat sebagai orang yang memegang kendali komando partai politik, Donna begitu biasa perempuan cantik ini disapa, tetap tampil ramah dan sederhana. Tak heran bila sosok kepemimpinannya yang lebih menonjolkan sisi keibuan, ia lebih cepat dikenal masyarakat, termasuk di kalangan para pimpinan daerah maupun pusat. Kesederhanaannya bukan sekadar omong kosong belaka. Bukan pula sebatas jargon, pemanis tampilan, atau pencitraan politik, tapi semua konstituennya memberi apresiasi atas kepiawaian dan kinerjanya. Terbukti setiap kunjungan ke pelosok Bengkulu, ia tak segan untuk menginap di kendaraan atau pun di rumah konstituen dengan segala keterbatasan fasilitas.

Sempat dipandang sebelah mata akan kemampuannya dalam berpolitik karena dianggap orang baru berpolitik, tapi ia tak mau ambil pusing, dengan bekal keyakinan akan kemampuan dan dukungan orang-orang terdekatnya ia pun mampu menepis anggapan miring itu dengan kerja nyata, kerja keras dan komitmen dengan perjuangan. Dan semua itu terbukti dengan kemajuan yang diraihnya secara signifikan.

Terlahir dan dibesarkan di keluarga pengusaha sukses tak lantas dirinya menjelma sebagai anak manja. Anak ketujuh dari delapan bersaudara dari pasangan Moekminin Bachsin dan Noeraini Kuris ini sudah mandiri sejak usia remaja. Usai menyelesaikan bangku sekolah ia tak langsung kuliah tapi menyibukkan diri dengan bekerja. Tapi siapa sangka, di tengah kesibukannya, kini ia pun berhasil menyelesaikan kuliah program magister (S2) di bidang manajemen.

Lantas seperti apa pandangan dan perjuangannya sebagai satu-satunya perempuan yang diamanahi tugas memimpin parpol di tingkat propinsi ini. Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Garuda, perempuan cantik yang tengah digadang-gadangkan banyak kalangan di Bengkulu untuk maju dalam pemilihan walikota Bengkulu September mendatang ini memaparkannya saat ditemui di Jakarta beberapa waktu lalu. Berikut petikannya:

Bisa Anda ceritakan aktifitas keseharian Anda saat ini?

Saya ini, hanya seorang ibu rumah tangga. Tapi saya mendapat amanah untuk menjalankan tugas sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Provinsi Bengkulu. Keseharian saya, selain mengurus keluarga, saya tumpahkan untuk Gerindra. Tentunya saya lebih sering berada di Bengkulu, meski keluarga di Jakarta. Di samping menjalankan bisnis yang ada di Jakarta.

Bagaimana Anda mengatur waktunya?

Saya domisili di Bengkulu. Ketika keluarga saya membutuhkan saya, baru saya pulang ke Jakarta. Malah, kadang-kadang keluarga dan anak-anak sering saya ajak ke Bengkulu. Karena ini tanggungjawab saya di partai dan demi jalannya organisasi partai. Mungkin lebih sering berada di Bengkulu.

Kondisi Partai Gerindra di Bengkulu saat ini seperti apa?

Alhamdiulilllah kondisi sekarang semua berjalan sesuai arahan dari pusat. Struktural kepengurusan mulai dari DPD, DPC, hingga DPAC sudah terbentuk. Selain tidak ada gejolak, mesin-mesin partai juga berjalan. Insya allah, tahun ini untuk tingkat ranting sebanyak 1.243 ranting pun bisa terbentuk. Disamping itu soliditas dan loyalitas kader menjelang pemilu 2014 makin kuat. Semua itu bukan sekadar omong kosong, tapi kita buktikan ketika melakukan kunjungan-kunjungan ke daerah.

Bagaimana kekuatan Partai Gerindra di Bengkulu?

Memang saat ini kekuatan kita hanya satu kursi di DPRD Propinsi, dan tujuh kursi yang tersebar di DPRD kabupaten/kota. Namun setidaknya sejak dua tahun terakhir ini, ada peningkatan yang signifikan. Terlebih setelah adanya pengiriman kader-kader ke Hambalang, mampu membawa perubahan yang luar biasa. Di samping itu, posisi kader yang ada di kursi parlemen pun dipercaya menduduki posisi penting baik itu di komisi, fraksi gabungan maupun di badan kelengkapan dewan lainnya.

Menjelang 2014, strategi apa yang dilakukan Partai Gerindra Bengkulu?

Menjelang pemilu 2014, menggalakkan program KTA-nisasi, sosialisasi partai, dan melaksanakan delapan program aksi ke tengah-tengah masyarakat. Di lapangan sering ditemukan ada orang yang tidak memilih partai tapi mau pilih Prabowo. Tentu saja ini kesempatan bagi Gerindra. Saya tidak melihat Gerindranya tapi Prabowo, tapi yang jelas Prabowo itu rumahnya di Gerindra, jadi sekuat tenaga kita akan terus sosialisaikan Partai Gerindra dan Prabowo. Target ke depan setidaknya bisa meraih satu kursi DPR-RI, dan satu fraksi di DPRD kabupaten/kota.

Komentar Anda sebagai perempuan yang terjun di politik?

Jujur sebelumnya saya tidak mengerti apapun tentang politik. Lalu saya learning by doing, ternyata saya punya kemampuan untuk melakukan sesuatu. Buktinya saya sudah dua tahun bisa menahkodai dan masih dipercaya oleh pusat untuk memimpin satu propinsi. Ini sebuah kebanggaan bagi saya. Keterlibatan perempuan itu harus ada, dan saya sebagai satu satunya pimpinan perempuan di Gerindra daerah, tentu caranya berbeda dengan apa yang dilakukan kaum laki-laki. Meski kadang dilihatnya oleh mereka, saya ini banyak pertimbangan dalam memutuskan sesuatu. Itulah sisi keibuan seorang perempuan. Tapi yang jelas saya tidak ada pikiran untuk korupsi.

Sebagai seorang perempuan, bagaimana Partai Gerindra memperlakukan Anda?

Selama ini Partai Gerindra memperlakukan saya sama dengan yang lain. Tidak ada anak emas, atau dininabobokan, atau bahkan dianaktirikan. Memang kita sama dengan yang lainnya harus disiplin dalam menjalankan tugas organisasi kepartaian. Mungkin bisa jadi, antar DPD tentu berbeda perlakuannya, sesuai dengan kemampuan hingga kondisi geografisnya. Pasalnya ada ketua DPD yang juga menempati posisi strategis di daerahnya, seperti merangkap sebagai gubernur, bupati atau tokoh masyarakat. Sementara Bengkulu itu hanya dipimpin oleh seorang perempuan. Tapi jangan salah, Bengkulu itu ditopang oleh orang-orang hebat.

Bisa diceritakan awal mula Anda bergabung ke Partai Gerindra?

Awalnya memang tidak sengaja. Tapi saya anggap sudah takdir saya, harus berada di Gerindra. Sebenarnya, jelang pemilu legislatif 2009, saya sudah ditawari menjadi caleg di partai lain, tapi saya menolaknya. Anehnya entah kenapa, ketika saya mengantar seorang teman untuk ikut mencalonkan diri di Partai Gerindra, malah saya tertarik. Dan bahkan hanya dalam waktu tiga hari saya bisa menyelesaikan semua persyaratan administrasinya.

Jadi, waktu itu saya sedang berada di kawasan Pondok Indah untuk keperluan jual beli rumah, ternyata yang punya rumah bilang hanya punya waktu sebentar karena harus ke jalan Brawijaya untuk daftar jadi caleg. Akhirnya saya pun ikut sekalian mengantar dia ke Brawijaya. Sesampainya disana, saya dibujuk, kenapa tidak sekalian ikut daftar saja. Entah kenapa saat itu juga saya merasa ada panggilan hati untuk ikut nyaleg. Lalu saya pun ditempatkan di dapil Bengkulu. Meski memang pada akhirnya tidak lolos ke Senayan, saya hanya bisa mengumpulkan sekitar 30 ribuan suara. Bukan karena saya kurang maksimal tapi memang berdasarkan perhitungan KPU saya menempati posisi ke lima dari empat kursi yang diperebutkan waktu itu.

Apa yang membuat Anda mau terjun ke dunia politik?

Sejak saya memutuskan untuk ikut jadi caleg dari Gerindra, sejak saat itulah Gerindra mendarahdaging dalam diri saya. Harus diakui, setelah saya pelajari lebih dalam sebelum terjun langsung, perjuangan Gerindra benar-benar untuk rakyat. Dan itu terbukti, tidak hanya saya yang terpikat dengan Gerindra, malah sekarang masyarakat sepertinya berbondong-bondong ke Gerindra. Meski bukan karena program yang dicanangkan Gerindranya tapi sosok Prabowo yang membuat masyarakat. Termasuk keluarga besar saya yang memang sama sekali tidak ada yang terjun ke politik. Tapi ketika saya terjun ke partai politik, keluarga semuanya malah mendukung. Bukan karena saya partai yang dipilihnya Gerindra, tapi lebih melihat pada sosok Prabowo Subianto. Anehnya, sekarang ini baik saya maupun keluarga kalau ada orang yang bilang sesuatu tentang Gerindra itu apa gitu, rasanya sensitif banget kita.

Lantas bagaimana awal mula Anda ditunjuk sebagai ketua DPD Bengkulu?

Konon menurut pihak DPP, penunjukan itu lebih pada karena kinerja saya sewaktu pencalegan pada pemilu 2009 lalu. Awalnya, sebagai Pjs (pejabat sementara) menggantikan posisi ketua. Lalu sejak 2010 kemarin, saya pun dikukuhkan sebagai ketua. Mungkin ini takdir Allah, kalau saya duduk di kursi Senayan itu saya tidak bakal ngerti apa-apa, tapi harus belajar dulu. Dengan demikian Allah menunjukkan pada saya untuk belajar dulu baru terjun ke politik praktis. Dan sekarang saya tengah menikmati bagaimana perjuangan di partai politik dengan cara terjun langsung ke masyarakat, mengerti apa yang diinginkan masyarakat, konstituen khususnya dan pada akhirnya saya pun lebih paham serta memahami apa kemauan masyarakat.

Bagaimana Anda dalam menjalankan tugas sebagai ketua DPD?

Awalnya memang masih meraba-raba, tapi lama-lama saya menikmatinya. Bukan karena melihat background-nya, tapi malah saya ikut hanyut sejak kampanye dulu hingga sekarang ketika turun ke bawah. Saya ini easy going. Hampir seluruh pelosok Bengkulu sudah saya kunjungi. Bahkan ke daerah yang harus ditempuh perjalanan darat berjam-jam pun saya lakukan. Termasuk ketika harus bermalam di jalan atau di rumah penduduk yang tidak saya kenal sebelumnya. Saya tidak pernah takut.

Jadi, menurut Anda politik itu apa?

Politik itu melakukan sesuatu untuk rakyat. Siapapun harus berpolitik kalau mau merubah nasib sebuah bangsa. Tapi bukan sekadar menjadi politisi, tapi kita juga harus bisa berpolitik. Sebagaimana arahan dari Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto, bahwa kita bukan politisi, tapi kita pejuang untuk mempertahankan NKRI sampai darah penghabisan. Oleh karena itu kita harus tampil kepada rakyat sebagai pembela kebenaran, kejujuran, membela yang lemah, membela semua golongan, karena itu ruh dari partai Gerindra. Itulah yang saya maksud politik itu melakukan sesuatu untuk rakyat.

Apa pandangan Anda dan keluarga terhadap sosok Prabowo?

Yang jelas, pertama beliau terlahir dan dibesarkan di keluarga yang terpelajar. Siapa yang tak mengenal orangtua beliau. Kedua, beliau merupakan sosok pemimpin yang berani, tegas, disiplin tapi bukan diktator dan bukan demokrasi seenaknya saja seperti yang berjalan saat ini. Beliau adalah perpaduan sosok Soekarno dan Soeharto.

Memang seperti apa kondisi kepemimpinan di Indonesia saat ini?

Ya boleh dibilang butut. Saya tidak mengatakan butut ini bukan lima tahun yang lalu, tapi dua tahun terakhir ini. Buktinya banyak kecurangan-kecurangan, ketidakadilan di mana-mana baik tingkat pusat maupun daerah. Perlu diingat, masyarakat kita itu tidak bodoh. Memang mereka kecewa, dan merasa tertindas, tapi tidak punya kekuatan untuk melawan. Untuk itu solusinya kepemimpinan kita harus diganti dengan pemimpin yang tegas, tahu dan mau bekerja untuk melaksanakan tugasnya, dan mendengar kemauan rakyat.

Seperti apa Suka duka dalam memimpin partai?

Yang jelas, saya bisa merangkul semua kalangan. Alhamdulillah selama ini tidak ada gontok-gontokan. Selama ini mereka (pengurus) merasa senang ada ibunya, ada yang menganggap kakak. Kalau yang dukanya, paling gossip, isu-isu sebagai seorang perempuan yang terjun ke dunia politik yang mungkin itu banyak juga dialami oleh teman-teman perempuan lainnya.

Apa pesan untuk para kader Gerindra di Bengkulu?

Tentunya baik saya maupun kader Bengkulu harus terus bekerja keras untuk memenangkan partai, mensosialisasikan partai dan Prabowo Subianto sebagai calon presiden. Tetap dalam satu barisan, jaga loyalitas dan kekompakan untuk menang di 2014 baik pemilihan legislatif dan pemilihan presiden. [G]

Nama Lengkap:

Susi Marleny Bachsin, SE, MM

Tempat dan Tanggal Lahir:

Jakarta, 19 November 1960

Jabatan:

Ketua DPD Partai Gerindra Provinsi Bengkulu, 2010 – sekarang

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Mei 2012

Anita Aryani : Perempuan Gerindra Harus Berkualitas

Aktivitas politiknya sudah tak diragukan lagi. Pun dengan kapasitasnya sebagai pejuang politik perempuan. Hingga kini bersama kaukus perempuan baik lintas partai maupun organisasi kemasyarakatan ia terus berjuang mengantarkan perempuan untuk bisa tampil di ranah politik. Di sisi lain, di ranah domestik, kodratnya sebagai perempuan tetap ia jalankan dengan penuh tanggungjawab.

Ya, itulah sosok Anita Ariyani, yang mendedikasikan waktu dan tenaga serta pemikirannya untuk kemajuan kaumnya lewat jalur partai politik. Atas kepiawaiannya dalam menggalang dan memberdayakan suara perempuan, ibu empat orang anak ini didapuk sebagai Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). “Karena siapa lagi yang mau menyuarakan kepentingan perempuan, kalau bukan perempuan itu sendiri,” tegas perempuan kelahiran Semarang, 3 Agustus 1965 ini.

Keterlibatan Anita di partai yang didirikan mantan Danjen Kopassus, Prabowo Subianto empat tahun silam itu bukan datang dengan begitu saja. Istri dari Balkan Amdan ini tahu betul, bahkan ikut berjibaku mendirikan partai berlambang burung kepala garuda itu. Baginya, bukan hal yang gampang menjalankan amanah sebagai ketua bidang. Meski tugas yang diemban itu tak lain urusan kaumnya sendiri, perempuan.

Anita berharap perempuan Gerindra sama dengan apa yang diharapkan Prabowo, sebagaimana dituangkan dalam manivesto partai, bahwa perempuan Gerindra itu harus berkualitas. Dengan majunya perempuan ke ranah politik dan menduduki tempat-tempat strategis adalah salah satu cara agar kepentingan perempuan itu sendiri terwakili.

Menurutnya, politik terlepas dari segala kontroversi yang ada di dalamnya, merupakan alat sosial yang paling memungkinkan untuk terciptanya ruang kesempatan dan wewenang. Bahkan sangat dimungkinkan bagi rakyat mengelola dirinya melalui berbagai aksi bersama, diskusi, sharing dalam prinsip kesetaraan dan keadilan. Karena peran politik sangat jelas sebagai salah satu sarana yang dapat mendorong perempuan untuk mencurahkan kecemasannya, walau begitu lagi-lagi budaya, sistim sosial, sistim politik hingga masalah kemiskinan masih kerap jadi pembatas bagi perempuan.

“Untuk itu diperlukan revitalisasi nilai budaya untuk mendorong peran strategis perempuan untuk memasuki wilayah pengambilan kebijakan bagi perempuan,” ujarnya sambil menambahkan bahwa pihaknya telah menyiapkan konsep pengkaderan bagi kader perempuan Gerindra untuk bisa tampil ke publik sebagaimana yang diharapkan para pendiri partai.

Sebelum bergabung di Partai Gerindra, Anita sudah melibatkan diri dalam arena politik sejak 1999, bersama para seniornya di Partai Bulan Bintang (PBB). Namun karena ada hal-hal yang tidak cocok dengan pendiriannya, usai muktamar yang pertama, Anita pun memilih mundur. Tak lama kemudian Anita pun kembali terlibat dalam pendirian Partai Islam Indonesia (PII). Sayang, partai yang didirikan politisi senior, Hartono Mardjono (almarhum) tidak lolos verifikasi faktual. Sejak saat itu, Anita pun merasa cukup sudah waktunya yang diberikan pada dunia politik.

Seiring berjalannya waktu, kala itu ia menjenguk sahabatnya, Fadli Zon yang tengah terbaring sakit. Dalam pertemuan itu, sang sahabat memintanya untuk membantu proses pendirian Partai Gerindra. Anita pun diminta mencari aktivis-aktivis perempuan untuk gabung hingga akhirnya terbentuk. Pada waktu yang sama, ia pun menolak ketika diminta untuk masuk dalam jajaran pengurus, tapi karena ada prasyarat harus 30 persen perempuan, akhirnya Anita pun masuk dalam jajaran kepengurusan sekaligus pendiri partai.

Dalam Pemilu 2009, Anita pun ikut berlaga memperebutkan kursi di daerah pemilihan (dapil) Jawa Tengah 10 yang meliputi Pekalongan, Pemalang, dan Batang. Sayang, suara sebanyak 64 ribu tak cukup untuk membawanya ke Senayan. Bagi Anita, selain karena dapil itu padat dan bilangan pembaginya besar, ada juga hal yang diluar batas kesadarannya sebagai manusia biasa.

“Berpolitik, itu harus sabar, lapang dada, andap ashor, bisa menyesuaikan ritme, siap sakit hati, dan menerima kritik dari orang lain,” ujar lulusan IAIN Walisongo Semarang ini.

Memang, mental dan jiwa besarnya sudah terasah sejak ia bergelut di organisasi kemahasiswaan. Semua tahapan pendidikan dan latihan yang ada di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) diikutinya tanpa terlewat satu pun. Bahkan jauh sebelum itu, Anita remaja menggembleng dirinya dengan aktif di berbagai kegiatan dan organisasi sekolah. “Saya selalu ingin runtut dalam mengikuti pelatihan sehingga bisa mengetahui semua,” tegasnya.

Kesibukannya di dunia politik tak lantas membuatnya lupa akan tugas dan kewajibannya sebagai istri dan ibu dari empat anaknya. Untungnya, baik sang suami maupun putra putrinya sudah mengerti dengan ritme kerja di parpol yang digelutinya. Kaitannya dengan itu, Anita mengingatkan kepada sesame kaumnya bahwa apa yang dilakukan oleh tokoh perempuan Kartini tidak sekadar dikenang belaka. Tapi lebih dari itu, tokoh perempuan yang menjadi inspirasi, pendobrak emansipasi wanita itu menekankan bahwa perempuan harus bertanggungjawab terhadap keluarga, bangsa dan negara. “Jadi apa yang saya lakukan, tak lebih pada apa yang disampaikan dan dilakukan Kartini. Tapi ingat semangat Kartini tidak bisa dengan sendirinya tanpa dukungan kaum laki-laki,” pesannya. [G]

* Catatan : Artikel ini ditulis dan dimuat di Majalah GARUDA, edisi 16/April/2012