Deddy Mizwar: “Untuk insaf pun perlu latihan”

Makin tua makin moncer. Itulah kiranya gambaran yang pas untuk sosok aktor kawakan yang satu ini. Aktingnya selalu menyatu dengan karakter yang dimainkannya baik dalam film, sinetron maupun iklan. Ia pun hadir sebagai penghibur lara para pecinta film kala industri perfilman negeri ini mati suri. Tak heran jika sederet penghargaan telah diraihnya.

Kiamat Sudah Dekat adalah salah satu garapannya yang membuat keluarga Presiden Susilo Bambang Yudoyono tergugah untuk menontonnya. Tak hanya itu, Presiden SBY pun mengundangnya secara khusus ke istana negara. Pun saat film Nagabonar (Jadi) 2 (2007) dirilis, dijadikan tontonan wajib anggota Kabinet Indonesia Bersatu atas rekomendasi Presiden SBY.

Nama Deddy Mizwar (52), pun kian populer ditengah membanjirnya aktor-aktor muda. Bahkan tampak jelas kualitas keaktorannya makin matang. Film Nagabonar (Jadi) 2, adalah bukti kemampuannya ‘melibas’ bintang-bintang muda yang tengah naik daun.

Kini lewat film dan sinetron hasil karyanya tak menggambarkan perilaku manusia secara hitam-putih. Semua karakter-karakter ‘rekaannya’ ditonjolkan begitu manusiawi dan terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Cerita yang disampaikan begitu  sarat pesan moral, ringan dan menghibur tanpa terkesan menggurui.

Tengok saja, sinetron Lorong Waktu produksi perdana dari Demi Gisela Citra Sinema –rumah produksi miliknya— mampu menembus angka 6 di belakang judul sinetron yang bertutur kisah-kisah sarat hikmah itu. Pun film garapannya Kiamat Sudah Dekat yang akhirnya disinetronkan yang kini telah menembus sekuel ketiga itu tayang di SCTV selama Ramadhan ini. Bahkan masih di stasiun televisi swasta yang sama, Deddy pun menghadirkan sinetron Para Pencari Tuhan bersama tiga personel grup lawak muda Bajaj. Lewat sinetron komedi terbarunya ini, Deddy sang sutradara berpesan, “Ketika manusia dan dunianya tak lagi menerima kita, maka hanya Allah Subhanahu Wata’ala yang masih sudi membuka tangan lebar-lebar.”

Jauh sebelum sinetron religi booming di layar kaca di hampir semua stasiun televisi swasta, di tahun 1990-an aktor kawakan kelahiran, Jakarta 5 Maret 1955 itu sudah memproduksinya lebih dulu. Sebut saja sinetron Mat Angin, Abu Nawas dan Hikayat Pengembara yang dibuat rumah produksi Wibawa Satria Perkasa. Tak dinyana, sinetron garapannya itu mampu bertahan hingga puluhan episode. Sinetron Abu Nawas tayang hingga 52 episode, sementara Hikayat Pengembara berhasil menembus lebih dari 100 episode. Dan lewat sinetron Mat Angin, ia menyabet penghargaan Aktor Terbaik dan sekaligus Sutradara Terbaik dalam ajang FSI 1999.

Lantas apa yang membuat dirinya tergugah untuk memproduksi sinetron atau film yang selalu mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat Indonesia? “Biasanya setiap ramadhan tiba, banyak bermunculan hiburan yang religius tapi terkadang masih banyak hanya sebatas hiburan tanpa memiliki pesan yang baik,” jawab aktor yang kini menjabat sebagai Ketua Badan Pertimbangan Perfilman Nasional periode 2006-2009.

Lebih dari itu, menurutnya banyak sinetron berbau agama yang terkesan sangat menggurui, sangat hitam-putih, dan membodohi. Malah, tak sedikit sinetron religi yang sempat menduduki rating teratas dua tahun silam menggambarkan seolah Tuhan begitu kejam pada umatnya yang bersalah. Jiwanya pun berontak, saat melihat perkembangan tayangan televisi swasta yang makin memprihatinkan. “Maraknya pornografi, pornoaksi, kekerasan, dan klenik di teve, membuat hidup kita seperti binatang. Maka saya mencoba menawarkan sesuatu yang berbeda sebagai alternatifnya,” tandasnya.

Di masa remajanya, ia kerap tampil dari panggung ke panggung teater. Bahkan sekolahnya pun nyaris keteteran. Saking cintanya pada dunia seni peran, putra pasangan Andries Velberg dan Sun’ah lebih memilih keluar dari pekerjaannya sebagai pegawai negeri pada tahun 1976 untuk bermain film. Dan film Cinta Abadi (1976) arahan sutradara Wahyu Sihombing adalah debutan Deddy di dunia layar lebar.

Tampil apik dalam Cinta Abadi, membuat para produser dan sutradara melirik kepincut untuk mengajaknya bermain film, antara lain Menanti Kelahiran, Hamil Muda, dan Kekasih. “Tapi, setelah periode itu, selama tiga tahun saya tidak mendapat satu tawaran pun. Untunglah, pentas teater masih jalan terus,” kenang aktor yang telah membintangi 73 judul film.

Setelah tahun 1982, Deddy mulai mendapatkan tawaran main film lagi. Ia tampil membintangi Bukan Impian Semusim (1982) arahan sutradara Ami Priyono. Hasil kerja kerasnya, hampir setiap tahun namanya muncul dalam daftar nominasi di ajang Festival Film Indonesia (FFI), meski belum berhasil jadi pemenang. Diantaranya lewat film Bukan Impian Semusim, Sunan Kalijaga (1984), Saat-saat Kau Berbaring di Dadaku (1985) dan Kerikil-Kerikil Tajam (1985) namanya dijagokan sebagai Aktor terbaik.

Dan akhirnya pada ajang FFI 1986, suami dari Giselawati Wiranegara ini berhasil memboyong dua piala citra sekaligus untuk kategori Pemeran Utama Terbaik lewat film Arie Hanggara dan Pemeran Pembantu Terbaik dalam film Opera Jakarta. Selain itu, namanya pun masuk dalam nominasi aktor terbaik dalam film Kejarlah Daku Kau Kutangkap. Konon, hingga saat ini, belum ada aktor dan aktris Indonesia yang mampu menyamai prestasinya itu. Tahun berikutnya di ajang FFI 1987, ia pun berhasil menyabet Aktor Terbaik lewat aktingnya di film Nagabonar.

Meski telah menjadi bagian dari dunia artis yang terkesan glamor, tak membuatnya tenggelam ikut arus sebagaimana kebanyakan artis lainnya. Malah kini kesan alim bak ‘kiai’ lebih melekat pada dirinya. Tak jarang orang menilainya tak sekedar aktor yang mampu berperan sebagai orang alim seperti Haji Husin, Haji Romli hingga Sunan Kalijaga yang diperankannya. Tak ayal, hal ini membuatnya jengah, pasalnya ia mengaku masih dalam proses belajar agama.

Ayah dari Senandung Nacita (20) dan Zulfikar Rakita Dewa (19) terus berkomitmen untuk menghadirkan tontonan yang sarat pesan moral. Selain sebagai bentuk pertanggungjawabannya kepada Allah Subhanahu Wata’ala atas profesinya sebagai seorang sineas. Lewat dua sinetronnya Kiamat Sudah Dekat 3 dan Para Pencari Tuhan, Deddy berharap kedua tontonan itu bisa dijadikan pesan untuk umat dalam memperlakukan orang-orang yang tengah dalam kegelapan. Seakan-akan Bang Jack mantan jagal sapi dalam sinetron Para Pencari Tuhan yang tayang di waktu sahur itu ingin menyampaikan bahwa, “Untuk insyaf pun perlu latihan.”

Tulisan ini dimuat di majalah Selatan Edisi Oktober 200

[maaf bila tulisan ini baru diposting setelah setahun diterbitkan… dan kini majalah itupun sudah tidak terbit lagi]

Advertisements

3 thoughts on “Deddy Mizwar: “Untuk insaf pun perlu latihan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s