Laskar Pelangi, Harapan Baru Film Nasional

Panggung film nasional kian ramai saja. Paling tidak sepanjang tahun ini, dunia perfilman mendapat ‘udara segar’ baik dari pelaku maupun penonton. Tak jarang, sederet judul film nasional –komedi, romansa hingga horor— mendulang sukses dari segi bisnis maupun pesan yang dibawanya. Meski tak sedikit pula yang kesandung pro dan kontra.

Menurut Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, sejak digelarnya kembali Festival Film Indonesia (FFI) 2004, produksi film terus meningkat saban tahunnya. ”Tahun 2007 ada sekira 57 film yang diedarkan. Sementara hingga akhir tahun ini diperkirakan ada sekira 90 film yang siap edar,” katanya.

Paling tidak, perkembangan tersebut kian tampak, ketika sejumlah film mampu menarik minat public figure dan para pejabat hingga presiden beserta kabinetnya –yang tak sungkan— untuk duduk di bangku bioskop menyaksikan karya anak bangsa. Tentunya, kehadiran mereka di gedung bioskop bukan sekedar latah atau tebar pesona, tapi bisa jadi lebih pada ’penasaran’ akan fenomena yang ada. Meski, tak dipungkir pula ada pesan-pesan tertentu dengan kerelaan mereka menyisihkan waktunya untuk menonton.

Dan satu dari sekian film yang sukses dan mampu menghipnotis segenap kalangan untuk rela berduyun-duyun dan mengantri di bioskop adalah film Laskar Pelangi arahan sutradara muda Riri Riza. Pasalnya, film ini –yang diangkat dari novel setebal 529 halaman karya Andrea Hirata dengan judul yang sama— dipenuhi kisah masyarakat pinggiran, perjuangan hidup menggapai mimpi yang mengharukan, serta persahabatan yang menyelamatkan hidup manusia dengan latar belakang sebuah pulau indah yang pernah menjadi salah satu pulau terkaya di Indonesia, Belitung di akhir tahun 1970-an.

”Anak kecil pun pasti suka. Karena disamping sebagian besar tokohnya usia anak-anak, pemandangan alam pulau Belitung yang indah akan memanjakan siapa pun yang menontonnya,” ujar Andrea yang mengaku pada awalnya tidak yakin dan sempat tidak percaya diri untuk menonton film yang diangkat dari novelnya itu.

Memang, mengadaptasi cerita dari novel ke layar lebar bukanlah hal gampang. Karena keduanya merupakan media yang berbeda. Meski demikian, Laskar Pelangi, ditangan Salman Aristo sang penulis skrenario yang memusatkan cerita pada tiga dari sepuluh tokoh Laskar Pelangi yaitu Ikal (Zulfanny), Lintang (Ferdian) dan Mahar (Veris Yamarno) menjadi lebih fokus dan padat. Pun dengan penguatan pada sosok Bu Muslimah (Cut Mini) dan Pak Harfan (Ikranegara) serta Pak Zulkarnaen (Slamet Rahardjo) menjadikan film ini lebih hidup, meski akting mereka biasa-biasa saja.

Tak heran bila film ini sama dengan novelnya yang memuat semangat dan kegigihan untuk keluar dari himpitan penderitaan. Hal ini terlihat dari penggambaran perjuangan mereka untuk mengatasi segala keterbatasan terkadang mengundang tawa, di lain waktu menguras air mata. ”Mudah-mudahan model film seperti ini bisa menawarkan sesuatu yang baru bagi dunia perfilman nasional,” ujar Riri Riza.

Bahkan, banyak pihak yang menilai Laskar Pelangi –yang tayang serentak sejak 25 September lalu— boleh dibilang merupakan karya masterpiece dari kerja bareng Mira Lesmana dan Riri Riza yang telah sejumlah film selama satu dekade berkutat di panggung film. Dan secara keseluruhan, film ini mewarnai dunia perfilman Indonesia setahun terakhir yang dipenuhi cerita-cerita cinta dan hantu. ”Untuk saat ini, film Laskar Pelangi menjadi film terbaik di Indonesia,” tandas penguasa Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X, mengomentari film yang ditontonnya hingga dua kali ini.

Seperti versi novelnya –yang dirilis pada September 2005— Laskar Pelangi tak ubahnya ayam petelur nan subur. Novel fenomenal ini berhasil dicetak ulang hanya dalam waktu sepekan setelah dipasarkan. Bahkan di negeri jiran Malaysia, novelnya diterbitkan Litera Sdn Bhd, berhasil menembus angka lebih dari 250 ribu eksemplar. “Kemarin ada penerbit dari Spanyol yang mau menerbitkan dalam bahasa Inggris,” ujar Andrea, yang konon tetap konsisten tidak akan mengambil sepeser pun dari royalti dari novelnya itu yang menembus angka Rp 1 miliar.

Bisa jadi senyum dan warna-warni pelangi di wajah ‘Laskar Pelangi’ itu memberi secercah harapan akan datangnya masa depan film nasional lebih cerah. Paling tidak, menurut data yang dimiliki jaringan bioskop 21 Cineplex, dari lima judul film yang mengambil masa tayangnya di musim lebaran atau biasa yang disebut-sebut sebagai summer-nya Indonesia, Laskar Pelangi menjadi yang terbaik tahun ini.

Sejatinya, harapan itu ada tentunya sepanjang masih tertanamnya semangat pantang menyerah pada mereka para sineas untuk terus berkreasi menyuguhkan film-film bermutu. Sebagaimana Laskar Pelangi yang sarat akan pesan moral. Semisal, hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya. Atau, pesimistis adalah sikap takabur, mendahului nasib. “Sebuah film itu memang tujuannya untuk menghibur, tapi jangan lupa bahwa film juga merupakan produk budaya sehingga dalam sebuah film juga penting mengangkat nilai-nilai lokal dan isu-isu penting bangsa ini,” tutur sang produser Mira Lesmana.

Bila film Ayat-Ayat Cinta (2008) arahan sutradara muda Hanung Brahmantyo mampu nyaris menembus angka 4 juta orang penonton. Begitu juga dengan Naga Bonar jadi 2 (2007) besutan sutradara sekaligus aktor kawakan Deddy Mizwar yang berhasil meraih jumlah penonton sebanyak 2,3 juta orang hanya dalam waktu 40 hari. Lantas, apakah Laskar Pelangi –yang menghabiskan anggaran Rp 8 miliar itu mampu menyalip atau paling tidak menyamai jumlah penonton dari kedua film nasional itu?

Sebagai catatannya, hanya dalam waktu 4 hari saja, Laskar Pelangi telah berhasil menjaring 370 ribu penonton. Dan memasuki pekan kedua sudah mencapai angka 1,3 juta orang penonton. Ini pun baru di kota-kota yang tersedia jaringan bioskop nasional 21 Cineplex dan Blitz.

Pengamat film nasional, Yan Widjaya, menegaskan sukses yang diraih Laskar Pelangi dalam merebut hati penonton Indonesia tidak lepas libur lebaran dan tema yang berbeda. Padahal Yan menambahkan, setidaknya ada empat film nasional yang tayang secara bersamaan yakni Chika produksi Soraya Film, Cinlok (MD Pictures), Barbi3 (Starvision Plus) dan Suami Suami Takut Istri The Movie (MVP Pictures) –film adaptasi dari sitkom terlaris di layar kaca.

Bahkan, Yan pun memprediksi Laskar Pelangi bakal mampu menyaingi jumlah penonton film Ayat Ayat Cinta. ”Kalau melihat yang didapat dalam pekan pertama oleh Laskar Pelangi, saya cukup yakin film ini akan bisa menandingi Ayat Ayat Cinta,” pungkasnya.

Mengomentari prediksi Yan Widjaya tersebut, Mira Lesmana pemilik Miles Production tak mau sesumbar, ”Kita tidak boleh mendahului nasib. Saya lebih baik menghindari saja spekulasi-spekulasi semacam itu, pokoknya kita lihat saja.”

Tulisan ini ditulis dan dimuat untuk VIEW edisi November 2008

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s