Kakek

Sore itu saya berangkat menuju kampung halaman dengan menumpangi kereta api kebanggaan wong cerbon Cirebon Express (cirex). Untuk menuju stasiun pemberangkatan yaitu stasiun Gambir dari rumah saya harus dua kali naik turun angkutan kota (angkot). Angkot yang melewati sekitar rumah adalah S.10 / D.17 sebuah angkot dengan jurusan yang sama namun dibedakan dengan warna merah (KWK) dan putih (saya tidak tahu… setahu saya ini angkot yang dikeluarkan oleh dishub kab. Tangerang).

Saat itu waktu menunjukan pukul 15.00 saya langkahkan kaki meninggalkan rumah, sebuah angkot telah menunggu dipertigaan jalan. Tanpa basa-basi, angkot itupun mengantarku hingga ke kawasan velbak singgalang. Saya pun segera menuju halte tepatnya di depan apartemen Pakubuwono yang masih dalam tahap finishing. Sekitar lima menit akhirnya P AC 44 Ciledug-Senen lewat dan siap mengantarku menuju stasiun Gambir.

Ah.. bangku sisi kiri (isi dua bangku) terlihat menyisakan satu bangku. Saya pun lega bisa duduk. Disampingku seorang kakek tua renta menyunggingkan senyum sesaat saya duduk. Sore itu jalanan lengang, sehingga bus pun melaju dengan cepatnya. “Ga ada uang kecil mas?” tanya kondektur bus.

“Wah ga ada mas… ada juga cuma empat ribu neh gimana?” jawabku sambil menyodorkan empat lembar ribuan kucel pada sang kondektur.

“Ade mau kemana?” membuyarkan lamunanku yang membayangkan kampung halamanku yang mulai dirundung banjir.

“Mau pulang kampung ya?” timpalnya sebelum kujawab pertanyaannya itu.

“Iya pak. Bapak sendiri mau kemana kok sendirian?” tanyaku penasaran pada sosok tua renta itu.

“Ya saya mau ke senen dik. Mau kerja di Wayang Orang Bharata,” jawabnya.

“Hah.. udah tua gini bapak masih kerja?”

Sang Kakek tua renta itupun hanya ngangguk-ngangguk, terlihat mulutnya manyun-manyun seperti lagi mengunyah sesuatu. Namun bisa saya tebak kakek itu sudah tidak memiliki gigi lagi sehingga usai bicara pasti mulutnya manyun-manyun. Dia pun lalu menceritakan pekerjaannya di gedung wayang orang Bharata yang terletak di kawasan Senen. Menurutnya dia bekerja sebagai tukang penjaga tabir/layar penutup yang dulu biasanya dia menariknya dengan pengerek kini lebih mudah lagi hanya dengan memencet tombol. Sesekali dia pun memeragakan cara kerjanya itu. Dia pun memperkenalkan diri padaku sambil mengeluarkan KTP (DKI) dengan nama Samiran alamat di Kayu Manis Jakarta Pusat. (lengkapnya saya lupa). Usai memperkenalkan diri itu, kakek tua renta itupun terdiam sejenak, bus pun melewati kampus mustopo beragama hingga berbelok ke arah jalan asia afrika. Saat melewati Plaza Senayan, kakek tua renta itupun kembali bicara. “Dik… saya ini belum makan dan minum dari pagi, kalo ada tolong kasih saya uang buat membeli makanan dan sekedar minum air putih di Senen nanti,?”

Deg. Serasa ada yang menusuk jantung ini seketika. Saya pun tidak langsung menjawab permintaannya itu. Alam pikir baik dan jahatku pun berkecamuk perang. Ya.. bukannya tidak mau menolong kakek tua renta itu, tapi memang bekalku tidak banyak, dikantong ini hanya ada empat lembar uang kertas dengan nominal 50 ribu yang kupersiapkan untuk ongkos pulang pergi dan kondangan ke temenku yang married besok minggu. “Wah kalo tadi buat bayar ongkos dan dapet kembalian mungkin saya bisa memberinya sepuluh atau dua puluh ribu padanya sekedar untuk pengganjal perut dia. Tapi dikantongku cuma ada selembar limapuluh ribuan,” gumanku. “Gimana ya… kuberikan selembar ini atau gimana…” kecamuk antar hati dan fikiran yang terus menggangguku.

“Gimana Dik, bisa ngasih ga? ya seikhlasnya aja buat makan dan minum. Tadi aja ongkos buat naik bus ini berkat bantuan polisi yang nitip ke kondektur kok,” membuyarkan fikiran membuat hati ini miris dan bertambah iba pada kakek tua renta itu akhirnya kujawab hanya dengan anggukan. (sebagai tanda saya akan memberinya). Namun berapa yang harus kuberikan padanya? inilah yang membuatku bingung. “Yah… mungkin Allah sedang mengujiku, atau jangan-jangan…” batinku terus menggerus alam fikir.

“Jangan sampe lupa lo dik entar kasih saya uang buat makan dan minum, soale dari pagi saya belum makan,” ujarnya saat bus menurunkan penumpangnya di kawasan pintu satu senayan. Saya mengangguk kembali tanpa mengucapkan sepatah kata.

“Jangan lupa dik, sebentar lagi kamu mau turun sudah nyampe Tosari nih,” kaket tua renta itu mengingatkanku akan janji anggukanku tadi.

“Bismillahirrahmanirrahim… kuikhlaskan ini semua demi Allah,” tiba-tiba dorongan itu muncul dari dalam hati ini untuk menyodorkan selembar limapuluh ribuan baru itu pada sang kakek tua renta tadi. Entah kenapa… setelah kuberikan uang itu hati ini plong. Rasa bingung yang sebelumnya berkecamuk tadi sirna. “Yah… inilah rezki Allah buat dia yang memang harus saya sampaikan padanya melaluiku,” batinku mengingat sehari sebelumnya saya memang baru menerima gajian.

Kakek tua renta tadi pun tanpa hentinya mengucapkan terima kasihnya padaku. Saya hanya mengingatkan padanya untuk berhati-hati dengan uang itu, karena cuma selembar yang masih dalam genggaman tangannya. Dia pun mengingatkanku untuk menaruh uang ditempat tersembunyi. “Sebaiknya dompet atau uang adik ditaroh di kantong celana pendek adik, janga di kantong belakang, atau di tas aja. Sekarang lagi rawan copet dik.” nasehatnya yang kujawab dengan anggukan saja.

Bus pun akhirnya melintas di depan stasiun Gambir, sang kakek tua renta itu pun mengingatkanku lagi untuk selalu berhati-hati dalam perjalanan. Lega dan bahagia hati ini didoain sama orang yang sudah sepuh dan sepertinya tulus. Saya pun turun dan segera menuju ke loket pembelian tiket yang sudah ramai, karena waktu menunjukan pukul 16.30 yang berarti sekitar 20 menit lagi kereta berangkat.

Sesampainya di loket ternyata kereta Cirex yang menyediakan gerbong bisnis dipindah jadwalnya menjadi pukul 18.15 sementara yang keberangkatan pukul 16.50 merupakan Cirex Utama yang seluruhnya gerbong eksekutif. Karena rasa kangen ini pada kedua orangtua, akhirnya kuputuskan membeli tiket eksekutif, dengan alasan bisa sampai lebih sore dibanding dengan yang berangkat sejam kemudian. “Ah dari pada nunggu lama mending naik yang bentar lagi berangkat,” batinku walau dengan resiko bekalku berkurang dua puluh ribu dari yang kurencanakan.

Wajah kakek tua renta asal Baturetno-Wonogiri itu terus membayang saat kunaiki tangga menuju ke tempat pemberangkatan. Karena waktu masih tersedia 20 menit lagi, kusempatkan menuju ke masjid untuk menunaikan ibadah Ashar. Lega hati ini walaupun semakin menipisnya bekalku namun masih ada harapan bisa meminjam ke adik atau orangtua untuk ongkos pulang nanti sesampainya di rumah.

Baru saja kereta melaju melintasi daerah Karawang, sebuah SMS membangunkan tidurku. “Yat, ang Tia mau minta tolong, pinjemin uang untuk membayar honor guru bulan ini yang akan dibayar tanggal 1 besok, kas sudah tidak mencukupi. kakakmu.”

Deg. Kembali sepertinya ada yang menusuk jantungku hingga berhenti sejenak denyut jantung ini. “Masya Allah gerangan ada apa lagi… sudah bekel tinggal 80 ribu, ini ada lagi.. ya Allah…Laa khaulawala quwwata illa billaah,” gumanku munajat pada-Nya. SMS itupun tak kujawab karena memang pulsa di handphone ini tak mencukupi walau untuk sekedar menjawab satu SMS pun. Kupikir biar nanti kujawab sesampainya di rumah.

Saat kuceritakan kejadian sore tadi… kakak pun hanya tersenyum diselingi dengan tertawa kecil mendengar kejadian yang kualami. “Ya… mungkin itu ujian buat kamu… siapa tahu itu malaikat yang sedang menyamar atau jangan-jangan nabi khidir?” hiburnya.

“Saya pikir juga begitu, walaupun memang uang itu sangat berarti bagi saya… tapi memang ada yang lebih membutuhkannya dari pada saya. Saya hanya berharap semoga Allah meridloi apa yang kulakukan terhadap kakek tua renta itu,”

Rupanya cerita itu tidak sekedar dikonsumsi oleh kakakku, pagi harinya saat saya masih tertidur dia menceritakan hal ini pada adik-adikku. Saat kuterbangun adik-adikku sedang mendengarkan cerita kakaku itu. “Ya… udah entar ongkos pulangnya aku pinjemin,” kata adikku yang paling besar.

“Alhamdulillah, belum kuminta pun dia sudah menawarkan diri meminjamkan uang padaku.”

Waktu terus berlalu, matahari sepertinya enggan menyingsingkan diri. Siang itu pun akhirnya emakku mengetahui kejadian yang kualami kemarin sore. Ahhh padahal maksudku cerita pada kakakku saja, tapi ternyata sampai juga ke emak. “Makanya kalo mau pergi-pergi itu siapin dulu uang kecil buat ongkos jangan selalu mendadak bawa uang gede… tidak semua angkot sudah dapat uang banyak… kan kasihan kalo bayarnya kurang. Lagian kamu ikhlasin aja uang itu, itung-itung infak kamu,” katanya padaku yang cuma mesam-mesem mendengar nasehatnya itu.

Sore itupun saya berpamitan pulang kembali ke Jakarta dengan menumpangi Cirex kembali, tentunya saya hanya akan mengambil kelas bisnis saja untuk penghematan. Dan sesampainya di stasiun kereta Cirex yang menyediakan kelas bisnis pun baru akan bertolak ke Jakarta pukul 18.00. Sesampainya di Jakarta kejadian ini belum kuceritakan pada istriku.

3 thoughts on “Kakek

  1. “…..siapa tahu itu malaikat yang sedang menyamar atau jangan-jangan nabi khidir?” hiburnya.

    Menarik sekali ceritanya, sampai Nabi Khidir ikut dalam tokoh di dalam cerita ini… muga-muga bae kang Hayat.
    Oh ya cerita berikutnya, bagaimana reaksi sang primadona di rumah, kan belum di ceritakan…🙂

  2. Biasanya, rejeki memang begitu kang, kita seringkali menjadi kali bukan balong. Kali hanyalah penyalur suplay biar air mengalir lancar sedangkan balong adalah tempat di mana air menggenang di situ. Tapi jangan lupa, kali yang terus2an dibersihkan akan mengalir arus yang disamping lancar juga banyak manfaatnya. Sebaliknya, coba2 membendugn aliran air, apa yang terjadi pasti si air kan tumpah kemana, irigasi jadi rusak dan pendudk sekitar kali akan tenggelam… jadi biarkan saja jangan dibendung aliran air itu.. heheh🙂

    nice posting kang, enak dibaca dan perlu…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s