Siap-siap rela ‘sedikit’ gerah

Bisa jadi, jika draft Surat Keputusan Bersama (SKB) –yang ditandatangani Menteri Perdagangan, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara– itu dikeluarkan, maka para pengunjung harus rela ‘sedikit’ gerah.

Ya, pasalnya, dalam SKB itu menetapkan suhu ruangan minimal 25 derajat Celcius. Wah, padahal sebelumnya mal-mal yang bertebaran di segala penjuru lokasi, terlebih di Jakarta itu selalu ‘manteng’ di angka 21 derajat celcius sebagai titik tertinggi. Maklum, negeri tropis ini tengah berhemat energi sebagaimana himbauan presiden SBY.

Bahkan untuk hal ini, SBY pun mengeluarkan Intruksi Presiden (inpres) No. 2/2008 tentang Penghematan Energi dan Air memerintahkan penghematan
energi melalui penerangan dan alat pendingin ruangan (AC), meski tanpa
menyebutkan besaran suhu minimal dalam ruangan. Tapi angka 25 itu baru ditemukan dalam Peraturan Menteri (Permen) ESDM No.31/2005 tentang Tata Cara Pelaksanaan Penghematan Energi. Dimana  bangunan komersial harus mengatur suhu ruangan ber-air conditioner minimal 25C.

Rupanya, sebelum para pengunjung meresa gerah ketika nanti ber-shopping ria, para pengelola mal sudah ‘kegerahan’ terlebih dahulu dengan SKB itu. Terlebih para pengelola mal papan atas yang bertebaran di kawasan protokol Jakarta. Bahkan dalam sebuah rapat Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) terjadi pro kontra soal suhu minimal dalam ruangan. Dan dikabarkan salah satu pimpinan mal sempat walk out.

***

Belajar dari Singapura

Padahal untuk kasus sejenis ini, pemerintah Singapura, sejak 2005 sudah menyadarkan pengelola mal dan toko modern agar melakukan hemat energi, dan akhirnya disepakati untuk menyetel suhu dalam ruangan minimal 25C. Nyatanya, ‘angka’ itu tidak lantas membuat konsumen Singapura dan negara lain emoh belanja di mal favorit mereka.

Sejatinya, persoalan ini bukan sekedar pada angka minimal saja. Pengelola mal di Singapura mampu mempertahankan kesejukan dalam ruangan, karena desain gedung umumnya tidak banyak kacanya dan tentunya ditopang dengan konsep kelembaban lingkungan. Ironisnya, di Indonesia banyak desain arsitek membuat mal yang wah dengan menampilkan kaca yang banyak, seolah menunjukkan ciri tropis dan penerangan alami.

Aturan tinggal aturan, sejak dikeluarkan tahun 2005 lalu, Peraturan Menteri ESDM itu lebih sering dilanggar, bahkan diabaikan begitu saja. Banyak mal-mal yang tetap keukeuh menyetel di angka-angka dingin. Hal ini karena dalam permen itu tak memuat sanksi.

Tapi paling tidak, SKB yang merujuk pada aturan menteri ESDM ini, terdapat klausul tentang sanksi bagi pelanggar. Konon, PLN selaku penyedia aliran listrik bakal melakukan pemutusan aliran bagi yang tetap membandel.

Mampukah aturan itu berlaku produktif, efektif dan efisien? atau jangan-jangan hanya sebatas di atas kertas? Kita lihat saja nanti!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s