Jejak Masa Lalu

Tanpa sengaja lagi beberes berkas-berkas di rumah eh nemu dua lembar potongan koran beberapa tahun silam. Selembar potongan Koran Kompas memuat pengalaman terkait produk eletronik yang pada akhirnya dijadikan ‘iklan’ oleh sang produsen pada Januari 2010. Masih teringat, belum setahun beli tv merek itu, eh dikasih tv lagi dengan ukuran yang lebih gede untuk sekedar bergaya seperti di foto gitu.

undefined

Lembar satunya lagi adalah tulisan berupa resensi buku yang pertama kali dimuat di media Tabloid Aksi di Januari 1999. Awalnya iseng, coba-coba bikin resensi buku yang tebalnya hanya 125 halaman saja. Hasil tulisan dikirim ke media bergenre polhukam. Dalam hitungan hari, ternyata tulisan pun tayang. Beberapa hari kemudian terima surat dari redaksi untuk mengambil honor atas tulisan tersebut. Kalau tidak salah sekitar 50 ribu rupiah honornya kala itu. Alhamdulillah.

Dan ternyata, buku yang dimaksud masih ada di rak buku, hanya saja posisinya terselip karena ukurannya yang kecil di antara tumpukan buku-buku.

Hmmm… apakabar Pak Amien Rais dan Bu Mega? Sing pada sehat yaaa… Semoga.

Jangan Lupa Senyum

Bisa jadi, hingga hari ini masih ada di antara kita yang sedih lantaran harus melewati lebaran di rumah dan sebagian lainnya lagi tak boleh mudik. Tak terkecuali ibadah puasa Ramadhan yang baru saja berlalu harus dilaluinya dengan segenap aturan protokol kesehatan di masa pandemik. Bahkan sepekan jelang lebaran, sebagian anak negeri menyatakan pasrah, menyerah dengan mengibarkan bendera “Indonesia Terserah”.

Dari pada terus tenggelam dalam kesedihan, kegundahan, ketakutan bahkan keputusasaan, yang bakal menggerogoti imun maupun iman, lebih baik kita coba sambut kondisi ini dengan senyuman. Ya, senyuman yang hadir dari hati, meski melintas sekilas.

Memang, senyum itu terjadinya bagaikan kilat, namun kenangannya begitu kuat. Tak terlupakan.

Senyum acap kali menjadi tempat perhentian bagi mereka yang lelah. Terang bagi yang putus asa dan menyerah. Bak sinar mentari bagi yang gundah. Obat manjur penyembuh masalah. Hanya saja, senyum tak dapat dibeli, diminta, dipinjam, atau pun dicuri. Sebab, senyum tiada berarti sampai ia diberikan.

Andai seseorang terlalu letih untuk memberikan Anda senyuman, maka berikanlah satu dari senyum Anda. Karena tiada seorang pun yang lebih membutuhkan sebuah senyum dari pada orang yang tidak memiliki senyum untuk diberikan.

Dalam fisiologi, senyum adalah ekspresi wajah yang terjadi akibat bergeraknya atau timbulnya suatu gerakan di bibir atau kedua ujungnya, atau pula di sekitar netra. Kebanyakan orang senyum untuk menampilkan kebahagian dan rasa senang.

Senyum itu datang dari rasa kebahagian atau kesengajaan karena adanya sesuatu yang membuat dia senyum. Seseorang sendiri kalau senyum umumnya bertambah baik raut wajahnya atau menjadi lebih cantik ketimbang ketika dia biasa saja atau ketika dia marah.

Maka, sekarang, senyumlah.

Semoga.

Cheese… bun cheeese

Ciputat, 2 Syawal 1441H/25 Mei 2020

Lebaran dan Kebahagiaan ala Rasulullah

Dalam sebuah keterangan, ketika cahaya fajar 1 Syawal baru saja menyingsing di ufuk timur, mentari pun memancarkan semburat cahayanya dan mengirimkan hangatnya pagi.

Pada suatu pagi di Hari Raya Idul Fitri di Madinah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, seperti biasa, di setiap lebaran, menyambangi rumah demi rumah untuk mendoakan kaum muslim agar merasa bahagia pada hari raya umat Islam itu.

Ya, di hari raya itu, semua tampak gembira dan bahagia, terlebih anak-anak. Mereka bermain sambil berlari-lari ke sana ke mari dengan mengenakan baju lebaran. Tiba-tiba mata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tertuju pada sebuah sudut rumah, ada seorang gadis kecil tengah duduk bersedih. Ia memakai pakaian penuh tambalan dan sepatu yang usang.

Melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menghampirinya, gadis kecil itu menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya, sembari menangis tersedu-sedu. Rasul pun meletakkan tangannya di atas kepala gadis kecil dengan penuh kasih sayang, lalu bertanya dengan suaranya yang lembut, “Anakku, mengapa kamu menangis? Hari ini adalah hari raya bukan?”

Gadis kecil itu terkejut. Tanpa berani mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang bertanya, perlahan-lahan ia menjawab sambil bercerita.

“Pada hari raya yang suci ini semua anak menginginkan agar dapat merayakannya bersama orang tuanya dengan berbahagia. Anak-anak bermain dengan riang gembira. Aku lalu teringat pada ayahku, itu sebabnya aku menangis. Ketika itu hari raya terakhir bersamanya. Ia membelikanku sebuah gaun berwarna hijau dan sepatu baru. Waktu itu aku sangat bahagia. Lalu suatu hari ayahku pergi berperang bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ia bertarung bersama Rasulullah bahu-membahu dan kemudian ia meninggal. Sekarang ayahku tidak ada lagi. Aku telah menjadi seorang anak yatim. Jika aku tidak menangis untuknya, lalu siapa lagi?”

Mendengar cerita itu, seketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam hatinya diliputi kesedihan yang mendalam. Dengan penuh kasih sayang beliau membelai kepala gadis kecil itu sambil berkata, “Anakku, hapuslah air matamu. Angkatlah kepalamu dan dengarkan apa yang akan kukatakan kepadamu. Apakah kamu ingin agar aku menjadi ayahmu? Dan apakah kamu juga ingin agar Fatimah menjadi kakak perempuanmu. Dan Aisyah menjadi ibumu. Bagaimana pendapatmu tentang usul dariku ini?”

Begitu mendengar kata-kata itu, gadis kecil itu langsung berhenti menangis. Ia memandang dengan penuh takjub orang yang berada tepat di hadapannya. “Masya Allah! Benar, ia adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, orang yang baru saja mendengarkan curahan kesedihan dan kegundahan hati,” kata gadis kecil itu membatin.

Akhirnya, gadis yatim kecil itu tertarik dengan tawaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, namun entah mengapa ia tidak bisa berkata sepatah kata pun. Ia hanya dapat menganggukkan kepalanya perlahan sebagai tanda persetujuannya.

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menggandeng tangan gadis yatim kecil itu menuju ke rumah. Hatinya begitu diliputi kebahagiaan yang sulit untuk dilukiskan. Betapa tidak, ia diperbolehkan menggenggam tangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang lembut itu.

Sesampainya di rumah Rasulullah, wajah dan kedua tangan gadis kecil itu lalu dibersihkan dan rambutnya. Semua memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Kemudian, gadis kecil itu dipakaikan gaun yang indah dan diberikan makanan, juga uang saku untuk hari raya. Lalu ia diantar keluar, agar dapat bermain bersama anak-anak lainnya.

Sontak, anak-anak lain merasa iri pada gadis kecil dengan gaun yang indah dan wajah yang berseri-seri. Mereka merasa heran, lalu bertanya, “Gadis kecil, apa yang telah terjadi? Mengapa kamu terlihat sangat gembira?”

Sembari menunjukkan gaun baru dan uang sakunya gadis kecil itu menjawab, “Akhirnya aku memiliki seorang ayah. Di dunia ini, tidak ada yang bisa menandinginya. Siapa yang tidak bahagia memiliki seorang ayah seperti Rasulullah? Aku juga kini memiliki seorang ibu, namanya Aisyah, yang hatinya begitu mulia. Juga seorang kakak perempuan, namanya Fatimah. Ia menyisir rambutku dan mengenakanku gaun yang indah ini. Aku merasa sangat bahagia, dan ingin rasanya aku memeluk seluruh dunia beserta isinya.”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Siapa yang memakaikan seorang anak pakaian yang indah dan mendandaninya pada hari raya, maka Allah Subhanahu Wata’ala akan mendandani pada hari Kiamat. Allah Subhanahu Wata’ala mencintai terutama setiap rumah, yang di dalamnya memelihara anak yatim dan banyak membagi-bagikan hadiah. Barang siapa yang memelihara anak yatim dan melindunginya, maka ia akan bersamaku di surga.”

— Kisah di atas dikutip (dengan sedikit mengubah redaksi) dari ddhongkong.org yang mengutip dari buku berjudul asli “Wie der Prophet ein waises Maedchen zum Fest gluecklich machte”, diterjemahkan dari buku “Ich erlerne meine Religion: Die fuenf Saeulen des Islam“, Asim dan Muerside Uysal, terjemahan dalam bahasa Jerman oleh Marianne Zaric, Istanbul.

Tak heran bila dulu ketika kita kecil, orang tua kita selalu mengupayakan dengan sekuat tenaga untuk menyediakan ‘baju lebaran’ yang terbaik untuk dikenakan oleh anaknya (kita) di hari raya. Karena mereka (orangtua) ingin melihat anaknya bahagia di hari raya, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah. Tak ada salahnya jika hal itu dilakukan oleh kita sebagai orangtua kepada anak-anak kita, terlebih jika bisa menyediakan pula untuk anak yatim.

Tahun ini, lebaran memang berbeda dari tahun sebelum-sebelumnya. Di tengah wabah pandemi Covid-19, memang serba salah antara ketika mengenakan ‘baju lebaran’ atau tidak. Namun, sejatinya membahagiakan anak adalah kewajiban orangtua. Jadi selagi ada pakaikan mereka baju yang terbaik di hari raya ini. Selipkan pula uang di sakunya, agar mereka bahagia.

Bagi yang ada rejeki tak ada salahnya membagikan kebahagiaan kepada anak-anak di lingkungan sekitar, terlebih anak yatim, agar mereka ikut bahagia.

Buatlah mereka bahagia. Semoga.

Ciputat, 1 Syawal 1441 Hijriyah

Ramadhan Separuh Jalan

Hari ini Ramadhan 1441H sudah separuh jalan. Jangan-jangan kita ketinggalan. Bahkan nyaris tak ada kegiatan penambah Iman. Lantaran tenggelam dalam berbagai larangan dan anjuran yang penguasa berlakukan. Meski aturan pun setengah jalan.

Ya, Ramadhan tahun ini sudah separuh jalan. Orang-orang sudah mulai bosan dengan aturan dan keadaan. Apalagi, jelang lebaran. Di mana-mana nyaris seperti tak ada kejadian.

Ramadhan sudah separuh jalan. Lantas, akankah kita masih berdiam, tak mau jalan berburu kebaikan. Padahal banyak sekali keberkahan dan kelebihan. Terlebih, di sepertiga penghujung Ramadhan.

Ya, Ramadhan di tahun ini memang beda situasi. Semoga dengan kejadian ini kita bisa mengaca diri. Sudah sejauh mana kita meramadhankan jiwa dan hati.

Yuuk, mumpung baru separuh jalan. Masih ada kesempatan separuh jalan ke depan.

Semoga.

Ciputat, 17 Ramadhan 1441H (10/5/2020)

Ramadhan dalam Sepi

kabah 2

foto diambil dari Islami.co

Boleh jadi, Ramadhan tahun ini sepi dari tradisi, sepi dari publikasi. Ya, tidak seperti Ramadhan tahun-tahun sebelumnya yang penuh hingar-bingar mengatasnamakan syiar.

Jika Ramadhan yang lalu-lalu, kita kerap menikmati jamuan berbuka puasa dengan teman, kolega, komunitas atau sekedar sanak saudara di rumah makan, kafe, restoran, mall hingga hotel mewah. Atau setidaknya melaluinya sekedar nongkrong di tempat keramaian di pinggir jalan. Tak sebatas lantaran termakan masuknya waktu berbuka. Tapi memang sudah direncanakan dengan matang. Tak hanya bersama kawan, teman seprofesi atau yang baru kenalan.

Biasanya, instansi pemerintah maupun swasta, gedung perkantoran, termasuk komunitas kerap melaluinya bersuka ria. Bahkan banyak pula yang menggelar kegiatan berbuka puasa yang biasanya dikemas dengan acara berbagi bersama kaum dhuafa, anak yatim kadang menghadirkan public figure, tahun ini, dipastikan tidak ada.  Apalagi kegiatan berbagi santapan sahur di jalanan atau sering kita dengar dengan istilah Sahur on the Road, nyaris tidak ada. Walau kadang semua itu terkesan syiar yang riya.

Ramadhan tahun ini memang sepi, jika tahun-tahun sebelumnya, masjid/mushola begitu semarak. Muda-mudi, orangtua dan anak kecil berbondong-bondong meramaikan ibadah Ramadhan sunnah tarawih, tadarus Al-Quran hingga pesantren kilat. Meski, kadang kembali sepi begitu masuk penghujung Ramadhan. Beragam program Ramadhan yang digagas pengurus masjid/mushola hingga karangtaruna acap mewarnai Ramadhan, tapi kini sepi.

Tak hanya masjid/mushola yang sepi, pusat keramaian yang biasanya riuh di sore hari jelang berbuka dengan para pedagang yang menjajakan beraneka ragam makanan pembuka. Tak terkecuali tradisi menjemput magrib atau dikenal ‘ngabuburit’ yang biasa dilakukan kaum muda-mudi, anak-anak, kadang orang dewasa pula.

Pun dengan kebiasaan umat muslim di sana (Arab Saudi) yang begitu royal berbagi di bulan suci, menyuguhkan aneka hidangan berbuka di halaman masjid bahkan hingga di pinggir jalan. Di Ramadhan tahun ini, pemandangan seperti itu tidak bisa kita saksikan.

Bahkan ada sebagian kaum muslim yang berlebih rejeki, biasanya melaluinya dengan umrah di sebagian atau bahkan sepajang Ramadhan di kota Suci yang penuh kenangan. Tak heran bila biro perjalanan umrah kerap melakukan keberangkatan, tapi tahun ini tidak diperbolehkan.

Ya, dua masjid suci itu seakan hanya dimiliki dan dinikmati oleh meraka yang selama ini mengabdikan diri menjaga kesucian. Di mana pada hari-hari biasa, mereka belum tentu bisa seleluasa dan sebebas tahun ini bisa melakukan. Meski, sejatinya selama ini mereka beribadah mendekatkan diri kepada Sang Pemilik di sela-sela waktu dengan caranya sendiri sembari menjalani kewajiban.

Boleh jadi, dengan kondisi kejadian ini membuat kita iri, kepada mereka yang bisa dengan leluasa ibadah di dua masjid suci. Ramadhan tahun ini, mengajak kita untuk mengaca diri. Apakah yang kita lakukan selama ini, dan kala di bulan suci Ramadhan hanya sekedar untuk keperluan publikasi atau pencitraan diri? Ataukah benar-benar datang dari dalam hati sebagai bentuk penghambaan diri? Masihkan kita mau dan bersedia mendermakan sebagian harta untuk kaum papa, walau sekedar sepiring nasi kepada keluarga, tetangga kanan-kiri di kala sepi dan kondisi krisis, bahkan tanpa ada publikasi seperti saat ini?

Boleh jadi, Ramadhan tahun ini sepi, agar kita selalu berpikir kembali, apakah ibadah Ramadhan dan amal-amalan sholeh lainnya, termasuk kesholehan sosial kita sudah atas dasar perintah Ilahi Robbi dan anjuran Nabi?

Dan bisa jadi, sepinya Ramadhan tahun ini tersekat Covid-19, Allah Aza Wajalla lewat pasukan reniknya tengah menebar tabir untuk menutupi semua aib kita yang gila harta dan tahta. Menutupi semua kebusukan niat, kepalsuan dan kepamrihan kita dalam berderma yang selalu ingin dipuja di mata manusia. Pun mereka, kaum dhuafa tak pernah berharap apa-apa dari kita. Bahkan kadang mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan, selain berserah kepada-Nya. Karena, memang semua itu ada yang menggerakkan, Allah Subhanahu Wata’ala.

Sejatinya, Ramadhan tahun ini sepi, agar kita kembali ke keluarga inti. Biarlah keluarga saja yang mengetahui, tartil dan fasihnya bacaan Al-Qur’an kita, tekunnya ritual ibadah kita, ringannya tangan dan langkah kaki untuk berbagi.

Yuk, di rumah saja, agar semua sekat lantaran virus corona ini segera terbuka. Dari rumah kita bisa berbagi bahagia, menebar kebaikan kepada yang membutuhkan, terlebih di era digitalisasi tak harus berkumpul dengan riuhnya. Karena dengan sepi pun kita tetap bisa melakukannya. Tak usah khawatir dengan tiadanya publikasi, niatkan saja karena Ilahi Rabbi, insya Allah sampai di langit, di bumi sealam jagat raya, bahkan yang pasti kepada sang pencatat amal perbuatan manusia. Semoga.

Ciputat, 7 Ramadhan 1441 H (30 April 2020)

Puasa yang Terpenjara


Ramadhan tahun ini, semua orang diminta di rumah saja. Terpenjara oleh ganasnya virus corona. Makhluk renik yang siap menggagas napas kehidupan lepas. Meski kematian, tak butuh waktu yang terbatas.

Ramadhan tahun ini, semua orang diminta di rumah saja. Tak ada buka puasa bersama di kafe, restoran, pusat perbelanjaan ataupun hotel bintang lima. Termasuk ibadah tarawih, tadarus Alquran dan ibadah lainnya. Bahkan, bagi mereka yang berlebih rejeki, kerap melalui Ramadhannya di Tanah Suci.

Ramadhan tahun ini, kita semua memang terpenjara. Namun tak lantas membuat kita merasa sengsara. Cobalah tengok tetangga depan-belakang, kanan-kiri sekitar rumah, sudahkah mereka mendapatkan haknya? Adakah menu makanan, minuman atau sekedar cemilan pembatal puasa yang terhidang.

Ramadhan tahun ini, menjadi momentum terbaik bagi kaum lelaki (suami, anak laki-laki) sebagai imam di keluarga inti. Bisa jadi, waktu terbaik untuk uji nyali, berdiri di depan mengimami sholat fardhu, tarawih dan witir sekaligus menjajal kemampuan dan hafalan kalam Ilahi. Dan Ramadhan tahun ini, kesempatan emas bagi kaum perempuan (istri, anak) untuk menjadi makmum yang taat pada imam. Inilah momen terindah bagi keutuhan keluarga untuk kembali bercengkrama merenda harmoni yang sempat terkoyak oleh urusan dunia dan keegoisan semata.

Sejatinya, Ramadhan tahun ini hendak mengajak kita untuk kembali di rumah. Ya, ingatkah pesan agung “Rumahku Surgaku”. Semua dimulai dari rumah. Semua dilakukan dari rumah. Karena madrasah terbaik adalah ada di rumah.

Semoga.

Ciputat, 1 Ramadhan 1441H (24 April 2020)

Zaid Elhabib : Merpati Putih Mampu Me-recharge Fisik dan Suasana Batin

zaid1

Zaid Elhabib

Rupanya apa yang telah dirasakan semasa kuliah dulu, kini ia rasakan kembali manfaatnya. Sebuah rasa yang telah ditinggalkannya selama 20 tahun terakhir itu mampu me-recharge fisik dan suasana batinnya.

Ya, setidaknya itulah yang dirasakan Ir. Zaid Elhabib, MM, sekembalinya berlatih di Merpati Putih Kelompok Latihan (Kolat) Tangerang Selatan sejak Oktober 2017 lalu. Meski hampir lebih dari 20 tahun vakum dari aktifitas latihan bela diri, pria kelahiran Jakarta, 12 Oktober 1969 itu masih mengingat betul semua olah gerak tubuh yang dipelajarinya dulu.

“Setelah menyelesaikan studi dan lanjut bekerja, saya vakum, karena kesibukan pekerjaan dan juga berumahtangga. Hingga akhirnya bertemu lagi di Tangerang Selatan, ketika ada yang menghubungi saya untuk terlibat dalam kepengurusan MP Cabang kota Tangerang Selatan. Sejak saat itulah semua memori keterlibatan saya di MP hadir dan kembali aktif di sela kesibukan sehari-hari,” kata Bang Zaid, sapaan akrab politisi Partai Gerindra yang juga Ketua Komisi I DPRD Provinsi Banten ini.

Zaid menjelaskan, keterlibatannya di Merpati Putih diawali dengan mengikuti latihan perguruan pencak silat Merpati Putih di Gelanggang Olah Raga (GOR) Grogol, Jakarta Barat pada tahun 1989. Di Kolat tersebut,  Zaid melatih diri mulai dari tingkat Dasar sampai tingkat Kombinasi. Kala itu, ia tengah mengenyam pendidikan di Jurusan Teknik Perminyakan, Fakultas Teknologi Mineral, Universitas Trisakti Jakarta.

Bersama teman-teman kuliah, Bang Zaid yang waktu itu sudah berada di tingkat Balik 2, menginisiasi untuk membuka Kolat di kampusnya hingga pada akhirnya diterima menjadi bagian dari Unit Kegiatan Mahasiswa Universitas Trisakti.

“Alhamdulillah, perjuangan kita menghadirkan Kolat Trisakti di bawah naungan MP Jakarta Barat berhasil dan diakui menjadi salah satu unit kegiatan mahasiswa,” ujar Bang Zaid yang kerap mengikuti Kejuaraan MP antar Mahasiswa.

Sebagai seorang pesilat Merpati Putih yang telah menyandang tingkat Kombinasi, maka diwajibkan untuk menjalankan pengabdian sebagai pelatih. Dan sejak 1993, Bang Zaid pun membaktikan dirinya dengan melatih anggota Merpati Putih baru. “Melakukan pengabdian di MP bukan hanya sekedar untuk melatih pesilat-pesilat baru. Tetapi, bagaimana pesilat agar bisa menjiwai serta mengamalkan dan menghayati nilai-nilai luhur budaya asli Indonesia yang terkandung dalam filisofi Merpati Putih,” ungkapnya semangat.

Bang Zaid mengatakan, pastinya pesilat Merpati Putih faham betul dengan filosofi yang dimiliki Merpati Putih yaitu, ‘Sumbangsihku tak berharga, namun keikhlasanku nyata.’ Pengabdian itu dilakoninya selama dua tahun hingga ia menyelesaikan studinya di kampus tersebut di tahun 1995. “Sejak saat itu pula, karena kesibukan kerja dan lainnya saya pun vakum dari kegiatan MP,” kata Bang Zaid.

Selama menekuni bela diri pencak silat ini, Bang Zaid juga telah mengikuti beberapa kejuaraan silat, di antaranya Kejuaraan antar Kolat MP se-Jakarta Barat, Kejuaraan MP antar Mahasiswa, Kejuaraan MP se-Jabodetabek. Dan setelah bergabung di Kolat Tangerang Selatan, Bang Zaid pun diterjunkan dalam Kejuaraan Nasional MP ke-VI di Bogor pada Februari 2018 belum lama ini.

Kini, kata pria kelahiran tahun 1969, ia kembali ke ‘sangkar’ Merpati Putih. Lulusan Magister Managemen Universitas Gajah Mada ini mengakui bahwa ada banyak hal yang membuatnya tertarik dan kembali ke Merpati Putih yang telah ditinggalkannya lebih dari dua dasawarsa. Di antaranya, di Merpati Putih, bukan hanya sekedar berlatih bela diri, tapi  diajarkan teknik olah pernafasan yang pada intinya mengolah diri untuk mendapatkan tubuh yang lebih sehat dan lebih baik.

“Untuk mendapatkan itu semua, tentunya diperlukan ketekunan, kesungguhan, kedisplinan dan kesabaran sehingga membuat tubuh kita sehat baik secara jasmani dan rohani,” tegasnya.

Bang Zaid saat beraksi dalam Kejurnas VI di Bogor

Berikutnya, lanjut Zaid, di Merpati Putih, ilmu yang didapat menyesuaikan dengan kemampuan tubuh dalam menerima pelatihan, sehingga manfaatnya akan terasa sekali di dalam diri ketika melakukan aktifitas sehari hari.

“Dan yang terakhir, saya tidak pernah merasa bosan dalam menimba ilmu Merpati Putih, karena ada saja ilmu atau pelajaran baru yang akan kita dapatkan,” ujar pesilat yang ikut Kejuaraan Nasional ke-VI di Bogor pada Februari lalu.

Jadi, kata Bang Zaid, walaupun sudah 23 tahun tidak berlatih di Merpati Putih, namun ketika perguruan ini memanggil pada Oktober 2017 lalu, rasanya ada yang hadir mengisi relung hati yang selama ini hilang terbang entah ke mana.

“Tetapi alasan yang terpenting adalah rasa keakraban dan kekeluargaan di MP, sebab di mana ada logo burung Merpati Putih, di situlah keluarga MP berkumpul. Dan ternyata setelah saya latihan beberapa kali, fisik saya seperti terasa di-recharge kembali, manfaat yang saya dapatkan dulu seperti muncul kembali,” ujarnya.

Bang Zaid kembali menjelaskan, yang mesti diketahui masyarakat bahwa Merpati Putih merupakan salah satu perguruan pencak silat bela diri tangan kosong (PPS Betako). Didirikan pada tanggal  2 April 1963 di Yogyakarta, hingga saat ini Merpati Putih memiliki kurang lebih 85 cabang di dalam negeri dan empat cabang di luar negeri. Merpati Putih juga menjadi salah satu aset budaya bangsa, dimana aliran jenis beladiri ini terbentuk pada sekitar tahun 1550-an. Sehingga perlu dilestarikan dan dikembangkan selaras dengan perkembangan zaman.

Dengan bergabungnya kembali di Merpati Putih, Bang Zaid berharap, ia berharap dapat turut melestarikan budaya pencak silat yang merupakan warisan para leluhur negeri. Tidak hanya itu, Zaid pun berharap Merpati Putih akan digemari seluruh kalangan masayrakat, sebab dalam pelatihannya sangat membantu sekali dalam berbagai aktivitas kehidupan. Sebut saja misalnya untuk para siswa pelajar dan mahasiswa, akan membantu dalam berkonsentrasi dalam belajar.

Begitu pula bagi karyawan atau pekerja, Merpati Putih bisa melatih agar fokus terhadap pekerjaan atau tugas. Dan yang tak kalah pentingnya adalah Merpati Putih dapat menjaga kesegaran tubuh, termasuk bagi mereka yang sudah lanjut usia.

“Dan dengan adanya MP di Kota Tangerang Selatan ini, semoga dapat membantu program pemerintah dalam memasyarakatkan olahraga pencak silat di Tangsel,” pungkasnya. (izoruhai)

Akhirnya Ku Menemukanmu

Alhamdulillah.. puji syukur tak terkira, “akhirnya ku menemukanmu” kembali, setelah lama menghilang. Nyaris hampir seumur pemerintahan JKW-JK blog ini tak “disentuh” lantaran satu dan lain hal. Mulai dari faktor lupa akan kata sandi hingga tenggelam dalam rutinitas keseharian. Terakhir posting 14 April 2015 silam.

Dan kini, di Jumat (25/1) ketika jemari ini mengikuti keinginan hati dan isi kepala untuk kembali ke rumah (maya) ini, Alhamdulillah, Allah SWT ingatkan ‘letak’ kunci agar bisa masuk. Ternyata, tujuh karakter itu masih bisa membukanya. Terimakasih Ya Allah, Gusti nu Maha Kuasa atas segalanya.

Ga heran agak sedikit pangling sama tampilan wordpress yang makin manis meski minimalis. Dan ga ada salahnya juga, kalau postingan ini diberi judul “Akhirnya Ku Menemukanmu” meski kaya judul tembang hitsnya NAFF, yang memang itu satu di antara lagu yang disukai.

Kuy… semangat.

Memadamkan Api Revolusi dari Pulau Onrust

Minat umat Islam Nusantara untuk menunaikan ibadah haji telah berlangsung ratusan tahun silam. Pun di masa penjajahan kolonial Belanda, ghirah (semangat) untuk beribadah ke Baitullah tak pernah surut. Rupanya gubernur jenderal menilai keberangkatan kaum pribumi tak sekadar menunaikan ibadah tapi bagian dari perjuangan fisabillah (di jalan Allah) guna mengusir penjajah. Seperti apa bentuk monitoring pemerintah kolonial berdalih karantina di abad 19 itu? Lalu bagaimana pula nasibnya pulau haji itu?

haji (2)Kala itu, pengawasan terhadap jamaah haji kian menjadi-jadi. Penguasa kolonial Belanda menerapkan aturan baru dengan mengumpulkan jamaah haji sepulang dari Arab Saudi di gugusan pulau di utara Jakarta. Dengan dalih karantina kesehatan, nasib perjalanan haji kaum pribumi begitu menyedihkan. Pulau Onrust dan pulau Cipir adalah saksi bisu dari akal bulus kaum imperialis.

Di kedua pulau itu, jamaah menempati barak-barak layaknya kamp konsentrasi. Sebelum dinyatakan sehat, para jamaah satu per satu diperiksa kesahatannya oleh petugas di pulau Cipir –yang letaknya bersebelahan dengan pulau Onrust. Turun dari kapal, setelah menempuh perjalanan dari Mekkah selama dua hingga enam bulan, mereka diperiksa kemudian diharuskan mengenakan pakaian karantina yang telah disediakan. Bagi jamaah yang didiagnosa membawa penyakit menular maka musti tinggal di pulau Cipir. Sementara yang sehat dibawa ke pulau Onrust. Bahkan kapal pengangkut pun tak luput dari sterilisasi dengan cara fumigasi.

Pun ketika tiba di pulau Onrust,  setelah dari pulau Cipir, jamaah haji kembali diperiksa kesehatannya. Ada enam petugas kesehatan kolonial Belanda yang menangani. Jamaah yang meninggal dimakamkan dengan seadanya tanpa memperdulikan syariat. Biasanya, jenazah-jenazah itu dikubur di sembarang tempat tanpa memperhitungkan arah kiblat.

Di pulau Onrust –yang menjadi pusat karantina— ada sekitar 3.500 jamaah haji ditampung di 35 barak masing-masing berkapasitas 100 orang untuk pemeriksaan kesehatan. Bukan hanya dari Jakarta, tapi dari seluruh Nusantara musti dikarantina selama lima hari di pulau yang luasnya sekitar 7,5 hektare itu. Bisa jadi para penyandang gelar ‘haji’ itu tinggal lebih lama, bila mengidap penyakit. Memang, untuk memudahkan proses karantina Belanda menghubungkan dua gugusan pulau yang bertetangga dengan jembatan.

Perlakuan karantina terhadap jamaah haji berlangsung selama 22 tahun (1911 – 1933). Karantina haji di era kolonial tak lain sebagai bentuk ketakutan mereka akan kekompakan umat Islam pribumi. Dari karantina ini, penguasa kolonial Belanda dengan mudah memadamkan gerakan ‘revolusi’ kaum pribumi yang disemai saat berhaji.

Pada 1927, sekitar 8% jamaah haji terjangkit kolera.  Sebagian dari mereka yang meninggal saat karantina dimakamkan di pulau Sakit –yang kini bernama pulau Bidadari— yang berada tak jauh dari pulau Onrust. Ada pula yang dimakamkan di pulau Kelor. Dan pada akhirnya di tahun 1933 Belanda menghentikan karantina haji. Sebagai gantinya, pemerintah Belanda memfungsikan Pelabuhan Tanjung Priok yang baru dibangun. Kini di kedua pulau itu masih didapati puing-puing bangunan rumah sakit, barak-barak penampungan yang lebih mirip penjara.

Revolusi Haji

Sejarah mencatat, pada 1803, sekembalinya dari tanah suci, tiga jamaah haji asal Minangkabau mendirikan gerakan Padri. Tujuannya adalah mengembangkan ajaran Islam yang lebih kuat untuk melawan praktik-praktik tradisional setempat. Rupanya, aktivitas kaum Padri ini dinilai penguasa kolonial Belanda sebagai cikal bakal pemberontakan. Sejak saat itu juga Belanda langsung mengawasi perjalanan haji kaum pribumi khusunya dari Sumatera.

Kemudian pada tahun 1825, Belanda mengeluarkan berbagai aturan bagi umat Islam Nusantara yang hendak berhaji, salah satunya disebut ordonansi. Dengan adanya aturan itu, ongkos naik haji mengalami kenaikan tinggi. Selain menuntut para calon jamaah haji membuat paspor juga membayar pajak sebesar 110 Gulden. Lewat aturan itu pula yang memungkinkan pemerintah kolonial bisa mengawasi umat Islam selama berada di tanah suci.

Di saat bersamaan, Belanda juga berusaha keras untuk bisa memonopoli angkutan haji. Pada saat itu, pemerintah Belanda memberikan izin operasi kepada kongsi tiga yakni Rotterdamsche Llyod, Stoomvaartmatschappij Nederland, dan Stoomvaartmatschappi Oceaan pada 1873. Padahal sebelumnya, pengangkutan jamaah haji asal Indonesia dimiliki saudagar kapal asal Arab dan Inggris. Di mata Inggris potensi angkutan jamaah haji asal Indonesia cukup besar. Malah angkutan jamaah haji masa itu sudah tidak lagi menggunakan kapal layar, tapi kapal api yang lebih canggih.

Tahun berikutnya, 1874 Belanda menerapkan kebijakan yang sangat menyulitkan, dengan mewajibkan jamaah haji musti memiliki tiket pergi-pulang. Dengan demikian, Belanda berhasil memperkuat dominasi pengangkut haji. Termasuk, dalam rangka memudahkan monitoring terhadap jamaah haji pribumi.

Selain diharuskan membawa pas perjalanan ke Mekkah –yang ditandatangani oleh pegawai pangreh Praja. Pas itu harus diserahkan untuk ditandatangani oleh penguasa pelabuhan. Di pelabuhan Jeddah, jamaah harus menghadap konsulat Belanda untuk menukarkan pas jalannya dengan pas izin tinggal selama musim haji. Begitu pula ketika tiba kembali di Indonesia, pas itu harus diteken oleh penguasa Belanda. Malah, di tahun  1884, pas perjalanan tak hanya memuat keterangan tentang jenis kelamin, umur, dan tinggi badan saja. Tapi, harus menerangkan mengenai bentuk hidung, mulut, dan dagu, serta apakah jamaah berkumis, jenggot, atau lainnya.

Karantina Model Asrama

Tahun 1970-an pengangkunan haji sudah mulai menggunakan pesawat. Berdasarkan aturan badan kesehatan dunia (World Health Organization/WHO) pemerintah Arab Saudi meminta calon jamaah haji harus dikarantina selama 5 x 24 jam. Tak terkecuali bagi jamaah Indonesia yang saat itu diduga banyak mengidap kolera. Maka beberapa penginapan ditunjuk menjadi tempat karantina. Inilah cikal bakal berdirinya asrama haji yang diusulkan Dirjen Urusan Haji Prof KH Farid Maruf Kementrian Agama pada tahun 1974.

Sebelumnya, di tahun 1973, masa karantina berkurang menjadi tiga hari. Lalu menjadi dua hari pada tahun 1979. Dan kini calon jamaah haji diinapkan di asrama hanya semalam. Asrama Haji Pondok Gede Bekasi dibangun pada masa Menteri Agama Alamsyah Ratu Perwiranegara dan Dirjen Urusan Haji Burhani Tjokrohandoko. Pondok Gede dipilih karena lokasinya dekat dengan Bandara Halim Perdanakusumah –yang kala itu menjadi  bandara internasional yang dimiliki Indonesia.

Lalu asrama haji pun dikembangkan di beberapa wilayah seperti Surabaya, Makassar, Medan, dan Donohudan di Boyolali. Jika dulu para jamaah haji masuk ke asrama haji sebelum dan sesudah pulang ibadah haji, kini hanya masuk sehari menjelang keberangkatan. Setibanya di Tanah Air, jamaah tak perlu menginap lagi di asrama haji.

Onrust Pulau Haji

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_binnenplaats_van_de_oude_kazerne_op_het_eiland_Onrust_in_de_Baai_van_Batavia_TMnr_60010654Onrust berasal dari bahasa Belanda yang berarti ‘tidak pernah istirahat’ atau ‘sibuk’ –yang dalam bahasa Inggrisnya Unrest. Nama ini dikenal sejak abad 17, namun hanya dikenal oleh kalangan Belanda dan para buruh yang dipekerjakan di pulau tersebut. Sebagian kalangan menyebut Onrust dengan julukan pulau Haji, lantaran pernah dijadikan sebagai karantina haji.

Sebelum digunakan sebagai karantina haji pada 1911 hingga 1933, pulau ini merupakan pangkalan Angkatan Laut Belanda. Tahun 1933–1940 kembali digunakan kolonial Belanda sebagai penjara bagi pembrontak Tujuh Kapal ‘Zeven Provicien’.  Di tahun 1940 Onrust dijadikan Belanda untuk menawan Jerman seperti Steinfurt –yang tak lain sebagai kepala adminstrasi pulau Onrust.  Di masa penjajahan Jepang, pulau Onrust hanya digunakan sebagai penjara bagi para kriminal.

Setelah Indonesia merdeka hingga tahun 1960-an, pulau ini digunakan sebagai Rumah Sakit Karantina bagi penderita penyakit menular dibawah pengawasan Departemen Kesehatan RI. Kemudian, RS ini dipindahkan ke pos VII pelabuhan Tanjung Priok. Sekitar tahun 1960-1965 selain dijadikan medan latihan tempur militer, pulau ini dimanfaatkan untuk penampungan para gelandangan dan pengemis.

Di tahun 1972 gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin menetapkan pulau Onrust sebagai cagar budaya yang dilindungi. Dan pada tahun 2002, pemerintah menyatakan pulau Onrust dan tiga pulau lain disekitarnya yaitu Cipir, Kelor dan Bidadari sebagai Taman Arkeologi Onrust. Untuk mencapai gugusan pulau ini bisa dijangkau melalui tiga pelabuhan yakni pelabuhan Marina Ancol, pelabuhan Angke dan pelabuhan Muara Kamal. Dari ketiga pelabuhan tersebut, yang paling dekat dengan Pulau Onrust adalah pelabuhan Muara Kamal yang bisa ditempuh selama 10 hingga 15 menit saja. (hayat fakhrurrozi)

catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah MANASIK edisi Juni 2014/Sya’ban 1435H

Ketika Politik Menggoda Ulama

Tak bisa dipungkiri, peran ulama dalam kehidupan perpolitikan Indonesia begitu besar. Negeri ini merdeka terbebas dari kaum penjajah juga tak lepas dari upaya serta kegigihan perjuangan para kyai. Lantas bagaimana kondisi hari ini? Terlebih ketika jelang pemilu baik pemilihan anggota legislatif maupun pemilihan presiden atau kepala daerah? Tampak dengan kasat mata, para alim ulama berada di antara mereka yang tengah bertarung.

073Sejatinya, kehadiran ulama di ranah politik bukan kali ini saja. Bahkan sejak jaman revolusi ulama sudah ikut mengawal perjalanan bangsa ini. Ulama sebagai pewaris nabi, musti bertanggungjawab terhadap perbuatan para penyelenggara negara dan masyarakat (umat islam). Tugasnya membina masyarakat dalam menjalankan syariah baik lewat pendidikan maupun siraman atau ceramah agama. Sementara terhadap penyelenggara negara (pejabat) di pemerintahan, ulama berkewajiban mendampingi, membimbing pejabat untuk selalu amanah mengemban tugas.

Kalau bicara hari ini, di tengah hiruk pikuk pemilihan presiden (pilpres) 2014, banyak kaum alim ulama yang merapat ke kubu Prabowo Subianto – Hatta Rajasa (Prabowo Hatta). Tak sedikit pula, para kyai yang berada di kubu Joko Widodo – Jusuf Kalla (Jokowi-JK). Tentu saja, kita tidak mengetahui apa yang diniatkan para alim ulama itu terkait keberadaannya di tengah-tengah kedua kubu. Apakah itu sebagai sikap politik yang benar-benar untuk mendukung pencalonan sang capres-cawapres? Atau hanya untuk sekadar membantu? Atau faktor lainnya, wallahu a’laam bishshowab. Yang jelas, seorang ulama atau kyai pastinya tak sekadar memiliki pengikut, tapi punya pengaruh yang kuat juga bagi umat yang dibinanya.

Jika ditilik dari tugas dan tanggungjawab seorang ulama, mustinya peran mereka berada di ranah politik untuk membina umat dan mendampingi sang pejabat agar tidak menyimpang. Tapi, nyatanya? Tak sedikit dari mereka yang kerap menjual ‘agama’ untuk mengamankan atau meneguhkan dalil-dalil politiknya itu. Boleh jadi, karena pemahaman atau tafsir mereka yang dianggap benar menurut versinya sendiri. Sepertinya di sinilah kredibilitas sebagai ulama di pertaruhkan. Apakah cukup kuat dari berbagai godaan politik, atau malah begitu mudahnya tergoda rayuan politik.

Memang, di kubu Prabowo-Hatta misalnya, begitu banyak kaum ulama yang mendukung dalam pilpres 2014 ini. Pasalnya, dengan penuh keyakinan pilihan mereka untuk berada di belakang pasangan capres-cawapres ini merupakan upaya penyelamatan umat, negara dan bangsa. Bisa jadi memang, karena para ulama menilai pasangan nomor urut 1 ini mampu membawa bangsa dan negara lebih sejahtera, makmur, berdaulat adil dan makmur. Sebab, para kyai yang berdiri di kubu ini baik yang terang-terang atau di belakang layar berkeyakinan bahwa inilah yang musti dilakukan oleh ulama sebagai pembina umat.

Lalu bagaimana dengan ulama yang berada di sekitar pasangan Jokowi-JK? Bisa jadi alasananya hampir sama dengan ulama yang memilih duduk bersama pasangan Prabowo-Hatta. Tapi, sepertinya para ulama ini lupa atau entah kenapa sehingga mau mendukung, dan malah membantu pasangan nomor urut 2 ini. Padahal, ajaran Islam –yang mungkin mereka lebih fasih, lebih hafal dan memahami— mengatakan bahwa ciri pemimpin yang baik itu sidiq, amanah, tabligh dan fathonah. Dimana keempat sifat tersebut juga ada pada sosok Rasulullah Shallalahu Alaihi Wasallam sebagai seorang pemimpin umat, dan negara. Dan keempat sifat itu menjadi satu kesatuan, tidak bisa dipisah antara satu dan yang lainnya.

Pun dengan hadist yang mungkin anak kecil pun paham bahwa ada tiga tanda/ciri-ciri orang Munafik, yaitu jika berbicara ia bohong, jika berjanji ia ingkar dan jika dipercaya ia khianat. Sekedar untuk mengingatkan, berikut bunyi hadist tersebut:

Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallalahu Alaihi Wasallam bersabda, “Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanah ia berkhianat.”

Tanda Munafik - ilustrasiEntah kenapa, yang membuat hadist shahih yang begitu populer itu, seakan hilang dari ingatan para ulama itu? Entah ‘sesuatu’ apa yang membuat para ulama begitu tergoda sehingga mau duduk bareng bersama orang-orang yang diduga menjadi bagian dari apa yang diperingatkan oleh hadist tersebut. Bukan maksud hati untuk mempermalukan para ulama yang dengan penuh ghirah (semangat) berada di kubu pasangan nomor urut 2, khususnya di belakang sang capres.

Lalul kenapa? Mustinya, ulama –yang kini berada di kubu Jokowi-JK— ingat bagaimana ketika seorang Jokowi bertarung memperebutkan kursi nomor 1 Balaikota DKI berjanji akan menjalankan amanah sebaik-baiknya selama 5 tahun. Pun ketika sudah terpilih, dengan lantang menyeru bahwa dirinya akan menyelesaikan tugasnya sebagai gubernur sampai akhir jabatan. Tapi buktinya? Jelang pileg 2014, mungkin dengan harapan mendongkrak keterpilihan para caleg dari partainya, Jokowi di hari Jumat menyatakan diri siap maju sebagai bakal capres. Ada banyak media dan saksi hidup yang tahu akan hal ini.

Konon, majunya Jokowi karena diminta oleh partainya bernaung yang diperkuat lantaran desakan rakyat. Memang mengatasnamakan rakyat, lalu apakah warga Jakarta yang dulu memberi amanat kepadanya bukan rakyat? Atau alasan demi kemaslahatan bagi rakyat yang lebih banyak, sehingga dengan teganya meninggalkan dan menghianati warga Jakarta yang telah mempercayainya pada pilkada DKI 2012 lalu? Kalaulah warga Jakarta –yang paling tidak sekitar 7 juta– yang sudah menaruh besar harapan padanya lalu dicampakkan begitu saja, bagaimana kalau sekarang tengah mengumbar janji di mana-mana, di seluruh nusantara. Janji tetaplah janji yang harus ditepati. Amanah tetaplah amanah yang musti dijalani. Bukan dulu ngomong begitu begini, lantas dibohongi.

Okelah, apapun dalil-dalilnya yang membuat Jokowi maju sebagai bakal capres yang diajukan oleh partainya. Tapi, kalaulah memang orang-orang di sekitarnya dan termasuk dirinya memahami isi dan maksud hadist tersebut, mustinya malu, dan takut akan ‘label’ yang menempel pada dirinya. Bisa satu, dua atau bahkan ketiga-tiganya dari ciri-ciri tersebut.

Pun ketika Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan dua pasangan capres-cawapres, dukungan dari kalangan ulama terus menyemut di dua kubu. Sekali lagi, memang harus diakui, gemerlap politik begitu menggoda ulama. Tentunya, ketika alasan serta niat para ulama ini bergabung, mustinya apa yang mereka lakukan hanya karena niatan tulus, menjalankan tugas utamanya sebagai ulama yakni membina, membimbing umat ke jalan yang lurus dan benar sesuai tuntunan agama.

Bahkan beragam jenis black campaign yang dilakukan oleh para simpatisan, kader, termasuk orang-orang ‘terpandang’ yang masuk dalam tim sukses Jokowi-JK terhadap Prabowo, ulama yang berada di barisan kubu ini sama sekali tak meluruskan. Bahwa apa yang mereka lakukan adalah bentuk dari fitnah. Semisal seputaran masa lalu Prabowo sebagai seorang tentara yang selalu saja dikait-kaitkan dengan kasus pelanggaran HAM. Bukan hanya itu, kedudukannya saat itu sebagai Pangkostrad dituduh ikut berperan dalam tragedi Trisakti dan atau huru-hara Mei 1998. Padahal sudah jelas-jelas sudah ada ketetapan hukum bahwa Prabowo tidak terlibat. Termasuk ketika dalam Debat Capres-Cawapres jilid pertama, Prabowo menjawab sekaligus mengklarifikasi langsung atas tuduhan tersebut. Toh, dia sebagai prajurit, yang kala itu dipercaya sebagai komandan dengan kesatria mengambil alih tanggungjawab yang mustinya itu menjadi tanggungjawab Panglima ABRI kala itu.

Nah, mustinya ulama –yang sudah kepalang kadung berada di barisan Jokowi-JK— sadar bahwa apa yang dilakukan mereka itu salah, seharusnya meluruskan. Kalaulah memang, Prabowo menjadi bagian dari peristiwa kelabu itu, apakah lantas Prabowo tidak berhak dan tidak layak untuk tampil sebagai peminpin negeri ini? Masih belum cukupkah, sikap nasionalis, patriotis serta cinta tanah air yang ada pada dirinya?

Entah kenapa ulama bisa lupa atau memang melupakan sosok sahabat Sayyidina Umar bin Khattab atau sayyidina Khalid bin Walid, pejuang Islam yang selalu ada di sisi Rasulullah Shallalahu Alaihi Wasallam. Dimana keduanya dulu begitu dikenal sebagai sosok yang berdarah-darah dalam memerangi Islam. Tapi setelah masuk dalam barisan Rasulullah Shallalahu Alaihi Wasallam mereka terdepan dan dibanggakan umat Islam. Memang, jika membandingkan sosok Prabowo dengan kedua sahabat itu sangat jauh berbeda, baik masa maupun kondisinya. Tapi hakikatnya, kalau Rasulullah Shallalahu Alaihi Wasallam  saja begitu mengagumi perjuangan dan sikap tegas kedua sahabatnya, kenapa ulama tidak? Setidaknya meluruskan orang-orang yang ada di kubu nomor urut 2, bahwa tuduhan –yang meskipun tak berdasar— yang diarahkan Prabowo sebagai pelanggar HAM itu tidaklah benar.

Jadi, apakah para kyai, ulama, cendikiawan muslim, ustadz atau apapun sebutannya, lupa akan hal itu? Atau memang ada hal lain yang akhirnya mereka tergoda? Bukankah tugas pokok dan fungsi ulama untuk berada paling depan dan menyerukan amar makruf nahi munkar? Karena mereka adalah para pewaris nabi. Ini sekadar opini, kritik terhadap sepak terjang para ulama di pentas panggung politik. Semoga