Belajar Kepada China

Banyak orang takjub melihat kemajuan yang dicapai China saat ini. Hal yang menakjubkan, China tidak pernah tampak lelah membangun. Negeri Tirai Bambu itu terkesan mempunyai daya tahan dan energi luar biasa sehingga terus bergerak membangun dan membelanjakan triliunan dolar AS per tahun. China pun tak pernah terpengaruh oleh tetangga-tetangganya yang lamban dan gampang lelah.

Tak heran jika China menjadi negara yang tengah menjadi sorotan khalayak dunia karena keberhasilannya bangkit dari image negara Asia yang masih berkembang. Pertumbuhan ekonomi China bisa sangat pesat dibandingkan negara Asia lainnya –yang notabene masih menyandang gelar sebagai negara berkembang— termasuk Indonesia. Pertumbuhan ekonomi China diatas 13 persen per tahun. Pun dengan pendapatan per kapitanya yang naik dari 100 dolar AS per tahun menjadi 1300 dolar AS per tahun.

China sendiri tercatat memiliki obligasi Amerika sebesar 1,2 triliun dollar AS, tertinggi dibandingkan negara manapun. Bahkan sejak 2006, China memiliki surplus simpanan bank terbesar di dunia hampir 180 miliar dolar AS. Begitu pula dengan cadangan devisi yang dimiliki China merupakan terbesar di dunia yang mencapai 1 triliun dolar AS lebih. Dan diperkirakan tahun 2020, China akan mampu mengungguli Amerika.

Tak hanya itu, gelombang kebangkitan perekonomian China mengguncang seluruh dunia. Hanya dalam waktu singkat, ribuan perusahaan di Eropa, Asia, dan Amerika menjadi korban serbuan perdagangan China. Maka pantas rasanya, bangsa ini harus belajar dari keunggulan China –yang membuat mereka besar seperti sekarang. Diantara keunggulan utama China adalah mereka lebih efisien dan produktif.

Boleh jadi, selama ini kita sering salah kaprah menilai China yang bisa menjual barang dengan harga murah lantaran upah pekerjanya luar biasa rendah. Kini, upah pekerja di China tidaklah bisa dikatakan sangat murah. Salah satu keunggulan China adalah pengusaha dan pekerjanya memiliki sikap dan mentalitas kerja yang baik.

Nyatanya, mereka adalah pekerja keras. Mengejar kesejahteraan adalah penting bagi masyarakat China sejak dahulu kala, dan untuk mencapainya mereka sadar harus bekerja keras. Pekerja di China relatif tidak banyak menuntut, padahal kondisi kerja mereka terkadang tidaklah lebih baik daripada di Indonesia. Produktivitas pekerja China juga lebih tinggi dibanding pekerja Indonesia.

Di sisi lain, China juga dikenal efisien karena menerapkan suku bunga kredit yang murah hanya 4-5 persen per tahun. Sementara pengusaha Indonesia harus membayar tiga kali lipatnya. Belum lagi ditambah berbagai biaya yang ujung-ujungnya membuat biaya produksi di Indonesia mahal.

Memang, menjadi pelaku bisnis di China sama dengan berhadapan langsung dengan publik yang besar bukan kepalang. Bahkan semua parameter di China memang serba raksasa. Lapangan terbang, pusat perbelanjaan, hotel dan area terbuka seperti Tiananmen, perumahan serta apartemen terwujud dengan spektakuler. Dan sepertinya, Indonesia dengan penduduk seperenam dari China mulai menghadapi persoalan yang sama.

Peran Negara
Lompatan besar perekonomian China yang mengagumkan tak lepas dari adanya peran negara. 15 tahun pasca meninggalnya Mao Zedong, China berubah fantastis. Deng Xiao Ping sebagai pemimpin China, membangun negerinya dengan perencanaan yang matang jauh ke depan. Di tangan Deng, China menyadari bahwa ia punya potensi ekonomi, maka yang dilakukan pertama adalah habis-habisan membangun fondasi untuk menjadi raksasa ekonomi dunia.

Kala itu, meski Deng bersikeras mempertahankan komunisme, ia memberanikan diri membuka belenggu perekonomian negara pada tahun 1979 dengan memboyong pemodal asing. Masuknya investasi asing ke China, tapi menolak intervensi politik menjadi sebuah kompromi cerdas.

Hasilnya, dengan adanya campur tangan pemerintah yang sangat dominan itu membuat China mempunyai tabungan negara mencapai 1 dolar trilliun lebih. Pasalnya, tak adanya kebebasan individu untuk mengelola bisnis maka pemerintah bisa menabung uang negara sebegitu besar yang nantinya akan menjadi modal bagi perusahaan-perusahaan China untuk memproduksi. Jadi jangan heran hampir semua barang elektronik yang ada di Indonesia buatan China sangatlah murah.

Bahkan dengan semakin melesatnya China disektor industri, seperti industri elektronik misalnya membuat Amerika Serikat kelabakan menghadapi kebijakan ekonomi China –yang terkadang sulit diterima dengan akal sehat— kenapa pemerintah China mau memberikan pinjaman modal bagi perusahaan-perusahaan baik yang swasta maupun negeri. Semua itu didasarkan karena segala pendapatan yang dihasilkan perusahaan baik swasta maupun negeri larinya akan tetap untuk negara yang dikelola oleh pemerintah.

China tak hanya menerapkan mekanisme sistem ekonomi pasar sosialis-nya saja –yang membuat China mampu menyaingi Amerika tanpa harus mengadopsi sistem politik barat— tapi juga adanya implementasi yang berkesinambungan dari setiap kebijakan yang dibuat pasca reformasi. Pemerintah kerap menyamarkan kepentingan mereka, sehingga laju pertumbuhan ekonomi China tetap terjaga melalui berbagai regulasi penerapan hukum dan birokrasi yang kuat. Bahkan tak jarang pemerintah mengerjakan proyek-proyek besar dengan lebih dulu menggusur penduduk yang berdiam di wilayah itu.

Memang, lokomotif ekonomi China yang melaju dengan cepat menarik gerbong-gerbong panjang di belakangnya. Namun cepatnya gerak maju rangkaian kereta api tersebut tak jarang juga membuat banyak orang tak dapat mengejarnya dan akibatnya tercecer di belakang. Berdasar pada data, pemerintah China menyebut ada sekitar 26,1 juta orang hidup dalam kemiskinan absolut. Namun kemisminan di China bukan sesuatu yang kita lihat sehari-hari. Di Beijing misalnya, akan jarang dijumpai orang miskin di keramaian.

Para pemimpin China pun mengakui, globalisasi memang memberikan dampak yang luar biasa yang sekaligus menghasilkan kesejahteraan dan juga kemiskinan yang secara absolut menyengsarakan banyak orang di kota hingga desa. Namun, sistem kendali terpusat itu menjadi dasar kemajuan China. Sejatinya China menjadi negara yang offensive karena selalu ingin bersaing demi mencapai kesuksesan dalam pasar ekonomi global. Dan China pun meyakini dalam kapitalis sosial peranan negara masih tetap ada.

Berbeda dengan Indonesia yang semakin banyak menelorkan undang-undang dan juga amandemen namun itu hanya sebatas wacana yang secara abstrak tertulis karena kurang maksimal dalam implementasi dalam kehidupan masyarkat. Lantas apa yang harus diperbuat Indonesia?

Menggunakan konsep Porter tentang Competitiveness of The Nations –yang dikutip oleh Mas Wigrantoro Roes Setiyadi— maka jawaban singkatnya, kekurangan terletak pada birokrasi dan rezim pemerintahan. Meski jawaban ini tidak seratus persen benar, namun bila birokrat kita berlapang dada, tidak defensif namun instrospeksi dan selanjutnya membuat kebijakan perubahan dan sekaligus mengimplementasikanya secara kontinyu dan konsisten dengan dukungan anggaran sebagaimana dilakukan oleh Deng Xiao Ping, prospek Indonesia dalam mengejar ketertinggalan sangat besar. []

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah QUALITY ACTION, edisi 01/Oktober 2011