Bincang-bincang Bersama Zara Zettira

foto by fernandez
foto by fernandez

Setelah lama tak terdengar, kini ia kembali. Sepuluh tahun sudah, sepertinya ia menenggelamkan dirinya dengan kesibukan sebagai penulis skrenario sinetron. Terlebih setelah kepindahan dirinya ke Toronto, Kanada pada 1999 silam. Selama itu pula, namanya nyaris tak terdengar di kalangan pecinta buku fiksi.

Bagi sebagian kalangan –generasi remaja era 1980-an— ketika mendengar namanya, pasti akan teringat dengan sosok yang satu ini. Nama Zara Zettira (39) begitu melekat di hati para pecinta novel dan cerpen (cerita pendek) seputar romantika remaja. Dan memasuki era 1990-an, naskah film hasil karyanya begitu populer, salah satunya adalah Catatan si Boy.

Tak hanya itu, ribuan skrenario sinetron sudah ditulis mantan puteri remaja 1985 ini. Salah satunya Janjiku –yang merupakan salah satu sinetron dengan rating tertinggi dalam sejarah sinetron di Indonesia— Bella Vista, Shangrila, Tersanjung, Dia, hingga Malin Kundang. Bahkan hingga kini, ia pun saban tahunnya masih menulis naskah sinetron religi untuk momen ramadhan.

Dan di penghujung tahun 2008 lalu, sebagai penulis cepat dan produktif, ibu dari Alaya Eva Ramadi Zsemba dan Zsolt George Zainuddin Zsemba seakan terlahir kembali sebagai penulis buku. Hal ini ditandai dengan diterbitkannya novel bertajuk Every Silence has a Story (Cerita dalam Keheningan) yang terbit dalam dua bahasa dalam satu buku. Novel berbahasa Indonesia dan Inggris ini, bertutur tentang pergulatan hidup seorang Zaira, tokoh utama yang tak lain adalah sosok dirinya.

Di sela-sela peluncuran novelnya di Jakarta akhir tahun lalu, kepada VIEW, Zara Zettira membeberkan seputar kembalinya ke dunia tulis menulis yang telah ditinggalkannya selama sepuluh tahun terakhir ini.

VIEW: Apa yang membuat Anda kembali menulis buku?
ZARA: Terus terang inilah bantuk pemberontakan hati dari seorang yang tertekan dengan sistem rating dan kejar tayang yang berlaku di industri pertelevisian negeri ini.

VIEW: Maksudnya?
ZARA: Ya, selama ini, sebagai penulis saya seakan tak ubahnya seperti robot yang harus menulis satu episode dalam sehari. Tak hanya itu, saya pun harus menulis cerita sesuai yang diminta rumah produksi. Dan semua itu bertentangan dengan tujuan saya menjadi penulis. Padahal saya kan mau menulis sesuai pemikiran sendiri, bukan atas dasar rating atau diatur-atur produser.

VIEW: Lalu selama Anda melakukan hal itu, apa yang terjadi?
ZARA: Awalnya saya menikmatinya. Tapi pada kurun waktu tiga tahun terakhir ini, saya dilanda kebingungan yang amat sangat. Karena menulis, bagiku, adalah nafkah batin. Pergulatan jiwa pun berkecamuk, hingga akhirnya saya harus masuk rumah sakit. Dan saat di rumah sakit itulah, ide untuk kembali menulis sesuai keinginan sendiri muncul kembali.

VIEW: Kapan Anda mulai menulis dan apa yang ditulis?
ZARA: Sejak keluar dari rumah sakit, seakan-akan saya mendapatkan energi baru untuk segera menuliskan keinginan saya itu. Dan kisah yang saya angkat tak lain adalah perjalanan hidup saya sendiri. Akhirnya lahirnya novel yang saya beri judul Cerita dalam Keheningan ini.

VIEW: Berapa lama novel ini Anda selesaikan?
ZARA: Novel yang awalnya berbahasa Inggris ini saya selesaikan dalam waktu enam hari. Saya akui, waktu menulis bagai orang kesurupan. Sampai-sampai tidak ingat kalau saya punya anak dan suami. Saya baru berhenti menulis ketika buang hajat ke toilet. Bahkan mandi pun tidak. Novel ini pun hanya baru sebagian dari yang saya tulis. Jadi masih ada kelanjutannya.

VIEW: Lantas apa mendasari Anda untuk menerbitkan dalam dua bahasa?
ZARA: Sebenarnya ini keinginan pribadi untuk mencoba sesuatu yang baru. Dan ternyata keinginan itu didukung oleh penerbit. Maka lahirlah novel dua bahasa ini.

VIEW: Pesan apa yang Anda bawa lewat novel ini?
ZARA: Novel yang sejatinya merupakan perjalanan hidup saya, sebagian masa lalu, masa kecil saya , perjuangan saya, pemikiran dan perasaan saya dulu sampai sekarang. Karena kita manusia pada hakekatnya adalah sama. Saya percaya dan berharap, novel ini bukan menjadi bacaan yang habis setelah selesai dibaca, melainkan akan memunculkan banyak pertanyaan yang dengan senang hati akan saya tanggapi secara pribadi dalam forumnya.

VIEW: Dengan kembali menulis buku, bagaimana dengan dunia naskah skrenario, apakah akan Anda tinggalkan?
ZARA: Ya, tidak serta merta saya tinggalkan begitu saja. Paling tidak saya hanya akan menerima tawaran untuk menulis naskah film anak-anak atau sinetron ramadhan. Dengan catatan tidak seperti tujuh tahun yang lalu.

Artikel ini ditulis dan dimuat untuk majalah VIEW edisi Februari 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s