Maukah Kau Menikah Denganku? [bagian 3]

Pada bagian sebelumnya dikisahkan perempuan jelita itu tengah bercerita kepada lelaki tampan yang hendak meminang dirinya bahwa sehari setelah didatangi tiga anak perempuan dari lelaki tua, perempuan yang biasa dipanggil dengan Indah itu kembali didatangi orang-orang yang bersangkutan dengan lelaki tua –yang kini sudah menjadi mayat. Kali ini dia didatangi tiga orang mantan istri lelaki tua saat dirinya tengah mencuci pakaian di belakang rumah.Kedatangan ketiga mantan istri lelaki tua itu untuk menyampaikan surat dari masing-masing. Apa isinya?? mari ikuti kelanjutan kisah ini…

Dengan perasaan tak menentu kubuka satu per satu surat dari mereka. Kupilih surat dari istri termuda terlebih dulu untuk dibaca. Sementara lelaki tua itu masih tertidur pulas. Isi surat itu berbunyi: Saya, Nena, istri ketiga dari lelaki tua yang kini menjadi suamimu itu dengan ini sesuai perjanjian dulu bahwa tambah udang seluas 10 hektar yang ada di ujung desa menjadi milik saya, begitu juga dengan pabrik pengolahan yang ada di dekat rumah ibuku itupun milik saya. Selain itu, rumah yang lima tahun lalu dibangun bersama suamimu itu kini telah saya balik nama atas namaku. Hal ini saya sampaikan supaya kamu mengetahui dan kelak dikemudian hari tidak menggugatku.

Ahh cuma ini toh isi suratnya. Lalu buru-buru kusambar amplop yang agak lusuh milik mantan istri kedua yang bernama Rona. Isinya sama, apa yang disebutkan Nena, bahwa 10 hektar tambak udang dan pabrik pengolahan itu miliknya. Begitu juga rumah yang ditempatinya kini telah dibaliknamakan atasnama dirinya. Lalu surat berikutnya dari istri tertua, Birna tanpa amplop hanya dilipat saja. Isinya pun sama persis, ia pun mengakui kalau rumah yang dibangun dulu dan kini ditempatinya adalah miliknya.

Sejenak kuberfikir bahkan dahi pun berkerut sekedar mengingat harta-harta terakhir yang memang dulu dimiliki lelaki tua itu sebelum diberikan pada orangtuaku sebagai maskawin dan akhirnya menikahiku. Anehnya dulu maskawin yang diberikan padaku itupun akhirnya dijual tanpa sisa untuk menghidupiku selama ini. Kini yang tersisa hanya rumah tua ini dan 10 hektar tambah udang dan pabrik pengolahan udang yang kini diakui oleh ketiga mantan istrinya itu.

Huk…huk…huk…

Sepertinya, suamiku terbangun. Dan benar matanya pun mencoba menerawang mencari sosok keberadaanku yang masih terpaku diambang jendela. Kuhampiri lelaki tua itu, seperti biasa diapun hanya tersenyum tanpa mengucap sesuatu apa-apa sejak kejadian itu. Akupun tak berani mengutarakan semua ini. Tiba-tiba pintu diketok tiga kali. Aku pun bergegas menuju ruang depan. Namun tak kutemui seorang pun. Ketukan pun kembali terdengan. Rupanya sumber suara itu berasal dari pintu belakang. Di ambang pintu telah berdiri sosok lelaki tua yang tak kukenal sebelumnya. Dia pun tersenyum dan menyodorkan sebuah map. Entah apa isinya. Setelah kuterima, lelaki tua berbaju putih itu pun pamin pergi, sekelebat sosok tubuhnya tak terlihat lagi ditelan rumpunan pohon bambu kuning.

Betapa terkejutnya diri ini saat membuka map pemberian lelaki tua berbaju putih yang baru saja hilang dari pandanganku itu. Di dalamnya terdapat beberapa sertifikat kepemilikan atas lahan tambak seluas 10 hektar dan pabrik pengolahan atas nama empat orang termasuk namaku. Padahal selama ini aku tak pernah melakukan balik nama atas lahan tambak dan pabrik pengolahan tersebut. Tak terkecuali dengan rumah yang kini kutempati bersama lelaki tua itu telah disertifikat atasnamaku. “Masya Allah, pertanda apakah ini,” hatiku membatin.

Semua itu tak diketahui oleh suamiku yang terbaring di tempat tidurnya itu. Begitu juga dengan ketiga mantan istrinya itu, tak pernah mempermasalahkan hal ini, karena memang hal ini kusembunyikan. Apa mungkin mereka pun sebenarnya memegang masing-masing sertifikat, atau jangan-jangan sertifikat yang mereka buat itu yang ada pada diriku ini. Hingga akhirnya kini, suamiku yang lelaki tua itu telah meninggal. Ah.. apa yang harus aku perbuat. Berterus terang kepada para mantan istrinya atau diam seribu bahasa.

****

Gelap semakin pekat. Bulan pun sepertinya tak mampu menerangi alam. Kucoba memberanikan diri mendekati mayat lelaki tua yang telah terbujur kaku. Kubopong dia dari kasur lalu kurebahkan di balai bambu yang telah disiapkan oleh perempuan jelita itu. Dengan keterbatasan pengetahuan tentang memperlakukan mayat, akhirnya kubersihkan mayat itu. Dengan berpanduan pada buku cara mengurusi jenazah akhirnya aku berhasil memandikan, membersihkan dan mengkafani mayat lelaki tua itu dan meletakkannya di ruang tengah. Tanpa keranda, kubaringkan mayat yang telah terbungkus kain kafan itu. Tak terasa jarum jam menunjukan pukul 02.00 dini hari, namun tak sedikitpun kantuk menghinggapi mataku.

Lalu aku pun berfikir bagaimana menghadapi masyarakat nanti. Sementara di rumah ini hanya ada aku dan perempuan muda itu. Bagaimana kalau masyarakat menuduhku telah berbuat yang bukan-bukan. Terus bagaimana dirinya yang memang selama ini sepertinya diasingkan oleh masyarakat. Terlebih lagi, setelah mendengar ceritanya tadi bahwa ketiga mantan istri lelaki tua yang kini telah terbungkus kain kafan itu mengetahui kalau dia pun memiliki sertifikat itu. Atau jangan-jangan sertifikat yang ada ditangannya itu adalah miliki mereka. “Ya, Allah gimana ini,”

“Ah.. apapun yang terjadi besok pagi aku harus menemui kepala desa dan menceritakan semua yang terjadi. Mudah-mudahan kepala desa mau mengerti dan tidak curiga dengan diriku,” pikirku.

Baru saja mata ini terlelap, kumandang adzan shubuh terdengar. Akhirnya kubatalkan niat tidurku. Di sudut ruangan, perempuan jelita itu masih merunduk sujud dalam sajadah pannjangnya. Ah, tertidurkah dia. Atau memang sedang bersujud. Kulangkahkan kakiku menuju sumur yang ada di belakang rumah. Usai bersih diri dan mengambil wudlu bergegas kutunaikan kewajiban diawal pagi ini. Awan merah pun mulai menyeruak diufuk timur. Seketika berubah menjadi sinar putih yang menyilaukan. Rupanya matahari pagi ini lebih awal muncul, seiiring dengan kemunculan sosok dua orang lelaki tua berbaju gamis warna putih dan memakai sorban sebagai penutup kepalanya di ujung jalan itu yang sepertinya menuju kemari.

“Indah, kemari sebentar, sepertinya kita akan kedatangan tamu istimewa yang selalu kau ceritakan itu,” kataku buru-buru pada Indah yang masih mengenakan mukena dan telungkup sujud.

“Hah… bener mas. Alhamdulillah, kalau memang orang itu kemari, maka kita bisa minta tolong padanya,” ujarnya berharap cemas.

Namun betapa kecewanya, kedua orang lelaki tua bersorban itu sepertinya tidak jadi menuju ke rumah tua yang terdapat mayat seorang lelaki tua yang selama lima belas tahun terbaring lemas di tempat tidur. “Ya, ampun merek berbelok, terus bagaimana ini? sebaiknya kamu harus pergi ke rumah kepala desa untuk menceritakan semua ini dan mencari pertolongan padanya untuk segera dilakukan penguburan pada mayat ini,” sarannya.

Akhirnya ku bulatkan tekad untuk menuju rumah kepala desa yang terletak di belakang kantor kepala desa di blok desa itu. Menurut Indah, cukup dengan berjalan selama 10 menit aku akan sampai di rumahnya. Namun belum kulangkahkan kaki ini, tiba-tiba segerombolan massa terdiri dari lelaki, perempuan, tua, muda dan anak-anak berhamburan dari setiap gang yang ada dan sepertinya menuju kemari. “Masya Allah, bakalan ada apa ini?” batinku.

Seketika itu pula, massa telah berkerumun di halaman rumah dengan mengacung-ngacungkan potongan kayu balok, golok hingga ada yang membawa keris. Suasana itu membuat Indah ketakutan setengah mati. Pintu pun ditutup rapat-rapat. Sementara dari luar rumah terdengar berbagai caci-maki, serta kata-kata tak layak diucapkan pun terdengar dengan jelas dari mulut kerumunan massa itu. Tak hanya itu, pintu pun digedor-gedor, bahkan jendela samping rumah pun ikut digedornya. Sekelebat, mataku menangkap sosok lelaki tua berbaju gamis putih mengenakan sorban sebagai penutup kepala ada di tengah-tengah kerumunan itu. “Hah, orang itu? Diakah provokatornya?, tapi kemana yang satunya ya.”

Ditengah ketakutan dan kepanikan membuat diriku tak bisa berfikir jernih. Tiba-tiba jantungku berdetak kencang. Ahh alamat fisikku tidak kuat menghadapi semua ini. Benar saja, pandangan mata pun kian gelap serasa tubuhku pun ringan melayang dan akhirnya perasaan dibawah alam sadar pun kurasakan. Sejak saat itu, suara-suara manusia yang diluputi amarah dan nafsu itupun sama sekali tak terdengar.

Advertisements

One thought on “Maukah Kau Menikah Denganku? [bagian 3]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s