Maukah Kau Menikah Denganku?

“Maukah kau menikah denganku?”

Dia hanya terdiam, bahkan mulai merundukan kepalanya. Lama tak kudengar jawaban darinya, kuutarakan kembali. “Wahai gadis yang manis, bersediakah kau menikah denganku?”

Kini ia berani memperlihatkan wajahnya di hadapanku. Senyuman manis pun mengembang di bibir tanpa polesan lipstik itu. “Baiklah, tapi ada syaratnya jika kau mau menikahiku”

“Apa itu syaratnya”

“Apapun syaratnya akan kupenuhi sesuai kemampuanku,”

“Bener????” timpalnya begitu sumringah.

“Kau harus meminta izin dulu kepada seseorang yang ada rumah ini”

“Siapa? Mana?”

“Itu dia lelaki tua berambut putih berbaju koko,” kata perempuan berparas jelita itu sambil menunjuk ke arah ruangan serba putih, dimana di ruangan itu terdapat sosok lelaki tua tengah terbaring dengan tenang.

“Siapa dia?” tanyaku penasaran.

“Dialah suamiku, yang menikahiku 15 tahun silam sewaktu usiaku 12 tahun,” ujarnya lirih.

“Hahhhhhh”

Betapa kagetnya diriku. Mulailah syarafku berkecamuk, menerjang seakan-akan hendak meluncurkan berbagai pertanyaan padanya. Namun belum sempat bertanya macam-macam perempuan berbulu mata yang lentik itu pun bicara kembali.

“Ya, dialah suamiku yang sudah 14 tahun, 11 bulan 27 hari lamanya terbaring di tempat tidur itu. Tepatnya setahun usia perkawinan kami, dia menderita lumpuh total. Kini dia pun tak bisa berucap sepatah kata pun,” tutur perempuan yang kini genap usianya 27 tahun sambil tak henti-hentinya mengusap air mata dengan kerudungnya.

*****

Waktu itu memang orangtuaku berhutang padanya, saking banyaknya utang, orangtuaku rela menyerahkan diriku sebagai penebus dari utang-utangnya. Padahal waktu itu diriku masih berumur 11 tahun. Akhirnya sesuai kesepakatan, jika masa haidku datang, maka lelaki itu boleh menikahiku dan utang-utang orangtuaku pun lunas dengan sendirinya. Aku tak bisa berbuat banyak, hanya pasrah demi kedua orangtuaku yang telah 11 tahun memelihara dan membesarkanku. Dan waktu pun tiba saat diriku menginjak usia 12 tahun. Lelaki tua itu pun datang kerumah untuk menikahiku dengan maskawin sebuah rumah, sepuluh ekor kerbau, empat hektar tambak udang dan perhiasan emas 80 gram. Pesta pun digelar begitu meriah selama tiga hari tiga malam. Para penduduk desa semuanya datang memberi ucapan selamat dan sekaligus makan hidangan yang lezat dengan gratis tentunya serta menonton hiburan layar tancap dan ketoprak tiap malam selama tiga hari perayaan itu. Namun sejak berakhirnya pesta itu semua penduduk desa tak pernah menampakkan wajah manisnya bahkan senyum kecil sekalipun. Padahal selama tiga hari sebelumnya mereka sepertinya royal menebar senyum menyapa dan berucap selamat atas perkawinanku.

Rupanya dihati mereka memendam rasa kebencian pada keluargaku. Tak hanya keluargaku, lelaki tua itu pun merasa seakan-akan dijauhi penduduk desa. Padahal sebelumnya penduduk desa mulai dari anak-anak, pemuda hingga orang tua, aparat desa atau sekedar buruh tani menaruh hormat padanya. Semua ini pada akhirnya berujung meninggalnya ayah dan ibuku hanya berselang sehari. Sesudah itu di rumah ini hanya ada diriku dan lelaki tua itu. Dan disaat malam baru saja merangkak gelap menyelimuti desa lelaki tua itu memintaku untuk melayaninya. Namun entah kenapa, baru saja akan memulai hajatnya tiba-tiba dia mengerang kesakitan tanpa sebab. Tubuhnya pun mendadak menggigil dan tumbang di pelukanku. Keanehan bertambah saat ku bangunkan dia, tubuhnya seperti tak bertulang. Lunglai. Dan hingga sore ini genap 15 tahun kurang 3 hari dia terbaring lemas di tempat tidur itu.

Perempuan cantik yang sore itu mengenakan kerudung warna putih mengakhiri ceritanya padaku tentang asal muasal kenapa dia menikah dengan lelaki tua yang menurutnya kini berusia 80 tahun itu.

“Lalu, setelah mendengar semua ceritaku, apakah kau masih berniat menikahiku?”

Kini giliraku yang hanya tertunduk tak berucap sepatah kata pun. Perempuan jelita itupun kembali membuyarkan pikiranku yang tengah berkecamuk tak karuan.

“Wahai pemuda yang tampan, masihkah kau berniat menikahiku?”

“Tapi….aku….”

“Tapi kenapa? Kau ragu setelah mengetahui kehidupanku? Atau jangan-jangan kau mau mundur seperti tujuh lelaki yang datang ke rumah ini dengan tujuan yang sama sepertimu? “

Ucapannya itu membuatku terkejut, sekaligus menambah rasa penasaran diri ini tentang dirinya. “Hahhhh sebelumku ada tujuh lelaki yang datang memintamu menikah dengannya?”

“Ya, semuanya mundur teratur setelah mengetahui diriku ini.”

“Apa kau pun akan mengikuti ketujuh lelaki yang semuanya datang dari kampung seberang,?”

“Masya Allah…. apakah ini ujian yang kau berikan padaku? Berilah petunjukmu ya Rabb,” munajatku.

“Baiklah, boleh saya menemui lelaki tua yang kini masih menjadi suamimu itu?” tanyaku.

“Silahkan, dan jangan sekali-sekali kamu senyum kepadanya,”

“Hahhhh kenapa?”

“Sudahlah ikuti apa kataku, nanti akan aku ceritakan jika kau menjadi suamiku,”

Dengan perasaan tak menentu kulangkahkan kakiku menuju kamar yang pintunya terbuka. Di sana terbaring lelaki tua berambut putih mengenakan baju koko. Hampir aku lupa dengan pesan perempuan berwajah cantik yang masih duduk dimeja makan itu untuk tidak memberikan senyuman pada lelaki tua yang terbaring lemas di hadapanku itu.

“Lha kok dia yang tersenyum padaku, aku harus bagaimana ini, membalas senyuman atau…” gumanku semakin mengaduk-aduk syaraf otakku.

Belum juga kuutarakan maksud dan tujuan menghampiri lelaki tua yang tengah berbaring di ranjang besi itu pun tiba-tiba mengedipkan mata. Mungkin inilah yang disebut bahasa isyarat. Akupun mendekatkan telingaku pada bibirnya yang keriput itu.

“Nikahilah dia dihadapanku,”

Betapa terkejutnya diriku. Jantung ini serasa berhenti berdetak. Namun buru-buru kukulum bibir ini supaya tidak menyembulkan senyuman padanya. Tanpa sepengetahuanku, perempuan bangir itu sudah berada di sampingku.

“Bagaimana apa katanya?” tanyanya.

Dengan kondisi jiwa dan pikiran yang masih tak menentu ini kukatakan bahwa lelaki tua itu memintaku menikahi dirimu dihadapannya. “Dia memintaku menikahimu sekarang juga”

Saat membalikkan badan, kudapati lelaki tua itu sepertinya tidur pulas. Dan ketika kuraba dadanya, begitu pula saat ku tekan nadinya sepertinya tak ada lagi tanda-tanda kehidupan.

“Innalillahi wainna ilaihi raajiuun,” hanya itu yang terucap dari mulutku.

“Alhamdulillah… ” ucap perempuan itu begitu jelas terdengar di telingaku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s