Fashion Jadi Latar Sebuah Film

Berbicara soal perkembangan dunia fashion memang takkan pernah ada habisnya. Apalagi, pecinta fashion tak hanya dari kalangan pecinta mode saja, tapi juga berbagai kalangan, seperti bintang film, seniman, politisi, dan lainnya. Industri fashion, juga semakin unik dan menarik. Tengok saja, tingkah polah para pelaku fashion terkadang dinilai irasional dalam menerjemahkan kreatifitasnya. Mereka bahkan tak peduli, jika dianggap terlalu aneh dalam menciptakan suatu mode baru. Hal ini pula, yang menjadikan dunia fashion, selalu menarik untuk diperbincangkan. Bahkan, tak sedikit penulis film, tertarik mengangkat beragam tema cerita tentang dunia fashion ke layar lebar. Simak beberapa film yang mengangkat kisah dari industri dunia fashion.

The Devil Wears Prada (2006)

Inilah film teranyar yang mengangkat kisah tentang dunia mode, yang dibintangi aktris muda dan cantik, Anne Hathway. Film ini dipuji berhasil mengangkat sosok Anna Wintour, sosok pimpinan majalah Vogue Amerika, yang berpengaruh sebagai tokoh dunia mode. Sosok Anna Wintour, disebut-sebut menjadi latar dari tokoh utama, film garapan sutradara David Frankel ini.

Film The Devil Wears Prada, diangkat dari novel laris karya Lauren Weisberger berjudul sama. Kebetulan, penulisnya memang pernah bekerja sebagai asisten Wintour di majalah Vogue. Tak heran jika ceritanya begitu mengena dengan apa yang terjadi di industri yang selalu berkesan glamour ini. Kabarnya, begitu besar pengaruhnya sang tokoh utamanya, sehingga penata kostum film ini, Patricia Fields, kesulitan mendapatkan koleksi busana-busana yang bakal digunakan dalam film ini. Di sisi lain, inilah bukti kekuatan sosok Valentino Garavani sang desainer, yang ikut bermain sebagai cameo di film ini. Maklum, panggung-panggung peragaan busana Haute Couture-nya, dijadikan sebagai salah satu lokasi syuting.

Lewat film ini, busana pada ajang fashion week pun menjadi referensi. Penggambaran hubungan antara para fashion editor dengan para desainer, membuat film ini menjadi lebih hidup dan enak untuk ditonton para fashionista. Bahkan, bisa jadi film ini mampu memenuhi dahaga penonton yang bukan pecinta mode. Pasalnya, film ini lebih mengedepankan industri mode sebagai latar belakang kisahnya. Yang menarik, fokus cerita film ini bukan sekedar rutinitas dunia mode saja, melainkan lebih kepada hubungan dua individu. Dikisahkan tentang kerja yang menarik, seorang asisten, Andrea Sach, diperankan Anne Hathway dan fashion editor, Miranda Priestley yang diperankan peraih Academi Award lewat film Kramer Vs Kramer, Merryl Streep.

Lewat film ini pula, industri fashion mendapatkan pembelaan yang kuat. Sosok Andrea sang asisten editor, digambarkan tak peduli dengan fashion dan menganggapnya bukan sesuatu yang serius. Hal ini terlihat dalam cuplikan adegan yang menggambarkan seorang asisten yang mentertawakan editor yang kebingungan dalam memilih aksesoris pelengkap busana. Miranda Priestley, sang editor pun geram. Ia mencecar asisten barunya, dengan berpatokan pada warna biru sweeter yang dikenakan Andrea. Ia menjelaskan secara detil bagaimana warna biru itu, pertama kalinya muncul pada koleksi Oscar de la Renta, lalu ke fashion show yang digelar desainer lainnya, hingga akhirnya pada menjadi produk yang dikenakan Andrea.

Film The Devil Wears Prada, merupakan film fiksi tentang industri mode yang digarap lebih serius dan memberi ‘ruh’ kepada para pelaku industri ini dalam menekuni bisnisnya. Film ini, tak seperti yang digambarkan film Zoolander atau Pret A Porter yang ceritanya agak irasional. Sejatinya, hubungan fashion dan film, sama seperti apa yang digambarkan dalam film The Devil Wears Prada.

Zoolander (2001)

Inilah salah satu film fiksi yang mengangkat fenomena-fenomena yang terjadi di dunia fashion. Film komedi satir dan sarkastis, Zoolander, karya Ben Stiller, merupakan salah satu film yang sukses di tahun 2001. Film ini bertutur tentang seorang supermodel pria, diperankan Ben Stiller. Ben dimanfaatkan oleh desainer Jacobim Mugatu, diperankan Will Farrel, untuk membunuh seorang Perdana Menteri Malaysia, Hassan. Meski sebenarnya, otak pembunuhan adalah Dewan Fashion, Karl Lagerfeld, Anna Wintour dan lainnya. Skenario pembunuhan ini dilakukan untuk mempertahankan kelangsungan industri mode yang memproduksi pakaian massal. Mereka juga memperkerjakan buruh anak di bawah umur dari negara-negara ketiga, salah satunya Malaysia. Film ini didukung bintang- bintang Hollywood seperti Owen Wilson, Christine Taylor, Milla Jovovich dan Jerry Stiller. Juga dimeriahkan dengan hadirnya para cameo seperti Victoria Beckham, Paris Hilton, dan Heidi Klum. Tak ketinggalan, desainer kenamaan Tommy Hilfiger, Karl Lagerdeld, Donatella Versace serta milyader ternama Donald Trump bersama istrinya, Melania Trump.

Unzipped (1995)

Sebuah film dokumenter arahan sutradara Douglas Keeve ini, awalnya melukiskan kompleksitas antara proses kreatif dan bisnis dalam industri mode. Film dokumenter ini menceritakan perjuangan sosok desainer ternama, Isaac Mizrahi dalam mewujudkan koleksinya. Tak heran jika sutradaranya, secara detil mendokumentasikan proses kreatif sang desainer dalam menuangkan sebuah ide yang didapatkan dari film klasik Nanook of the North (1922). Pada akhirnya, ide inilah yang kemudian dituangkan menjadi koleksi busananya untuk musim gugur saat itu.

Tabiat Isaac yang tempramental dan ocehan-ocehan para modelnya, Linda Evangelista dan Naomi Campbell, juga ikut mewarnai film ini. Namun, kritik dari para fashion editor legendaris dan karakter unik Polly Mellen dan Andre Leon Talley, menjadikan film ini sukses. Film dokumenter serius ini pun akhirnya menjadi film komedi yang mengundang gelak tawa. Apalagi, film ini berhasil membidik momen penting, ketika sang desainer mendadak histeris saat mendapati koleksi Jean Paul Gaultier, mirip dengan hasil rancangannya. Penonton mengira, hal itu sesuatu

Pret A Porter (1994)

Film Pret A Porter atau Ready To Wear yang dirilis pada 1994, merupakan film komedi satir tentang industri fashion. Film arahan sutradara kawakan Roberts Altman ini, digarap secara kolosal dengan menghadirkan bintang-bintang Hollywood seperti Julia Robert, Kim Basinger, Sophia Loren, Marcello Mastroniani, Georgiana Roberston dan Tracey Ullman. Sepertinya, sang sutradara, sengaja membuat alur cerita yang rumit melalui penggalan-penggalan cerita. Yang menarik, Altman memanfaatkan Paris Fashion Week sebagai momen istimewa, sekaligus latar lokasi syuting. Sudah bisa dibayangkan, jika film ini dibumbui hiruk pikuk adegan peragaan fashion. Uniknya lagi, yang menjadi kekuatan film ini, adalah banyaknya sarkasme yang dilakukan oleh para pelaku fashion. Tak heran, jika gara-gara film ini, timbul kontroversi di kalangan para pelaku fashion. Rumor yang berkembang, model populer, Georgianna Robertson yang berperan sebagai Dane Simpson, di-blacklist oleh banyak media fashion. Beruntung, kehadiran bintang Julia Roberts atau Kim Bassinger, masih mendapat sambutan hangat, meski keduanya sudah jarang tampil di majalah Vogue Amerika. [view]

FILE:

Seiring berkembang pesatnya dunia teknologi, dunia fashion pun kini dijadikan fitur terbaru dalam Dunia 3G Telkomsel. Fitur ini berisi content mengenai adibusana, serta cara berpakaian yang baik, serasi dan harmonis yang dipandu perancang busana terkemua, Itang Yunasz. Tentu saja, di Dunia Fashion, pelanggan juga bisa menikmati video streaming FashionTV dari ponsel. FashionTV merupakan jaringan televisi kabel yang menayangkan siaran khusus mengenai adibusana internasional.

Artikel ini dua tahun lalu dan dimuat di majalah VIEW edisi Januari 2007

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s