Bali van Java in Harajuku

Apa jadinya ketika budaya Bali, Jawa dan Jepang dipadukan? Ternyata dari ketiga budaya itu mempunyai benang merah yakni sabuk, warna yang mencolok, seni melipat dan volume oval. Dan Priyo Oktaviano adalah desainer muda yang menyatukannya dalam koleksi houte couture terbarunya dengan tema Bali Van Java in Harajuku.

Koleksi  ini merupakan teknik melipat dengan sentuhan natural tanpa digunting pada kain. Bervolume longgar, siluet oval gaya tahun 1920-an seperti poiret style atau lanvin style. Sementara bawahan mengecil di bawah, lengan kimono, dan rok sarung. Koleksi yang dipersembahkan dalam rangka perhelatan Tribute to Nation yang digelar oleh sebuah pusat perbelanjaan ternama, Plaza Indonesia itu tampil menggunakan bahan chiffon dan cotton silk.

Warna-warna terang yang mencerminkan jiwa muda yang dinamis dan menyenangkan  sengaja ditampilkan oleh sang desainer sehingga kesan modern, etnique dan edge begitu kentara. Terlebih gaya pakaian ala harajuku yang penuh dengan tabrak warna, maka jadilah kolaborasi bercita rasa etnik tampil dengan sentuhan urban dan modern.

Sebagai penyempurnanya, desainer yang pernah mengenyam pendidikan mode Esmod Paris, Perancis itu melengkapinya dengan gelang kerincing di kaki, sepatu flat ala selop Jawa warna hitam dengan modifikasi dengan sandal geiza Jepang berplatform tebal. Hadirnya hiasan kepala berbentuk bunga-bunga mengingatkan pada musim semi di Jepang dan menunjukkan kekayaan alam tropis Jawa dan Bali.

Artikel ini ditulis dan dimuat untuk VIEW edisi Oktober 2008

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s