Buruk Rupa

Dani dan Nina memang dianggap oleh teman-teman kelasnya, bahkan satu sekolah itu sebagai anak yang buruk rupanya. Kulit wajah dan tubuh Dani berbeda dari kulit normal. Kulitnya bersisik seperti kulit ikan. Nina sendiri walaupun anaknya cantik, tapi kulit wajah dan tubunya ditumbuhi bulu halus begitu lebat seperti binatang singa. Walaupun begitu, kedua anak ini termasuk anak yang pandai dan rajin. Nina berasal dari keluarga berada. Wajar jika tidak ada yang berani usil pada Nina. Lain halnya dengan Dani anak tukang sol sepatu keliling ini selalu merasa minder dengan kondisi tubuhnya. Sehingga selalu menjadi bahan olokan teman-teman sekolahnya. Tapi semangat untuk belajar dan sekolah Dani tidak kalah dengan Nina. Bahkan dia pun harus mencari uang dengan mengamen di pasar guna membiayai sekolahnya.

Siang itu, Nina menyempatkan diri berkunjung ke rumah Dani. Namun yang dicari tidak ada. Nina hanya bertemu adiknya, Dina sedang menunggui ibunya yang terbaring sakit.

“Ibumu kenapa? Terus mana kakakmu? Kok tidak sekolah?” tanya Nina penasaran.

“Kak Dani sedang ngamen di pasar. Kak Dani bilang nanti uangnya untuk membeli obat,” ujar Dina sambil menceritakan asalan dia dan kakaknya tidak sekolah.

Mendengar cerita itu, Nina langsung bergegas menuju Pak Said, sopir keluarga yang selalu mengantar kemanapun dirinya pergi. Tak lama kemudian keduanya kembali masuk ke dalam rumah. Lalu tanpa pikir panjang, Nina menyuruh Pak Said memapah Emak ke dalam mobil.

“Ayo, Pak kita bawa ke rumah sakit, biar papa yang memeriksa penyakit Emak,”

“Kalo begitu, kamu cari kakakmu dan bapak, terus nyusul ke rumah sakit. Emak saya dan pak Said yang bawa. Kamu tahu kan rumah sakitnya?” sambung Nina.

“Tapi… Kak!”

“Sudah! Tidak ada tapi-tapian… nanti emak biar saya dan Pak Said yang urus, oke!”

Di ruang periksa Dokter Dedi yang tak lain papanya Nina tengah memeriksa emak. Dani dan Dina langsung nyelonong masuk ke ruangan.

“Lo, kalian siapa? Oh, pasti kalian temannya Nina ya?”

“Ya, Sus, bagaimana kondisi Emak?” tanya Dani cemas.

“Tenang saja, dokter sedang memeriksanya, silahkan tanyakan pada dokter,” jawab suster.

“Tak usah khawatir. Ibumu tidak apa-apa, hanya demam saja. Untung cepat dibawa ke sini,” ujar dokter itu menenangkan kedua bocah teman sekolah anaknya.

“Terima kasih pak dokter. Nina kamu memang teman yang baik, tidak seperti teman-teman di sekolah yang bisanya hanya mengejek diriku.”

Tak lama kemudian Pak Eman, ayahnya Dani tiba dan ikut berbincang-bincang dengan dokter sambil menunggu obat yang sedang ditebus Pak Said. Akhirnya Emak pun diperbolehkan pulang. Karena arahnya sama, mereka pun pulang bareng. Tak lupa Dokter Dedi pun memberikan obat-obatan yang baru saja ditebus Pak Said di apotik rumah sakit itu.

“Gimana caranya agar teman-teman di sekolah tidak mengejek kita lagi ya Pa?” tanya Nina di sela-sela obrolan mereka dalam perjalanan pulang.

“Gampang kok! Sekrang Nina dan Dani memiliki keahlian apa?”

Dani dan Nina bengong tidak mengerti apa yang dimaksud dengan omongan papanya.

“Kok jadi bengong, kenapa?”

“Baiklah, caranya kalian harus tunjukkan bahwa kalian ini mempunyai kelebihan tersendiri dibanding dengan teman-teman kalian. Nanti mereka tidak akan berani lagi mengejek. Bahkan bisa jadi mereka akan lebih dekat dengan kalian. Bagaimana?”

“Wah… Nina mengerti Pa! Begini saja, suara saya kan lumayan, selain itu saya juga bisa menari balet. Sedangkan Dani, dia mahir memetik gitar bahkan memainkan biola. Gimana?”

“Ya, kalau begitu bagaimana kalau pada acara perpisahan kakak kelas kalian nanti kamu dan Dani tampil di panggung?”

“Tapi… Pak Dokter gitar saya sudah rusak, apalagi biola, saya tidak punya.”

“Tak usah khawatir… sekarang kalian latihan yang rajin. Papa akan meminta izin kepada kepala sekolah kalian untuk bisa pentas pada acara itu,” ujar Dokter Dedi memberi semangat kepada keduanya.

Waktu perpisahan pun tiba. Di sebuah Mading (Majalah Dinding) yang ada di sudut ruang guru terpampang pengumuman susunan acara perpisahan. Di dalam pengumuman itu tercantum nama Dani dan Nina sebagai pengisi acara. Tentu saja membuat murid-murid sekolah itu penasaran. Gerangan apa yang akan ditampilkan oleh kedua murid kelas V itu.

“Bisa apa Dani. Apalagi Nina. Jangan-jangan mereka akan menampilkan pertunjukan topeng monyet,” ujar Beni dan teman-temannya sambil tertawa terbahak-bahak.

Detik-detik pentas seni pun tiba. Pagi itu Dani mengenakan jas hitam dan dasi kupu-kupu yang dibelikan orangtuanya Nina. Sedang Nina sendiri mengenakan kostum ala Barbie berwarna merah jambu.

“Tibalah saatnya kita saksikan penampilan teman kita, Dani dan Nina yang akan membawakan tarian balet diiringi dengan alunan biola,”

“Huuu…”

“Tenang, anak-anak. Murid ibu tidak boleh begitu. Mari kita saksikan bersama-sama,” ujar Ibu Wati sang kepala sekolah menenangkan anak didiknya.

Suasana hening sejenak. Panggung masih kosong. Dani yang dari tadi berada di belakang panggung mendadak gugup dengan ejekan tadi. Untunglah Nina terus memberi semangat.

“Ayo, Dani naik! Kapan lagi kita bisa tunjukan pada mereka, kalau tidak sekarang!”

“Huuu… mana berani dia,” celetuk seorang murid.

Tentu saja hal ini membuat nyali Dani makin ciut. Tak lama kemudian papa dan mamanya Nina datang. Melihat hal itu, mereka langsung menemui anaknya yang ada di belakang panggung dan memberi semangat pada Dani.

“Dani! ayo lakukan, jika kau tidak mau diejek terus oleh teman-temanmu!”

Dengan langkah yang berat, Dani menaiki tangga podium diikuti Nina.

“Huuu…” sambutan teman-temannya.

Plok… plok… plok… tiba-tiba suara tepukan berasal dari pojok ruangan membuyarkan murid-murid yang dari tadi riuh.

“Tenang anak-anak! Ayo kita belajar menghormati orang lain,” ujar Pak Gandi, ketua Komite Sekolah sambil berjalan menuju panggung.

Murid-murid beserta orangtua pun diam seketika. Maklum Pak Gandi, ketua Komite Sekolah itu seorang pejabat di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional.

Gesekan biola itu mengalunkan irama klasik karya Mozart atau Bethoven mulai terdengar. Begitu pula dengan gerakan licah Nina membuat para hadirin terpana dengan tontonan yang ada di depan mata mereka. Tanpa terasa irama dan gerakan itupun berakhir. Tapi hadirin masih terdiam terkesima.

“Yes… kamu bisa!” teriak Pak Dedi dari sudut panggung membuyarkan para hadirin yang masih terdiam. Tanpa dikomandoi, hadirin pun tepuk tangan dengan penuh kegembiraan.

Nina pun membungkukkan badan, tanda memberi hormat kepada hadirin. Sebelum meninggalkan panggung, Nina menyambar mikrophon dan mengucapkan rasa terima kasihnya kepada kepala sekolah dan guru serta teman-temannya yang telah memberikan kesempatan pada dirinya dan Dani.

“Terima kasih, guru-guru kami, orangtua di sekolah ini, tanpa bimbinganmu kami tidak bisa seperti ini. Dan saatnya kita saksikan kembali kepiawaian teman kita Dani dalam memetik gitar,”

“Teman-teman, izinkanlah saya membawakan lagu yang selama ini kita sukai bersama yaitu sebuah lagu Ada Apa Denganmu dari Peterpan.”

Mendengar hal itu, murid-murid pun berdiri bertepuk tangan memberikan dukungan pada Dani. Kegembiraan pun bertambah setelah Dani melantunkan beberapa lagu dari albumnya Peterpan. Tidak hanya itu dia membawakan lagu Jujur milik Radja yang sedang digandrungi anak-anak. Diakhir penampilannya, Dani mengajak para hadirin untuk menyanyikan lagu Padamu Negeri gubahan WR Supratman bersama-sama diiringi dengan gesekan biolanya.

Advertisements

One thought on “Buruk Rupa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s