Maukah Kau Menikah Denganku? [bagian 4]

Pada bagian sebelumnya, diceritakan pemuda itu akhirnya jatuh pingsan tak sadarkan diri disaat massa bergerombol di depan rumah lelaki tua yang sudah terbungkus kain kafan. Namun sebelum dia jatuh pingsan, kedua bola matanya menangkap sosok lelaki tua yang dimaksud Indah sebagai sang penolong itu berada ditengah-tengah kerumunan massa. Lalu apa yang terjadi pada Indah dan jenazah lelaki tua di saat pemuda itu pingsan. Mari kita ikuti kisah selanjutnya. Namun sebelumnya mohon maaf jika kelanjutan cerita ini agak lama ditulis… karena sesuatu hal, terimakasih atas kesabarannya. *halah ini mah ga penting gitu loch*

Dari tengah kerumunan massa itu, muncul sosok lelaki tua bergamis putih dan sorban yang dijadikan penutup kepalanya. Sementara, Indah, perempuan jelita masih terdiam dan terlihat begitu ketakutan dengan suasana yang mencekam itu, apalagi diketahui pemuda yang hendak menikahinya pun jatuh pingsan. Tiba-tiba terdengar suara lantang diantara kerumunan massa itu, yang tak lain suara lelaki tua bergamis tadi. “Saudara-saudara, kami mohon maaf, kami mohon minta pengertiannya bahwa keluarga ini sedang berduka, baru saja ditinggalkan suaminya, untuk itu mohon pengertiannya saudara membubarkan diri,” pintanya.

“Hai, Pak Tua, jangan sok kamu, kedatangan kami disini sebenarnya mau memastikan, karena apa mantan suamiku itu meninggal? Jangan-jangan dibunuh ama istrinya itu yang katanya mau kawin lagi,” rupanya suara itu meluncur dari mulut Birna, mantan istri tertua lelaki yang kini terbungkus kain kafan.

Kontan saja, massa yang bergerombol pun mendukungnya. Dan tanpa dikomandoi olehnya, mereka berhamburan masuk ke rumah sesaat setelah Indah muncul dari balik pintu. Suasana semakin tegang, saling dorong untuk berebut masuk. Memang selama ini rumah tua itu begitu asing bagi masyarakat desa sekitar sejak kejadian 15 tahun silam. Orang-orang yang penasaran terus merangsek ke dalam rumah yang masih terawat apik itu. Mereka pun langsung menyemut di balai dimana jenasah lelaki tua itu diperlihatkan untuk terakhir kalinya. Tiba-tiba muncul lelaki tua berjubah hitam dari arah dapur. Sepertinya dia melangkah begitu tergesa-gesa. Entah kenapa, orang-orang yang menyemut itu lalu satu per satu menepi tak ada lagi yang berani mengerumuni jenazah itu.

“Saudara-saudara, Pak Darmo telah meninggal kemarin sore, kami telah memperlakukannya sebagaimana semestinya terhadap mayat. Untuk itu mohon keikhlasannya kepada saudara-saudara untuk ikut menyolati bersamaku,” pinta lelaki tua berjubah hitam.

“Benar sekali, suami dari ibu Indah ini meninggal kemarin sore, saat kami bertamu untuk menjenguk beliau. Dan rupanya di rumah ini ada tamu dan entah kenapa tamu itu sekarang jatuh pingsan,” tambah lelaki tua yang bergamis putih menimpali.

“Sepertinya, dia ketakutan dengan kedatangan kalian yang begitu banyaknya, sementara kami saat itu ada di belakang rumah,” imbuhnya.

Usai menyolati jenazah, kerumunan massa pun akhirnya mengikuti perintah kedua lelaki tua untuk segera menguburkan jenazah yang telah dimasukan ke keranda. Siang itu, terik menyengat kepala. Namun, rombongan pengantar jenazah lelaki tua itu terus mengekor hingga ujung jalan desa. Setelah dikubur, pentakziyah pun tidak lantas pulang namun kembali ke rumah almarhum. Konon semua ini karena permintaan kedua lelaki tua itu. Sungguh aneh memang massa sebanyak itu kok mau menuruti segala perkataan kedua lelaki tua itu. Tak satu pun yang berani membangkangnya. Indah yang sejak proses pemakaman hanya bisa diam semakin tidak mengerti, kenapa kedua lelaki itu bisa mengendalikan massa yang begitu banyaknya. Padahal selama ini, baik pak lurah, pak camat maupun pak bupati selalu gagal mengendalikan warganya sendiri dalam segala hal. “Aneh memang,” guman Indah.

****

Terik matahari masih membakar desa itu. Rupanya orang-orang desa pun lebih memilih bercengkrama di rumah masing-masing sembari membicarakan keluarga Pak Darmo yang baru saja meninggal. Sementara di rumah almarhum lelaki tua, kedua orang lelaki tua itu masih duduk disamping pemuda yang masih belum siuman. Begitu pula dengan perempuan jelita, sepertinya kini dia mulai dirundung sedih. Hal ini tampak dari raut wajahnya yang sendu. Jemarinya pun sesekali menyeka air mata yang diam-diam menetes di pipinya. “Ya Allah, lindungilah dia, kembalikanlah dia seperti semula,” munajatnya untuk sang pemuda yang masih terbaring dihadapannya.

Dentang jam tua yang teronggok di sudut ruangan berbunyi empat kali. Dua orang lelaki tua dan perempuan berparas cantik itu belum beranjak. Tiba-tiba kepala pemuda menggeleng-geleng ke kiri lalu ke kanan, sepertinya dia mengigau. “Jangan, jangan, jangan,”

Melihat kondisi itu, dua lelaki tua itupun melakukan sesuatu dengan cara memercikan air ke muka pemuda itu. Kontan saja sang pemuda tersadar. Sembulan senyum bahagia pun nampak dari bibir perempuan cantik yang sedari tadi bermuram muka. Tanpa basa-basi terlebih dulu, dua lelaki itu pun langsung memapah pemuda untuk duduk di balai bekas dimana jenasah lelaki tua itu dibaringkan. Seperti kerbau dicongok hidungnya, pemuda itu pun menuruti apa yang diperintahkan dua lelaki tua tadi. Kemudian salah satu dari lelaki tua itu pun menghampiri Indah dan mengajaknya untuk berkumpul bersama di balai itu. Tanpa disangka, lelaki tua itu meminta Indah untuk segera menikah dengan pemuda itu. Karena menurutnya kalau tidak dilakukan sebelum malam tiba, alamat buruk akan menimpa keduanya. Sebelum menikahkan pasangan itu, dua lelaki tua yang masih misterius itu memberikan sejumput tanah yang konon diambil dari belakang rumah. “Untuk apa ini, mbah?” tanya Indah.

“Bukan untuk apa-apa kok, saya cuma mau mengingatkan, bahwa semua manusia itu bakal kembali ke tanah, untuk itu kamu tidak usah tinggal di rumah ini dan lebih baik kamu pergi ke rumah suamimu itu sebelum malam tiba. Mari sekarang kami nikahkah kalian,” ujarnya.

Akhirnya keduanya manut saja apa yang dikatakan kedua lelaki tua misterius itu. Mereka pun resmi menjadi pasangan suami istri dihadapan kedua lelaki tua itu. Sejumput bahagia sepertinya telah mereka raih setelah bersitegang dengan kondisi selama seharian sebelumnya. Ketika kedua lelaki tua hendak pamit, tiba-tiba massa kembali sudah bergerombol di depan rumah tua itu. “Ah, alamat apa lagi ini, mbah?” tanya pemuda itu penasaran, bahkan saking takutnya pemuda itupun jatuh pingsan lagi.

Dan saat hari gelap, karena pemuda itu belum siuman, Indah yang kini jadi istri dari pemuda yang bernama lengkap Mukhlis itu pun menungguinya. Sadar akan pesan dua lelalki tua yang baru saja menenangkan warga sekitar dengan menjelaskan bahwa mereka ini telah menikah dengan sah dihadapan keduanya, Indah pun berfikiran harus meninggalkan desanya itu. Namun apa daya, suaminya yang baru saja menikahinya beberapa jam belum sadarkan diri. Sementara dua lelaki yang telah berhasil membubarkan warga pergi entah kemana.

Tanpa terasa, jarum jam menunjukan angka duabelas, pemuda itu sadarkan diri, namun apa daya seluruh anggota badannya itu tak bisa digerakkan. Dan saat istrinya terbangun, alangkah kagetnya melihat kondisi suaminya itu.

****

Kepada istrinya, dia bercerita bahwa selama dirinya tak sadarkan diri itu sebenarnya sudah merasakan enaknya berhubungan badan dengan seorang wanita yang pernah bersuami, namun selam 15 tahun itu pula dia tak dijamahnya. Menurut pengakuannya dia pun melewati masa-masa itu bersama Indah selama 15 tahun lamanya sewaktu tak sadarkan diri. Bahkan dalam mati surinya itu pun dirinya telah mendapatkan apa yang diinginkannya selama ini. Dan ia pun memastikan kalau ketiga mantan istri dari almarhum lelaki tua itu tidak bakalan menggugat lagi apa yang sekarang menjadi miliknya, termasuk map yang berisi sejumlah sertifikat yang diberikan oleh lelaki tua yang muncul dari belakang rumah kepada Indah sebelum diperistri olehnya.

****

Sekali lagi dalam kehidupan Indah akhirnya dia harus menghadapi dan menjadi istri dari seorang suami yang tanpa daya kekuatan apa-apa, kecuali bicara. Ya, suami barunya itu pun harus berbaring di tempat tidur itu tanpa bisa menggerakkan tangan dan kakinya. Namun dia bingung, kenapa suaminya itu mengaku sudah merasakan nikmatnya berhubungan badan dengannya, walau sebenarnya hal itu sama sekali belum pernah dilakukannya. Untuk kedua kalinya Indah berumah tangga dan melewati sesuatu kondisi yang sama dari sebelumnya.

Pintu depan sepertinya ada yang mengetuk. Indah pun segera menghampiri sumber suara itu. Di ambang pintu berdiri tiga perempuan paroh baya dan tiga gadis seusianya yang sangat dikenalnya. Ya merekalah mantan istri dan anak-anak dari almarhum suaminya yang terdahulu. “Ada apa lagi kalian kesini, Saya sudah tidak kuat lagi dengan kondisi ini, apakah kalian mau menambahkan pendiritaan ini?”

“Maaf, sebelumnya kalau mungkin ini membuat kamu marah, namun sejujurnya kami kesini hanya ingin meminta maaf atas segala yang menimpa dirimu. Ketahuilah bahwa suamimu yang sekarang ini sebenarnya pernah melamar anak-anak kami, namun kami tolak, karena dia berasal dari orang miskin, tapi kamu menerimanya, dimana dia?”

“Maaf, sepertinya kalian tidak usah menemuinya, karena dia sedang istirahat,” pintanya.

“Kami mohon dengan sangat, karena ini ada kaitannya dengan kelumpuhan yang dideritanya?”

“Hahh, kalian?”

“Ya, kami mengetahui kondisi suamimu, karena kamilah yang membuatnya demikian?”

“Hahh, masya Allah…” Indah pun makin terperanjat dengan berita ini.

“Untuk itu, kami kesini ingin memulihkan kondisi tubuhnya yang lemas itu, namun dengan syarat yang sangat berat,?

“Apa itu, demi kesembuhan suamiku, apapun akan ku lakukan?”

“Baiklah, syaratnya, dia harus menikahi ketiga gadis ini.”

“Apa?”

Tak kuasa mendengar semua itu, Indah pun jatuh pingsan. Ya, kini giliran Indah, perempuan cantik yang pernah bersuamikan lelaki tua itu jatuh pingsan tak sadarkan diri. Dan ketiga perempuan dan ketiga anaknya itu membopong pemuda tampan yang terbujur lemas dan membawanya ke rumahnya. Sementara Indah yang masih tak sadarkan diri itu ditinggalkan begitu saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s