Ketika ‘Laskar Pelangi’ Menyerbu Bioskop

poster ini diamabil dari situs resmi film laskar pelangi

Subhanallah. Dari film ini saya pribadi banyak mendapatkan pencerahan. Betapa tidak, setiap jengkal ceritanya sarat akan makna.

Dan akhirnya film ini tidak begitu jauh dengan semangat novelnya. Meski diakui oleh sang penulis, ada beberapa yang ditambahkan dalam ceritanya. Ya, inilah yang saya dapat ketika preview film yang dinanti-nanti para pecinta film dan khususnya yang telah membaca novel Laskar Pelangi.

Hari pertama pembukaan kelas baru di sekolah SD Muhammadiyah menjadi sangat menegangkan bagi dua guru luar biasa, Muslimah –yang dimainkan secara apik oleh Cut ini– dan Pak Harfan dilakoni oleh Ikranegara, serta 9 murid yang menunggu di sekolah yang terletak di desa Gantong, Belitong. Sebab kalau tidak mencapai 10 orang murid yang mendaftar, sekolah akan ditutup. Setelah lama menunggu hingga akhirnya lepas jam 11.00 siang, muncullah Harun (Jeffri Yanuar). Ya inilah murid istimewa yang menyelamatkan mereka.

Inilah adaptasi sinema dari novel fenomenal Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang mengambil setting di akhir tahun 70-an di kawasan Belitong. Adalah 12 anak asli Belitong dan 12 aktor senior inilah yang membuat film ini lebih hidup dan lebih artikulatif dari novelnya.

Ya betapa tidak, novel yang menggambarkan kalangan pinggiran dalam mendapatkan pendidikan –yang begitu mahal– itu sangat menggugah hati. Hal ini tampak jelas pada perjuangan Lintang (Ferdian) yang harus mengayuh sepedanya berkilo-kilo. Tidak hanya itu ia pun kerap harus ekstra hati-hati menunggu si buaya rawa melewati jalan setapak yang ia lalui saban harinya. Pun dengan kondisi keluarganya yang pada akhirnya, Lintang harus menyerah dengan keadaan setelah ayahnya meninggal dunia. Padahal ia anak yang jenius, bahkan di atas rata-rata.

Perjuangan berat pun tampak jelas pada Pak guru Arfan yang harus terus memompa semangat para anak didiknya, guru Muslimah dalam kelangsungan sekolahnya. Inilah yang membuat haru-biru film ini.

Sisi jenaka yang digambarkan anak-anak pun kerap menghiasi film yang sarat akan makna ini. Betapa tidak ketika, Mahar (Verrys Yamarno) yang sok seniman dengan radionya yang selalu ditentengnya. Pun dengan Ikal (Zulfanny) yang begitu lugu ketika terjerat pesona kuku yang lentik si A Ling (Levina). Atau ketika kekelucuan-kelucuan dari para pemain lainnya.

Pada akhirnya, film produksi Miles Films dan Mizan Productions dengan dukungan penuh dari Pertamina Foundation, Bank Mandiri, Telkom dan Timah ini sangat layak dan harus ditonton bagi mereka yang haus akan inspirasi, motivasi dalam menjalani hakikat hidup.

Dan film ini yang tayang serentak di bioskop, Kamis (25/9) kemarin mampu menyedot animo masyarakat untuk menontonnya. Selamat Menonton dan anda akan banya mendapatkan hikmah dari film besutan Riri Riza ini. Jangan lupa, bolehlah kiranya anda ajak seluruh anggota keluarga. Maaf ini bukan promosi, tapi lebih pada berbagi manfaat sekiranya film itu memang layak ditonton.

“Hidup itu harus memberi sebanyak-banyaknya, janganlah menerima sebanyak-banyaknya.” Pak guru Arfan.

Advertisements

Surat Noura kepada Fahri

Beginilah orang yang dirundung nestapa. Gambaran diri yang digambarkan gadis yang tengah merindukan sosok lelaki. Betapa merananya sang gadis…

Bagi yang pernah membaca novel atau menonton filmnya “Ayat-ayat Cinta” pasti akan mengembalikan ingatannya pada peristiwa itu. Bagaimana sang gadis bernama Noura begitu merindukan lelaki asal Indonesia Fahri. Pun dengan segala caranya untuk bisa mendapatkan dirinya…

Kepada:
Fahri bin Abdillah, seorang mahasiswa
dari Indonesia yang lembut hatinya dan berbudi mulia

Assalamu’alaikum warahmatullah wa barakatuh.
Kepadamu kukirimkan salam terindah, salam sejahtera para penghuni surga. Salam yang harumnya melebihi kesturi, sejuknya melebihi embun pagi. Salam hangat sehangat sinar mentari waktu dhuha. Salam suci sesuci air telaga Kautsar yang jika direguk akan menghilangkan dahaga selama-lamanya. Salam penghormatan, kasih dan cinta yang tiada pernah pudar dan berubah dalam segala musim dan peristiwa.

Wahai orang yang lembut hatinya,
Entah dari mana aku mulai dan menyusun kata-kata untuk mengungkapkan segala sedu sedan dan perasaan yang ada di dalam dada. Saat kau baca suratku ini anggaplah aku ada dihadapanmu dan menangis sambil mencium telapak kakimu karena rasa terima kasihku padamu yang tiada taranya.

Wahai orang yang lembut hatinya,
Sejak aku kehilangan rasa aman dan kasih sayang serta merasa sendirian tiada memiliki siapa-siapa kecuali Allah di dalam dada, kaulah orang yang pertama datang memberikan rasa simpatimu dan kasih sayangmu. Aku tahu kau telah menitikkan air mata untukku ketika orang-orang tidak menitikkan air mata untukku.

Wahai orang yang lembut hatinya,
Ketika orang-orang di sekitarku nyaris hilang kepekaan mereka dan masa bodoh dengan apa yang menimpa pada diriku karena mereka diselimuti rasa bosan dan jengkel atas kejadian yang sering berulang menimpa diriku, kau tidak hilang rasa pedulimu. Aku tidak memintamu untuk mengakui hal itu. Karena orang ikhlas tidak akan pernah mau mengingat kebajikan yang telah dilakukannya. Aku hanya ingin mengungkapkan apa yang saat ini kudera dalam relung jiwa.

Wahai orang yang lembut hatinya,
Malam itu aku mengira aku akan jadi gelandangan dan tidak memiliki siapa-siapa. Aku nyaris putus asa. Aku nyaris mau mengetuk pintu neraka dan menjual segala kehormatan diriku karena aku tiada kuat lagi menahan derita. Ketika setan nyaris membalik keteguhan imanku, datanglah Maria menghibur dengan segala kelembutan hatinya. Ia datang bagaikan malaikat Jibril menurunkan hujan pada ladang-ladang yang sedang sekarat menanti kematian. Di kamar Maria aku terharu akan ketulusan hatinya dan keberaniannya. Aku ingin mencium telapak kakinya atas elusan lembut tangannya pada punggungku yang sakit tiada tara. Namun apa yang terjadi Fahri?

Maria malah menangis dan memelukku erat-erat. Dengan jujur ia menceritakan semuanya. Ia sama sekali tidak berani turun dan tidak berniat turun malam itu. Ia telah menutup kedua telinganya dengan segala keributan yang ditimbulkan oleh ayahku yang kejam itu. Dan datanglah permintaanmu melalui sms kepada Maria agar berkenan turun menyeka air mata dukaku. Maria tidak mau. Kau terus memaksanya. Maria tetap tidak mau. Kau mengatakan pada Maria: ‘Kumohon tuturlah dan usaplah air mata. Aku menangis jika ada perempuan menangis. Aku tidak tahan. Kumohon. Andaikan aku halal baginya tentu aku akan turun mengusap air matanya dan membawanya ke tempat yang jauh dari linangan air mata selama-lamanya. Maria tetap tidak mau.” Dia menjawab: “Untuk yang ini jangan paksa aku, Fahri! Aku tidak bisa.” Kemudian dengan nama Isa Al Masih kau memaksa Maria, kau katakan, “Kumohon, demi rasa cintamu pada Al Masih.” Lalu Maria turun dan kau mengawasi dari jendela. Aku tahu semua karena Maria membeberkan semua. Ia memperlihatkan semua kata-katamu yang masih tersimpan dalam handphone-nya. Maria tidak mau aku cium kakinya. Sebab menurut dia sebenarnya yang pantas aku cium kakinya dan kubasahi dengan air mata haruku atas kemuliaan hatinya adalah kau. Sejak itu aku tidak lagi merasa sendiri. Aku merasa ada orang yang menyayangiku. Aku tidak sendirian di muka bumi ini.

Wahai orang yang lembut hatinya,
Anggaplah saat ini aku sedang mencium kedua telapak kakimu dengan air mata haruku. Kalau kau berkenan dan Tuhan mengizinkan aku ingin jadi abdi dan budakmu dengan penuh rasa cinta. Menjadi abdi dan budak bagi orang shaleh yang takut kepada Allah tiada jauh berbeda rasanya dengan menjadi puteri di istana raja. Orang shaleh selalu memanusiakan manusia dan tidak akan menzhaliminya. Saat ini aku masih dirundung kecemasan dan ketakutan jika ayahku mencariku dan akhirnya menemukanku. Aku takut dijadikan santapan serigala.

Wahai orang yang lembut hatinya,
Sebenarnya aku merasa tiada pantas sedikit pun menuliskan ini semua. Tapi rasa hormat dan cintaku padamu yang tiap detik semakin membesar di dalam dada terus memaksanya dan aku tiada mampu menahannya. Aku sebenarnya merasa tiada pantas mencintaimu tapi apa yang bisa dibuat oleh makhluk dhaif seperti diriku.

Wahai orang yang lembut hatinya,
Dalam hatiku, keinginanku sekarang ini adalah aku ingin halal bagimu. Islam memang telah menghapus perbudakan, tapi demi rasa cintaku padamu yang tiada terkira dalamnya terhunjam di dada aku ingin menjadi budakmu. Budak yang halal bagimu, yang bisa kau seka air matanya, kau belai rambutnya dan kau kecup keningnya. Aku tiada berani berharap lebih dari itu. Sangat tidak pantas bagi gadis miskin yang nista seperti diriku berharap menjadi isterimu. Aku merasa dengan itu aku akan menemukan hidup baru yang jauh dari cambukan, makian, kecemasan, ketakutan dan kehinaan. Yang ada dalam benakku adalah meninggalkan Mesir. Aku sangat mencintai Mesir tanah kelahiranku. Tapi aku merasa tidak bisa hidup tenang dalam satu bumi dengan orang-orang yang sangat membenciku dan selalu menginginkan kesengsaraan, kehancuran dan kehinaan diriku. Meskipun saat ini aku berada di tempat yang tenang dan aman di tengah keluarga Syaikh Ahmad, jauh dari ayah dan dua kakakku yang kejam, tapi aku masih merasa selalu diintai bahaya. Aku takut mereka akan menemukan diriku. Kau tentu tahu di Mesir ini angin dan tembok bisa berbicara.

Wahai orang yang lembut hatinya,
Apakah aku salah menulis ini semua? Segala yang saat ini menderu di dalam dada dan jiwa. Sudah lama aku selalu menanggung nestapa. Hatiku selalu kelam oleh penderitaan. Aku merasa kau datang dengan seberkas cahaya kasih sayang. Belum pernah aku merasakan rasa cinta pada seseorang sekuat rasa cintaku pada dirimu. Aku tidak ingin mengganggu dirimu dengan kenistaan kata-kataku yang tertoreh dalam lembaran kertas ini. Jika ada yang bernuansa dosa semoga Allah mengampuninya. Aku sudah siap seandainya aku harus terbakar oleh panasnya api cinta yang pernah membakar Laila dan Majnun. Biarlah aku jadi Laila yang mati karena kobaran cintanya, namun aku tidak berharap kau jadi Majnun. Kau orang baik, orang baik selalu disertai Allah.

Doakan Allah mengampuni diriku. Maafkan atas kelancanganku.

Wassalamu’alaikum,
Yang dirundung nestapa,

Noura

Bumbu ‘Penyedap’ Politik

Entah latah atau memang sekedar trik mendulang ‘peluang’ di atas popularitas selebritas, hingga partai politik pun menggandeng mereka untuk maju sebagai calon legislatif (caleg). Sejumlah nama para selebriti ‘nangkring’ di nomor urut jadi untuk sejumlah daerah pemilihan yang diusung parpol.

Rupanya sukses Rano Karno yang tampil menemani Ismeth Iskandar memimpin Kabupaten Tangerang. Disusul kemenangan Dede Yusuf, legislator dari PAN di pilkada gubernur Jawa Barat mendampingi Ahmad Heriawan, legislator dari PKS. Dan tentunya, sebelum itu tingkah polah ‘manis’ legislator berlabel selebriti di Senayan seperti Adji Masaaid, Angelina Sondaah, Marissa Haque –yang harus turun karena ikut pilkada gubernur Banten meski kalah– hingga H Komar membuat parpol kesemsem dengan wajah para selebriti.

Terlepas dari kegagalan, Helmy Yahya (meski belum ada keputusan tetap), Saipul Jamil dalam pilkada di Sumatera Selatan dan Serang Banten. Parpol tetap beranggapan sosok artis akan menjadi amunisi tokcer meraup suara.

Sebut saja, parpol dibawah pimpinan Soetrisno Bachir –yang kerap menyapa di layar kaca, Partai Amanat Nasional (PAN) yang tak tanggung-tanggung merangkul sekira 18 artis untuk melenggang ke pemilu 2009 nanti. Mereka adalah Wulan Guritno, Marini Zumarnis, Eko Patrio, Ikang Fawzi, Derry Drajat, Adrian Maulana, Raslina Rasyidin, Tito Soemarsono, Maylaffayza, Mandra, Mara Karma, Cahyono, Henidar Amroe, Eka Sapta, Lucky Artadipraja, Intan Sevilla, Poppy Maretha, dan Irene Librawati. Meski secara nama penulis hanya mengenal beberapa saja diantaranya.

Lantas, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menggandeng Marissa Haque, Evie Tamala, Lyra Virna, Ferry Irawan, Okky Asokawati, Ratih Sanggarwati, dan Julia Perez. Bahkan beberapa artis yang kembali dicalonkan oleh partai berlambang ka’bah ini adalah Emilia Contessa dan anaknya, Denada, Mieke Wijaya, Rahman Yacob, dan Soultan Saladin.

Di gerbong PDIP sendiri, artis yang ikut bergabung adalah Sonny Tulung, Rieke Dyah Pitaloka, Edo Kondologit dan Deddy ‘Miing’ Gumelar. Partai Golkar seakan tak habis amunisi untuk merangkul calon konstituen dengan menggandeng sejumlah artis diantaranya Tantowi Yahya, Nurul Arifin, Jeremi Thomas dan Dharma Oratmangun. Pun dengan partai pimpinan Prabowo, Gerindra mencoba peruntungan dengan menempatkan Rachel Maryam di nomor jadi untuk salah satu daerah pemilihan Jawa Barat.

Petinggi PPP menegaskan, bahwa hadirnya deretan nama artis –yang menjadi caleg PPP– itu bukan merupakan latah mengikuti caleg partai lain dari kalangan artis.  Hal senada pun diungkap pimpinan PAN, yang menilai artis sama saja dengan ilmuwan, cendekiawan, atau politisi sekalipun.  Bisa jadi itu  yang menyebabkan PAN memborong artis untuk dijadikan calegnya.

Ikang Fawzi, caleg PAN yang ditempatkan di Banten I pun ikut bersuara, dengan menegaskan bahwa banyak yang tidak sadar bahwa artis itu punya potensi yang luar biasa, artis mampu menjadi komunikator yang baik. Mengutip perkataannya, bahwa setiap produk membutuhkan entertainment, produk sosial saja butuh entertainment, begitu juga produk politik. Caleg ini pun paling tidak harus bertarung dengan sang istri yang bernaung di bawah ka’bah.

Para pengamat menilai, dengan banyaknya artis yang dicalonkan Parpol menjadi Caleg menandakan ada masalah regenerasi dan kaderisasi kepemimpinan di partai tersebut. Dan tak pelak lagi, ada partai yang kemudian lebih mementingkan berpolitik secara ‘instan’ dengan mengandalkan popularitas calon ketimbang kapabilitasnya.

Jika yang disindir pengamat politik itu benar adanya, kehadiran selebritis di panggung politik tak lebih sekedar sebagai bumbu penyedap politik itu sendiri. Memang, pekerja hiburan itu serasa manis, tampak kinclong, dan enak dipandang mata. Dan bisa jadi hal ini akan sedikit ‘membius’ para pemilih di pemilu 2009 yang akan datang.

Benarkah demikian? Diakui atau tidak, petinggi PAN menegaskan pihaknya bakal melakukan pelatihan politik bagi kalangan artis yang diajukan maju menjadi caleg. ***

Hayat FR

Siap-siap rela ‘sedikit’ gerah

Bisa jadi, jika draft Surat Keputusan Bersama (SKB) –yang ditandatangani Menteri Perdagangan, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara– itu dikeluarkan, maka para pengunjung harus rela ‘sedikit’ gerah.

Ya, pasalnya, dalam SKB itu menetapkan suhu ruangan minimal 25 derajat Celcius. Wah, padahal sebelumnya mal-mal yang bertebaran di segala penjuru lokasi, terlebih di Jakarta itu selalu ‘manteng’ di angka 21 derajat celcius sebagai titik tertinggi. Maklum, negeri tropis ini tengah berhemat energi sebagaimana himbauan presiden SBY.

Bahkan untuk hal ini, SBY pun mengeluarkan Intruksi Presiden (inpres) No. 2/2008 tentang Penghematan Energi dan Air memerintahkan penghematan
energi melalui penerangan dan alat pendingin ruangan (AC), meski tanpa
menyebutkan besaran suhu minimal dalam ruangan. Tapi angka 25 itu baru ditemukan dalam Peraturan Menteri (Permen) ESDM No.31/2005 tentang Tata Cara Pelaksanaan Penghematan Energi. Dimana  bangunan komersial harus mengatur suhu ruangan ber-air conditioner minimal 25C.

Rupanya, sebelum para pengunjung meresa gerah ketika nanti ber-shopping ria, para pengelola mal sudah ‘kegerahan’ terlebih dahulu dengan SKB itu. Terlebih para pengelola mal papan atas yang bertebaran di kawasan protokol Jakarta. Bahkan dalam sebuah rapat Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) terjadi pro kontra soal suhu minimal dalam ruangan. Dan dikabarkan salah satu pimpinan mal sempat walk out.

***

Belajar dari Singapura

Padahal untuk kasus sejenis ini, pemerintah Singapura, sejak 2005 sudah menyadarkan pengelola mal dan toko modern agar melakukan hemat energi, dan akhirnya disepakati untuk menyetel suhu dalam ruangan minimal 25C. Nyatanya, ‘angka’ itu tidak lantas membuat konsumen Singapura dan negara lain emoh belanja di mal favorit mereka.

Sejatinya, persoalan ini bukan sekedar pada angka minimal saja. Pengelola mal di Singapura mampu mempertahankan kesejukan dalam ruangan, karena desain gedung umumnya tidak banyak kacanya dan tentunya ditopang dengan konsep kelembaban lingkungan. Ironisnya, di Indonesia banyak desain arsitek membuat mal yang wah dengan menampilkan kaca yang banyak, seolah menunjukkan ciri tropis dan penerangan alami.

Aturan tinggal aturan, sejak dikeluarkan tahun 2005 lalu, Peraturan Menteri ESDM itu lebih sering dilanggar, bahkan diabaikan begitu saja. Banyak mal-mal yang tetap keukeuh menyetel di angka-angka dingin. Hal ini karena dalam permen itu tak memuat sanksi.

Tapi paling tidak, SKB yang merujuk pada aturan menteri ESDM ini, terdapat klausul tentang sanksi bagi pelanggar. Konon, PLN selaku penyedia aliran listrik bakal melakukan pemutusan aliran bagi yang tetap membandel.

Mampukah aturan itu berlaku produktif, efektif dan efisien? atau jangan-jangan hanya sebatas di atas kertas? Kita lihat saja nanti!

Bincang-bincang Bersama Indra Bekti

Wajahnya kali pertama muncul di layar kaca sebagai pemandu acara Tralala Trilili bareng Agnes Monica. Lewat penampilannya yang kocak dan segar akhirnya mendatangkan berbagai tawaran memandu acara hingga penyiar radio.

Kini, wajahnya makin sering tampil sebagai bintang iklan. Belum lagi beberapa mata acara yang dipandunya, saban hari menyapa pemirsa. Bahkan, paling tidak ada lima film layar lebar pernah dibintanginya. Wajar, bila saat ini dia berlimpahan materi.

Meski begitu, ia menyimpan banyak mimpi, salah satunya membuat album. Dan mimpi itu akhirnya tercapai, meski hanya album kompilasi. Indra Bekti merasa bangga. Pria kelahiran Jakarta, 28 Desember 1977 yang pernah bergabung dalam grup vokal FBI ini, bisa tampil sebagai penyanyi solo.

Lewat album bertajuk Goal! 2008 ini –yang dirilis bersamaan dengan perhelatan akbar Euro 2008 yang lalu— Indra membawakan lagu berjudul Goal ciptaan Ramadhan. Berikut perbincangan Indra bersama VIEW, di sela-sela peluncuran albumnya beberapa waktu lalu di Jakarta.

VIEW: Apa komentar Anda tentang album ini?

INDRA: Inilah cita-cita saya dari dulu yang ingin jadi penyanyi solo. Bahkan untuk mewujudkannya itu, saya ikut belajar olah vokal di bina vokalia. Lalu pernah pula membentuk grup vokal bernama FBI, meski akhirnya bubar. Dan akhirnya tahun ini, akhirnya mimpi itu dikabulkan oleh Tuhan.

VIEW: Lantas apa arti dari album ini?

INDRA: Inilah awal kembalinya seorang Indra Bekti di industri musik. Dan lewat album inilah saya buktikan bahwa saya bisa, meski dengan nada dan koreografi yang tidak mudah.

VIEW: Sudah lama tidak bernyanyi, apa tidak menjadi beban?

INDRA: Pada awalnya memang sedikit kaget. Karena ini sebuah kepercayaan, maka bagi saya ngapain harus jadi beban. Sebelumnya, saya menawarkan diri kepada beberapa label termasuk Sony-BMG. Entah kenapa akhirnya Sony menghubungi saya dan menawarkan proyek ini.

VIEW: Sebelumnya apa yang Anda lakukan untuk mewujudkan mimpi itu?

INDRA: Saya membuat demo lagu. Hasilnya, label menilai lagu-lagu saya terlalu berat. Uang pun habis, ya sudah… saya pasrah. Tapi ternyata saya dihubungi Sony-BMG untuk ikut proyek ini, tapi bukan lagu-lagu yang saya tawarkan sebelumnya.

VIEW: Karakter suara Anda dengan lagu yang Anda bawakan jauh berbeda, bagaimana Anda menyiasatinya?

INDRA: Jujur, saya pribadi sebagai penyanyi harus bisa menyesuaikan diri dengan pasar. Saya yang pop, tapi ternyata harus membawakan lagu rock yang energik. Disinilah saya merasa tertantang. Dan ternyata rock itu asyik lho.

VIEW: Ada yang bilang Anda aji mumpung, komentar Anda?

INDRA: Apapun resikonya, saya terima. Orang mau ngomong apa, terserah. Tentu saja, masyarakat awam yang belum tahu FBI, akan menilai seperti itu. Siapa tuh Indra? Presenter kok mau nyanyi.

VIEW: Kalau boleh tahu, berapa honor untuk nyanyi?

INDRA: Untuk tampil nyanyi, jujur dari managemen belum ada honor yang pasti.

VIEW: Ada rencana membuat album solo?

INDRA: Untuk sementara ini album solo belum, tapi saat ini lebih banyak mengumpulkan lagu-lagu dulu.

VIEW: Ke depan apa rencana apa lagi yang akan Anda lakukan?

INDRA: Saya terus mencoba untuk jadi aktor, penyanyi dan tetap ngemsi. [view]

Artikel ini dimuat di majalah VIEW edisi Agustus 2008

Bincang-Bincang Bersama Ihsan Idol

Jawara Indonesian Idol 2006, Muhamad Ihsan Tarore, tengah mencoba peruntungan di dunia akting. Setelah membintangi beberapa sinetron, Ihsan mendapat tawaran tampil di film layar lebar. Dan Mengaku Rasul: Sesat adalah film pertamanya, yang dirilis beberapa waktu lalu.

Dengan karakter dan pembawaannya yang kalem, Ihsan memerankan tokoh Raihan dalam film besutan sutradara Helfi Kardit ini. Apa yang membuat pemuda kelahiran Medan, 20 Agustus 1989 ini terjun ke dunia akting?. Lantas bagaimana dengan karirnya sebagai penyanyi jebolan Indonesian Idol. Kepada VIEW, penyanyi yang dengan album solo bertajuk The Winner ini bertutur seputar karirnya di dunia hiburan.

VIEW: Apa yang mendasari Anda terjun ke dunia akting?

IHSAN: Semua orang tahu, jika film juga bagian dari dunia hiburan. Karena saya berkarir di dunia ini, maka wajar jika saya mencoba menjajal kemampuan saya di seni peran. Dan film ini adalah film layar lebar pertama saya.

VIEW: Apakah Anda menawarkan diri atau direkrut?

IHSAN: Jujur, dalam film ini sutradara yang meminta saya untuk bermain. Katanya, sebelum meminta saya ikut main, mereka hanya tertarik karena melihat tampang saya di salah satu poster.

VIEW: Lantas, apa reaksi Anda mendapat tawaran ini?

IHSAN: Ketika mendengar judul film Mengaku Rasul: Sesat, entah kenapa saya merasa tertantang. Akhirnya saya pun ikut casting untuk tokoh Raihan. Dan senangnya karena saya diterima.

VIEW: Kenapa tokoh ini yang Anda ambil? Apakah karena pembawaan Anda yang kalem?

IHSAN: Awalnya memang saya ditawari tokoh ini. Bisa jadi, sutradara sudah mengetahui karakter saya yang kalem. Pernah suatu ketika saya memerankan tokoh komedian di sebuah FTV, tapi rupanya peran itu diprotes penggemar saya, khususnya ibu-ibu. Katanya nggak lucu he he he.

VIEW: Bagaimana dengan karir Anda sebagai penyanyi?

IHSAN: Saya akan tetap sebagai penyanyi.

VIEW: Banyak kalangan yang menilai karir Anda tengah tenggelam. Komentar Anda?

IHSAN: Boleh saja orang menilai demikian. Tapi yang jelas, memang saya jarang tampil di layar kaca. Karena saya lebih sering tampil off air. Dan sekarang pun saya lagi sibuk menyiapkan album kedua yang rencananya akan dirilis tahun ini.

VIEW: Apakah film ini untuk mendongkrak kembali pamor Anda?

IHSAN: Saya tidak berfikiran ke sana, rejeki orang kan berbeda-beda. Kebetulan saat ini saya dapat kesempatan main film layar lebar.

VIEW: Kalau boleh memilih, mana yang akan Anda tekuni secara serius?

IHSAN: Tentu saja menyanyi. Tapi karena dunia hiburan itu menuntut multitalenta maka saya tidak akan menyia-nyiakan setiap kesempatan apapun yang datang kepada saya. Intinya saya ingin tekuni secara serius karir saya di dunia hiburan.

VIEW: Kalau begitu, apa obsesi Anda di dunia hiburan ini?

IHSAN: Saya sih mau terus mencoba sesuatu yang baru, tidak hanya menyanyi. Misalnya, di film saya mau memerankan tokoh yang berlawanan dengan karakter saya. Kenapa nggak? Yang penting saya berusaha melakukannya secara professional. [view]

Artikel ini dimuat di majalah VIEW edisi Juli 2008

Pas dan Berkelas

Sejak kehadirannya di Mall Taman Anggrek Jakarta, Parisian Department Store memberikan nuansa baru dalam dunia fashion. Tentu saja, publik Jakarta kian dimanjakan dengan hadirnya ragam koleksi pilihan dari brand-brand kelas dunia. Betapa tidak, beragam koleksi dari merek fashion, hadir dengan gaya yang sangat menarik, baik untuk koleksi pria, wanita, remaja dan anak-anak.

Dan di awal Juni lalu, Parisian Departement Store kembali memperkenalkan koleksi musim panas 2008 untuk pria bertajuk Men’s Summer Fashion Show 2008. Beberapa brand andalannya seperti Van Laack, Joseph Abboud, Philosophy Men, Tony Jeans dan Levi’s tampil dengan gaya dan kesan yang begitu kuat. Tentunya, lewat koleksi pakaian pria yang ada di jaringan ritel kelas dunia ini, tak ada kata susah untuk mendapatkan pakaian yang pas dan berkelas.

Brand Van Laack –yang tetap eksis selama 125 tahun— merupakan cerminan untuk kualitas prima, kecermatan dan kesempurnaan gaya. Hal ini terbukti lewat koleksi yang ditawarkan selalu menghadirkan bordir labelnya, di atas nama ‘Van Laack’. Selain itu, penggunaan kancing tiga lubang yang dipantenkan, menunjukkan kesempurnaan secara menyeluruh. Tak hanya itu, Van Laack pun konsisten menggunakan material berkualitas dari Itali. Ragam corak, warna, ukuran, pilihan kerah dan manset telah tersedia dengan sentuhan personal. Dari comfort loose hingga potongan pas badan yang fashionable.

Musim ini, Van Laack menampilkan garis-garis vertikal dengan warna maskulin dan berani, seperti merah, biru, hijau, dan coklat, baik dengan kombinasi kerah putih maupun senada. Koleksi kemeja ini mudah dipadu padan dengan aksesoris berupa dasi dengan warna-warna senada maupun celana formal berwarna netral, seperti hitam, coklat dan abu-abu.

Joseph Abboud, brand asal negeri Paman Sam, hadir khusus di Parisian Department Store, menawarkan ragam pilihan koleksi pakaian pria dari formal hingga kasual. Joseph Abboud hadir dengan bahan berkualitas prima, sangat nyaman dan tersedia dalam pilihan warna-warna menarik. Detil garis-garis vertikal dengan warna-warna alam seperti hijau pupus, dan coklat kian menawan. Koleksi jas dua kancing dengan padanan celana warna senada sangat cocok untuk eksekutif muda berjiwa dinamis.

Koleksi Philosophy Men, rancangan Tino Soon dan Allan Chan, desainer dari negeri jiran Malaysia pun bisa ditemukan di sini. Uniknya, setiap koleksi Philosophy Men diproduksi secara terbatas. Koleksi Chinese New Year, Christmas, dan Country Collection adalah koleksi wajib yang dikeluarkan saban tahunnya. Dan tahun ini, Philosophy Men mengeluarkan koleksi khususnya, seperti Olympic Collection.

Tahun ini, Philosphy Men mengeluarkan kemeja-kemeja santai berwarna netral, seperti broken white, coklat, dan army. Koleksi kemeja ini tersedia lengan panjang maupun pendek dengan potongan pas badan. Hadir juga koleksi celana cargo dengan warna-warna tanah. Celana panjang berpipa lebar dengan corak dan warna ‘berani’ bagi pria-pria metrosexual yang tak lagi takut bermain warna. Tersedia pula pilihan celana dengan potongan dan warna standar, seperti abu-abu, coklat, putih, dan lain-lainnya.

Mengandalkan bahan kaos dengan potongan pas badan yang ditawarkan Tony Jeans tak kalah menariknya dengan corak dan warna-warna berani namun lembut. Pun dengan koleksi celana kasual dengan potongan selutut dan warna-warna tanah menunjukkan kelas tersendiri. Lewat koleksinya, brand asal China memang memasar kalangan muda yang ingin tampil trendi, kasual, mandiri, dan percaya diri.

Pamor jeans buatan Levi’s memang tak pernah mati. Musim ini, Levi’s hadir dengan potongan boot cut, regular straight and slim straight. Tak ketinggalan, untuk kaum hawa, Levi’s menawarkan koleksi jeans dengan potongan slim dan skinny jeans dengan mid dan low rise. Semua koleksi Levi’s untuk musim ini terinspirasi pada trend yang hits ditahun 50-an, 60-an dan tahun 80-an.

Sebagai padanannya, Levi’s melalui koleksi Red Tab-nya, menampilkan atasan berupa t-shirt, dengan dan tanpa kerah. Lalu ada kemeja-kemeja santai dalam berbagai potongan dan warna ceria dengan grafis bergaya 80-an yang terinspirasi dari generasi bunga kaum hippies. Dan tentunya, lewat gaya tumpuk dan padu padan penggunaannya menjadi inspirasi bagi pemakainya baik tua maupun muda dalam mengekspresikan dirinya. [view]

Artikel ini dimuat di majalah VIEW edisi Juli 2008