Perangkap Tikus

Di sebuah perkampungan petani yang terletak di lembah hijau hiduplah sepasang suami istri yang mengandalkan kebutuhan hidupnya dari bercocok tanam. Ya, mereka adalah Pak Karta dan Bu Karta yang menempati rumah bilik hanya berdua. Selain bertani, di perkampungan itu hanya Pak Karta yang memelihara hewan ternak ayam, kambing dan sapi masing-masing seekor. Itupun pejantan semua. Maklum tujuan Pak Karta bukan untuk beternak, melainkan sebatas hobi saja. Terkadang ayam jagonya diikutsertakan dalam adu ayam di kampung seberang. Begitu juga dengan kambing bandotnya walaupun tak pernah menang. Namun lain halnya dengan sapi, hewan itu hanya dimanfaatkan tenaganya untuk membajak sepetak sawahnya. Selain hidup pas-pasan, Pak Karta dan Bu Karta juga belum dikaruniai anak seorang pun.

Rumah biliknya yang terletak tepat dipinggir sawah miliknya itu pun nampak sepi, apalagi jika senja tiba yang terdengar hanyalah suara jangkrik atau nyanyian kodok sawah. Maklum perkampungan yang berada di balik pegunungan itu jauh dari kota.

Suatu hari Bu Karta ngomelngomel, gara-gara dapurnya selalu berantakan. “Pasti ini ulah tikus-tikus sialan itu,” gerutunya.

Karena kesal, bu Karta minta dibelikan perangkap tikus pada suaminya. Pak Karta pun segera beranjak ke kota yang jaraknya 50 kilometer dari rumahnya. Sore itu juga Pak Karta menenteng sebuah alat perangkap tikus yang terbuat dari kawat yang dibelinya di pasar. Tak lama kemudian Bu Karta memotong sebagian tempe yang dibelinya di warung sebagai umpan dan dipasangnya di perangakap. Setelah siap perangkap itu diletakkan di tempat yang sering menjadi sasaran tikus.

Saat malam tiba, Tiki dan Tiku, sepasang tikus yang selalu datang ke rumah Pak Karta terkejut melihat ada perangkap yang disiapkan oleh empunya rumah.

“Awas Tiku, jangan ambil tempe itu, nanti kamu terperangkap,” ujar Tiki mengin            gatkan Tiku yang dari tadi mengamati perangkap itu.

“Tapi, sepertinya di dapur ini tidak ada makanan yang bisa kita bawa pulang untuk anak-anak kita?”

“Mungkin belum rezeki kita, ayo kita cari di tempat lain saja,” ajak Tiki.

Akhirnya kedua tikus itu keluar meninggalkan rumah tanpa membawa makanan secuil pun. Padahal malam itu mereka sangat lapar. Ditengah perjalanan mereka bertemu dengan Kobra, si ular berbisa yang selama ini mereka takuti selain predator (pemangsa) lainnya dan manusia. Dengan hati-hati Tiki dan Tiku berjalan jinjit menjauhinya, karena takut dimangsanya. Tanpa diduga Kobra hanya mendesis dan mengatakan bahwa dia tidak akan memangsanya.

Setelah berhasil lolos dari bahaya ular, sebelum keduanya melompati pagar halaman belakang berpasasan dengan Jago milik Bu Karta. Mereka pun berbincang-bincang sejenak.

“Eh… Jago, kenapa sih  Bu Karta, majikanmu itu memasang perangkap buatku. Padalah kami hanya mengambil sisa makanan yang memang sudah dibuang oleh mereka di dapur?”

“Wah, apa pedulinya saya. Yang penting saya tiap hari diberi makanan olehnya,”

“Kok, kamu jawabnya begitu sih. Seharusnya sesama makhluk hidup harus tolong menolong dong,” timpal Tiku sambil meninggalkan Jago.

Tiba-tiba mereka dikagetkan dengan suara gerutukan gigi-gigi kambing yang persis ada di sebelah kandang ayam.

“Dari mana kalian, kok sepertinya lesu gitu?”

“Iya, nih Bu Karta memasang perangkap buat kami, jadinya kami takut untuk mencari sisa-sisa makanan di dapurnya,”

“Takut terperangkap,” sambung Tiki.

“Oh, begitu ya… kasihan deh kalian, makanya jangan suka mencuri makanan orang lain!”

“Bukan… bukan… kami tidak mencurinya, kami hanya mengambil sisa-sisa makanan yang mereka buang ditempat sampah yang ada di dapurnya.”

Rupanya obrolan mereka didengar oleh Sapi yang mencoba bangun dari duduknya. Tiki dan Tiku pun mengeluhkan hal yang sama pada Sapi.

“Kenapa, Bu Karta memasang perangkap tikus ya?” tanya Tiku pada sapi yang sedang asyik mengunyah rumput gajah.

“Yang pasti itu untuk menangkap kamu berdua yang sering mengambil makanan yang ada di dapur. Makanya jangan suka mengambil milik orang,” jawab Sapi.

“Maaf kami bukan pencuri, sekali lagi kami bukan pencuri, kami hanya mengambil sisa-sisa makanan yang telah dibuang oleh mereka,” jawab Tiku gemas sambil menarik Tiki untuk bergegas pergi.

Akhirnya kedua tikus itu kembali menemui keluarganya yang telah lama menunggu. Malam itu, keluarga Tiki dan Tiku terpaksa berpuasa. Mereka takut jika semua penduduk memasang perangkap untuknya. Disamping itu mereka pun harus terus waspada terhadap bahaya dari incaran burung hantu yang sewaktu-waktu datang menyambar anak-anak mereka.

Sayup-sayup terdengar Jago berkukuruyuk, tanda pagi akan tiba. Namun tidak seperti biasanya, rumah Pak Karta mendadak rame. Menurut kabar yang beredar, Bu Karta mengalami demam yang cukup tinggi, gara-gara dipatuk ular kobra. Kejadiannya waktu itu, Bu Karta hendak memasak air, tiba-tiba dia kaget setelah mendapati umpan itu berada di luar perangkap. Padahal perangkap itu telah dipasang dengan baik.

“Lha, kok ini bisa… siapa yang mengambil ya… apa iya tikus-tikus itu? Tapi kok tidak terjebak.”

“Aduuuuuhhh… ular sialan,” jeritnya sambil kakinya menendang ember yang ada didepannya.

Rupanya pergelangan tangannya dipatuk ular berbisa yang dari tadi bersembunyi dibalik tutup gentong air.

Bu Karta pun menjerit-jerit memanggil suaminya. Tak lama kemudian tetangga pun berdatangan untuk mengetahui apa yang terjadi dengannya. Tidak lebih dari satu jam Bu Karta akhirnya jatuh pingsan. Panas badannya pun semakin tinggi.

Seperti biasanya untuk memberikan pertolongan, tetangganya menyarankan Pak Karta untuk membuat sop ayam guna menurunkan demam. Tanpa pikir panjang, Pak karta pun segera membawa jago kesayangannya untuk disembelih kemudian dimasak sop ayam.

Setelah tiga hari berlalu demam Bu Karta tidak turun-turun, malah semakin tinggi. Pak Karta makin panik, lebih lagi karena tamu yang menjenguk kondisi istrinya semakin bertambah. Tapi Pak Karta tidak mempunyai apa-apa lagi untuk menjamu tamu yang sedang menjenguk istrinya. Akhirnya sebagai jalan keluarnya Pak Karta menyembelih kambing bandotnya dan dimasak untuk menjamu para tamu dan kerabat yang datang.

Seminggu kemudian, demam Bu Karta bukannya turun malah semakin tinggi dan akhirnya nyawanya tak tertolong lagi. Dia meninggal sebelum dokter dari kota yang dijanjikan kepala desa itu datang membantu.

Tentu saja Pak Karta semakin sedih, selain itu dia panik karena tamu yang datang lebih banyak dari hari-hari sebelumnya. Atas saran kerabatnya, akhirnya Pak Karta pun menyuruh Pak Jana tukang jagal untuk menyembelih Sapi satu-satunya untuk selanjutnya dimasak guna menghormati para pelayat dan keperluan makan ala kadarnya selama tujuh hari peringatan wafatnya Bu Karta.

Mendengar hal itu, Tiki dan Tiku ikut sedih juga. Namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Selain berserah diri pada sang Pencipta.

Advertisements

One thought on “Perangkap Tikus

  1. “Malam itu, keluarga Tiki dan Tiku terpaksa berpuasa. ”

    selamat berpuasa buat TIki dan Tiku, mereka si tukus manis saja berpuasa ya….

    betewe, istilah tiki dan tiku tidak kalah menarik dari tom n jerry… 🙂 apalagi kalau cerpen ini di animasikan waaah menarik sekali bang Hayat… 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s