Deddy Mizwar Versus Tora Sudiro

Naga Bonar turun gunung. Naga Bonar yang tua renta diajak anaknya, Bonaga, bertandang ke Jakarta. Itulah awal kisah Naga Bonar (Jadi) 2, film garapan aktor sekaligus sutradara kawakan Deddy Mizwar, yang pernah berperan sebagai Naga Bonar dalam Naga Bonar (1987) 20 tahun silam.

Film ini berkisah tentang semangat nasionalisme dua generasi yang berbeda. Aktor beken Tora Sudiro berperan sebagai Bonaga dan Deddy Mizwar sebagai Naga Bonar. Berikut, bincang-bincang VIEW dengan Deddy dan Tora untuk pertanyaan yang sama seusai pengambilan gambar behind the scene film ini.

VIEW: Mengapa Anda ingin membuat sekuel film ini?

DEDDY MIZWAR [DEDDY]: Semua ini berawal dari rasa rindu saya akan tokoh Naga Bonar yang jujur dan polos.

TORA SUDIRO [TORA]: Ini anugerah terbesar buat saya bisa beradu akting dengan aktor kawakan sekelas bang Deddy. Saya merasa mendapatkan ilmu yang lebih banyak seputar akting dari beliau.

VIEW : Mengapa judunyal Naga Bonar (Jadi) 2?

DEDDY: Ya, karena ini merupakan sekuel dengan alur cerita yang sama tapi setting berbeda. Kebetulan juga, karakter Naga Bonar (Jadi) 2 digambarkan oleh Naga Bonar sendiri dan Bonaga sebagai anaknya.

TORA: Itulah hebatnya sutradara sekelas Deddy Mizwar. Beliau penuh dengan ide brilian dalam membuat dan mengemas sebuah cerita film lama menjadi baru kembali.

VIEW: Apa komentar Anda tentang film ini?

DEDDY: Film ini menunjukkan rasa nasionalisme dan tidak kebarat-baratan walau zaman sudah berubah. Dalam diri Bonaga masih mengakar kuat akan kecintaannya pada bangsa, orang tua, dan sesama. Nilai-nilai yang kuat inilah yang diharapkan dapat menggugah nurani generasi penerus untuk lebih cinta pada lingkungan sekitarnya. Konflik perbedaan nilai dan generasi yang diangkat dalam film ini, diharapkan mampu memberi teladan kepada masyarakat bahwa perbedaan tidak selamanya jelek.

TORA: Wow…film ini keren. Sebuah film yang sangat Indonesia. Peran Naga Bonar 20 tahun silam itu ditonjolkan lagi oleh anaknya, Bonaga, yang hidup di zaman metropolis.

VIEW: Adegan apa yang paling berkesan di film ini?

DEDDY: Ketika Bonaga berniat menjual perkebunan kelapa sawit milik ayahnya, Naga Bonar. Padahal di dalam areal perkebunan itu terdapat kuburan orang-orang yang dicintainya. Juga ketika terjadi dialog antara bapak dan anak, saling diskusi tanpa ada penghakiman, siapa yang benar dan salah.

TORA: Betapa pun zaman sudah berubah, Naga Bonar tetap Naga Bonar yang dulu. Dan itu menurun pada Bonaga yang sedih saat kehilangan orang yang dicintainya.

VIEW: Apa komentar Anda tentang Tora dan sebaliknya?

DEDDY: Tora memang bocor alus. Konyol tapi tetap dalam batas-batas tertentu. Selain itu, ia sangat disiplin dan memiliki kemauan yang besar untuk belajar banyak tentang akting. Itu alasan utama saya memilihnya menjadi Bonaga, ibaratnya like father, like son.

TORA: Bang Deddy adalah sosok aktor yang selama ini saya kagumi. Dia tahu betul apa yang harus dilakukan dan aktingnya tak memang luar biasa. Sebagai sutradara ternama, idealismenya tak diragukan lagi karena selalu menciptakan film yang mengusung tema nasionalisme. [view]

Artikel ini ditulis pada Maret 2007 dan dimuat di Majalah VIEW edisi April 2007

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s