Bincang-Bincang Bersama Maylaffayza

Bagi penikmat musik di tanah air, nama Maylaffayza (32), pasti sudah tak asing lagi. Violinis yang sangat mengidolakan maestro Indris Sardi ini, sangat piawai memainkan alat musik biola. Menariknya, Maylaf tak hanya tampil sebagai instrumentalis tapi juga entertainer yang selalu memukau penontonnya.

Tujuh tahun sudah, Maylaf berkarir sebagai solo-violinis di panggung hiburan. Sebagai bukti kepiawaiannya, ia pun mempersembahkan album solo perdananya bertitel Maylaffayza. Sepertinya, lewat album ini, Maylaf ingin menyuguhkan sesuatu yang segar dalam permainan instrumen biola.

Lantas seperti dambaan wanita kelahiran Jakarta 10 Juli 1976 ini lewat biolanya? Berikut petikan perbincangan VIEW bersama violinis berparas cantik ini beberapa waktu lalu.

VIEW: Bisa ceritakan keseharian Anda sebagai seorang Maylaffayza?

MAYLAF: Peran saya yang sesungguhnya dalam sehari-hari lebih dari violinis. Selain sebagai pimpinan, saya terjun langsung bersama tim Maylaffayza Management. Mulai dari media exposure, media strategy, sosialisasi branding Maylaffayza, pengawasan distribusi, generating blog-blog saya. Termasuk juga semua yang berkaitan dengan marketing, sponsorship dan digital distribution. Jadi sebagai violinis, saya juga memimpin management sendiri. Dalam Maylaffayza Records, saya bertanggung jawab sebagai music director dan produser di album yang baru dirilis Januari lalu.

VIEW: Lantas posisi Anda sebagai violinis bagaimana?

MAYLAF: Sebagai violinis, tentu tanggung jawab kerja saya adalah melatih semua lagu yang akan di tampilkan. Re-arrange lagu saya bersama band yang akan mengiring, dimana konteksnya saya bertanggung jawab sebagai music director bagi band yang saya bentuk khusus. Dan bekerja sebagai violinis dan penyanyi, hanyalah salah satu dari sekian banyak hal yang harus saya kerjakan.

VIEW: Kini Anda tampil sebagai public figure, bagaimana menjalaninya?

MAYLAF: Sebagai public figure yang berprofesi sebagai violinis, sehari-hari saya juga harus bisa memenuhi semua tugas promosi album saya mulai dari menjawab pertanyaan baik langsung, by phone ataupun e-mail. Juga menghadiri berbagai acara, shooting, pemotretan, hingga siaran radio.

VIEW: Seberapa besar daya tarik biola bagi Anda?

MAYLAF: Sejak kecil saya dididik secara disiplin untuk mempelajari biola. Mengenai ketertarikan saya terhadap biola, tak bisa saya jelaskan dengan kata-kata. Yang pasti, waktu kecil saya diberi biola oleh paman saya (alm) Iswan Sutopo, I fell in love with violin. Karena ada minat dan bakat, saya pun terus dimotivasi untuk belajar memainkannya. Jika ditanya kenapa suka, saya tidak tahu. I just do. I followed my heart, I committed to what I do and take all the consequences of all the disciplines that was required.

VIEW: Lantas untuk mempelajari alat musik biola dan vocal, Anda berguru pada siapa?

MAYLAF: Di usia 9 tahun, saya digembleng oleh (alm) Joko. Setahun kemudian saya berguru kepada Idris Sardi hingga sekarang. Malah hubungan kami bukan lagi seperti guru dan murid, tapi seperti bapak dan anak. Sejak 1998, saya pun berguru vokal Elfa Secioria, Bertha, Catharina Leimena, dan Ivone Atmojo. Setelah merasa cukup, saya memberanikan diri tampil sebagai solo violinist dan penyanyi. Tahun 2000 lalu, saya sudah go public tampil di corporate event dan berbagai media.

VIEW: Sebenarnya, sejauh mana minat masyarakat sendiri terhadap jenis musik ini?

MAYLAF: Minat masyarakat pada musik, pasti terus berkembang. Buktinya, banyak remaja dan anak-anak kecil yang mempelajari biola. Juga tak sedikit orang tua yang datang ke saya dan bertanya tentang bagaimana caranya, agar anak mereka bisa belajar biola. Tentunya, biola tak bisa dibandingkan dengan minat masyarakat atas menyanyi, karena vokal adalah sesuatu yang sudah manusia bawa dari lahir dan mempunyai lirik. Secara positif, saya memandang masyarakat lebih open minded, terhadap perkembangan berbagai hal.

VIEW: Anda merilis album perdana dengan judul Maylaffayza. Apa yang Anda tawarkan dalam album itu?

MAYLAF: Saya menawarkan semangat liberating. Semangat untuk keluar dari kotak kenyamanan yang ada. Musik saya bergenre pop cross over. Pop dalam arti non classical, jadi sama sekali tidak klasik. Cross over dalam arti silang menyilang antar kultur dan genre. Biola saya padukan dengan vokal saya. Jadi ada lagu biola dan ada lagu vokal. Jika lagu biola, vokal hanya menjadi lyric hook. Jika lagu vokal, maka biola akan mengisi fill in.

VIEW: Bagaimana dengan musikalisasinya?

MAYLAF: Untuk musikalisasinya saya mencampurkan African American Rhytm yang biasa dipakai dalam hip hop, rap dan r ‘n b. Lalu, saya padukan dengan unsur melodi atau chords barat di campur esensi tunes dari eastern dan tradisional Indonesia. Lagu vokal mulai dari slow, mid tempo sampai ke dinamis, di imbangi dengan lagu-lagu biola yang highly dynamic. Vokal lebih ke melodius, saya padukan dengan biola yang harmonis ritmis dengan attack dan grove. Ini adalah kerja team antara saya, Idris Sardi dan Bobby Surjadi.

VIEW: Kabarnya, album ini diproduksi secara independen, kenapa? Apakah major label kurang berminat?

MAYLAF: Major label mempunyai karakteristik yang berbeda dengan karakteristik saya. Kita berdiri di posisi yang berbeda. Biola sudah mempunyai sifat dasar eksklusif, meski saya tidak pernah meng-eksklusifkan diri, tapi itu sudah menjadi nilai dasar dari biola. Dalam kata lain, biola bisa dikategorikan ‘barang butik’. Sementara major label lebih seperti ‘department store’ bukan ‘butik’. Kenapa? Karena tentu saja penanganannya, packaging, management, branding, strategy business-nya jauh berbeda. Akhirnya, saya ambil manuver untuk menjadi produser dan music director serta membangun Maylaffayza Records.

VIEW: Lantas apakah ini yang menjadi ambisi Anda?

MAYLAF: Setiap manusia mempunyai ambisi untuk menjadi merdeka. Independen dari segala hal. Jadi layak bahwa seorang manusia ingin menjadi besar dan berkembang dengan dirinya sendiri. We are the creator of our own life. So I create my own life, I create my own blue ocean.

VIEW: Hingga kini, sejauh mana animo pecinta musik terhadap album Anda?

MAYLAF: Alhamdulilah, saya melihat respon yang positif. Saya sering berkomunikasi langsung dengan banyak orang bahkan yang saya tidak kenal. Mereka yang sudah membeli album saya, maupun belum beli tapi mendengarkannya di radio, mereka terus support saya. Terpenting, album saya bukan barang dagangan, tapi sebagai media menyampaikan ide saya untuk memerdekakan pemikiran.

VIEW: Dalam tiga tahun ke depan, apa rencana Anda?

MAYLAF: Belum tahu. Yang jelas, tahun ini saya ingin sukses dalam pemasaran dan penjualan album. Lebih penting di atas semua itu, saya ingin berhasil memberikan ide inspirasi kepada masyarakat melalui sikap dari musik saya. Semoga bisa membawa sebuah perubahan yang positif. [view]

Artikel ini ditulis April lalu dan dimuat di majalah VIEW edisi Mei 2008

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s