Pangeran Dari Italia

Tahta kerajaan fesyen yang dibangun oleh Georgio Armani memasuki usia ke 32 tahun. Lebih dari 2.000 toko tersebar di seluruh penjuru dunia, dengan penghasilan miliaran dollar. Film-film produksi Hollywood pun kerap menggunakan brand Armani sebagai wardrobe resminya atau sekedar digunakan untuk kostum. Jodie Foster, Michelle Pfeiffer, Russel Crowe, Benjamin Bratt, Robert De Niro Goldie Hawn, dan Benicio Del Toro, adalah sebagian dari selebritis dunia yang sering mengenakan karya Armani dalam setiap penampilannya.

Siapa tak kenal Giorgio Armani. Pria trendy yang namanya melambung lewat brand produk fesyen dan penunjang lifestyle lainnya. Dia hadir sebagai sosok desainer bertangan dingin yang tiada hentinya berkarya, meski kini usianya genap 72 tahun, pada 11 Juli tahun ini. Pria kelahiran Piacenza, sebuah kota kecil sekitar 50 mil di selatan dari kota Milan ini pun masih tampak gagah dengan kulit kecoklatan dan otot yang bagus. Tak heran jika dia mendapat julukan sebagai pangeran fesyen.

Dalam dunia mode, nama Giorgio Armani tak hanya menjadi merek busana, tapi juga aksesoris dan wewangian. Tak heran jika bisnis yang dibangunnya makin menggurita. Siapa sangka, jika Armani mengawalinya dengan bekerja sebagai buyer selama tujuh tahun di sebuah departemen store La Rinascente. Dari sini, dia terinspirasi menerjemahkan imajinasinya lewat desain busana pria. Hasil rancangannya pun dilirik perusahaan garmen merek Hitman milik Nino Cerruti. Sejak itu, Armani mengawali kariernya sebagai desainer busana pria untuk Nino Cerruti.

Tak lama bekerja sama dengan Nino, Armani memilih menjadi desainer freelance. Kala itu, 1974, dia bertemu dengan Sergio Galeotti, yang mengilhaminya menghadirkan kerajaan fesyen Giorgio Armani dan mulai memberanikan diri merancang pakaian pria. Tak disangka, julukan King of Jakets pun melekat pada sosok Armani. Berselang setahun kemudian, keduanya berani menciptakan hasil rancangannya dengan mengeluarkan rancangan pakaian pria dan wanita siap pakai dengan label Giorgio Armani, SpA. Hingga awal dekade 80-an, koleksi dari label ini pun terus bertambah, diantaranya Giorgio Armani Borgonuovo 21, Giorgio Armani Le Collezioni, Mani, Armani Underwear, Giorgio Armani Swimwear hingga Giorgio Armani Accessories.

Rupanya dewi fortuna tengah berpihak pada Armani. Para fashionista mulai tergila-gila dengan hasil rancangannya yang glamour dan mewah. Era 80-an, Armani merilis hasil rancangannya dalam bentuk jean dengan label Emporio Armani dan Armani Jeans. Seiring dengan berjalannya waktu, nama Giorgio Armani menjelma sebagai desainer yang terus membayang-bayangi kebesaran perancang dunia, Christian Dior.

Dunia industri film Hollywood pun mulai melirik rancangan Armani untuk digunakan sebagai wardrobe. Adalah Richard Gere, bintang film yang tengah naik daun saat itu yang pertama kali turut memperkenalkan rancangan Armani ke dunia luar lewat film American Gigolo (1980). Wajah Armani pun terpajang di majalah Time, setelah Christian Dior. Dan sejak saat itu, rancangan busana Armani kerap terlihat di red carpet pagelaran Oscar atau perhelatan akbar lainnya di Hollywood lewat penampilan selebritis ternama seperti Jodie Foster, Michelle Pfeiffer, Russel Crowe, Benjamin Bratt, Robert De Niro Goldie Hawn, dan Benicio Del Toro.

Sederet penghargaan pun diraih Armani berkat kreatifitasnya dalam mendesain pakaian pria, wanita, anak-anak dan remaja. Tak heran bila Armani, meraih predikat the International Top Men’s Fashion Designer dari Cutty Sark Awards. Sebagai pembuktian diri sebagai perancang berkelas dunia, Armani satu-satunya perancang busana yang mendapatkan kesempatan memamerkan hasil rancangannya di panggung busana di Museum Guggenheim, New York.

Tak hanya dalam bidang busana. Intuisi penciumannya pun tak perlu diragukan lagi, dalam suguhan wewangian brand Giorgio Armani. Sayang, pasangan Giorgio dan Sergio dalam dunia fesyen harus berakhir, ketika Sergio Galeotti meninggal dunia, tahun 1985. Sebagai gantinya, Armani pun menggandeng saudara perempuannya, Rossana Armani untuk meneruskan usaha yang tengah berkembang saat itu.

Sepeninggal Sergio, Armani tak kehilangan identitasnya dirinya. Dia terus berkreasi dengan merambah ke semua kebutuhan penunjang fashion diantaranya wewangian, aksesoris hingga kacamata dan jam tangan. Dekade 90-an, Armani kembali meluncurkan koleksi parfum untuk pria dan wanita dengan merek Armani, Emporio Armani, Gio dan Acqua Di Gio yang lantas diakhiri dengan meluncurkan Emporio Armani Beauty Components.

Tahun 2001, Armani tercatat sebagai perancang busana asal Italia paling sukses dengan berhasil mengumpulkan penghasilan sebesar hampir dua miliar dolar. Sosok Armani pun dilirik oleh Persatuan Bangsa Bangsa dengan menjadikan Armani sebagai duta misi kemanusian untuk masalah pengungsi. Namun, dibalik kesuksesannya, ternyata Armani bukanlah sosok lelaki sejati. Bukan rahasia lagi, jika selama ini dia kerap hidup bersama dengan sesama jenis. Padahal tak sedikit wanita yang memohon untuk dipersuntingnya.

Dalam sebuah wawancara dengan majalah Vanity Fair, dia pun mengaku seorang biseksual. Baginya sangat sulit untuk menyukai bagian yang menarik dari tubuh seorang wanita. Dia merasa, kesukaannya pada wanita itu, sudah cukup dituangkan dalam bentuk busana wanita. Tak heran jika hingga kini, Armani belum memiliki pewaris tahta kerajaan fesyen yang dibangunnya selama 32 tahun.

Bicara soal keturunan, membuatnya mulai merasakan kesendirian di istana megahnya. Dia mengaku sangat menyesal karena tak punya keturunan. Namun jika sadar, dia menghibur dirinya sendiri. “Sungguh, saya tak ingin memilikinya. Saya mungkin tergolong orang yang terlalu mencemaskan sesuatu. Bagaimana menakutkannya memiliki anak-anak di dunia ini, tanpa bisa mengontrol mereka dan menangani dengan baik.”


Seiring berjalannya waktu, dia mulai mengkhawatirkan apa yang bakal terjadi dengan karyanya setelah kematiannya. Karakter yang keras pada dirinya, diakui oleh orang-orang di sekelilingnya. Kabarnya, untuk sebuah keputusan, Armani membutuhkan waktu sekitar tiga sampai empat tahun lamanya.

Buktinya, saat menentukan kelangsungan usahanya di bidang fesyen, Armani lebih memilih rekanan finansial atau industri yang mampu menjamin kelangsungan hidup perusahaannya serta merek Armani, dibanding dengan mengawinkannya dengan perusahaan fesyen lainnya atau meluncurkan saham di pasar bursa. Lebih dari 2.000 toko tersebar di seluruh penjuru dunia, dengan penghasilan miliaran dolar (di tahun 2004 penghasilan hanpir satu setengah miliar euro) yang mempekerjakan 5000 orang, Armani tetap independen dan bangga untuk tetap seperti itu di tengah-tengah konglomerasi yang mewah.


Dalam kesehariannya, Armani tak terpisahkan dari istana-istana yang diciptakannya sendiri. Teatro Armani di Milan, yang dirancang oleh temannya, arsitek Jepang, Tadao Ando, merupakan penjelmaan dari guru style globalnya. Selain itu, Armani memiliki megastore di Shanghai, rumah mewah di Broni, Forte dei Marmi dan di St Tropez di French Riviera serta vila mewah di pulau ekslusif Pantelleria dekat Sicilia Italia.

Begitu juga dengan rancangan barunya untuk perlengkapan rumah Armani Casa dan yacht besar Mariu yang menjadi tempat berliburnya, sangat berkelas dan bercita rasa tinggi. Namun dari rumah-rumahnya itu, Armani lebih sering mengendalikan usahanya di kantor pusat Armani, di Via Borgonuovo, Milan. Boleh jadi, di sini dulu, Armani dan Sergio Galeotti, pernah menjelmakan dua tubuh manusia menjadi satu jiwa. [view]

FILE:

Tak bisa dipungkuri oleh Armani, jika industri film Hollywood merupakan salah faktor penentu keberhasilannya di dunia fesyen. Para selebritis yang seringkali mengenakan busana hasil rancangannya saat berpesta ria hingga perhelatan malam anugrah Piala Oscar, membuat banyak orang makin penasaran dengan hasil karyanya.

Buktinya, film-film produksi Hollywood pun kerap menggunakan brand Armani sebagai wardrobe resminya atau sekedar digunakan untuk kostum. Aktris Annette Bening misalnya, sangat bangga mengenakan gaun malam terusan warna hitam karya Amani dalam film Being Julia. Juga Penyanyi tenar Beyonce Knowles yang menyukai gaun malam strapless dengan motif floral plus bertaburan kristal biru yang masih dalam koleksi Giorgio Armani Prive.

Leonardo Di Caprio, pemain The Aviator memilih tuksedo terbuat dari sutra dan wool, koleksi Giorgio Armani saat tampil di malam Oscar. Begitu juga dengan Clint Easwood, pemain Million Dollar Baby memilih tuksedo klasik warna hitam rancangan Armani. Sementara Clive Owen yang bermain dalam film Closer pun memilih tuksedo sutra warna putik rancangan Armani. Martin Scorsese, Sean Penn, Al Pacino dan John Travolta merupakan insan film Hollywood yang mempercayakan kebutuhan tuksedo pada Armani.

Tak hanya selebritis Hollywood yang suka dengan rancangan Armani, tapi pemerintah Italia pun dengan teramat bangga memesan desain busana pengibar bendera yang digunakan pada acara pembukaan Olimpiade musim dingin 2006 ini. Karya Armani memang tak pernah kehilangan pesonanya. Selalu saja, membuat pencinta mode dunia merasa tak bisa melihat dunia jika tak mengenakan rancangannya. [view]

Artikel ini ditulis 2 tahun lalu dan dimuat di majalah VIEW edisi Juli 2006

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s