Bincang-Bincang Bersama Andy F Noya

Menonton dengan hati. Ya, itulah pesan yang dibawanya lewat Kick Andy yang ditayangkan Metro TV setiap Kamis malam dan Minggu sore. Lewat tayangan ini pula, sosok wartawan yang sebelumnya lebih dikenal sebagai wartawan cetak ini kian dikenal.

Andy F Noya, seorang jurnalis dengan segala aktivitasnya itu kerap tampil membawakan sebuah program talkshow yang ‘tidak biasa’. Pembawaannya yang kalem, mampu memunculkan sisi lain dari kehidupan yang mungkin telah dilupakan atau disisihkan oleh sebagian besar orang, yakni hati sanubari. Tak heran jika ia pun selalu mengingatkan kepada para penonton untuk tidak mengedepankan akal tapi melihatnya dengan hati.

Setelah lima belas tahun lebih menggeluti karir sebagai wartawan cetak, akhirnya Andy memilih dunia broadcasting dan bergabung dengan Metro TV di tahun 2000. Sebelumnya, Andy tampil sebagai host program Jakarta Round Up dan Jakarta First Channel di Radio Trijaya sejak tahun 1994 hingga 1999.

Ditengah-tengah kesibukannya sebagai pemimpin redaksi Media Indonesia dan Metro TV, Andy menjawab beberapa pertanyaan VIEW. Berikut petikannya:

VIEW: Bisa Anda jelaskan konsep yang diusung oleh Kick Andy?

ANDY: Konsepnya sederhana saja, yakni mengangkat suatu peristiwa yang tidak biasa.

VIEW: Maksudnya?

ANDY: Acara ini tidak biasa karena menggunakan sudut pandang yang berbeda. Bukan dengan akal tapi dengan hati. Karena selama ini banyak program talkshow yang selalu mengedepankan akal. Sementara Kick Andy tolok ukurnya bukan akal yang memang terkadang tidak bisa dicerna dengan logika. Karena memang, tujuaan dari acara ini mencoba menjadi sumber inspirasi sekaligus sebagai alternatif tontonan yang berkualitas. Nah untuk itu, acara ini tayang menjelang tengah malam. Dimana orang bersiap-siap untuk istirahat tidur.

VIEW: Sejauh ini tujuan itu sudah tercapai?

ANDY: Lebih dari itu. Awalnya memang sebatas menginspirasi penonton. Dalam perjalanannya, rupanya Kick Andy ini dinilai mampu menggerakkan hati. Bahkan lebih dari itu, Kick Andy pun menjelma menjadi jembatan.

VIEW: Sejauh mana acara ini menjelma menjadi jembatan?

ANDY: Betapa tidak, lewat acara ini dua pihak yang saling membutuhkan dipertemukan. Satu sisi masih banyak orang-orang yang harus dibantu. Namun di sisi lain ada banyak orang yang mau menyumbangkan sebagian rejekinya tapi tidak tahu harus kemana. Apalagi di tengah krisis kepercayaan di kota besar seperti Jakarta ini. Disinilah letak posisi Kick Andy sebagai jembatan yang mempertemukan sebut saja Rabiah ‘Suster Apung’ dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang menyumbangkan kapal untuk modal transportasi sebagai seorang tenaga medis di pulau-pulau di Laut Flores, Sulawesi Selatan.

VIEW: Dari sekian episode ada berapa yang mampu membangun jembatan yang dimaksud?

ANDY: Paling tidak hampir setengahnya, selama dua tahun berjalan hingga kini, ada sekitar 50 episode yang telah berhasil mempertemukan dua pihak.

VIEW: Konon acara Anda pun kerap dianggap menjadi acara yang selalu memihak kepada pihak tertentu, komentar Anda?

ANDY: Dari situlah kita mengetahui sebuah acara dianggap memiliki feedback. Berbagai pro dan kotra kami tanggapi sebagai hal yang wajar dan menjadi pemacu untuk seluruh tim Kick Andy.

VIEW: Bicara soal program acara tentunya tak lepas dari rating dan revenue. Posisi Kick Andy sendiri bagaimana?

ANDY: Di luar dugaan, rating program ini selalu berada di posisi 20 besar dari sekitar 100 mata acara yang ada. Bahkan beberapa episode tayangan ulang selalu berada di posisi lima besar. Dan tentunya ini berpengaruh pada revenue yang besar bagi Metro TV.

VIEW: Lantas di setiap episode, acara ini selalu membagikan buku, apakah ini sekedar trik atau ada maksud lain?

ANDY: Terus terang ini memang obsesi saya pribadi. Karena dulu buku itu menjadi barang mewah bagi saya, dimana betapa sulitnya untuk membeli buku, padahal saya ini penggila buku. Dan ketika saya bisa membeli buku, ternyata masih banyak orang yang tidak mampu membeli buku di tengah melimpahnya buku. Jadi jika sekarang, melalui Kick Andy, saya bisa membagi-bagi buku, maka tak terkata kebahagiaan saya. Memang, pada awalnya, banyak penonton yang meragukan program bagi-bagi buku ini. Bahkan mereka yang beberapa kali mencoba mengikuti undian buku di website ini, tapi tidak juga beruntung, menuduh program bagi-bagi buku gratis ini hanya trik promosi atau bahkan penipuan. Dan kini ada 400 buku yang dibagikan, 100 buku bisa diakses melalui website pada setiap episode dan 300 buku dibagikan kepada penonton di studio.

VIEW: Penentuan judul buku itu sendiri bagaimana?

ANDY: Buku yang dibagikan tentunya disesuaikan dengan topik yang diangkat dalam setiap episodenya.

VIEW: Jika ada stasiun lain yang mencoba membuat program seperti ini, bagaimana menurut Anda?

ANDY: Terus terang, itu yang saya tunggu-tunggu. Karena tentunya akan lebih banyak lagi ‘jembatan-jembatan’ yang menghubungkan pihak yang satu dengan pihak yang lainnya, tak hanya Kick Andy. Dan inilah sisi pesan moral yang hendak disampaikan kepada semua kalangan.

VIEW: Hingga kini obsesi apa lagi yang belum terwujud?

ANDY: Memang saya punya obsesi untuk membentuk sebuah yayasan. Semua itu memang pengaruh dari acara yang saya bawakan ini. Tentunya lewat yayasan itu (Kick Andy Foundation) akan sangat membantu bagi yang membutuhkan. Sebab hingga kini banyak telepon yang masuk ke tim Kick Andy yang menanyakan apakah Kick Andy bisa memberikan bantuan yang mereka butuhkan. Dari sinilah kami berangkat sedikit demi sedikit mengumpulkan dana untuk keperluan itu. Semuanya saya lakukan dengan hati yang ikhlas. [view]

Artikel ini ditulis Maret lalu dan dimuat di majalah VIEW edisi April 2008

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s