Maukah Kau Menikah Denganku? [bagian 2]

Pada bagian pertama dikisahkan akhirnya pemuda itu berhasil mendapatkan restu dari lelaki tua yang terbaring sejak 15 tahun silam lamanya. Dan ternyata usai memberikan restunya, lelaki tua beruban itu menghembuskan nafas terakhir dihadapan istri dan sang pemuda yang hendak meminang istrinya sendiri. Perempuan cantik bernama lengkap Indah Larasati itu pun mengucap syukur ‘Alhamdulillah’ tentu saja hal ini membuat pemuda itu kaget. Apa yang terjadi sepeninggalnya lelaki tua berusia 80 tahun itu? ikuti kisah selanjutnya…..

****

“Kenapa kau berucap alhamdulillah.. bukannya innalillahi wainnailahi rajiuun?” sergahku.

“Memang ucap syukur harus disaat kita menerima kebaikan, rezeki dan suasana enak saja?” timpalnya balik bertanya membuatku tambah tak mengerti.

Kenapa aku berucap syukur alhamdulillah, karena suamiku yang tua renta dan tak berdaya terus terbaring di pembaringan akhirnya meninggal dengan tenang tanpa beban. Karena kini paling tidak dengan adanya dirimu yang memang bermaksud meminangku akan bisa menjaga diriku. Selain itu, lelaki tua yang kini terbujur kaku telah memberi restu padamu untuk menjadi calon suamiku. Karena suatu malam dalam sebuah percakapan dengannya, lelaki tua itu memintaku untuk mencari pemuda yang sebaya denganku untuk jadi penggantinya. Semua itu dengan syarat, lelaki yang bakal meminangku harus meminta izin padanya dan menemuinya sendiri di kamar dimana dia terbujur sekarang. Sejak saat itu, akupun sering pergi ke pengajian atau pertemuan-pertemuan warga. Paling tidak dengan kehadiranku disana ada pemuda yang tertarik denganku. Tentu saja semua itu kulakukan tidak di desa ini melainkan di beberapa desa yang ada di seberang sana. Walaupun hidup terkungkung dan tiap hari hanya mengurusi seonggok tubuh lelaki tua yang terbaring di tempat tidur, akupun tak pernah ketinggalan dengan gaya hidup masa kini. Tak heran jika sebelumnya aku mengatakan padamu bahwa selama ini telah ada tujuh lelaki yang datang mencoba meminangku. Dari semua pemuda yang datang ke rumah untuk melamarku kebanyakan dari desa seberang. Mereka mengaku terpesona dengan penampilanku, namun mereka pun tidak tahu kehidupanku sebenarnya. Tak heran pula dari ketujuh pemuda yang mencoba melamarku itu akhirnya mundur setelah mengetahui kalau diriku ini telah bersuami. Bahkan ada diantara mereka yang menuduhku sebagai perempuan murahan yang sekedar mencari uang demi kelangsungan hidup suaminya yang tergeletak di tempat tidur. Dari ketujuh lelaki yang mencoba meminangku itu pun tak jarang berasal dari keluarga terpandang. Hal ini terlihat dari penampilan mereka dan cara mereka menghadapiku. Tak ada satu pun dari ketujuh lelaki itu berhasil mendapatkan restu darinya. Karena belum juga mereka masuk ke kamar dimana suamiku berbaring, suamiku itu tidak mau ditemui. Alasannya dia telah mengetahui prasangka buruk yang ada di dalam hatinya terhadap dirinya maupun diriku ini. Lain halnya dengan kamu yang kini telah mendapatkan restu darinya. Aku pun tak tahu sebabnya. Itulah kenapa ucap syukur alhamdulillah yang kupanjatkan dengan kejadian ini.

***

Awan merah masih menyungkup diufuk barat. Kawanan burung bangau terbang rendah diatas hamparan tambak udang di seberang jalan sana. Sementara lelaki tua masih terbujur kaku di pembaringannya. Aku pun tak tahu apa yang harus kulakukan terhadapnya. Maklum pengetahuan tentang agamaku hanya seujung mata pencil. Sekedar bisa mengaji dan sholat serta kewajiban pribadi sebagai muslim. Sedang urusan kifayah seperti mengurus jenazah sama sekali tak pernah ku praktekkan, walau dulu saat mengaji pada Kyai Dullah pernah kuperoleh ilmu itu. Apa daya akhirnya kuutarakan hal ini pada perempuan yang masih duduk disamping jenazah suaminya yang tua bangka itu. “Aku tak tahu apa yang harus kita perbuat sekarang?”

“Aku pun bingung, harus bagaimana karena aku sekarang lebih takut dibanding dia masih hidup”

“Lho, kenapa? Terus kita harus bagaimana?”

“Ya karena saat ini kita selain harus mengurus jenazah suamiku, kita pun harus siap menghadapi segala sesuatu yang bakal ada dihadapan kita,” jawabnya.

Ah, jawaban itu tidak lantas aku mengerti apa yang bakal terjadi setelah ini. Yang jelas sekarang aku harus mengurus jenazah lelaki tua itu hingga pemakaman. Tapi kepada siapa aku harus minta tolong, kalau memang semua penduduk desa ini sangat membenci perempuan cantik dan lelaki tua yang sudah meninggal ini.

“Jangan harap ada yang membantu kita saat ini, bisa jadi malah celaka kita,” suara perempuan berparas manis itu membuyarkan lamunanku.

“Hahhhh, lalu siapa yang akan membantu kita menyelesaikan masalah ini?” tanyaku penasaran.

“Yang pasti gusti Allah tetap ada, dan dua lelaki tua yang selalu melintas rumah ini disaat diriku menghadapi masalah selama 15 tahun,” jawabnya.

“Dua orang lelaki tua yang selalu melintas rumah ini? siapa dia dan dimana?” sergahnya lebih penasaran menambah berkerutnya dahi ini.

“Mau tahu?”

“Ya, jelas lah,”

“Biasanya dia akan hadir dari ujung jalan sana dan seorang lagi muncul dari belakang rumah ini,”

Gelap sepertinya telah merata menyelimuti desa. Jam dinding besar lawas yang teronggok di sudut ruangan berdentang delapan kali. Saat itu, sejak suamiku jatuh sakit dan tak pernah bisa bangkit dari tempat tidurnya terjadi sebuah pertengkaran hebat antara lelaki tua yang kini menjadi suamiku itu dengan tiga perempuan dari tiga istri sebelumnya. Masing-masing istrinya dulu mempunyai satu anak perempuan. Kini mereka sebaya denganku. Mereka bertiga datang dan mengancamku jika kelak lelaki tua ini mati maka seluruh harta kekayaan yang dimilikinya akan menjadi milik mereka bertiga. Karena alasan mereka sesuai dengan adat kebiasaan desa ini yang berhak memiliki warisan adalah seorang istri yang telah memiliki anak. Sementara diriku hingga kini belum memiliki seorang anak. Jangankan untuk memiliki anak, hingga saat ini pun aku masih boleh dibilang perawan secara biologis. Karena suamiku yang saat menikahiku berusia 65 tahun itu sejak kejadian malam pertama itu hingga kini dia belum pernah bersenggama denganku. Ketika seorang dari tiga orang perempuan itu mengancam dengan mengayunkan sebilah pisau tiba-tiba lelaki tua berjenggot panjang muncul melindungiku. Aku pun luput dari serangan mematikan itu. Sementara suamiku yang terbaring lemas di tempat tidur tak bisa berbuat banyak. Akhirnya ketiga perempuan itu pun berlalu sambil nyerocos kata-kata kotor bahkan nama-nama penghuni kebun binatang pun meluncur deras dari mulut ketiga perempuan itu. Aku hanya bisa terdiam, menahan air mata jangan sampai tumpah ruah di pipi, Karena aku tak ingin semua ini menambah kesedihan suamiku yang untuk meronta pun tak bisa, hanya mengelus dadanya saja.

Sehari setelah kejadian itu, giliran tiga perempuan paroh baya yang kuketahui mereka adalah istri-istri yang telah diceraikan oleh suamiku yang tak lain ibu-ibu dari ketiga perempuan sebaya yang memakiku kemarin malam itu datang menemuiku yang tengah mencuci pakaian di sumur belakang rumah. Tak banyak yang mereka sampaikan. Ketiga perempuan paroh baya itu hanya menyerahkan tiga pucuk surat sambil memperlihatkan muka masamnya. Mereka pun berpesan untuk membacanya nanti malam. Hal ini membuatku penasaran. Pesan mereka akhirnya tak kugubris. Kutinggalkan rendaman cucian menuju ke kamar menghampiri suamiku yang masih tertidur pulas setelah kusuapi tapi pagi dan segera membuka satu persatu surat yang baru saja kuterima.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s