Lebih Dekat Dengan Abdul Wachid : Menyuarakan Suara Petani

Semangat dan perjuangannya menyuarakan nasib para petani di meja parlemen tak pernah pudar. Meski kadang harus menelan kekecewaan karena suara lantangnya nyaris tak terdengar dilibas keriuhan suara partai penguasa. Melalui program ekonomi kerakyatan yang terus digelorakan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), ia bertekad untuk bisa melahirkan kebijakan hukum dan penganggaran yang pro-rakyat, khususnya kaum petani.

CALEG DPR-RI DAPIL JATENG 2 NO. URUT 1

CALEG DPR-RI DAPIL JATENG 2 NO. URUT 1

Diakuinya selama menjabat sebagai anggota DPR-RI ada banyak hal yang selama ini diperjuangkan Partai Gerindra belum bisa direalisasikan. Karena itulah Abdul Wachid kembali maju sebagai calon anggota legislatif (caleg) di daerah pemilihan (dapil) Jawa Tengah 2. “Masih banyak ide gagasan program dan perjuangan Partai Gerindra yang belum terealisasi. Apalagi saat ini perwakilan partai kita di parlemen masih kecil, karena itu saya maju kembali,” tegas caleg nomor urut 1 dari dapil Jawa Tengah 2 yang meliputi Demak, Kudus dan Jepara ini.

Keterlibatan pria kelahiran, Jepara 12 Mei 1961 di panggung politik boleh dibilang baru lima tahun. Namun begitu, sepak terjangnya sebagai pejuang politisi tak diragukan lagi. Bahkan sejak diamanahi sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Jawa Tengah, pamor pria yang biasa disapa Wachid ini kian disegani. Wajar memang, sebelum bergelut di dunia politik, nama Wachid sudah dikenal oleh para politisi baik yang ada di pusat maupun Jawa Tengah. Pasalnya, pelopor sekaligus pendiri Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) ini kerap turun sebagai pelaku parlemen jalanan kala memperjuangkan nasib petani.

”Saya ini sebelumnya, hanyalah petani tebu yang terus berjuang soal nasib tebu dan gula nasional hingga harus turun ke jalananan,” ujar anggota Komisi IV yang menangani bidang pertanian, pertanahan, kehutanan dan kelautan ini.

Selain giat memperjuangkan nasib petani tebu, Wachid juga aktif di Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).  Ini pula yang menjadi alasan Prabowo Subianto, Ketua Umum HKTI yang memintanya untuk menahkodai Partai Gerindra di Jawa Tengah 2008 silam. Diakuinya, Wachid yang kala itu masih merasa belum menguasai dunia perpolitikan merasa gamang. Namun berbeda dengan Prabowo yang meyakini bahwa dirinya mampu memimpin partai bentukannya di Jawa Tengah. ”Tapi saat itu, Pak Prabowo meyakinkan saya, bahwa saya layak memimpin Gerindra di Jawa Tengah,” ceritanya.

Tampilnya Wachid di pentas politik sempat dipandang sebelah mata oleh lawan politiknya. Namun, berkat semangat dan hubungan sesama jaringan yang kuat, ia tak gentar menghadapi medan politik yang penuh persaingan. Kepiawainnya menggalang massa dari berbagai kalangan, khususnya kaum petani dan sarungan, Wachid berhasil mengguncangkan peta politik Jawa Tengah. Kala itu, bersama almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Wachid berhasil mengumpulkan massa dalam sebuah kegiatan istigosah yang digelar di Jepara dan dihadiri dihadiri tokoh Nahdlatul Ulama (NU) kharismatik, Gus Dur beserta keluarganya. Termasuk ketika masa Pemilu 2009 lalu, Wachid berani menggelar kampanye di Simpang Lima Semarang –yang acap menjadi tolok ukur kebesaran dan popularitas partai di mata warga Jawa Tengah.

Sebagai panglima Partai Gerindra di Jawa Tengah, pada 2009 lalu, Wachid berhasil meraih 65 kursi DPRD kabupaten/kota, 9 kursi DPRD Provinsi dan 4 kursi DPR-RI. Kini, menghadapi Pemilu 2014, partai berlambang kepala burung garuda yang dipimpinnya itu ditargetkan meraih 25 kursi parlemen dari 10 dapil yang ada di Jawa Tengah.

”Tentu ini pekerjaan yang berat. Karena itu dibutuhkan kerja keras dari semua elemen partai, sehingga bisa mengusung Pak Prabowo Subianto menjadi capres tanpa koalisi,” tegasnya.

Lalu seperti apa yang dilakukan Ketua APTRI dalam mewujudkan target pencapaian yang dibebankannya itu. Di tengah kesibukannya sebagai anggota DPR-RI dan Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Tengah, Wachid memaparkan panjang lebar Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda, saat ditemui di ruang kerjanya beberapa waktu lalu. Berikut petikannya:

Bisa Anda ceritakan perkembangan Partai Gerindra Jawa Tengah saat ini?

Di 2009 lalu,Partai Gerindra Jawa Tengah dengan waktu persiapan yang sangat sempit berhasil mendirikan 35 DPC dan 573 PAC. Kini Jawa Tengah sudah memiliki struktural partai tingkat ranting sebanyak 86 ribu. Dimana masing-masing ranting memiliki kepengurusan sebanyak 17 orang dan sudah berseragam semua pengurusnya. Begitua juga dengan organisasi sayap partai Jawa Tengah boleh dibilang lebih kondusif di banding daerah lain bahkan ada yang sudah merambah hingga ke tingkat desa.

Selama empat tahun di bawah kepemimpinan saya, Alhamdulillah kondusif dan tidak ada gejolak. Kalaupun ada itu hanya selintasan saya dan saya anggap sebagai dinamika politik seperti masalah yang dihadapi Ketua DPC Kota Surakarta yang tersandung hukum, alhamdulillah sudah ada gantinya. Saat ini Partai Gerindra di Jawa Tengah menduduki urutan ketiga, setelah PDIP dan Golkar. Ini bukan kita yang menilai, tapi ini berdasarkan survey yang dilakukan oleh partai lain. Karena itu, semoga dengan kekuatan ini, target 25 kursi yang dibebankan kepada Jawa Tengah bisa terlampaui. Tentu saja mau tidak mau kita harus kerja ektstra keras kalau Partai Gerindra mau menang dan mengusung Pak Prabowo sebagai capres tanpa koalisi.

Apa yang Anda lakukan menghadapi Pemilu 2014?

Untuk menghadapi Pemilu 2014, kami sudah siap dengan dua orang saksi per TPS. Kita juga sudah menyiapkan tenaga TOT saksi yang siap diterjunkan ke semua wilayah. Para caleg tingkat propinsi dan kabupaten/kota sudah kita kumpulkan termasuk caleg DPR-RI semuanya sudah mengikuti diklat yang diadakan beberapa waktu lalu. Meski di tengah kesibukan saya sebagai dewan, sengaja saya mengikuti sampai akhir agar bisa bercengkrama bersama para caleg dari 10 dapil yang ada di Jawa Tengah.

Lantas, apa yang melatarbelakangi Anda maju kembali sebagai caleg?

Sejak menjabat sebagai anggota dewan tahun 2009, sepertinya masih banyak perjuangan kami yang belum terealisasi. Apalagi saat ini perwakilan partai kita di parlemen masih kecil. Jadi banyak ide gagasan program Partai Gerindra yang belum tersalurkan.

Berapa target yang harus diraih?

Jawa Tengah yang memiliki 10 dapil itu ditargetkan oleh partai agar bisa meraih 25 kursi.  Sementara target untuk dapil saya sendiri setidaknya harus mendapatkan dua kursi.Tentunya, target ini diharapkan bisa terealisasi sehingga bisa mengantarkan Pak Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada pilpres 2014 tanpa koalisi dengan partai lain.

Tentunya ada perbedaan antara Pemilu 2009 dengan 2014?

Kondisi politik di Pemilu 2009 dan 2014 tentu sangat berbeda sekali. Saya melihat dari seluruh anggota dewan yang ada di DPR RI saat ini paling banyakhanya 30 persen saja yang akan terpilih kembali di 2014. Sama halnya dengan yang terjadi pada 2009 lalu, dimana banyak anggota dewan yang begitu dilantik tidak terlihat hasil kerja nyatanya. Penyusutan jumlah partai politik pun memainkan peranan penting dalam pemilu mendatang. Pasalnya, masyarakat saat ini sudah bisa menilai caleg mana yang sudah memiliki hasil kerja nyata dan mana yang hanya mengandalkan popularitas saja.

Disamping itu, pada 2009 lalu, praktek jual beli suara masih bisa dilakukan karena minimnya pengawasan di tingkat TPS hingga PPS. Namun saya rasa untuk 2014 mendatang hal tersebut mustahil untuk dilakukan karena masing-masing partai memiliki 24 pasang mata saksi yang siap melotot di tiap TPS, berbeda dengan tahun 2009 yang hanya memiliki sedikit sekali saksi di TPS. Nah, dalam waktu yang sudah semakin sempit ini, saya selalu menyempatkan diri untuk turun bersosialiasi di dapil saya, sehingga mereka bisa mengenal saya lebih dekat.

Apa visi dan misi Anda sebagai caleg?

Tentu saja visi dan misi saya tak lepas dari apa yang selama ini menjadi perjuangan Partai Gerindra yang tertuang dalam 6 Program Aksi Transformasi Bangsa Partau Gerindra. Bahkan saya beranggapan para caleg Gerindra sebenarnya lebih dimudahkan dalam menyampaikan visi dan misinya ketika turun ke konstituen. Tanpa harus pusing-pusing memikirkan apa yang bakal dikerjakan, caleg tinggal  baca dan pahami lalu sampaikan saja apa yang ada di 6 Program Aksi tersebut dengan bahasanya masing-masing.

Karena latar belakang saya dari pertanian, saya ingin memperjuangkan apa yang selama ini digembar-gemborkan pemerintah soal swasembada pangan berkelanjutan. Dimana selama ini pemerintah hanya fokus pada beras, jagung, kedelai, gula, dan daging. Padahal ada sumber pangan yang tak kalah dengan yang saya sebut tadi yakni singkong. Untuk itu saya, akan memperjuangkan singkong, karena sebagai negara penghasil singkong terbesar ketiga didunia, hingga saat ini para petani singkong tidak pernah mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Singkong ini, disamping bisa dimakan juga bisa dijadikan bahan dasar untuk bioethanol. Bahan bakar alternatif yang harus kita kembangkan lagi.

Saya juga akan mengembangkan singkong untuk bahan pengganti gandum. Dimana hingga saat ini negara masih mengimpor gandum sebanyak 10 juta ton per tahun. Jika gandum bisa diganti dengan singkong, bisa dibayangkan berapa pemasukan yang bisa negara dapatkan. Dan tentunya akan menyejahterakan petani kita sendiri. Sehingga kita bisa berdiri di atas kaki sendiri, menjadi bangsa mandiri yang tidak tergantung pada bangsa lain.

Disamping itu, cita-cita saya di 2014 mendatang adalah menaikan anggaran pertanian di APBN yang kini hanya 1 persen.Dengan cara ini saya yakin bisa menyejahterakan dan memajukan sektor pertanian. Bagaimana mau swasebada pangan kalau anggarannya kecil sekali. Penambahan anggaran juga dapat digunakan untuk perluasan area pertanian yang setiap tahun selalu tergerus untuk lahan industri atau perumahan. Yang jelas tujuan saya di 2014 hanya dua yaitu memenangkan Gerindra di Pemilu dan Prabowo Subianto sebagai Presiden.

Kenapa Anda kembali memilih dapil Jateng 2?

Saya kembali memilih dapil lama karena disamping saya lahir, dibesarkan dan tinggal di daerah dapil Jateng 2,saat ini saya sebagai Ketua DPD Jawa Tengah sebenarnya bisa saja dan siap ditempatkan di dapil mana saja. Karena ada target yang harus diraih, maka saya yang dulu.  Dapil Jateng 2 itu terdiri dari wilayah yang memiliki lahan pertanian yang luas. Dan memang, saya terpanggil untuk memajukan pertanian di daerah tersebut.

Apa saja yang sudah Anda lakukan di dapil?

Sebenarnya, saya sudah melakukan sosialisasi di dapil saya sejak empat tahun lalu. Sejak saya menjabat anggota DPR, setiap hari Kamis sore atau Jumat pagi, saya selalu pulang ke dapil saya untuk mengunjungi dan bersentuhan langsung dengan para konstituen saya. Beragam kegiatan sosial dan pengembangan pertanian serta perikanan sudah saya lakukan di dapil saya. Di daerah Jawa Tengah itu terdapat daerah pertanian yang luas, disamping itu ada dua buah rawa tersebar di Kudus dan Pati yang sejak pasca reformasi kondisinya sangat memprihatinkan. Padahal dulu keduanya menjadi sumber pengairan bagi para petani di kedua daerah itu. Nah, jika nanti Pak Prabowo menjadi presiden, saya akan ajak beliau untuk mengunjungi daerah tersebut agar bisa mengembalikan masa keemasan dulu yang kini terbengkalai dan belum tergarap dengan benar.

Seperti apa karakter pemilih di dapil Anda?

Konstituen di dapil saya mayoritas adalah masyarakat yang religius dan petani.Kalau karakteristik pemilih pada dasarnya sama saja dengan daerah lain. Disamping ada yang idealis juga pragmatis. Dengan besarnya jumlah pemilih di dapil saya, tentu praktek jual beli suara, politik traksaksional itu sangat memungkinkan terjadi. Semua itu berawal dari kebiasan masyarakat dalam pelaksanaan pilkades (pemilihan kepala desa) dan berlanjut ke pilkada bupati/walikota dan gubernur. Bahkan boleh jadi biaya ongkos politik pilkades di suatu daerah bisa mengalahkan biaya pileg. Walaupun tidak terang-terangan namun saya yakin masih ada beberapa daerah yang masih melakukan hal tersebut. Untuk itu saya selalu melakukan komunikasi intensif dengan dua kalangan itu untuk bisa mengetahui hal-hal apa saja yang perlu dilakukan.

Bagaimana Anda mengantisipasi praktek semacam itu?

Uang bukanlah segala, yang terpenting adalah kerja nyata. Kita turun ke bawah, menyapa rakyat, menyampaikan program aksi serta memberikan hasil nyata. Pada 2009 lalu saya telah membuktikan hal tersebut. Masyarakat yang sadar akan politik pasti akan memahami dan lebih mempercayai caleg yang baik sebelum maupun sudah terpilih tetap berada bersama rakyat.

Apa harapan dan pesan Anda kepada seluruh kader dalam menghadapi 2014?

Menurut saya kader-kader saat masih banyak yang merasa jika mereka terpilih sebagai dewan atas hasil usaha mereka sendiri, itu berlaku baik yang di DPR pusat, provinsi maupun kabupaten/kota. Sehingga banyak yang melupakan unsur kepartaian mereka. Mustinya, mereka harus ingat perjuangan partai selama ini. Banyak yang sudah mulai tidak peduli dengan perjuangan partai. Hal inilah yang harus kita hilangkan. Untuk itu kita terus menguatkan kembali unsur-unsur kepartaian dan mengembalikan nilai-nilai dasar perjuangan partai.

Karena itu, kepada seluruh caleg dari Jawa Tengah, Anda jangan hanya berjuang semata-mata agar terpilih menjadi wakil rakyat. Anda harus melakukan kerja nyata dan lakukan aksi sosial pada masyarakat. Sambil mensosialisasikan visi dan misi partai serta menjabarkan program kerja Anda pada masyarakat. Boleh jadi, hampir sebagian besar masyarakat kita masih belum mengerti mengenai hal-hal tadi. Selain itu jangan hanya mengandalkan tim sukses, namun kita juga harus bisa mengajak para struktural, dari DPD, DPC, PAC hingga Ranting. Dan tentu saja silaturahmi dengan para tokoh masyarakat dan agama harus terus kita lakukan. [G]

Lebih Dekat Dengan Dairul : Tinggalkan PNS, Total di Gerindra

Dibesarkan dalam keluarga birokrat, tak membuatnya berpuas diri. Terbukti, sepanjang karirnya di birokrasi yang ditekuni sejak 1988, sudah dua kali ia mengundurkan diri. Terakhir, 1 Mei lalu, ia melepaskan jabatannya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kementerian Pertanian dan memilih terjun ke dunia politik. “Saya ingin mengabdi pada masyarakat secara luas melalui jalur politik,” tegas Dairul yang saat menekuni karirnya sebagai pegawai negeri sipil, ia tidak merasakan sesuatau yang berarti dalam hidupnya.

CALEG DPR-RI DAPIL BANTEN 1 NO. URUT 2

CALEG DPR-RI DAPIL BANTEN 1 NO. URUT 2

“Selama menjadi PNS, perjalanan hidup saya seakan kurang berarti,” ungkap pria kelahiran Ujung Pandang, 1 Januari 1971 ini yang maju sebagai calon anggota legislatif (caleg) DPR-RI Partai Gerindra. Baginya, banyak hal menarik dari aktivitas berpolitik. Selain tantangannya lebih besar, siapapun bisa ikut mengubah bangsa ini lewat jalur politik.

“Bangsa ini sangat bergantung pada siapa yang menunggangi partai politik. Jika diisi orang-orang baik, maka bangsa dan negara ini akan menjadi lebih baik. Tapi sebaliknya, jika diisi orang-orang jahat, jangan salah kalau negara menjadi seperti sekarang ini,” papar kandidat doktor dari Universitas Brawijaya Malang ini.

Sejatinya, keterlibatannya di dunia politik bukan saat ia masuk masa pencalegan saja, tapi sejak remaja. Ia muali terlibat di partai berlambang burung garuda ini, sejak partai ini didirikan. Hanya saat itu ia hanya di belakang layar, karena terikat sebagai PNS. Namun kini, ia menjadi caleg DPR-RI nomor urut 2 dari Daerah Pemilihan (dapil) Banten 1, meliputi Kabupaten Lebak dan Pandeglang.

Tampilnya ayah empat anak ini di bumi para jawara bukan tanpa sebab. Pasalnya, ia dianggap mampu dan lebih mengenal kondisi serta potensi dapil Banten 1 yang terletak di wilayah selatan provinsi ke-28 itu. “ Daerah Banten bagian selatan memang termasuk daerah tertinggal. Inilah yang menjadi tantangan saya untuk berbuat sesuatu agar predikat itu bisa lepas,” ujar politisi yang dipercaya sebagai anggota Dewan Penasehat  DPD Partai Gerindra Provinsi Banten.

Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda yang menemuinya di Jakarta beberapa waktu lalu, Direktur Eksekutif LSAKD (Lembaga Studi Akuntansi Keuangan Daerah) memaparkan aktivitas politiknya menjelang Pemilu 2014. Berikut petikannya:

Bisa ceritakan sejak kapan Anda terjun ke politik?

Saya terlibat di dunia politik sejak remaja. Sejak SMA saya sudah aktif di Golkar, tapi itu karena orangtua saya seorang pamong pemerintahan, mau tidak mau harus mengikuti semua kegiatan waktu itu.

Bisa diceritakan keterlibatan Anda dengan Gerindra?

Beberapa kader militan Partai Gerindra adalah sahabat saya, seperti Budi Heriadi, Gunadi dan Ahmad Muzani. Ketika Gerindra didirikan, saya masih PNS, jadi tidak bisa berbuat banyak, paling hanya membantu di belakang layar. Baru 1 Mei lalu, saya mundur dari PNS agar bisa  total berpartai di Gerindra.

Apa yang memotivasi Anda untuk maju sebagai caleg?

Intinya ingin mengabdi. Agar semuanya berjalan baik, saya harus menyiapkan segala sesuatunya. Utamanya, kebutuhan keluarga jangan sampai terbengkalai. Jika banyak orang maju dengan motivasi mencari uang, saya tidak ingin seperti itu. Karena itu,  saya menyiapkan beberapa usaha yang akan menopang kebutuhan keluarga dengan berbisnis properti di beberapa kota. Jadi ketika nanti terpilih menjadi anggota dewan, sumber kebutuhan keluarga bisa berasal dari sana.

Tahun 2009 kenapa tidak ikut caleg?

Karena waktu itu belum siap. Selain itu, bekal rumah tangga juga belum disiapkan. Dan, saya masih tercatat sebagai pegawai negeri sipil. Kini saya merasa lebih siap. Kalau kita jadi caleg jual ini itu, juga kurang baik. Seperti arahan Pak Prabowo, kalau jadi caleg harus siap mental dan materi.

Kenapa memilih dapil Banten 1, itu kan daerah tertinggal?

Saya memiliki keterikatan historis dengan Banten. Kebetulan keluarga istri dari Banten, dan saya punya banyak jaringan di wilayah Banten selatan. Saya kan termasuk tim perumus lahirnya Provinsi Banten, 17 Oktober 1999 lalu. Selain itu, jaraknya juga cukup dekat dengan Jakarta. Juga ada tantangan tersendiri karena daerah ini dianggap daerah tertinggal, khususnya Banten bagian selatan. Niat saya membangun daerah ini, agar tidak lagi tertinggal. Insya Allah bila ada kesempatan saya berniat mengabdikan diri, paling tidak selama tiga periode untuk kemajuan Banten. Untuk itu, saya pun menyiapkan lahan untuk membangun kantor sekretariat DPC baik di Lebak maupun Pandeglang.

Apa yang Anda dilakukan untuk bisa meraih suara?

Setiap hari saya turun ke dapil, meski keluarga tinggal di Jakarta. Saya terjun langsung ke dapil saya, dan tak sungkan menginap di rumah penduduk.  Rupanya mereka tak perlu banyak bicara soal teori. Mereka lebih konsen dengan urusan perut. Itulah kenyataan yang dihadapi para caleg. Karena dapil Banten 1 meliputi dua kabupaten, maka untuk memudahkan kordinasi saya bentuk dua posko pemenangan di masing-masing kabupaten. Jika terpilih nanti, di kedua kabupaten inilah saya akan membesarkan Partai Gerindra. Saya akan mendirikan kantor sekretariat PAC-nya. Dan kalaupun saya tidak terpilih, rencana itu tetap akan terlaksana.

Program apa saja yang Anda tawarkan ke masyarakat?

Tentunya semua program yang dicanangkan Pak Prabowo. Intinya, program yang berpihak kepada masyarakat luas. Program yang mengedepankan kepentingan rakyat, bukan golongan atau individu.

Seperti apa karakter pemilih di dapil Banten 1?

Saya berkunjung hingga ke pelosok desa, yang mungkin saja masih banyak orang Pandeglang atau Lebak belum pernah ke sana. Misalnya ke Luwidamar, Sobang, Cibaliung dan yang lainnya. Perjalanan saya makin asyik, karena hanya dengan berjalan kaki. Kebetulan saya hobby jalan kaki, jadi tak masalah. Apalagi daerah-daerahnya masih sangat asri. Masyarakat merindukan figur caleg yang mau turun langsung meski harus berjalan kaki. Kata mereka, selama ini belum ada caleg yang mau bertandang, semuanya hanya menyebar baliho. Ada gambar tapi tidak ada orangnya.

Kantong kekuatan Anda di mana saja?

Semua wilayah, hampir merata. Jika semua kader partai bekerja keras, Gerindra bisa meraih dua kursi, meski targetnya hanya satu kursi dari Banten 1. Dan untuk provinsi, setidaknya bisa meraih 4 kursi dari Lebak dan Pandeglang, begitu pula di DPRD kabupaten masing-masing delapan kursi. Karena itu, saya tandem dengan caleg-caleg yang mau bekerja keras.

Kalangan apa yang menjadi sasaran Anda?

Semua lapisan masyarakat yang ada di dapil Banten 1. Mulai dari rakyat biasa sampai tokoh masyarakat, termasuk para jawara. Bahkan saya ajak para jawara ini untuk maju menjadi caleg. Karena disamping disegani, mereka juga bisa menjadi penyalur suara. Tidak heran bila untuk terjun ini ongkosnya besar. Setiap sosialisasi ke dapil, saya selalu dibarengi dengan program aksi sosial berupa pembagian sembako. Karena masalahnya, memang soal perut. Itu yang utama disamping membantu pembenahan infrastruktur pemukiman yang kurang memadai. Meski banyak mengeluarkan dana, saya senang dan ikhlas, karena memang sudah saya siapkan.

Seberapa besar keyakianan Anda untuk terpilih?

Kita harus yakin, kalau kita bisa. Karena kalau bukan kita siapa lagi? Insya Allah terpilih, tinggal garis tangan yang akan berbicara nanti. Disamping sudah mempersiapkan segala sesuatunya, saya pun melakukan sosialisasi jauh-jauh hari sebelum proses pencalegan.

Seperti apa kondisi dapil Banten 1?

Kalau kita lihat memang memprihatinkan. Padahal tidak jauh dari ibukota.  Wilayah Banten selatan ini juga sarat potensi. Dengan kondisi seperti, bagi saya adalah tantangan yang harus dijawab. Saya katakan bahwa kalau saya jadi anggota dewan, saya hanya ambil gaji dan tunjangan. Sementara yang lain seperti dana asprasi itu adalah haknya masyarakat.

Apa pesan Anda untuk kader dan sesama caleg Gerindra?

Yang paling utama kita harus kerja keras dan kerja cerdas. Sekalipun kita kerja keras kalau tidak cerdas, hasilnya tidak maksimal. Kita juga harus waspada dengan menganggap semua lawan politik kita berat sehingga memotivasi untuk terus berjuang. Nah, kalau misalnya ada caleg dari partai lain hebat dan banyak modalnya, tidak lantas membuat kita menyerah tapi harus  dihadapi. Kita harus memenangkan Gerindra. Menjadikan Pak Prabowo sebagai Presiden RI. Kita juga harus mengubah niat jika ingin menjadi anggota dewan. Jangan cari penghasilan tapi pengabdian. Kalau mau cari uang, jangan menjadi politisi. [G]

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi September 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Dairul maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 2 dari daerah pemilihan (dapil) Banten 1.

Lebih Dekat Dengan Oo Sutisna : Berjuang Demi Petani

Sebagai seorang petani, ia turut merasakan seperti apa nasib kaum petani selama ini. Saban hari, ia bersentuhan dengan petani gurem yang kondisinya memprihatinkan. Bahwa negeri agraris yang subur seperti Indonesia ini petaninya kian terpinggir adalah sebuah keniscayaan. Dari sanalah, ia paham betul liku-liku perjuangan para petani dalam memenuhi kebutuhan hidup di tengah kebijakan yang sama sekali belum memihak petani.

CALEG DPR-RI DAPIL JABAR 9 NO URUT 1

CALEG DPR-RI DAPIL JABAR 9 NO URUT 1

Memang, sebagai petani, Oo Sutisna, SH, bukan tergolong petani kelas gurem. Namun sebagai orang yang hampir setiap hari menghabiskan waktu di pematang sawah, ia resah melihat nasib petani yang tak kunjung berubah. Apalagi selama ini belum ada wakil rakyat di Senayan yang benar-benar berangkat dari petani atau nelayan. Tak heran bila kebijakan dunia pertanian tak pernah menyentuh kepentingan kaum petani. Karenanya itu, sejak 2008, pria kelahiran Sumedang, 12 Maret 1952 ini bertekad terjun ke jalur politik praktis sebagai upaya merubah nasib petani yang masih tertindas.

“Sebagai rakyat, sampai hari ini petani masih saja terjerat kemiskinan. Tidak saja dirundung persoalan dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari, tapi kebijakan-kebijakan penguasa yang tak memihak bahkan kerap menindas. Tak hanya itu, Indonesia pun sudah menjadi pasar impor beras,” ungkap petani yang dipercaya  Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto, untuk memimpin DPD Partai Gerindra, Provinsi Jawa Barat.

Ia mengakui, tampil di pentas politik bukan sekadar latah atau terbawa arus eforia politik sesaat. Diakui, keterlibatannya di Partai Gerindra, karena ia aktif di Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) dan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Ia  sudah lama mengenal sosok Prabowo Subianto jauh sebelum partai berlambang kepala burung garuda lahir. Tak heran bila,saat Prabowo Subiantomemintanya memimpin DPD Partai Gerindra di Jawa Barat, ia langsung menyanggupinya. “Meski saya belum pernah menjadi ketua parpol di tingkat kecamatan sekalipun, tapi karena itu amanat dari Pak Prabowo, maka saya siap mengemban,” ujar Ketua KTNA Jawa Barat ini.

Memang, Oo Sutisna mengenal Prabowo sejak masih aktif di Forum Komunikasi Tani Nelayan Karya, sebuah organisasi bentukan Partai Golkar. Ia tercatat sebagai orang yang mengusung Prabowo pada saat Konvensi Partai Golkar pada 2004. Di tahun yang sama, ia pun berada di barisan petani yang memperjuangkan Prabowo untuk memimpin HKTI. Kini, bersama petani dan segenap kader Partai Gerindra Jawa Barat, ia tengah berjuang untuk meraih suara sebanyak-banyaknya di Pemilu Legislatif 2014 untuk bisa mengusung mantan Danjen Kopassus sebagai calon presiden tanpa koalisi.

“Beliau tahu apa yang rakyat mau. Beliau pemimpin yang mau memikirkan dan menangis dengan apa yang dirasakan petani,” papar calon anggota legislatif (caleg) DPR-RI nomor urut satu dari Daerah Pemilihan (dapil) Jawa Barat 9 ini.

Menurutnya, secara politis keberadaan Jawa Barat dalam percaturan politik nasional sangatlah penting. Terlebih propinsi Jawa Barat penduduknya terbesar. Makanya, tak heran bila di Pemilu 2014, 9 April nanti, ia ditugasi untuk meraih 27 kursi di parlemen. Tentu ini bukan pekerjaan yang mudah, meski pada Pemilu 2009 lalu ia berhasil mengantarkan empat kadernya duduk di Senayan. Lalu seperti apa langkah-langkah yang dilakukan ayah enam orang anak ini dalam mengemban tugas itu? Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda, yang menemuinya di tempat tinggalnya yang asri di kawasan Cibiru, Kota Bandung beberapa waktu lalu, ia memaparkan. Berikut petikan wawancaranya:

Bisa Anda ceritakan bagaimana perkembangan Gerindra di Jawa Barat?

Partai Gerindra di Jawa Barat relatif stabil. Jujur saja walaupun ada satu dua DPC yang kurang pergerakannya kita sedang perbaiki. Saya berharap kepada pusat untuk berikan kepercayaan kepada kami yang ada di DPD untuk membina dan mengembangkan Gerindra di wilayah ini. Kita tidak mungkin bunuh diri, kita ingin menang. Pada Pemilu 2009 kemarin mengantar delapan dewan di provinsi dan empat di pusat. Dengan hasil itu Partai Gerindra Jawa Barat berada di posisi kelima. Kita berharap dengan momen terbaik 2014, kita bisa meningkat dan Gerindra menang, Prabowo Presiden.

Kaitannya kegagalan dapil Jabar 9 waktu itu kita akui itu semua tak terlepas dari keteledoran partai kita. Kejadian itu menjadi tamparan buat partai dan Pak Prabowo selaku Pembina. Tapi syukur Alhamdulillah kita bisa melewati rintangan itu meski hanya bisa mengirimkan enam dari delapan yang tersedia. Saya mengapresiasi dan hormat atas kinerja tim advokasi yang sudah menyelamatkan dapil Jabar  9. Untuk itu kita harus kerja ekstra keras untuk merebut kursi di dapil ini. Walaupun hanya enam caleg, toh di DPRD provinsi ada sepuluh orang dan kabupaten penuh. Inilah modal dasar kita untuk memperjuangkan sekuat tenaga.

Sebagai Ketua DPD sekaligus caleg, apa saja yang sudah Anda lakukan menghadapi Pemilu 2014?

Kita baru saja pulang dari diklat di Bogor yang diadakan oleh DPP. Tapi sebetulnya, apa yang telah kita lakukan dalam rangka pembekalan untuk caleg kabupaten dan kota se Jawa Barat tidak jauh berbeda. Jika dulu kita menargetkan setiap TPS ada 10 orang kader yang masing-masing kader harus mampu membawa 10 pemilih sehingga diperoleh 100 suara. Namun ketika di Jakarta ada perubahan menjadi 13 pemilih per TPS, sehingga diharapkan akan ada 130 suara.

Sebelumnya, kami pun mengadakan pertemuan sesama caleg tingkat DPR, DPRD provinsi dan kabupaten/kota Jawa Barat dengan para struktur partai mulai dari daerah hingga ranting. Dimana dalam pertemuan itu kita menekankan bahwa Pemilu 2014 adalah momen untuk merebut kekuasaan sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Karena itu, para caleg harus sampai ke akar rumput hingga ke tiap TPS, sehingga caleg mengetahui peta kekuatan yang ada. Untuk itu, dibutuhkan etos kerja dari para caleg itu sendiri bersama dengan pengurus dari tingkat ranting, cabang hingga daerah turun langsung. Yang penting jangan sombong jadi caleg. Yang sombong itu harusnya pemilih, bagaimana biar mereka mau memilih kita, simpati ke kita.

Yang tak kalah penting adalah saat ini kita terus melakukan tugas kepartaian, yakni memberi pemahaman politik bagi masyarakat. Sejauhmana pemahaman dan kepedulian masyarakat tentang kondisi negara dan bangsa. Kalau kita mendengar pidato Pak Prabowo dalam upayanya mengubah Indonesia ke arah yang lebih baik. Boleh jadi apa yang dikatakan oleh Pak Prabowo sangat irasional di tengah kondisi negara yang seperti ini. Nah, tugas kita sebagai caleg adalah menterjemahkan dengan bahasa masyarakat awam seperti petani, nelayan dan penduduk desa. Seperti misalnya buah apa yang tidak impor, padahal buah apa sih yang tidak bisa ditanam di negeri ini. Mungkin ini yang harus disampaikan oleh caleg kepada masyarakat. Karena tidak semua dari mereka tidak baca Koran, tidak lihat televisi. Jadi sebisa mungkin ini yang harus disampaikan caleg kepada masyarakat.

Lalu bagaimana dengan wakil Jawa Barat yang ada di parlemen?

Kalau saya harus ngomong, meski dekat dengan masyarakat, tapi kurang dekat dengan struktur partai. Mustinya, sekali-kali mereka menginjakkan kakinya ke sekretariat DPD, DPC atau PAC, sehingga mereka tahu perkembangan yang ada dan kita pun mengetahui apa saja yang sudah dilakukan mereka. Jujur saja selama ini belum maksimal, memang itu hak mereka, tapi perjuangan partai itu bukan sekadar perjuangan mereka saja, tapi menjadi perjuangan segenap kader partai secara bersama. Jangan sampai yang tahu hanya mereka sendiri. Karena mereka berangkat dari Partai Gerindra bukan sekonyong-konyong begitu saja.

Kendala-kendala apa saja yang dihadapi di lapangan?

Harus disadari bahwa negeri ini terdiri dari beberapa suku bangsa, agama, latar belakang pendidikan, tingkat ekonomi yang berbeda-beda. Karena itu, kita harus menggunakan berbagai cara sendiri dalam menghadapi masing-masing kelompok tadi. Di samping itu, popularitas partai ini belum sebanding dengan popularitas Pak Prabowo. Ini yang perlu kita dongkrak. Saya punya ambisi bahwa kalau untuk mendukung Pak Prabowo, di Jawa Barat ini pasti sangat kuat. Beliau pemimpin yang tegas, di kalangan militer Jawa Barat masih disegani, sosok orangtuanya masih kental.

Yang mungkin harus dipikirkan adalah bagaimana menyeimbangkan Pak Prabowo dengan Gerindra. Bagaimana orang-orang yang sebelumnya tidak mau ambil bagian dalam pemilu mau memilih Pak Prabowo. Dan ketika mereka tertarik dengan Prabowo, maka kita katakan kepada mereka, bahwa mau tidak mau untuk bisa mengusung Prabowo,  harus memilih Partai Gerindra. Dan kita butuh 20 persen suara untuk bisa mengusungnya. Bahkan kalau bisa bukan sekadar 20 persen tapi harus lebih,karena dengan demikian kelak parlemen lebih kuat.

Apa latar belakang Anda maju sebagai caleg?

Perlu dimengerti bahwa faktor ketokohan di Jawa Barat ini masih kuat. Jujur saja sebelum memutuskan untuk maju, saya tanyakan ke pada teman-teman DPD apakah saya harus maju ke Jakarta, Provinsi atau diam saja mengurus partai. Akhirnya mereka menginginkan saya maju ke Jakarta. Saya berada di partai ini bukan semata-mata untuk bisa menjadi anggota dewan, tapi saya melihat bahwa bangsa ini akan jauh lebih baik di bawah kepemimpinan Pak Prabowo. Dalam setiap pidatonya, Pak Prabowo selalu mengatakan bahwa ia tidak mau kader-kader yang duduk di dewan nanti yang berperilaku licik, maling, dan korup. Betapa terhormatnya pernyataan itu, dan akhirnya saya bersedia untuk maju sebagai caleg DPR dari Jabar 9. Memang sebagai caleg harus banyak duit untuk operasional di lapangan. Saya tidak suka menghambur-hamburkan hal itu, tapi saya mengajak kepada mereka bahwa apa yang kita lakukan harus bisa memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara ini. Semua orang tahu saya berangkat dari petani.

Dan luar biasa, Pak Prabowo masih mempertahankan orang-orang seperti saya yang berangkat dari komunitas petani. Inilah perjuangan kita bersama para petani dalam mewujudkan kedaulatan pangan sesuai dengan 6 Program Aksi Partai Gerindra. Dan kalaupun Gerindra masih sulit dipasarkan ke masyarakat, insya Allah nama besar Pak Prabowo lebih mudah diterima di masyarakat. Nah, kalau mereka menginginkan Pak Prabowo menjadi pemimpin negara, maka mau tidak mau Gerindra harus menang terlebih dahulu minimal 20 persen. Untuk itu, kita mendorong masyarakat bahwa satu-satunya jalan, ya Partai Gerindra yang harus dicoblos.

 Apa visi dan misi Anda sebagai caleg?

Visi dan misi saya sesuai dengan visi dan misi partai. Misi kita ingin berbuat, mengabdi ke masyarakat dengan sisa umur yang ada. Sepanjang hidup ini apa yang bisa kita baktikan kepada masyarakat bangsa dan negara. Adanya kedaulatan pangan sehingga masyarakat tidak susah makan. Kepastian hukum, terutama terhadap perlakuan hukum terhadap petinggi negara.  Insya Allah, Pak Prabowo akan mampu melaksanakan janjinya yang selama ini menjadi tumpuan masyarakat. Pak Prabowo kan sudah jenderal, sudah kaya, ngapain coba memimpin partai? Tapi dari situlah kita mengetahui bahwa rasa nasionalisme dan keberpihakannya kepada rakyat kecil melebihi semuanya.

Kenapa Anda memilih dapil Jabar 9?

Saya memilih dapil Jabar 9, karena saya dilahirkan, dibesarkan dan punya usaha di Kabupaten Sumedang yang masuk ke dapil Jabar 9 selain Kabupaten Majalengka dan Subang. Selain itu masyarakat Sumedang, Majalengka dan Subang memiliki kesamaan jalan hidup, sebagai petani dan nelayan. Di Jawa Barat, saya masih dianggap tokoh tani. Saya pun orang yang dipercaya sebagai Ketua KTNA Jabar. Tahun 2009 dulu saya belum berhasil, karena saya memiliki basis besar di sana, maka saya dikembalikan ke dapil ini. Dengan anggapan bahwa tingkat kesulitan yang dihadapi tidak terlalu berat.

Dari tiga kabupaten itu, daerah mana yang jadi fokus Anda garap?

Kita memiliki daerah unggulan sebagai basis suara yakni Kabupaten Subang dan Sumedang. Yang pasti, di dapil Jabar 9 itu ada 82 kecamatan yang terdiri dari 30 kecamatan di Subang, sedangkan Majalengka dan Sumedang masing-masing 26 kecamatan. Artinya tidak mungkin saya datang ke semua kecamatan setiap desa. Untuk itu saya lebih menguatkan perhatian pada dua daerah itu. Namun demikian, kapasitas saya berbeda dengan caleg lain. Kalau caleg lain tidak datang itu keterlaluan, tapi kalau kita sebagai pengurus di DPD/DPC itu selain mengurus diri sebagai caleg, tapi kita juga mengurus urusan partai yang tidak hanya fokus pada dapil sendiri saja. Beruntunglah para caleg yang tidak duduk di struktur partai karena tidak memikirkan kesibukan itu.

Berapa target Anda?

Saya selalu memohon kepada Allah agar saya diberikan kesempatan untuk mewakili masyarakat Sumedang, Majalengka dan Subang di gedung dewan. Sehingga selain ada wakilnya terlebih dari komunitas petani. Karena selama ini saya belum melihat sosok anggota dewan yang berangkat dari petani sesungguhnya. Itulah ambisi saya untuk memperjuangkan masyarakat petani, nelayan sehingga tidak terus menerus menjadi masyarakat marginal dan menjadi mainan politik saja. Saya tidak ambisi dengan masalah gaji, tapi kita melihat jauh mana keberpihakan saya kelak di dewan kepada petani.

Partai Gerindra menargetkan dapil Jabar 9 untuk bisa meraih dua kursi dari 27 kursi yang ditargetkan untuk Jawa Barat. Melihat kondisi ini maka kita harus bekerja keras, bersama-sama merealisasikan target. Urusan siapa yang jadi itu tergantung pada pergerakannya masing-masing caleg. Setidaknya untuk bisa meraih kursi di dapil Jabar 9,mau tidak mau harus melampaui atau setidaknya mendekati BPP sebesar 289 ribu. Itulah yang harus dipahami oleh caleg dengan memetakan kekuatan tiap TPS dan dapil kecil. Dengan kekuatan yang kita miliki baik yang ada di pusat, provinsi dan kabupaten/kota mudah-mudahan bisa. Artinya yang sudah jadi itu harus jadi kembali, kalau mereka tidak jadi, saya balik tanya apa saja yang telah Anda perbuat selama ini?

Seperti apa karakter pemilih dapil Jabar 9?

Bicara soal kataristik pemilih khususnya dapil Jabar 9 kita tahu sekarang ini bisa disebut jaman edan. Ada yang punya idealisme, ada juga yang pragmatis. Sebut saja, dapil Jabar 9 yang ada di utara tergolong masyarakat pantura memang cukup berat dengan masalah pragmatisme. Jangankan pemilihan legislatif, pemilihan Presiden pun seperti itu. Memang semua ini diawali dari pemilihan-pemilihan kepala desa yang sarat dengan pragmatis. Dan ini bukan hanya menjadi permasalahan bagi kami, tapi partai lain pun sama. Tapi selama ini kita bisa mengantisipasi untuk meminimalisir permasalah ini.

Apa antisipasi Anda menghadapi kondisi seperti itu?

Hubungan emosional dengan masyarakat terus kita jalin. Bagaimana caranya agar kita menjadi bagian dari hidup mereka. Sehingga pada akhirnya, mereka menganggap kita bagian dari hidup mereka. Ini yang wajib dilakukan para caleg. Kita selalu sampaikan kepada masyarakat bahwa Pantura itu lumbung beras nasional, tapi apa tidak terpukul ketika negara kita impor beras. Saya yakin mereka sakit dengan kondisi ini. Karena itu, ketika menghadapi masyarakat yang bergerak di bidang agribisnis, seperti petani, nelayan dan pekebun kita tawarkan 6 Program Aksi Partai Gerindra. Dimana salah satunya adalah program membangun kedaulatan pangan dan energi. Itu bukan semata-mata janji caleg tapi itu janji pemerintah jika nanti Gerindra dipercaya memimpin negeri ini.

Apa harapan dan pesan Anda buat para kader dan caleg?

Harapan kita terhadap caleg, kader partai, mereka harus memahami tentang petunjuk partai mulai dari AD-ART, manivesto perjuangan partai hingga program aksi. Jangan segan-segan untuk turun ke lapangan, jangan sombong, dekati masyarakat sehingga mereka sayang kepada kita. Saya sampaikan terima kasih kepada para simpatisan, kader yang terus mendukung pengurus DPD, DPC dan PAC serta para caleg dalam menjalankan aktivitasnya menjaring suara. [G]

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Oktober 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Oo Sutisna maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 1 dari daerah pemilihan (dapil) Jawa Barat 9.

Pastikan Pemilu yang Jujur dan Adil

Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto mendeklarasikan Gerakan 20 Agustus. Seruan itu disampaikan setelah Satuan Tugas Advokasi Pemilu 2014 Gerindra menemukan adanya potensi pemilih fiktif dan pemilih ganda sampai dengan 50 juta.

PRABOWO 1Di tengah meningkatnya suhu politik jelang Pemilihan Umum 2014, ditengarai masih ada sederet masalah besar yang mengancam kelangsungan perhelatan demokrasi yang akan digelar 9 April 2014 nanti. Padahal Pemilu adalah kesempatan kita untuk memilih masa depan Indonesia yang bersih, kuat, aman bermartabat dan berdikari.

Untuk menyikapi kondisi tersebut, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto  mendeklarasikan Gerakan 20 Agustus, sebagai upaya untuk mengantisipasi kecurangan sistematis besar-besaran dalam pelaksanaan Pemilu 2014 mendatang. Deklarasi yang disampaikan lewat surat terbuka yang diunggah di akun resmi jejaring sosial facebook miliknya pada medio Agustus lalu.

Itu bukan sekadar seruan. Lewat Gerakan 20 Agustus itu, Prabowo itu menginstruksikan kepada seluruh kader Partai Gerindra untuk melakukan pengecekan langsung ke kantor kelurahan setempat secara serentak pada tanggal 20 Agustus, paling lambat 23 Agustus 2013.

Seruan itu disampaikan Prabowo setelah Satuan Tugas Advokasi Pemilu 2014 Gerindra yang dipimpin oleh Habiburokhman menemukan adanya potensi pemilih fiktif dan pemilih ganda sampai dengan 50 juta orang. Angka 50 juta tersebut berasal dari hasil Daftar Pemilih Sementara (DPS) yang disusun oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) berdasarkan data KTP non-elektronik –yang berakhir masa berlakunya pada Desember 2013. Mustinya, DPS Pemilu 2014 disusun hanya berdasarkan data KTP elektronik yang lebih sulit dimanipulasi. Dimana pemerintah mengklaim sudah 100 persen rampung dan didistribusikan pada bulan Juni 2013 lalu. Jumlahnya sebanyak 172 juta orang, atau 172 juta KTP elektronik.

“Kita ketahui Presiden RI sudah memutuskan masa berlaku KTP non-elektronik hanya sampai bulan Desember 2013. Sebagai warga negara yang peduli kita patut pertanyakan mengapa KPU bersikeras menggunakan data KTP non-elektronik untuk menyusun DPS Pemilu 2014. Kita juga patut pertanyakan mengapa KPU hanya mengalokasikan dua minggu, dari tanggal 2 sampai dengan 15 Agustus untuk memperbaiki DPS. Padahal, DPS Pemilu 2014 masih sangat bermasalah,” tandasnya.

Masalah berikutnya lanjut Prabowo, sampai dengan hari ini DPS Pemilu 2014 untuk pemilih di luar negeri juga belum dapat diakses. Berdasarkan pengalaman Pemilu 2009, suara pemilih luar negeri sangat rawan diselewengkan oleh penyelenggara Pemilu.

“Oleh karena itu, dengan ini saya mengajak semua warga negara Indonesia, semua kader dan pendukung Partai Gerindra, semua sahabat saya yang menghendaki perubahan ke arah yang lebih baik untuk bersama-sama saya mengambil sikap,” ajaknya sembari menyerukan untuk serentak bergerak dan datang ke kantor kelurahan terdekat untuk mengecek langsung secara manual.

Secara teknis, Prabowo memerintahkan yang musti dipastikan dan diperhatikan adalah pertama apakah nama saudara dan nama keluarga saudara sudah ada di daftar pemilih. Kedua, adakah orang yang saudara ketahui sudah meninggal, sudah lama pindah, atau masih belum berumur 17 tahun yang terdaftar di daftar pemilih. Ketiga, apakah ada yang terdaftar sebagai pemilih lebih dari satu kali, baik dengan nama yang sama persis atau dengan nama yang mirip.

Keempat, apakah ada nama-nama yang jelas-jelas bukan warga di wilayah saudara, yang terdaftar di daftar pemilih. Kelima, perhatikan pula dengan seksama apakah ada ketidaksesuaian yang mencolok antara jumlah pemilih dalam daftar tersebut dengan jumlah penduduk di wilayah kelurahan saudara. “Tujuan kita adalah untuk mencermati informasi Daftar Pemilih Sementara Hasil Perbaikan (DPSHP) yang seharusnya sudah dipasang di kantor-kantor kelurahan,” terang Prabowo sembari menginstruksikan para kader untuk bersama-sama dirinya mengenakan seragam atau mengenakan atribut Gerindra saat melakukan pengecekan DPSHP tersebut.

Tidak sampai disitu, lewat Gerakan 20 Agustus tersebut Prabowo meminta kepada seluruh rakyat Indonesia serta seluruh kader dan pendukung Partai Gerindra untuk mendokumentasikan kegiatan itu dan melaporkan ke pihaknya jika menemukan kejanggalan dalam DPSHP. Termasuk membuat laporan tertulis ke Panitia Pemungutan Suara (PPS) di kantor kelurahan setempat, dan minta tanda-terima atas laporan tersebut. “Kita harus ingat, daftar pemilih tetap Pemilu 2014 akan ditetapkan pada tanggal 7 September 2013. Ini tidak lama lagi. Jika sudah dalam bentuk DPT, akan sulit bagi kita untuk mengurangi jumlah pemilih fiktif dan pemilih ganda di Pemilu 2014,” tegasnya mengingatkan.

Melalui Gerakan 20 Agustus ini, Partai Gerindra akan tunjukkan kepada seluruh bangsa Indonesia, kepada seluruh pihak yang ingin bermain curang di Pemilu 2014 bahwa Partai Gerindra ingin memastikan Pemilu 2014 berlangsung jujur dan adil. Karena, pemilihan yang dilaksanakan dengan kecurangan adalah pemilihan yang cacat. DPT Pemilu 2014 menentukan, siapa saja yang memiliki hak untuk memilih, hak untuk berpartisipasi dalam demokrasi.

“Saya mengajak saudara untuk mengambil sikap, saya mengajak saudara untuk bergerak karena sejarah mengajarkan kita bahwa apabila proses pemilihan umum dicurangi, penuh rekayasa, dengan daftar pemilih yang penuh nama-nama hantu, nama-nama palsu, maka masa depan demokrasi itu sendiri bisa terancam.  Bahkan, stabilitas, ketenangan, dan kedamaian suatu negara bisa terancam. Kalau proses pemilihan umum dilaksanakan dengan curang, berarti kekuasaan yang dilahirkan dari pemilihan itu, mandat yang dilahirkan adalah tidak sah, tidak memiliki legitimasi,” tegasnya.

Mantan Pangkostrad itu juga mengingatkan, jika pemerintah yang berkuasa akibat pemilihan umum yang cacat itu adalah pemerintah yang tidak sah, tidak memiliki legitimasi, dan tidak kredibel. Cepat atau lambat, rakyat bisa tidak patuh pada pemerintah tersebut, dan dengan demikian, negara mengarah ke negara gagal.

“Apabila proses pemilihan umum cacat, kalau hasilnya tidak diterima oleh semua pihak, dan bisa dibuktikan kalau terdapat kecurangan-kecurangan masal, maka negara kita bisa benar-benar berubah dari negara hukum menjadi negara hukum rimba,” ujarnya.

Imbasnya, lanjut Prabowo, kerusuhan sosial, kerusuhan massal, ambruknya pemerintahan, anarki, juga bisa terjadi perang saudara. Kalau pemerintah dianggap tidak sah oleh rakyatnya sendiri, yang akan terjadi adalah gonjang-ganjing dan huru-hara besar-besaran. Ketika ini terjadi, hanya ada dua pilihan: pemerintahan yang represif, yang berdiri di atas kekuatan senjata, atau instabilitas yang berkepanjangan seperti di beberapa negara Timur Tengah pada saat sekarang ini.

Untuk itu, Prabowo mengajak untuk bersama-sama bergerak menghadapi praktik-praktik kecurangan, munculnya suara hantu dan segala macam kecurangan lainnya. Pasalnya, kata Prabowo, potensi 50 juta pemilih fiktif dan pemilih ganda bukan angka yang sedikit. Masa depan bangsa Indonesia dapat kembali ditentukan oleh orang-orang yang korup dan bobrok. Orang-orang yang menyusun strategi kecurangan. “Jangan menyerah, jangan pernah menyerah. Mari kita berjuang dengan benar, dengan niat tulus, dengan niat bersih, niat bukan mencari jabatan untuk memperkaya diri, tetapi benar-benar mencari mandat dari rakyat untuk bersama memimpin bangsa,” pesannya.

Menurut Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra, Ahmad Muzani, tidak kurang dari lima juta kader dan simpatisan Gerindra siap mensukseskan Gerakan 20 Agustus. “Respon yang kami dapatkan dari kader dan simpatisan Gerindra sangat positif. Insya Allah lebih dari lima juta simpatisan dan kader Gerindra melaksanakan Gerakan 20 Agustus,” kata Muzani di Jakarta, sehari jelang pelaksanaan Gerakan 20 Agustus dilaksanakan.

Setidaknya, berdasarkan temuan KPU, ada lebih dari 6000 nama pemilih ganda di Gorontalo. “Saya yakin angka yang sebenarnya jauh lebih besar lagi. Ini baru temuan di satu provinsi saja, belum di provinsi lainnya. Saya menyadari bahwa tugas KPU tidak mudah, oleh karena itu Gerakan 20 Agustus ini sangat penting untuk mendukung KPU dalam mewujudkan Pemilu yang jujur dan adil,” tegasnya.

Muzani berpesan kepada kader dan simpatisan Gerindra serta masyarakat, untuk bersikap arif dan bijaksana dalam pelaksanaan Gerakan 20 Agustus. “Saya berpesan kepada masyarakat, untuk bersikap tenang apabila menemukan kejanggalan dalam DPSHP. Segala temuan yang saudara dapatkan harus disikapi dengan kepala dingin,” tandasnya.

Dalam pelaksanaanya pada Selasa (20/8) lalu, Prabowo kembali mengunggah pernyataannya di halaman resmi facebook bahwa banyak kader dan simpatisan Partai Gerindra melaporkan kantor kelurahan yang dikunjungi belum memasang DPSHP. Padahal, seharusnya DPSHP sudah dipasang dari hari Jum’at (16/8).

“Mereka yang tidak ingin Indonesia kuat, bersih dan bermartabat akan melakukan banyak cara untuk menyulitkan gerakan kita. Saya mendeklarasikan Gerakan 20 Agustus karena kita telah dihalangi untuk menyisir DPS secara online atau otomatis. Kita diminta untuk menyisir secara manual, secara hard copy ke kantor-kantor kelurahan. Walaupun ini sulit, walaupun mungkin kita tidak bisa menemukan dan menghapus seluruh pemilih fiktif dan pemilih ganda di seluruh pelosok Indonesia, kita tidak boleh gentar,” ujarnya memberi semangat para kader dan simpatisan.

Lebih buruk

Anggota Dewan Pembina Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, menegaskan kecurangan Pemilu 2014 bakal lebih buruk dibandingkan kecurangan sistematis yang terjadi pada Pemilu 2009. Pasalnya, data DPS yang diberikan Kementerian Dalam Negeri kepada KPU saat ini terbilang kacau sehingga jika tak diselesaikan dipastikan Pemilu akan kembali berlangsung curang. Pada Pemilu 2009 terdapat penggelembungan suara hingga mencapai 18 persen. Menjelang Pemilu 2014 angka penggelembungan dan kekacauan DPS mencapai 25 persen dari total pemilih yang mencapai 190 juta. “Potensi kecurangan pada Pemilu 2014 lebih parah dibandingkan Pemilu 2009,” katanya.

Menurutnya, DPS yang kacau ini memungkinkan banyaknya pemilih siluman dan pemilih ganda dalam Pemilu 2014. Ironisnya, KPU sebagai lembaga penyelenggara pemilu tampak membiarkan dan tidak memiliki keinginan menyelesaikannya.

Ketua DPP Partai Gerinda Bidang Advokasi Habiburahman, menyesalkan sikap KPU yang tidak menanggapi setiap kritikan terkait semrawutnya DPS sejak diumumkan 11 Juli 2013 lalu. “Kami melihat para komisioner KPU lebih memilih beradu komentar di media massa dengan para pengkritik daripada segera melakukan upaya konkret memperbaiki DPS yang secara kasat mata sangat bermasalah,” ujar Habiburahman.

Menurutnya, sikap KPU itu patut disesalkan karena sebagai penyelenggara negara paling bertanggungjawab atas kesuksesan pelaksanaan pemilu. Mustinya, KPU menjadikan kritikan dan masukan masyarakat sebagai bahan evaluasi utama untuk segera memperbaikinya. “Pemilu dapat dikatakan sukses jika pelaksanaannya minim kecurangan. Sedangkan akar kecurangan dalam setiap pemilu adalah daftar pemilih yang tidak akurat atau bahkan dimanipulasi untuk kepentingan partai tertentu,” tegasnya.

Ketua Satuan Tugas Advokasi Pemilu 2014 Partai Gerindra itu menegaskan ada empat masalah besar terkait DPS yang hingga kini belum mendapat tanggapan dari KPU. Pertama, soal fakta masih ada 50 juta DPS berbasis KTP non-elektronik. Kedua, format pengumuman yang tidak sesuai standar UU Nomor 8 Tahun 2012, sehingga sulit mendeteksi pemilih ganda dan pemilih fiktif. Ketiga, soal jadwal sub tahapan pemilu yang sangat mepet dan tidak sinkron. Keempat, soal DPS luar negeri yang hingga kini masih kacau balau.

“Tidak ada satupun dari keempat masalah besar tersebut yang sudah diselesaikan atau setidaknya ditindaklanjuti secara serius oleh KPU,” kata Habib.

Menurut Habib, secara sederhana dapat dibandingkan jika pemilih fiktif pada Pilpres 2009 diklaim sebanyak 7 juta. Jika empat masalah besar tersebut belum diselesaikan juga, maka jumlah pemilih fiktif Pemilu 2014 bisa jauh melampaui angka itu, bahkan bisa mencapai puluhan juta. Begitu juga permasalahan yang terjadi pada penyusunan daftar pemilih Pemilu 2014 juga jauh lebih rumit daripada Pilpres 2009. Jika pada Pilpres 2009 tidak ada masalah daftar pemilih luar negeri, kali ini daftar pemilih luar negeri juga ikut kacau balau. Ada sekitar 4,5 juta pemilih luar negeri yang tidak masuk di daftar pemilih. “Angka tersebut sangat signifikan jika dibandingkan dengan jumlah DPS luar negeri versi KPU yang hanya sekitar dua juta,” ungkapnya. [G]

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Agustus 2013

Muhammad Sanusi : Inspirator Perubahan

Sepak terjangnya di percaturan politik kian diperhitungkan, baik kawan maupun lawan. Terlebih posisinya sebagai pimpinan fraksi membuatnya kerap tampil ke muka untuk mengawal dan memperjuangkan aspirasi rakyat. Aura idealisme aktivis dan intelektualitasnya juga masih cukup kental dan kuat mewarnai perubahan masyarakat Jakarta. Keberaniannya melawan arus dalam mengkritisi lembaga legislatif maupun eksekutif kian membentuk ketangguhan daya juangnya.

uciSetidaknya itulah gambaran politisi muda, Ir H Muhammad Sanusi atau biasa disapa Bang Uci. Pria kelahiran Jakarta, 4 Juli 1970 ini duduk sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta di bawah bendera Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Kapasitas dan kematangannya di dunia politik membawanya dipercaya sebagai Ketua Fraksi Gerindra DPRD DKI Jakarta. Kini, jelang Pemilu 2014, namanya kembali tercatat sebagai calon legislatif (caleg) DPRD DKI Jakarta dari Daerah Pemilihan (Dapil) yang sama seperti pada Pemilu 2009 lalu, Jakarta Timur.

“Awalnya di 2014 nanti saya mau nyaleg untuk DPR-RI, namun karena menurut partai saya masih lebih dibutuhkan untuk DKI Jakarta, maka saya sebagai kader harus patuh apa yang menjadi instruksi partai,” kata Uci yang juga menjabat sebagai Bendahara Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra DKI Jakarta.

Keterlibatan Uci di panggung politik sejak 1999. Kala itu ia bergabung dengan Partai Kesatuan dan Persatuan (PKP) bentukan Edi Sudrajat. Berikutnya pada 2002, nama Sanusi pun masuk dalam jajaran pendiri Partai Demokrat. Namun karena kesibukan pekerjaan, insinyur lulusan Institut Sain dan Teknologi Nasional (ISTN) ini tak jadi ikut maju dalam perhelatan Pemilu 2004. Baru pada Pemilu 2009, ia ikut mencalonkan diri sebagai caleg.

Awalnya, Uci mencalonkan diri sebagai caleg di dapil Jakarta Barat dari Partai Demokrat. Namun di ujung waktu pencalegan, ia diminta oleh kakaknya, Mohamad Taufik untuk menggantikan posisinya sebagai caleg Gerindra di dapil Jakarta Timur. “Ini bukan permintaan partai tapi permintaan saya sebagai abang kamu,” ujar Uci menirukan perkataan Taufik kala itu yang menjabat Ketua DPD Partai Gerindra DKI.

Sebagai caleg yang ditempatkan di dapil bukan daerahnya diperlukan kerja keras dan perjuangan yang gampang. Selain medan yang belum dikenal sama sekali, benturan, hujatan dan konflik kepentingan antar sesama caleg yang ada waktu itu kian memanas. Menghadapi Pemilu 2009, Uci membentuk Metropolitan Studi Center (MSC) sebagai wadah tim pemenanganya. Bahkan kini, program MSC yang dibentuknya menggurita, tak melulu mengawal atas pencalonannya kembali.

“Meski dalam akta notaris pendiriannya memakai nama Metropolitan Studi Center, namun di lapangan MSC lebih dikenal Muhammad Sanusi Center yang berhidmat untuk memberikan advokasi kepada masyarakat yang kurang mampu dalam mendapatkan akses layanan kesehatan, pendidikan dan administrasi kependudukan. Nah, sekarang ada keinginan teman-teman yang membantu dalam Pemilu 2009 yang masih ingin bergabung untuk memperjuangkan apa yang saya janjikan dulu. Bahkan lebih besar cakupannya,” terangnya.

Menurutnya, MSC setidaknya telah mengadvokasi masyarakat kurang mampu dalam urusan pemakaman yang berbiaya tinggi. Padahal, lanjut Uci, Pemda DKI mengalokasikan Rp 850 ribu per mayit. Ternyata, selama ini anggaran itu baru terserap sebesar 20 persen saja. Di samping itu MSC juga sudah mengurus 162 akta lahir bagi penduduk yang lahir di Jakarta. Terakhir, MSC telah menggelar sidang itsbath nikah dan nikah massal yang diikuti 140 pasang. Ke depan MSC tengah merancang pendidikan kursus bahasa Inggris gratis untuk setiap kelurahan bekerja sama dengan mahasiswa.

“Apa yang dilakukan saya hanyalah menjalankan tugas dan kewenangan yang ada sebagai anggota dewan untuk memberdayakan anggaran yang dimiliki Pemda hampir Rp 50 Triliun demi kemaslahatan warga Jakarta. Tapi tidak semua anggota mengerti hal itu, kalaupun mengerti tapi tidak peduli,” tegas anggota Komisi D yang membidangi infrastruktur ini.

Pada dasarnya, apa yang dilakukan MSC semuanya bermuara pada perjuangan Partai Gerindra dan memenangkan Prabowo sebagai Presiden RI. Diakuinya, dalam setiap kegiatannya, MSC  selalu membawa nama besar Gerindra. “Setidaknya hingga saat ini sudah diterbitkan kartu anggota sebanyak 20 ribu anggota MSC yang terintegrasi dengan asuransi jiwa. Dan yang bergabung di MSC otomatis menjadi anggota Gerindra. Di luar itu, pastinya ada orang-orang yang pernah menerima manfaat dan pada akhirnya simpati,” urainya sembari menegaskan bahwa MSC sekali bergerak atasnama Gerindra, pantang mundur satu langkah pun.

Uci sendiri lahir dan besar di tengah-tengah keluarga organisator di kawasan Jakarta Utara. Ayahnya adalah tokoh Golkar. Sewaktu duduk di bangku SMP, Uci sudah bekerja sebagai penunggu telepon di studio radio swasta Kencana Bahari yang dikelola ayahnya. Begitu SMA, selain bertugas menunggu telepon, Uci sudah dipercaya menjadi penyiar dengan gaji Rp 30.000 per bulan.

Setelah lulus, ia kuliah di ISTN dan hampir jarang pulang ke rumah karena sibuk dengan organisasi kemahasiswaan. Sekarang ia tinggal bersama keluarganya di kawasan Jakarta Barat. “Kecil hingga besar di utara, kuliah di selatan sekarang tinggal di barat, tapi diplot nyaleg lagi di timur, termasuk di 2014 nanti. Sementara di pusat tempat main dan beraksi mengawal dan memperjuangkan nasib warga Jakarta sebagai anggota dewan,” kata Ketua Badan Komunikasi Partai Gerindra DKI Jakarta ini. [G]

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Agustus 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Mohamad Sanusi maju sebagai calon legislatif (caleg) DPRD Provinsi DKI Jakarta dari Partai Gerindra nomor urut 1 dari daerah pemilihan (dapil) Jakarta Timur.

Yeni Meliani : Aktivitas Politik itu Amanah

Lahir dan dibesarkan sebagai anak petani, membuatnya sadar dan paham dengan apa yang dialami petani. Berbagai ketimpangan dan nasib petani yang memprihatinkan membuatnya terpanggil untuk berbuat sesuatu lewat jalur politik demi tanah kelahirannya. Terlebih, tanah leluhurnya hingga kini masih menyandang predikat daerah tertinggal.

yenkYa, itulah yang dirasakan Yeni Meliani, SE. Perempuan kelahiran Rangkasbitung, 8 Juni 1975 ini bertekad untuk mengangkat sekaligus menyetarakan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Lebak dengan daerah lainnya. Setidaknya untuk wilayah propinsi Banten saja, syukur kalau bisa lebih dari itu. “Sebagai anak petani yang terjun ke dunia politik, saya harus berbuat sesuatu untuk Kabupaten Lebak, agar tidak tertinggal terus,” tegas perempuan yang akrab disapa Yeni ini.

Keterlibatan Yeni di pentas politik bukan sekadar latah terbawa euphoria panggung politik. Sebelum bergabung di Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) pada 2009 lalu, Yeni pernah tercatat sebagai politisi perempuan yang menjajal kemampuannya di dunia politik praktis pada Pemilu 2004 lewat Partai Persatuan Daerah (PPD). Meski pada akhirnya gagal, tak lantas membuat ibu empat orang anak ini menyerah. Tahun 2009 lalu, Yeni pun kembali maju sebagai caleg DPRD Kabupaten Lebak di bawah bendera Partai Gerindra. Walau raihan suaranya bertengger di urutan kedua, ia masih kalah suara dengan caleg partai lain. Meski begitu, tak menyurutkan semangatnya untuk terus berkecimpung di dunia politik. Kala itu disamping maju sebagai caleg, Yeni pun ikut membidani lahirnya sekaligus menjadi pengurus partai berlambang kepala burung Garuda sebagai Wakil Sekretaris Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerindra Kabupaten Lebak.

Seiring berjalannya waktu, Yeni pun diminta oleh Budi Heriyadi, selaku anggota DPR-RI dan sekaligus Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Provinsi Banten untuk mengisi posisi Wakil Ketua DPD. “Selain untuk memenuhi kuota 30 persen perempuan, saya diminta orangtua yang memang aktif di HKTI dan KTNA untuk ikut mendirikan Partai Gerindra di Lebak,” kata Yeni yang tercatat sebagai caleg DPRD provinsi Banten dari daerah pemilihan Kabupaten Lebak pada Pemilu 2014 nanti.

Majunya Yeni untuk ketiga kalinya sebagai caleg perempuan di pemilu nanti bukanlah tanpa sebab. Selain sebagai bentuk tanggungjawab atas suara yang diraihnya pada 2009 lalu, istri dari Awang Chodari Bachtiar ini bertekad untuk membesarkan partai, memenangkan Partai Gerindra dan mengantarkan Prabowo Subianto menjadi Presiden di 2014 nanti.

“Saya hanya ingin membesarkan partai, memperjuangkan Pak Prabowo menjadi presiden. Kalaupun saya tidak jadi, saya harap Gerindra menang di Lebak dan Prabowo Presiden,” tegas Yeni yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan keluar masuk perkampungan di Lebak, kampung halamannya.

Sejumlah program berbasis ekonomi kerakyatan tengah digalakkannya bersama para petani dari berbagai desa di Lebak yang masih setia berada dalam barisannya. Salah satunya adalah koperasi bagi petani dan nelayan –yang selama ini hanya dimanfaatkan sejumlah elit di Lebak. Ia pun gregetan melihat nasib petani yang hanya jadi dagangan politik. “Ada Gapoktan hanya diambil KTP-nya saja, tapi petani itu tidak dapat apa-apa. Untuk itu kita akan merubah itu. Untungnya saya dipertemukan dengan orang-orang yang memiliki loyalitas,” kata aktvis Perempuan Indonesia Raya (PIRA) ini.

Sejak usia remaja, Yeni memang dikenal sosok yang mandiri dan selalu penasaran akan hal-hal baru, termasuk politik. Anak keenam dari tujuh bersaudra ini, dikenal tak pernah bergantung pada orang lain. Beruntung ia dipertemukan dengan para aktivis Lebak yang siap membantu mengantarkannya ke kursi parlemen.

“Apapun saya mengerjakan sendiri, dengan apa yang saya punya, apa yang saya bisa, sampai saat ini pun, saya tidak melibatkan orang lain. Karena memang saya bisa dan tidak ingin merepotkan orang lain,” ujar Yeni yang mengaku keterlibatanya dirinya pada partai politik sebagai bentuk amanah.

Sebagai putra daerah, ia sangat berharap ada perubahan dan pembaharuan untuk masyarakat Kabupaten Lebak, termasuk Partai Gerindra yang menjadi rumah perjuangan dan kehidupan politiknya. Karena hingga saat ini, jangankan untuk tingkat nasional, di wilayah Banten saja, masih sangat jauh sekali ketertinggalannya dibanding daerah lain. “Karena sejak 2008, keinginan saya hanya ingin membesarkan partai dan Prabowo, sehingga bisa berbuat banyak untuk Lebak,” tuturnya. [G]

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Juni 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Yeni Meliani maju sebagai calon legislatif (caleg) DPRD Provinsi Banten dari Partai Gerindra nomor urut 3 untuk daerah pemilihan (dapil) Kabupaten Lebak

Prabowo : Rapatkan Barisan untuk Indonesia Raya

“Tugas Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) bukan hanya sekedar cari kursi di parlemen, bukan sekedar cari suara. Sekali lagi saya tegaskan, kita ingin memimpin transformasi bangsa. Kita ingin membawa Indonesia ke tempat yang sepantasnya ditempati oleh bangsa Indonesia. Negara ke-empat terbesar di dunia, ekonomi ke-tujuh di dunia.”

ps08Demikian surat terbuka yang disampaikan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto kepada seluruh kader Gerindra, terutama yang maju sebagai calon anggota legislatif (caleg) yang akan berlaga di Pemilu 2014 mendatang. Pesan itu disampaikan Prabowo lewat akun pribadi jejaring sosial facebook beberapa waktu lalu.

Prabowo menegaskan, rakyat Indonesia harus sejahtera, makmur, aman, adil, terhormat, berdaulat, berdiri diatas kaki sendiri. Tidak minta-minta ke bangsa lain. Tidak memohon belas kasihan bangsa lain. Tidak berharap bantuan bangsa lain. Tidak diejek bangsa lain. Tidak mengganggu bangsa lain, tetapi tidak mau didikte oleh bangsa lain. Tidak mau disuruh-suruh oleh bangsa lain. Tidak mau diinjak-injak oleh bangsa lain.

Untuk itu, Prabowo mengingatkan bahwa tantangan yang akan dihadapi untuk membela kepentingan bangsa dan kepentingan rakyat Indonesia tidak ringan. Setiap ada usaha dari pihak yang ingin menjaga dan mengamankan kekayaan nasional bangsa serta yang ingin menggunakan kekayaan nasional sebesar-besarnya untuk kemakmuran seluruh rakyat Indonesia akan selalu menghadapi perlawanan dan pertentangan oleh kaum komprador dan kaum koruptor. Komprador artinya adalah anak bangsa sendiri yang rela dan tega menjual kepentingan bangsa dan rakyatnya sendiri demi keuntungan dan kepentingan pribadi serta keluarganya saja.

“Negara sebesar kita, bangsa sekaya kita, begitu banyak pihak yang ingin menghambat dan mengkerdilkan,” tegas Prabowo sembari meyakinkan para kader bahwa kaum komprador dan kaum koruptor untuk mengakal-akali rakyat Indonesia, bisa dikalahkan dengan kekuatan rakyat.

Inilah yang menurut Prabowo sebagai fenomena sejarah ratusan tahun. Dan ini tidak terjadi hanya di negara Indonesia saja. Semua negara dan semua bangsa selalu mengalaminya. Sejarah kolonialisme dan imperialisme ribuan tahun mengajarkan hal ini. Biasanya, lanjut Prabowo, bangsa yang lemah sering diinjak, dijajah dan kekayaannya dirampas oleh bangsa yang kuat.

“Bangsa menjadi lemah ketika elit bangsa tersebut tidak teguh, tidak tangguh, tidak berani, tidak percaya diri, tidak rela berkorban, tidak jujur, tidak setia kepada rakyatnya sendiri,” kata mantan Danjen Kopassus ini.

Menurutnya, ini adalah pelajaran yang dapat dipetik dari sejarah. Karena itu, Prabowo pun menganjurkan kepada seluruh kader untuk selalu belajar sejarah. Mereka yang tidak mau belajar dari sejarah akan dihukum oleh sejarah. Mereka yang tidak mau belajar dari sejarah akan mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama yang pernah dilakukan oleh pendahulu-pendahulunya. “Kalau dahulu nenek moyang kita dijajah oleh bangsa lain, masa kita terus dijajah sekarang?” ujar putra Begawan ekonomi Soemitro Djojohadikusumo ini.

Disadari atau tidak, kata Prabowo penjajahan yang terjadi sekarang memang dengan bungkus dan baju yang baru. Memang negara ini punya punya bendera sendiri. Punya lagu kebangsaan sendiri. Tetapi coba bertanya kepada diri sendiri, belajar dari lingkungan sendiri, lihat dengan gunakan mata sendiri, gunakan telinga, gunakan akal dan hati.

“Lihatlah, apakah kita benar-benar tuan di negeri sendiri? Apakah kita benar-benar tuan di rumah kita sendiri? Ataukah kita sebenarnya sudah menjadi tamu di tanah tumpah darah kita sendiri? Apakah kita akan terus menonton bangsa lain menjadi kaya karena kekayaan kita, dan kita tetap hidup miskin?” kata Prabowo.

Dalam hal ini, Prabowo menegaskan bahwa bukan dirinya menganjurkan bangsa ini untuk benci atau curiga dengan bangsa lain. Justru bangsa ini harus belajar dari bangsa lain. Bangsa ini harus bersahabat dengan mereka. “Yang saya ingin gugah adalah elite bangsa kita sendiri. Yang ingin saya gugah adalah pemimpin-pemimpin bangsa kita sendiri. Yang ingin saya gugah adalah anak-anak pintar bangsa Indonesia sendiri. Saya hanya mengungkapkan ini fenomena sejarah,” tandasnya.

Menurutnya, keadilan dan kemakmuran tidak pernah jatuh dari langit. Setiap ajaran agama mengajarkan bahwa setiap umat menentukan nasibnya sendiri. Sebagaimana dalam ajaran Islam yang tercantum dalam kitab Al-Quran surat Arra’du ayat 11, yang mengatakan bahwa Allah SWT tidak akan mengubah nasib suatu kaum manakala kaum tersebut tidak mau mengubah nasibnya sendiri.

“Kalau kita terpuruk. Kalau negara kita dilanda pemerintahan yang lemah dan korup. Kalau kita mengalami kemerosotan karena tidak ada pembangunan yang berarti di negara kita. Kondisi ini adalah salah kita sendiri,” ujarnya.

Inilah tugas berat yang harus dihadapi Gerindra dan para kadernya. Gerindra ingin memimpin transformasi bangsa. Karena itu Gerindra perlu putra-putri terbaik memperkuat barisan, terutama dalam pemilihan umum yang akan datang. Sebagai partai, Gerindra hadir sebagai partai yang memiliki jati diri yang jelas yakni kebangsaan, kerakyatan, religious dan keadilan sosial. Dalam perjuangan, Partai Gerindra berpijak dan berpegangan teguh pada landasan kedaulatan dan tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Untuk itu, Prabowo pun mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk aktif mengambil bagian dalam pesta demokrasi yang digelar April 2014 mendatang. Meski memang tak dipungkiri, gerakan penggalangan massa untuk tidak berpartisipasi dalam pemilu alias golput terus menggurita. Namun Prabowo yakin, masyarakat Indonesia bukanlah masyarakat yang bodoh. “Golput adalah orang yang tidak mau bersikap dan tidak mau ambil risiko, dan itu yang membuat negara ini tambah rusak dan tambah miskin!” tegasnya mengingatkan.

***

Untuk menghadapi Pemilu 2014, Gerindra telah menjaring hampir 3.000 orang bakal caleg yang akan berlaga nanti. Prabowo menyampaikan rasa terimakasihnya kepada kader dan masyarakat umum yang mendaftar menjadi bakal calon anggota legislatif dari Partai Gerindra, dan kepada kader yang mempunyai saudara, kerabat, atau kawan yang mendaftar menjadi caleg Gerindra untuk tingkat DPR RI, tingkat DPRD Provinsi atau tingkat DPRD Kabupaten/Kota.

“Antusiasme dan semangat saudara menunjukkan, kalau saudara-saudara percaya, bahwa Gerindra mempunyai niat yang baik dan tulus untuk memperbaiki kehidupan negara dan bangsa Indonesia yang kita cintai bersama. Ini juga berarti bahwa saudara tertarik dengan gagasan-gagasan, nilai-nilai dan pendirian Partai Gerindra,” ujarnya.

Prabowo mengingatkan bagi para kader atau kerabat kader yang belum berhasil terpilih dan terseleksi untuk bergabung dalam daftar caleg Gerindra untuk pemilihan umum 2014, pihaknya memohon dengan sangat, janganlah terlalu kecewa. Janganlah terlalu sedih. “Gerindra hanya punya tempat untuk 560 nama putera dan puteri terbaik bangsa untuk maju di tingkat nasional. Di tingkat provinsi, jumlah tempat yang kita miliki pun terbatas. Demikian pula di tingkat kabupaten dan kota. Hasrat saudara yang begitu besar, saya dan seluruh unsur pimpinan Gerindra sangat hormati dan kami berterimakasih,” ujarnya.

Keputusan yang telah Gerindra ambil pasti tidak akan memuaskan semua pihak. Pasti diantara kader ada yang kecewa. “Kecewa kepada saya. Kecewa kepada Gerindra. Itulah resiko yang harus saya hadapi sebagai pimpinan,” kata Prabowo.

Prabowo mengingatkan bahwa niatan Partai Gerindra hanya setulus-tulusnya untuk kepentingan bangsa dan negara. Memang, Partai Gerindra butuh putra putri yang terseleksi, yang terkuat, untuk bersama-sama bersama kita melakukan transformasi bangsa. “Saya lakukan ini bukan untuk mencari jabatan. Saya bersumpah kepada Allah SWT. Tidak ada sedikit pun saya mengejar jabatan demi kepentingan pribadi. Saya semata-mata melakukan ini untuk membela kepentingan bangsa dan negara, dengan nafas, dengan tenaga, dengan kemampuan yang saya miliki,” janjinya.

Gerindra sebagai partai politik peserta pemilu dalam waktu dekat ini akan menyusun suatu institusi partai yang disebut sebagai BAPPILU (Badan Pemenangan Pemilihan Umum) dengan segala unit-unit dibawahnya. Gerindra membutuhkan putra-putra dan putri-putri terbaik bangsa untuk memperkuat perjuangan ini. “Kami butuh relawan-relawan yang mau berjuang memperbaiki bangsa kita. Karena kita sangat membutuhkan kekuatan besar, saya membutuhkan keikutsertaan saudara-saudara dalam perjuangan kita bersama. Jangan tinggalkan saya dan Gerindra,” pintanya.

Bagi mereka yang mungkin kecewa karena tidak terpilih dalam daftar caleg Gerindra di Pemilu 2014, Prabowo memohon untuk menerimanya dengan lapang dada dan berjiwa besar. “Perjuangan kita besar. Semua unsur harus bersatu. Sekali lagi saya mohon jiwa besar. Teruslah bergabung bersama saya dan bersama Gerindra,” imbaunya.

Menurut Prabowo, dunia mengakui bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah, bangsa yang rendah hati, bangsa yang selalu suka bergaul dengan orang lain. Akan tetapi juga tidak boleh menutup diri dari kenyataan bahwa memang kadang-kadang bangsa ini punya rasa rendah diri yang teramat besar. Tidak percaya dengan kekuatan bangsa sendiri. Tidak percaya dengan kemampuan sendiri. Tidak percaya dengan kepintaran orang-orang Indonesia sendiri. Tidak percaya dengan kearifan pemimpin-pemimpin sendiri.

Sekali lagi, Prabowo menggarisbawahi, inilah yang berobah. Bagi yang belum terpilih menjadi caleg, jangan terlalu kecewa. “Perjuangan masih panjang. Tantangan, gangguan, hambatan dan ancaman di hadapan kita sangat besar. Tidak mungkin tantangan-tantangan ini dapat kita atasi tanpa semangat dan kekuatan besar pula dari seluruh unsur rakyat Indonesia,” ujarnya.

“Rapatkan barisan, bulatkan tekad, kobarkan semangat kebangsaan. Jadilah pandu ibumu yang gagah berani, setia sejati, tangguh jiwanya, tangguh badannya untuk Indonesia Raya. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi?” ajaknya.

Pasalnya, menurut Prabowo, kalau bukan bangsa ini yang mencintai negara ini, siapa lagi? Prabowo mengingatkan, apakah berharap orang lain cinta akan bangsa Indonesia. Janganlah mengira untuk sedetikpun orang lain akan kasihan kepada bangsa ini. Janganlah menjadi bangsa yang selalu tergantung dengan bangsa lain, bangsa yang bergantung kepada belas kasihan bangsa lain.

Sementara Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra DKI Jakarta, Muhammad Taufik mengatakan, ada sesuatu yang harus dilakukan untuk Jakarta oleh para kader dan politisi partainya, terutama yang lolos sebagai caleg untuk DPRD Provinsi DKI Jakarta. Setiap politisi harus memiliki prinsip yang harus dipegang teguh, begitu juga harus memegang teguh komitmen yang telah dijanjikan kepada warga Jakarta. Salah satu prinsip dan komitmen para caleg Partai Gerindra yang akan bertarung dengan caleg dari partai lainnya dalam pemilu adalah harus dikenal oleh rakyat dan mudah dihubungi oleh konstituen daerah pemilihan.

Saat ini, Gerindra Jakarta menyiapkan 106 orang caleg yang siap menjadi fighter of people atau pejuang rakyat. Terpilih atau tidak terpilih pada pemilu nanti, para caleg ini harus mampu terus berjuang untuk rakyat Jakarta. “Mereka harus jadi fighter untuk rakyat, tidak peduli dapat atau tidak dapat menjadi anggota DPRD. Yang penting bagaimana mendidik rakyat lebih cerdas untuk memilih. Mereka harus mendukung kebutuhan rakyat, tetapi bukan merusak,” tegasnya.

Sementara anggota Dewan Penasehat DPP Partai Gerindra yang juga anggota DPR-RI, Martin Hutabarat, mengatakan pada Pemilu 2014 nanti Gerindra ingin mendulang sebanyak mungkin suara. Hal ini diperlukan untuk memudahkan partai mengusung Prabowo menjadi calon presiden pada pemilihan presiden nanti. Untuk itu diperlukan kerja keras seluruh caleg Gerindra yang ada di semua tingkatan. “Kami ingin semua caleg bekerja keras untuk meraih hasil maksimal,” ujarnya.

Martin optimis partainya bakal mendulang sukses pada Pemilu 2014 nanti. Pasalnya, masyarakat saat ini sudah bosan dengan pola kepemimpinan yang sedang berjalan. Masyarakat, kata dia, butuh ketegasan kepemimpinan yang diyakini ada pada karakter Prabowo Subianto dan Gerindra. “Saya yakin antusiasme masyarakat pada kami terus meningkat,” tandasnya.

Hal senada disampaikan Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Fadli Zon yang mengimbau kepada seluruh mesin politik Gerindra untuk turun ke tengah masyarakat dan melakukan sosiasilisasi dengan maksimal. Menurutnya, nama besar politikus dan senioritas dalam dunia politik bukan jaminan mulus meraih kursi empuk parlemen. Karena itu, seluruh kader Gerindra harus bekerja keras dan optimis untuk meraih simpati rakyat. Jika semua elemen bekerja maka 20 persen suara dalam Pemilu 2014 bisa diraih. “Kami optimis bisa meraih suara minimal 20 persen,” katanya. [g]

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Mei 2013

Prabowo Subianto : “Gerindra Didirikan untuk Masa Depan Bangsa”

“Kita merasa masa depan bangsa ini di persimpangan jalan. Kalau kita tidak pintar, tidak bijak, tidak piawai, tidak teguh, tidak tegar, tidak berani dalam menjalankan kehidupan bernegara, berbangsa, berpoilitik, bisa-bisa Indonesia pecah tidak lama lagi. Untuk itu, tujuan didirikannya partai ini adalah untuk menyelamatkan masa depan bangsa,” tegas Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Prabowo Subianto dihadapan para kadernya dalam Kongres Luar Biasa Partai Gerindra di Lembah Hambalang, Bogor, Maret lalu.

Menurut Prabowo, Partai Gerindra telah menjadi partai yang besar. Diakui atau tidak Partai Gerindra ikut mempengaruhi kehidupan politik bangsa, menentukan arah kehidupan politik bangsa ini. Tidak hanya itu, kondisi ini ditopang dengan perjuangan para kader di daerah yang tetap kuat, militan, dan disiplin.

Ini ditunjukkan para kader yang tetap membesarkan partai dan berada di tengah-tengah perjuangan rakyat. Dengan demikian Gerindra telah menjadi parpol yang sebenarnya berjuang untuk rakyat Indonesia. “Alhamdulillah partai kita kerja bukan karena ada uang, partai kita bila perlu berkorban uang untuk bekerja demi rakyat Indonesia,” tegas mantan Pangkostrad ini.

Prabowo prihatin dengan kondisi bangsa yang lemah di tengah kekayaan alamnya yang melimpah. Negeri ini kaya dengan sumber tambang yang berharga bagi kehidupan dunia, tetapi hampir semuanya dikuasai oleh segelintir orang saja. Bahkan dengan mudah diambil oleh bangsa lain.

“Di tengah kekayaan alam yang melimpah, rakyat kita tetap miskin, di tengah kekayaan yang berlimpah masih ada rakyat yang telanjang, rakyat kita tidak menikmati apa yang seharusnya kita nikmati,” ujarnya heran.

Sehari sebelumnya, putra Begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo ini menerima tamu sejumlah kepala suku dari sejumlah wilayah adat di pulau Kalimantan yang mengadukan nasib atas tanah leluhurnya. Betapa tidak dari wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur yang kaya sumber daya alam itu puluhan ton tambang keluar, tapi tak bisa menikmati sepeserpun. Padahal keuntungan setiap tahunnya bisa mencapai Rp 6 triliun.

“Bahkan rakyat kita digusur, tidak menikmati dari kekayaan yang ada di tanah leluhur mereka. Kita lihat aparat yang dibiayai rakyat menggusur dan menindas rakyat kita sendiri, saya sebagai mantan tentara, saya menangis melihat kenyataan ini,” ujarnya.

Wajar jika rakyat marah, ketika meraka melihat kekayaan negeri ini tidak dikelola dengan baik dan hanya dinikmati segelintir orang. Rakyat melihat penyelewengan, aksi korupsi yang kian berani, kelakuan para pemimpin yang dengan gampang tanpa dosa melakukan kebohongan-kebohongan. Tak heran bila situasi negara sudah mulai panas, parah, banyak yang minta perubahan, bahkan melakukan tindakan di luar konstitusi.

Perang Suci

Mantan Danjen Kopassus itu berkali-kali menegaskan bahwa Partai Gerindra didirikan untuk menyelematkan masa depan bangsa, memperbaiki kerusakan moral, kerusakan politik, dan kerusakan yang telah terjadi dalam proses kepemimpinan di tiap tingkatan dari desa, kecamatan, hingga nasional. “Kita ingin memimpin pembaharuan, kita ingin Indonesia ini menjadi negara yang sejahtera,” tegasnya.

Tapi Prabowo mengingatkan, negara sejahtera tidak bisa dicapai, kalau pemerintahnya tetap korup, pemerintahnya tidak mempunyai kemampuan untuk menjalankan pelayanan kepada rakyatnya. Sejarah manusia mengajarkan, manakala pemerintah suatu negara itu korup maka itu menuju distintergrasi, dan kegagalan.

“Rakyat kita semakin pandai, pinter, tidak bisa dibohongi terus. Rakyat pun menyadari bahwa pemerintahan harus memberi pelayanan publik yang lebih baik, keamanan, pendidikan, kesehatan, dan ini tidak mungkin kalau korupsi terus merajalela,” tandasnya.

Dengan kondisi seperti ini, Partai Gerindra memberanikan diri tampil berjuang memperbaiki negeri. Karenanya, norma-norma biasa yang berlaku di parpol lain tidaklah berlaku di partai ini. Partai Gerindra harus selalu tampil di tengah-tengah rakyat sebagai pembela kebenaran, kejujuran dan semua golongan.

“Saya tidak ragu-ragu bahwa apa yang kita lakukan ini sebagai jihad, perang suci dalam menjalankan mandat saudara-saudara,” tegasnya.

“Saya memimpin dengan sikap berjuang, bukan sebagai politisi. Kita adalah pejuang untuk mempertahankan NKRI sampai darah penghabisan. Karena itu kita harus selalu tampil kepada rakyat sebagai pembela kebenaran, kejujuran, yang lemah dan semua golongan. Itulah ruh Partai Gerindra,” ujarnya mengingatkan.

Prabowo pun meminta kepada para kadernya untuk terus menjaga marwah partai sebagai partai yang bersih, kompak, tidak terlalu banyak pertikaian, tidak terlalu banyak sikut menyikut, kubu-kubu, intrik-intrik, curiga mencurigai, karena tuntunan keadaan partai ini membutuhkan kader yang kompak dan militan. “Karena kita sudah ada di ajang perang. Tidak ada waktu untuk membicarakan kejelekan orang lain, tidak ada waktu untuk bersitegang,” ajaknya.

Semua itu dalam rangka menghadapi pemilu 2014 mendatang yang boleh jadi tidak lebih dari 1000 hari lagi. “Kita tidak mau terulang di masa waktu 2009, dicurangi dan kita malah menjadi anak manis. Sudah saatnya kita harus bergerak, berjuang untuk menang. Menjalankan revolusi damai, konstitusional. Kita ingin pemilu yang bersih, kita harus tekankan bahwa kunci kita di pemilu nanti adalah damai,” ujarnya.

Partai Gerindra harus menjadi partai yang bersih. Partai yang membela kepentingan rakyat. Partai yang melakukan perombakan, pembaharuan, karena kalau tidak negara ini akan sirna dan bubar. Sejatinya, lanjut Prabowo, rakyat Indonesia yang ada di Papua, Kalimantan, akan bertanya kenapa kita diam melihat kekayaan negeri ini terus diambil dari daerahnya. Mereka juga bertanya, apa benar kita masih mau ada di negara ini? “Jangankan dari Papua atau Kalimantan, rakyat Banten pun saya yakin, tidak mau dipimpin oleh penguasa yang terus korup. Kita pun merasakan rakyat yang sudah kecewa, karena itu Partai Gerindra tampil berani untuk maju ke hadapan rakyat,” tegasnya.

Untuk itu, selama empat tahun berjalan, Partai secara alamiah telah melakukan penyaringan terhadap kader-kadernya. Bagi mereka yang mengira bisa berpetualang di partai ini, mencari kekayaan dari partai ini, satu persatu mulai meninggalkan partai.  Pun apabila mereka tidak mau meninggalkan partai ini, maka partailah yang mendorong mereka untuk keluar.

Dalam kesempatan itu Prabowo pun berkali-kali mengatakan bahwa Partai Gerindra tidak boleh asal jadi partai, Gerindra harus menjadi partai bersih, yang membela rakyat, membela kedaulatan dan kehormatan bangsa yang memimpin pembaharuan bagi rakyat Indonesia. Partai Gerindra ingin membangun bangsa yang bermartabat, menghilangkan kemiskinan dari bumi Indonesia baik di desa maupun di kota. Cita-cita Partai Gerindra adalah cita-cita yang besar, impian yang besar, perjuangan Partai Gerindra perjuangan besar, karena itu dibutuhkan jiwa yang besar, pengorbanan yang besar, semangat yang besar, bukan semangat yang kerdil.

“Karena itu saya bersyukur bahwa kita bisa selenggarakan satu kongres pada hari ini dengan penuh kekeluargaan, jiwa besar, pengorbanan, kesadaran dan kearifan sesuai dengan watak bangsa Indonesia, musyawarah untuk mufakat. Kita di rumah besar Gerindra ini, tidak mempermasalah suku, agama, ras, asal usul, dan golongan,” tandasnya.

Sekali lagi, Prabowo mengingatkan para kadernya Gerindra dalam berpolitik untuk memperbaiki kehidupan bangsa. Karena tanpa politik, tanpa kekuasaan maka tidak bisa memperbaiki kehidupan rakyat. “Tapi kita bukan politisi. Gerindra menggembleng, mendidik dan menyiapkan pejuang politik. Kita harus menjadi pejuang-pejuang politik yang rela berkorban,” ujarnya.

Sadar atau tidak, bangsa Indonesia dalam kondisi bahaya. Betapa tidak, setiap saat selalu ada kekuatan-kekuatan yang ingin bangsa ini pecah belah dengan mengadu domba antar suku, ras, agama dan golongan. Padahal sejatinya, sifat dari bangsa ini dikenal rukun, moderat, cinta damai, ramah tamah, gotong royong sebagaimana yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa ini –yang digambarkan dalam Pancasila. Tapi sekarang banyak pihak yang hendak menghilangkan Pancasila dari kehidupan bangsa. Bahkan UUD 1945 yang merupakan pengalaman para pendiri bangsa ini pelan-pelan hendak dirubah, dihapus, diganti dengan sistim yang tidak cocok dengan bangsa ini.

Untuk itu, Gerindra ingin merebut kekuasaan untuk memperbaiki dan mengamankan Pancasila, mengembalikan UUD 1945 menjadi pegangan dan landasan kehidupan bangsa Indonesia. “Dan ternyata dalam usia kita yang masih muda, telah berhasil bahwa sikap-sikap Gerindra selalu berada di pihak yang benar di hadapan sejarah. Partai Gerindra didirikan untuk menawarkan suatu pemerintah yang bersih, kuat, bisa mengelola dan menjaga kekayaan negara Republik Indonesia,” ujarnya.

Menurutnya, jauh sebelum berdirinya Gerindra, partai ini sudah mengkritik sistem neolib. Partai Gerindra merupakan partai pertama yang mengatakan sistem itu menyesatkan dan menyengsarakan bangsa Indonesia. Dan Gerindra telah mengingatkan bangsa Indonesia bahwa neolib itu keliru, tapi malah diejek, dicemooh. Tapi buktinya, sejarah mencatat bahwa pada tanggal 18 Oktober 2008, terjadi crash di Amerika Serikat, disusul kawasan Eropa akibat sistim perekonomian neolib yang dibangga-banggakan ternyata penyebab hilangnya trilunan dolar.

Sekarang apa yang terjadi, mereka pelan-pelan merubah, mereka bilang bukan neolib, tapi ekonomi Pancasila. Padahal mereka dulu mau merobek-robek tuh pasal 33 UUD 1945. “Enak saja, mereka kini bilang saya juga Pancasila, kemana saja kemarin-kemarin? Sudah salah tidak mau ngaku, tidak mau minta maaf lagi,” ujarnya gusar.

Prabowo pun mengajak seluruh kadernya untuk terus turun ke rakyat dengan tegas dan lantang mengajarkan, mendidik rakyat bahwa Gerindra mengeti tentang bangsa ini. Gerindra juga pahan dan bertekad untuk membawa bangsa ini dari kemiskinan, berdiri di atas kakinya sendiri, menjadikan bangsa yang dihormati, disegani bangsa lain, terhormat dan sejahtera. “Itulah perjuangan suci kita semua,” tekadnya.

Mandat

Prabowo menegaskan memang, sistim yang dibangun di Partai Gerindra seolah-olah hanya memberi mandat pada satu orang. Sejatinya sistim ini tak lain belajar dari para pemimpin negeri ini, seperti Bung Karno yang pernah dituduh diktator, Pak Harto yang selama 32 tahun memimpin negara ini, membela Pancasila, membawa kesejahteraan yang juga dituduh diktator. Tapi rakyat lebih tahu bagaimana dan apa yang dihasilkan kedua putra bangsa terbaik itu.

“Percayalah, saya sebagai orang yang dipercaya saudara, saya sadar bahwa saya hanya manusia biasa dengan penuh kelemahan, kekurangan, tetapi saya sadar adakalanya dalam sejarah ada orang-orang yang harus bersedia memikul tanggungjawab untuk orang banyak. Dan apabila itu memang takdir saya, kehendak dari rakyat banyak, saya terima mandat yang telah kalian berikan pada saya di siang hari ini,” ujar Prabowo saat menyampaikan kesanggupannya mengemban mandat untuk menyempurnakan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Partai Gerindra.

“Mandat yang saudara berikan akan saya jalankan dengan sebaik-baiknya dan diselesaikan dengan penuh rasa tanggungjawab, seksama serta dalam tempo waktu yang sesingkat-singkatnya,” lanjutnya.

Memang dalam kongres tersebut, tak sekadar memberikan mandat kepada Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra untuk menyempurnakan AD/ART saja, tapi sekaligus memberi mandat kepadanya untuk maju sebagai calon Presiden RI pada pemilu 2014 nanti. “Saya merasa ini kehormatan yang sangat besar yang diberikan kepada diri saya. Tentunya saya harus menjaga kepercayaan saudara dengan segala kekuatan yang saya miliki,” tegasnya.

Tak cukup sekali Prabowo menyatakan dirinya hanyalah manusia biasa, tidak memiliki kelebihan, tapi ia paham bahwa ada kalanya rakyat banyak, orang banyak, akan meminta satu diantaranya untuk menjadi nahkoda, pemimpin, pembawa bendera bangsa ini. “Saya sadar kekurangan saya, tapi saya merasakan ada getaran di hati saya, rasa cinta tanah air yang sulit saya bendung, kalau saya liat merah putih, saya dengar Indonesia Raya dikumandangkan, saya terpanggil, saya ingin melihat Indonesia yang makmur, kuat, dan  dihormati. Itulah yang menggerakkan saya untuk menerima kepercayaan saudara-saudara kepada saya,” ujarnya merendah yang disambut dengan gemuruh tepuk tangan para hadirin.

Sebagai hamba biasa, Prabowo pun mengaku tidak mungkin kepercayaan itu bisa diwujudkan kalau berjuang sendiri. “Saya akan mengajak, merekrut, membujuk putra putri bangsa terbaik untuk membantu saya berjuang bersama mewujudkan cita-cita kita yaitu Indonesia Raya yang sejahtera, adil makmur, gemah ripah loh jinawi,” ucapnya.

Prabowo pun mengingatkan bahwa untuk bisa berhasil, semua kader Partai Gerindra harus siap jadi pendekar yang membela kebenaran. Partai Gerindra harus berhasil membangun kekuatan yang besar, untuk menghadapi kekuatan-kekuatan kurawa, angkara murka yang menginginkan bangsa ini pecah belah. “Kalau mereka mengajak curang, kita harus hadapi dengan kekuatan dan kebenaran. Kalau mereka ingin intimidasi, kita harus berani membela diri kita dengan kegagahan. Kita tidak gentar dalam bertarung. Yang tidak berani bertarung, berdiri tinggalkan partai ini,” pintanya.

Program

Prabowo menegaskan, selain menyusun kekuatan di setiap lini, pendidikan dan pengkaderan, Gerindra pun tengah menyiapkan tim untuk memperbaharui manivesto perjuangan, delapan program aksi. Pasalnya, lanjut Prabowo, dari sekian program aksi yang dicanangkan Partai Gerindra sudah banyak ditiru dan bahkan diakui oleh kelompok lain.

Salah satu program baru yang akan dimasukkan dalam program aksi adalah membangun bank tabungan haji. Di Indonesia ada sekitar 200 ribu calon haji per tahunnya yang harus menunggu lima tahun, bahkan ada yang tujuh sampai delapan tahun. Bisa dibayangkan berapa triliun uang yang nongkrong di situ? “Aneh memang, sebagai bangsa yang memiliki umat Islam terbesar di dunia, tapi tidak memiliki bank tabung haji,” ujarnya heran.

Padahal menurut Prabowo, negeri jiran Malaysia yang memiliki penduduk 25 juta orang saja sudah memiliki bank tabung haji. Bahkan lanjut Prabowo, Mahatir Muhammad pernah bilang, jika saja waktu krisis 1998, Malaysia tidak punya tabung haji, maka ekonominya bangkrut. Pasalnya, uang yang ada di Malaysia dibawa lari ke luar negeri kecuali bank negeri Malaysia, bank tentara dan bank tabung haji yang tidak dikuras.

Selain itu, menjadi tantangan bagi bangsa ini lanjut Prabowo, negara ini harus bisa mewujudkan program mobil dan motor nasional buatan putra Indonesia. Dan Partai Gerindra harus mendukung apa yang diproduksi oleh putra Indonesia, seperti yang dilakukan pelajar SMK yang telah berhasil membuat mobil esemka. “Baik atau jelek kalau itu buatan asli Indonesia harus kita dukung,” tegasnya yang berniat untuk terbang ke Solo dalam waktu dekat ini.

Suara rakyat

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra, Suhardi  mengungkapkan dengan berlangsungnya kongres ini menandakan bahwa Partai Gerindra mampu tampil ke tengah-tengah rakyat meski suhu politik kian memanas menuju 2014. Untuk itu, Suhardi berharap kepada seluruh kader untuk bisa membawa diri terus menerus, menunjukkan diri kepada rakyat bahwa Gerindra bisa menjadi pemimpin di republik ini.

Menurutnya, yang harus dilakukan oleh para kader adalah terus berjuang mengawal suara rakyat yang terus mengarah ke Gerindra dari waktu ke waktu. Suhardi pun sepakat dengan Prabowo bahwa untuk saat ini sudah tidak ada waktu lagi bagi para kader Partai Gerindra untuk saling sikut, saling bertikai baik di pusat hingga daerah. Menurutnya, harapan itu terjawab sudah pada pelaksanaan kongres hari itu bahwa kader Gerindra tetap disiplin, militan dan memiliki semangat juang yang tinggi menjalankan tugasnya.

“Hari ini kita rasakan tidak ada gejolak-gejolak, semua bersinar mukanya bahwa hari ini adalah hari besar partai Gerindra. Yang harus kita waspadai adalah bagaimana kita harus mengawal suara rakyat, apakah kita akan menghianati suara mereka, apa artinya kita mendirikan partai Gerindra. Tugas kita adalah terus berjuang untuk mengawal suara rakyat,” tegas Suhardi.

Hal senada diungkapkan Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra, Ahmad Muzani, yang menegaskan bahwa ketetapan yang dihasilkan dalam kongres itu bukan sekadar menjadi cita-cita saja, tapi janji kepada bangsa dan hutang kepada rakyat yang harus dibayar. “Inilah janji kita kepada bangsa dan hutang kita kepada rakyat Indonesia yang akan kita bayar pada pemilu 2014 nanti,” tegasnya.

Menanggapi pidato politik Prabowo dalam kongres itu, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Provinsi Banten, Budi Heryadi, mengungkapkan bahwa apa yang dilakukan Partai Gerindra selama ini memang kian terasa oleh rakyat. Untuk itu, kader diminta tetap solid dalam membesarkan partai, melakukan sosialisasi dan pencapaian target di 2014 bahwa Gerindra menjadi pemenang dan menjadikan Prabowo sebagai presiden.

Menurut Budi, sebaiknya dan sudah saatnya pidato politik seperti itu tidak hanya dilakukan di depan kader yang hadir pada kongres itu saja, tapi seharusnya disampaikan di setiap kesempatan. Sehingga masyarakat mengetahui dan memahami serta mengenal lebih jauh tentang visi misi dan program Partai Gerindra dan Prabowo. “Angin ini tengah mengarah kepada kita dan Pak Prabowo, tentu saja masyarakat sudah melotot dan pintar dalam memilih pilihannya,” ujarnya. [G]

* Catatan : Artikel ini ditulis dan dimuat di Majalah GARUDA, edisi 16/April/2012

KLB Partai Gerindra 2012 : Perjuangan Kader Menghadapi 2014

Di sepanjang perjalanan menuju lembah Hambalang yang ada di Desa Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat tampak spanduk selamat datang terpampang di sisi kanan kiri jalan. Pagi itu, hawa sejuk masih menyelimuti kawasan lembah Hambalang. Di beberapa sudut lokasi sejumlah panitia dan tenaga pendukung terus berbenah menyelesaikan berbagai keperluan Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) 2012.

Agenda utama dari KLB –yang berlangsung di pendopo utama yang ada di lapangan itu— adalah perubahan sejumlah pasal dalam Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) partai, seiring dengan telah disahkannya UU No 2/2011 tentang Partai Politik. Setidaknya KLB ini diikuti sebanyak 1.200 orang dari perwakilan pengurus DPC dan DPD se-Indonesia.

Suasana sejuk sepertinya masih menyelimuti lembah Hambalang, meski sinar matahari mulai menembus menyelinap sudut-sudut lokasi kongres. Sejumlah peserta mulai memadati lokasi acara. Ada yang datang dengan kendaraan pribadi yang telah dilengkapi stiker khusus. Namun sebagian besar peserta didatangkan secara rombongan dengan bus yang diberangkatkan dari tempat mereka menginap di sejumlah hotel di Jakarta. Tampak kesibukan mulai meningkat ketika satu persatu peserta memasuki ruang kongres melalui pemeriksaan yang ketat. Pasukan pengamanan gabungan yang terdiri dari kader Gardu Prabowo, Satria Muda Indonesia dan Gerakan Rakyat Indonesia Baru (GRIB) ditempatkan di berbagai titik.

Pagi itu, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto memasuki lokasi acara dengan diiringi marching band Taruna Gerindra. Di pintu masuk telah berdiri Ketua Umum, Suhardi didampingi Sekretaris Jenderal, Ahmad Muzani dan Bendahara Umum T. A Muliatna Djiwandoro menyambut kedatangan Prabowo Subianto. Sebelumnya, sejumlah petinggi partai Gerindra, anggota DPR-RI dari Fraksi Gerindra serta sejumlah undangan khusus telah lebih dulu hadir dan langsung menempati tempat di panggung utama. Tak lama kemudian, acara pun dimulai dengan diawali menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, disusul mars Gerindra dan mengheningkan cipta untuk mendoakan para pahlawan bangsa.

Usai memberikan sambutan, Ketua Umum Partai Gerindra, Suhardi membuka secara resmi Kongres Luar Biasa dengan ditandai pemukulan gong didampingi Sekretaris Jenderal dan Bendahara Umum. Sejurus kemudian, sidang paripurna KLB 2012 langsung dipimpin Sekretaris Jendral, Ahmad Muzani didampingi Ketua Badan Pendidikan dan Latihan (Badiklat) Edhy Prabowo, dan tiga Ketua DPD perwakilan Indonesia dari kawasan barat, tengah dan timur. Dalam sidang paripurna KLB itu mengagendakan pandangan umum dari setiap DPD se Indonesia, pemberian mandat kepada Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto untuk mengubah AD/ART partai dan mengajukan Prabowo Subianto untuk maju sebagai Calon Presiden RI pada pilpres 2014 mendatang.

Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto untuk menyampaikan pidato politiknya. Dalam kesempatan itu, Prabowo tak henti-hentinya menyampaikan terimakasihnya kepada para kader atas kerja keras dan perjuangannya dalam membumikan Gerindra di seluruh pelosok negeri. Bahkan diawal sambutannya, mantan Komandan Jenderal Kopassus itu sempat tersedu menahan haru.

“Saya mengerti, saudara kesini dengan penuh pengorbanan. Ada dari saudara-saudara yang datang lewat laut, darat, sungai untuk datang di siang hari ini. Maaf saya terharu atas pengorbanan saudara-saudara. Saya minta maaf, saya belum bisa membantu saudara-saudara di tempat yang susah,” ujarnya terbata-bata.

Begitu pula ketika ia hendak mengakhiri pidato politiknya. “Saya mengucapkan terima kasih atas pengorbananmu. Saya bangga mendapat kepercayaan dari saudara-saudara sekalian, sekali lagi terima kasih,” pungkasnya yang disambut tepuk tangan para peserta KLB.

Acara kongres pun diakhiri dengan penyerahan ketetapan sidang paripurna dari pimpinan sidang kepada Prabowo Subianto selaku penerima mandat. Lalu ditutup dengan doa –yang disampaikan dalam tiga agama yakni Islam, Kristiani dan Hindu— dipimpin oleh Ketua Bidang Agama DPP Partai Gerindra sekaligus Ketua Umum Gemira, Habib Mahdi Alatas didampingi Ketua Umum Gema Sadhana, dan Ketua KIRA.

Dalam kesempatan itu peserta kongres pun mendapat kesempatan untuk berjabat tangan dan memberikan ucapan selamat kepada Prabowo Subianto. Sontak antrian panjang tak terhindarkan. Begitu pula saat peserta berangsur-angsur meninggalkan lokasi kongres. Butuh waktu lama untuk bisa keluar dari lokasi yang dipadati kader partai dari seluruh pelosok negeri. [G]

* Catatan : Artikel ini ditulis dan dimuat di Majalah GARUDA, edisi 16/April/2012

Empat Tahun Gerindra, Terus Bergerak untuk Rakyat

Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) berjuang untuk membangun masa depan Indonesia yang sejahtera, aman, adil dan memberi kepastian masa depan kepada generasi penerusnya. Perjuangan itu menjadi komitmen dan tanggungjawab Partai Gerindra. Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto kerap mengutarakan sikap perjuangan itu dalam berbagai kesempatan.

Sebagai bentuk komitmen perjuangan tersebut, urai Prabowo, Partai Gerindra akan terus mengedepankan delapan program aksi sebagai program konkret untuk mensejahterakan rakyat. Seluruh progam aksi itu memiliki parameter, ukuran, dan target yang jelas. Untuk mengaplikasikannya, Partai Gerindra akan terus menjaga dan memegang teguh sikap moral serta membela rakyat. Sehingga perjuangan itu benar-benar bersih tanpa iming-iming ataupun deal-deal tertentu.

Kedelapan program aksi itu adalah menjadwalkan kembali pembayaran utang, menyelamatkan kekayaan negara untuk menghilangkan kemiskinan, melaksanakan ekonomi kerakyatan, delapan program desa, memperkuat sektor usaha kecil, kemandirian energi, pendidikan dan kesehatan, menjaga kelestarian alam dan lingkungan hidup.

Tak dipungkiri, selama empat tahun perjalanan Partai Gerindra telah banyak mengalami kemajuan yang signifikan baik secara eksistensi sebagai organisasi partai politik maupun dari kedelapan program aksi yang digadang-gadangkan selama ini. Begitu pula dengan manfaat dari program aksi yang dicanangkan, setidaknnya telah mampu mendongkrak dan gaungnya dirasakan rakyat. Betapa tidak, sebagai contoh kecil dan sederhana namun dibutuhkan kemauan serta pemahaman bersama adalah program ‘revolusi putih’. Sebuah gerakan minum susu bagi anak Indonesia itu kian membumi di seluruh penjuru nusantara.

“Dalam empat tahun ini telah banyak kemajuan yang dicapai, dan yang jelas kita akan terus berjuang dan bergerak untuk rakyat,” ujar Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra, Prof Dr Ir Suhardi, M.Sc di sela-sela kunjungannya menghadiri perayaan HUT Kabupaten Sinjai pada penghujung Februari lalu.

Diakui olehnya, setelah empat tahun menjalankan delapan program aksi yang dicanangkan Partai Gerindra, ada beberapa hal yang belum bisa dilakukan, seperti menjadwalkan kembali pembayaran utang luar negeri. “Karena kita belum berkuasa, untuk itu kita terus berjuang agar bisa merealisasikan program tersebut,” ujarnya.

Menurut Suhardi, salah satu target yang berhasil dilakukan oleh Partai Gerindra adalah penghapusan UU No 9/2009 tentang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP). Bagi Partai Gerindra, UU BHP itu tidak selaras dengan UUD 1945. “Alhamdulillah kita berhasil di tingkat Mahkamah Konstitusi (MK), pada tanggal 30 Maret 2010, MK membatalkan undang-undang itu,” jelasnya.

Meski demikan, guru besar Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta ini masih kuatir pembatalan UU BHP itu hanya sekadar ganti baju. Untuk itu Partai Gerindra akan terus mengawasi keputusan MK tersebut. “Memang kita masih kuatir, jangan sampai undang-undang itu hanya ganti baju saja,” tegasnya.

Ekonomi Kerakyatan

Sepertinya istilah ekonomi kerakyatan sudah identik dengan Partai Gerindra. Program yang lebih mengedepankan keberpihakan pada rakyat merupakan jawaban atas berbagai ketimpangan sistim perekonomian yang dianut Indonesia selama ini. Dan sejak berdiri, Partai Gerindra terus berkomitmen untuk memperjuangkan ekonomi kerakyatan dalam rangka mengembalikan kejayaan negara. Hal ini didasari atas kenyataan bahwa berdasarkan data BPS 2011, sekitar 38,52 juta penduduk Indonesia masih menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian, perkebunan dan perikanan.

Menurut Prabowo bangsa Indonesia harus berdaulat dengan kekuatan bangsanya. Dan sistim ekonomi kerakyatan merupakan solusi bagi negeri ini untuk kembali bangkit dan sesuai falsafah Pancasila dan UUD 1945. “Saya sejak dulu berkomitmen dengan ekonomi kerakyatan, di saat orang berfikir untuk menjadi ekonomi liberal. Tapi kini sudah banyak yang diam-diam mengkampanyekan ekonomi kerakyatan itu, meski terkesan malu-malu,” kata putra Begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo ini.

“Saya tidak anti kapitalis, saya suka jika banyak orang kaya di negeri ini. Yang saya tidak mau adalah, jika kekayan Indonesia terus menerus ke luar negeri, sementara petani dan nelayan kita serta segenap rakyat Indonesia masih hidup dalam suasana kemiskinan. Orang boleh membangun mall dan hotel dimana-mana, tetapi yang membangun itu harus menggunakan uangnya sendiri. Bukan uang rakyat dengan menggunakan pinjaman kredit di bank, sementara ketika rakyat mengajukan kredit ke bank, sulit untuk mendapatkannya. Saya tak ingin seperti itu. Semua rakyat Indonesia harus mendapatkan layanan yang sama dan memadai,” tegas Prabowo.

Beragam konsep kegiatan penerapan delapan program aksi bidang perekonomian tengah dijalankan di berbagai daerah. Boleh jadi, manfaat penerapan ekonomi kerakyatan dalam rangka memperkuat sektor usaha kecil kian dirasakan oleh rakyat kecil khususnya petani, nelayan, pedagang kecil. Contoh kecil adalah seperti yang dilakukan kader Perempuan Indonesia Raya (PIRA) yang tengah menggalakkan koperasi di berbagai daerah dalam rangka menggerakkan perekonomian masyarakat.

Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Tengah, Abdul Wachid yang juga anggota Komisi IV DPR-RI ini mengakui, bahwa program aksi dalam rangka menggerakkan perekonomian rakyat kecil yang dicanangkan Partai Gerindra banyak dilakukan oleh kader PIRA. Seperti yang ada di daerahnya, pihaknya bersama kader PIRA mendirikan koperasi simpan pinjam bagi pedagang kecil yang kerap terjepit bank plecit (rentenir). Memang, pinjaman yang disalurkan tidak begitu besar, hal ini disesuaikan dengan kebutuhan modal pedagang sayur, bumbu atau jajanan pasar.

Diakuinya, selama ini masyarakat Jawa Tengah khususnya yang berprofesi pedagang bakulan, petani, nelayan, pengrajin genteng selalu terkendala dengan kesempatan dan akses untuk mendapatkan modal usaha. “Kalaupun ada, ya macam bank plecit (rentenir) yang bunganya tinggi. Nah kita coba rangkul mereka untuk mendapatkan modal tanpa harus pusing dengan besarnya uang yang harus mereka kembalikan,” ujarnya.

Koperasi yang dikelola ibu-ibu rumah tangga itu memberikan pinjaman mulai dari Rp 200 ribu hingga Rp 2 juta dengan bunga yang sangat rendah, jauh dari suku bunga bank, apalagi rentenir. “Jadi kalau mereka pinjam 200 ribu, cukup mengembalikan 210 ribu dan dicicil empat kali, berbeda dengan bank plecit yang selisihnya bisa mencapai 20 puluh ribu,” jelasnya.

Rupanya program ini mendapatkan animo yang cukup besar dari masyarakat. Bahkan untuk di daerah Jepara saja, kini perputaran uang yang disalurkan sudah mencapai lebih dari Rp 100 juta. Tidak hanya itu tanpa diminta, lanjutnya masyarakat yang telah merasakan manfaat program ini secara sadar malah ingin bergabung menjadi anggota. “Tak jarang ketika saya bertemu dengan mereka (pedagang) meminta kaos atau atribut Gerindra agar bisa dipakai pada saat berdagang,” selorohnya.

Revolusi Putih

Program yang tak kalah fenomenal adalah Revolusi Putih yang merupakan bagian dari delapan program aksi bidang pendidikan dan kesehatan. Boleh jadi, selain program ekonomi kerakyatan yang diusung Partai Gerindra, Revolusi Putih juga mampu hadir sebagai program yang cukup membumi. Pasalnya, gerakan minum susu untuk anak Indonesia dari usia dini hingga remaja ini kini terus dilancarkan para kader Gerindra di pelosok negeri.

Memang, menurut Prabowo gerakan minum susu ini sudah lama dicanangkan Partai Gerindra sejak dua tahun silam, namun gaungnya baru sekarang. Tak dipungkiri, pada awalnya banyak kalangan yang menganggap enteng gerakan tersebut, tapi bagi Gerindra gerakan minum susu merupakan program kerja yang sangat strategis. Faktanya, kini gerakan serupa dilakukan banyak pihak. Karena sadar atau tidak, data menyebutkan untuk kawasan Asia Tenggara saja, Indonesia berada di posisi terbawah dalam hal konsumsi susu.

“Kita jangan melihat hasilnya sekarang. Tunggu 10 sampai 15 tahun mendatang, jika gerakan ini simultan, yakinlah generasi kita akan menjadi generasi yang mumpuni. Hal itu juga sudah dilakukan India dan China,” tegas Prabowo Subianto.

Diakuinya, gerakan Revolusi Putih ini, terinspirasi dari India yang telah menerapkan program itu sejak 20 tahun yang lalu. Padahal, sebelumnya India dikenal sebagai negara miskin dan terbelakang. Tapi lihat sekarang, India telah menjadi negara industri baru yang maju di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Sementara di China, gerakan ini sudah dimulai sejak tahun lalu.

Boleh jadi, faktor kemiskinan yang memaksa sebagian masyarakat jarang mengkonsumsi susu. Hal ini menyebabkan daya beli susu yang kurang. Itu disebabkan pengaruh faktor harga susu yang mahal, dan faktor di dalam industri susu Indonesia yang tidak bisa membidik semua kalangan. Oleh karenanya, dalam setiap kesempatan, Prabowo dan Partai Gerindra mengajak setiap elemen masyarakat, untuk menyisihkan sebagian rejekinya untuk membeli susu cair kemasan kecil secara rutin, dan berikan kepada anak-anak kecil yang kurang mampu di komunitas masing-masing.

Sementara bagi Saifuddin Donodjoyo, anggota DPR-RI dari Fraksi Gerindra menilai Gerakan Revolusi Putih tak ubanya sebagai gerakan ‘hijrah’ rakyat Indonesia yang masih enggan minim susu, apapun alasannya. “Gerakan minum susu merupakan program strategis Gerindra dalam pembangunan manusia Indonesia yang handal sebagaimana yang dilakukan Jepang, India dan China,” tegasnya.

Jauh sebelum gerakan ini dicanangkan Partai Gerindra, program serupa telah dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Sinjai dengan memproduksi susu sapi produksi masyarakat setempat berlabel Susu Sinjai (SuSin) dibawah pimpinan Bupati Andi Rudiyanto Asapa, SH, LLM –yang tak lain adalah Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Sulawesi Selatan.

Ya, program minum susu bagi anak-anak di daerah tersebut telah dimulai sejak tahun 2004. Bahkan kini, susu lokal bermerek Susin itu sudah dibungkus dengan kemasan industri yang tentunya lebih higienis. Kini sebaran susu kemasan yang dibagikan gratis kepada anak sekolah TK dan SD di seluruh wilayah Kabupaten Sinjai itu sudah merambah hingga ke ibukota propinsi Sulawesi Selatan, Makassar.

“Walaupun harganya lebih murah karena merupakan produk lokal, SuSin yang kami berikan gratis kepada anak-anak kurang mampu itu diproduksi dengan kontrol dan uji kualitas yang sangat ketat di Kabupaten Sinjai. Kami bertekad gerakan ini berkesinambungan dan berharap mendapat respon nyata dari pihak lain demi mewujudkan revolusi putih bagi peningkatan kualitas generasi masa depan negeri kita,” ujar Rudiyanto yang baru-baru ini juga merilis pupuk organik berlabel Garuda Hambalang pada perayaan HUT Kabupaten Sinjai, Senin (27/2) lalu.

Menyikapi hal ini, Prabowo Subianto merasa bangga dengan terobosan yang dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Sinjai. Pasalnya, apa yang tengah digalakkannya itu sudah dilakukan oleh masyarakat daerah itu. “Mungkin dari sekitar 490 bupati dan walikota di Indonesia, baru Sinjai yang melakukan hal itu,” ujar Prabowo Subianto saat melantik pengurus DPD Partai Gerindra Sulawesi Selatan, beberapa waktu lalu.

Derasnya Dukungan dan Tantangan

Tak dipungkiri lagi gaung program Partai Gerindra ditopang dengan nama besar Prabowo Subianto mulai membahana. Faktanya jutaan anak negeri mau menyempatkan diri berdiskusi lewat pertemuan maupun melalui jejaring sosial yang tengah digandrungi masyarakat. Tak hanya kalangan elite politik ibukota, supir angkot, tukang ojek, buruh bangunan, petani garap, penikmat warung kopi, aparatur desa di seluruh pelosok nusantara ini tengah asyik berbincang tentang ‘gerakan’ Partai Gerindra dan sosok Prabowo.

“Saya bangga, sebab negeri ini memiliki tokoh terbaiknya yang telah berjanji akan berdiri tegak diatas kekuatan kaki sendiri. Bukan kekuatan asing dan kapitalisme yang telah mencekik leher rakyat negeri ini,” ujar Slamet seorang petani bawang asal Losari, ketika berbincang dengan Garuda beberapa waktu lalu.

Boleh jadi, aneka ragam perbincangan seputar Partai Gerindra dan Prabowo Subianto bukan sekadar sebagai bentuk dukungan masyarakat terhadap partai berlambang kepala burung garuda ini maupun terhadap sosok calon presiden 2014 ini, tapi merupakan tantangan yang harus dihadapi.

Hal ini ditegaskan oleh Ketua PIRA, Dr Ir Endang Setyawati Thohari, DESS, M.Sc, bahwa setalah empat tahun Partai Gerindra bergerak bersama rakyat, maka partai beserta mesin-mesin partai harus tetap menjaga ritme solidaritas agar bisa memenangkan setiap laga percaturan sosial politik di Indonesia. Pertanyaan mendasarnya adalah kemenangan yang kita raih, apakah dapat memberikan kemanfaatannya bagi kemakmuran rakyat Indonesia dan sukses untuk membangun kembali Indonesia raya. “Inilah tantangan kita bersama,” ujarnya.

Menurut dia, tantangan yang lebih besar adalah ketika kemenangan itu benar-benar Gerindra raih. Apakah Gerindra dapat merubah sistem dan menjadi lebih baik? “Karena perubahan adalah tantangan, maka tantangan itu sudah dijawab oleh Gerindra dengan delapan program aksi,” tuturnya. Karena tantangan itulah, Gerindra terus bergerak untuk rakyat. [G]

* Catatan : Artikel ini ditulis dan dimuat di Majalah GARUDA, edisi 15/Maret/2012