Sehari Bersama Agus ‘Ringgo’ Rahman

Ringgo adalah nama lain dari Agus Rahman. Aktor pendatang baru yang namanya tenar lewat film Jomblo –yang kini diangkat dalam serial TV, makin ngetop saja. Apalagi, ia berhasil meraih piala Vidya lewat Ujang Pantry 2 sebagai Aktor terbaik. Ringgo lagi-lagi membuktikan kepaiawannya berakting.

Namun, meski sudah beken, lelaki kelahiran Bandung, 12 Agustus 1982 ini, mengaku dirinya tetaplah sosok lelaki sederhana dan tak mau neko-neko. “Hati kecilku tak ingin apa-apa. Hidup apa adanya ajalah…. Nggak ada obsesi yang muluk-muluk,’’ kata Ringgo di sela-sela obrolannya di lokasi syuting Jomblo versi serial televisi produksi Sinemart di kawasan Depok. Manhattan beruntung bisa ngobrol asyik dengan Ringgo selama hampir enam jam, dimulai dari tempat tinggalnya di Apartemen Taman Rasuna, Jakarta.

Pukul 10.00

Pihak keamanan apartemen mengizinkan kami masuk, menuju ke lantai 17, kamar Ringgo. Hanya sekali ketuk, Ringgo membuka pintunya lebar-lebar. “Yuk…masuk, santai aja ya..,” katanya ramah. Terdengar, alunan musik yang diputar lewat Hi-Fi. Seperti biasa, Ringgo tak kikuk ngobrol dengan kami dengan bertelanjang dada. “Ini khas gue, nggak apa ya. Kan udah pada tau, gue suka gerah.”

Obrolan basa-basi pun tak berlangsung lama. Soalnya, Ringgo juga siap-siap menuju lokasi syuting. Ia mulai sibuk berkemas. Masih bertelanjang dada, Ringgo menyempatkan menyulut sebatang rokok sambil bercerita tentang kesibukannya semalaman. “Sorry, gue baru bangun. Semalam baru nyampe jam 3 pagi, dan belum sempat beres-beres, gue langsung tidur. Untung tadi ditelepon, kalau tidak bisa sampe siang tidurnya,” ucapnya panjang lebar.

Tampaknya, kondisi tubuh Ringgo kurang fresh. Walau mengaku sudah mandi pagi, wajahnya masih kusam. Tapi ia santai saja menjawab beberapa pertanyaan kami seputar kesibukannya. Sambil memasukan beberapa barang ke travel bag hitamnya, Ringgo ngobrol tentang kondisi kamarnya yang baru dihuni beberapa bulan silam. Ketika disindir tentang Piala Vidya yang diraihnya – kebetulan piala itu teronggok begitu saja diatas meja bersama foto kecilnya, Ringgo hanya cecengesan. “Wah, gue nggak mau komentar deh soal FFI. Wong piala ini kan beda dengan piala Citra, bener kan?” selorohnya.

Setengah jam kemudian, Ringgo dan kami pun keluar dari kamar menuju tempat parkir. Saat menyusuri basement tempat mobil Hyundai-nya diparkir, Ringgo bilang, semua yang dijalaninya ini, semata-mata untuk tetap bisa bertahan hidup. “Nggak ada niat jadi orang kaya deh, kalo terjun di dunia entertainment seperti ini. Kuliah aja belum selesai. Gue hanya nggak mau nyusahin orangtua yang cuma pensiunan. Tapi gue tetap bertekad harus lulus kuliah,” papar mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Parahiyangan Bandung, angkatan tahun 2000 ini.

Pukul 10.38

Setelah bicara sebentar dengan manajernya, Rommy, Ringgo meluncur ke lokasi syuting di kawasan Depok. Ia nyetir sendiri. “Nggak lucu kalo pake sopir.” Dengan kecepatan 80 km per jam, kami menyusuri jalan Rasuna Said. Sambil nyetir, Ringgo cerita tentang pengalamannya saat syuting iklan rokok yang baru saja dijalaninya. Katanya, ada seorang talent yang sebelumnya sangat dihormati dan disegani, ternyata menyimpan dusta. “Gila, emang jaman udah edan ya,” umpatnya.

Tak lebih 20 menit, mobil melaju masuk pintu tol dalam kota. Obrolan kami terhenti sejenak, karena ponsel Ringgo berdering. Hingga menjelang pintu tol Tanjung Barat, Ringgo baru menyudahi obrolannya dengan si penelepon. Katanya sih, dari mantan kekasih. Mobil pun menyusuri jalan Lenteng Agung, Ringgo cerita soal kariernya yang berawal dari penyiar radio di Radio OZ, tahun 2003 di kota Bandung. “Baru 2005, gue ikut main di film Jomblo dan sampai sekarang gue ngejomblo lagi,” ucapnya terbahak.

Masih ngobrol, ponsel Ringgo berdering lagi. Sang penelpon mengabarkan jika Ringgo diminta untuk ikut main film layar lebar lagi. Wajah nya tampak sumringah. Spontan, ia menjabat erat tangan kami. “Wah makasih banget, majalah Manhattan bawa rejeki buat gue,” katanya senang.

Rupanya Ringgo diminta untuk ikut bermain dalam film komedi. Sayang dia belum tahu judul filmnya. Dia teringat, saat memakai kaos warna hitam, sempat terbalik. “ Katanya kalo kebalik, mau dapat rezeki nomplok. Boleh juga.” Memasuki jalan Margonda Depok, tiba-tiba Ringgo bertanya soal billboard yang terpampang dipinggir jalan, menampilkan sosok pria tak dikenalnya namun bertulis ajakan untuk membayar pajak. “ Nggak nyambung gitu, antara gambar dengan tulisan ya.”

Pukul 11.38

Ringgo mengajak kami mampir di sebuah rumah makan padang Simpang Raya, di sisi kiri jalan. Ringgo memesan daging rendang untuk dibawa ke lokasi syuting. Disela-sela menunggu pesanan, Ringgo kembali berburu sebuah tabloid yang sejak tadi pagi dicarinya. Katanya, dia mejeng di sana, jadi kaver tabloid yang menampilkan personel pendukung film Jomblo. Akhirnya yang dicari-cari pun berhasil ditentengnya. Tak berapa lama, pesanan daging rendang berikut sayur daun singkong sudah siap dibawa.

Ringgo melanjutkan perjalanannya ke arah jalan Kamboja, di kawasan Depok Lama. Sepanjang jalan ini, tanpa sungkan, ia cerita tentang kisah asmaranya dengan sang pacar yang masih tinggal di Bandung. Katanya, dia merasa dikhianati oleh sang pacar. “Itu yang membuat kami putus. Tapi nggak usah bicara soalnya sebabnya ya,” pintanya

Kami pun mengalihkan pembicaraan, biar Ringgo nggak bete ingat ceweknya. Kali ini soal serial TV Jomblo yang masih dibintangi oleh pendukung di versi layar lebar sebelumnya. Menurut Ringgo, diantara pendukung serial TV ini, memang dialah yang menerima honor paling tinggi per episodenya. Wajar saja, namanya makin melejit setelah menerima Piala Vidya lewat Ujang Pantry 2 sebagai Aktor Terbaik. “Ya, walaupun gede, tapi baru cukup untuk beli satu motor aja,” ucapnya tertawa lebar.

Pukul 12.00

Mobil pun memasuki jalan Kamboja, tampak sebuah rumah tua peninggalan jaman dulu. Tampak ramai kru film Jomblo, mempersiapkan peralatan syuting. Ringgo memarkir mobilnya di sebuah lapangan, di belakang rumah tua itu. Tak lama kemudian, beberapa kru menyambutnya dengan ramah. Ringgo menebar senyumnya yang khas.

Sambil menentang tas dan bungkusan daging rendang kesukaannya, Ringgo menuju ke kamar ganti sambil basa-basi menyalami kru yang masih sibuk. Rupanya, Ringgo datang paling paling cepat dari pemain lainnya. Menurut salah seorang kru SinemaArt, pengambilan gambar baru akan mulai pukul 14.00 WIB. “Wah, baru jam 12 udah datang, rajin banget. Memangnya nggak dikabari, kalau syutingnya diundur dua jam lagi,” kata Yuda, asisten sutradara yang menemui Ringgo di ruang istirahat.

Tapi Ringgo cuek saja. Dia masih tampak lelah. Seperti biasa, Ringgo kembali melepaskan kaosnya. “Wuih, gerah banget. Sorry gue buka kaos lagi nih,” ujarnya sambil membongkar-bongkar isi tasnya. Ringgo kembali menuturkan kebiasaanya saat makan daging rendang, yaitu dengan dipotong-potong kecil lebih dulu. Kebiasaannya ini sudah berlangsung lama.

“Dulu, ibu gue kalau mau nyuapin adikku yang kembar, daging rendangnya dipotong-potong seperti ini. Lalu diaduk dengan nasi, baru dimakan. Hmm pasti enak banget deh,” kata Ringgo sambil memotong-motong kecil, daging rendangnya. Usai santap siang, Ringgo kembali menyulut sebatang rokok sambil menuturkan perjalanan karirnya di dunia hiburan, yang tak terpikir sebelumnya.

Pukul 13.00

Salah satu kru film menemui Ringgo dan menyerahkan skrip. Ringgo pun mulai membolak-balik skrip yang baru diterimanya, sambil menuju ruang make up. Setelah itu, dia berganti baju yang diberikan kru film. Tampak profesionalitas Ringgo dalam menjalani kariernya sebagai salah satu aktor dalam serial TV Jomblo ini.

Setengah jam kemudian, masih menenteng skrip, Ringgo terlibat diskusi serius dengan sutradara dan kru-kru film lainnya. Ditengah kesibukan kru film mempersiapkan pengambilan gambar, tak sungkan-sungkan Ringgo memberikan arahan-arahan pada pemain figuran yang bakal bermain bersamanya.

Pukul 14.00

Dengan mengambil setting sebuah warung nasi take pertama pun dimulai. Dalam scene itu, Ringgo digambarkan tengah mengamati rumah kost Lani yang diperankan Nadia Saphira. Sayang, saat pengambilan gambar itu, Nadia belum datang. Kendati Ringgo sudah berakting semaksimal mungkin, namun take itu, mau tak mau harus diulang lagi. Pasalnya, akting para figuran kurang mendukung. Sang sutradara pun meminta Ringgo untuk mengulangnya hingga lima kali shoot. Tak pelak lagi, pengambilan gambar dua scene ini memakan waktu hingga satu jam lamanya.

Kebersamaan kami akhirnya harus berakhir hingga pukul 15.30 WIB, karena pengambilan gambar selanjutkan, baru akan dimulai tengah malam, harus menunggu semua pemain hadir. Sekali lagi, kami berjabat tangan. “ Jangan lupa doian gue ya biar sukses..trims banget,” kata Ringgo. Kali ini dia tampak sungguh-sungguh dan tidak sedang bercanda. [view]

Artikel ini ditulis awal tahun 2007 lalu dan dimuat di majalah VIEW Edisi Februari 2007

Advertisements

2 thoughts on “Sehari Bersama Agus ‘Ringgo’ Rahman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s