Bincang-bincang Bersama Maya Hasan

Nama Maya Hasan makin dikenal lantaran dentingan harpa yang dimainkannya perlahan-lahan diterima telinga pecinta musik Indonesia. Meski musisi Indonesia yang piawai memainkan alat musik harpa masih terbilang langka, Maya merasa kehadirannya cukup mendapat tempat di hati pecinta musik tanah air.

Berkat kerja keras, Maya tampil sebagai salah satu harpis kenamaan Indonesia yang pernah menyabet penghargaan The Stannus Music Award, The Music Talent Award, dan The Violet Burlingham M.P.E. Award. Tak hanya itu, pada 2000 lalu pemilik nama lengkap Maya Christina Hasan ini merilis album bertajuk Sea Breeze. Kendati album ini kurang mendapat sambutan di pasar musik dalam negeri, Maya tak putus asa.

Maya kembali menunjukkan kepiawiannya memetik harpa dengan ikut andil dalam pembuatan album grup band papan atas, Padi. Penggemar Padi bisa menikmati dentingan senar harpa yang dimainkan Maya lewat lagu Kasih Tak Sampai dalam album bertitel Sesuatu Yang Tertunda. Dentingan harpa Maya menambah kuat pesan lagu yang dibawakan Fadli, sang vokalis Padi.

Di tengah-tengah kesibukannya mengajar, wanita kelahiran Hong Kong, 10 Januari 1972 ini, berbincang-bincang dengan VIEW seputar album barunya yang bakal dirilis pada April ini. Berikut petikan wawancara dengan wanita yang mempelajari alat musik harpa di Willamette University, Saleem, Oregon, Amerika Serikat ini.

VIEW: Selain sibuk mengajar harpa, kabarnya Anda tengah mempersiapkan proyek baru?

MAYA:Ya, memang benar. Selain mengajar, saat ini saya sangat sibuk mengumpulkan lagu-lagu untuk diaransemen sendiri.

VIEW: Proyek album baru atau pesanan pihak lain?

MAYA: Hmm….sebenarnya saya belum mau ngomongin nih, tapi nggak apalah untuk VIEW. Saya memang tengah mempersiapkan album baru yang merupakan album kedua saya. Di album kedua ini saya ingin tampil beda dari sebelumnya, identik dengan musik klasik dengan mengandalkan alat musik harpa.

VIEW: Apakah perbedaannya cukup jauh dsbanding album pertama?

MAYA: Nggak juga. Cuma saya ingin mencoba hal baru. Tampil dengan musik pop namun tetap menonjolkan harpa sebagai ciri khas musik saya. Rasanya ada sesuatu yang baru saja dengan perpaduan ini.

VIEW: Mengapa akhirnya memilih musik pop?

MAYA: Yah tentu saja karena musik pop kan lebih mudah diterima pencinta musik dalam masyarakat Indonesia dibanding musik klasik. Lagipula, saya pikir dengan cara ini dentingan harpa makin sering didengar banyak kalangan.

VIEW: Lalu seperti apa Anda menghadirkan musik pop lewat harpa itu?

MAYA: Tentunya beda dengan album sebelumnya. Di album baru ini seluruh lagu-lagu saya aransemen sendiri. Dan untuk menghadirkan nuansa pop itu, saya pun didukung dengan band.

VIEW: Apakah album baru nanti akan mengubah image publik diri Anda sebagai harpis?

MAYA: Perubahan itu memang diperlukan untuk maju dan bisa diterima semua publik. Namun bukan berarti saya akan mengubah image saya sebagai pemain harpa. Saya akan tetap mengembangkan dan mempertahankan eksistensi alat musik klasik ini, tapi juga tetap bisa berkaloborasi dengan musik lainnya.

VIEW: Jadi, pastinya seperti apa album baru Anda nanti?

MAYA: Ya tunggu aja tanggal mainnya. Yang pasti, sentuhan harpa akan tetap ada. Hanya saja, sedikit dibalut dengan nuansa pop sehingga kedengarannya lebih bagus. [view]

Artikel ini ditulis awal tahun 2007 lalu dan dimuat di Majalah VIEW edisi Maret 2007

Advertisements

One thought on “Bincang-bincang Bersama Maya Hasan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s