Totalitas Rachel Maryam

foto by Fernandez

foto by Fernandez

Pamor Rachel Maryam di jagat hiburan belumlah pudar. Meski kini, ia tengah konsentrasi di panggung politik untuk meraih suara di Pemilu 2009, April mendatang. Bahkan kemunculannya kembali di film Sepuluh yang edar awal Februari lalu, kian menegaskan posisinya sebagai aktris yang tetap bersinar.

Memang, kesibukannya sebagai seorang caleg tak lantas membuat aktingnya di film ini, jadi biasa saja. Tapi sebaliknya, Rachel begitu apik memerankan sosok Yanti, seorang buruh cuci di perkampungan kumuh. “Saat syuting aku lagi sibuk-sibuknya kampanye. Syukurlah film kelar dan aku fokus lagi ke politik. Kan  pemilu udah makin dekat,” paparnya.

Di film yang menghabiskan dana Rp 12 miliar lebih ini, Rachel bermain bareng Ari Wibowo, August Melasz dan beberapa pendatang baru. Totalitas akting Rachel pun kembali diuji. Tak hanya durasinya yang cukup panjang, tapi film Sepuluh juga hadir di tengah maraknya serbuan film bergenre komedi seks dan horror.

Diakui Rachel, di film garapan sutradara muda Henry Riady, peran yang dilakoninya cukup berat.  Betapa tidak, ibu satu anak ini lebih sering syuting di bawah guyuran air. Tak hanya itu, Rachel pun dituntut seringkali harus menangis. “Di sini aku lebih banyak peran nangis, jadi harus punya stok air mata,” kata istri Muhammad Akbar Permana ini.

Namun, akting menangis bukanlah yang pertama dilakukannya. Hal yang sama pernah dilakoninya  dalam film Perempuan Punya Cerita (2008) –film garapan empat sutradara wanita, Fatimah Tobing, Lasja Susatyo, Nia Dinata dan Upi. Tak heran, bila Rachel tak banyak mendapatkan kesulitan memerankan sosok Yanti, yang tak pernah lelah menangisi nasib Maria, anak semata wayangnya. Meski, peran kali ini memang jauh lebih berat. “Kalau nggak mampu ya nggak diambil, karena setiap peran pasti memiliki tantangan berbeda-beda,” akunya.

maryam2Sejak terjun sebagai aktris, Rachel dikenal sebagai pelakon yang tak terlalu selektif dalam memilih peran. Bakat seninya terasah ketika bergabung di kelompok teater sekolahnya, SMU 19 Bandung. Rachel yang sempat mengenyam pendidikan perhotelan di kota kelahirannya, ‘berontak’ dengan apa yang dijalaninya. Akhirnya, wanita kelahiran, 20 April 1980 ini pun hijrah ke Jakarta dan terjun ke dunia modeling.

Wajahnya mulai dikenal ketika membintangi ‘kekasih gelap’ dalam video klip Sephia, milik Sheila on 7. Akting Rachel pun berbuah manis dengan diraihnya penghargaan sebagai Model Klip Terbaik MTV 2001. Tiket emas untuk memasuki dunia hiburan nasional pun digenggamnya. Mulai sebagai bintang sinetron hingga ke layar lebar.

Sukses berperan di beberapa sinetron seperti Lupus Milenia dan Strawberry, Rachel menjajal kemampuannya di layar lebar.  Film Eliana, Eliana (2001) adalah film layar lebar pertamanya. Boleh dibilang, lewat aktingnya bareng bintang film kawakan sekelas Jajang C Noer, Rachel pun menuai sukses. Pun ketika membintangi film-film yang tak kalah suksesnya seperti Arisan (2003). Bahkan di tahun 2005, wajah Rachel muncul di tiga judul film, yakni Janji Joni, Belahan Jiwa dan Vina Bilang Cinta. Dan totalitas akting Rachel dalam film Arisan, sebagai gadis sarjana hukum dengan logat bataknya berhasil memboyong Piala Citra untuk kategori Aktris Pendukung Terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2004.

Kini, ibu dari Muhammad Kalle Mata Angin (3) mencoba peruntungan di panggung politik dengan menjadi caleg DPR RI di bawah payung Partai Gerindra. Tentunya, kesibukan pun kian bertambah, terlebih saat putaran kampanye dimulai. Selain masih mempromosikan gerakan yang dibawa film Sepuluh seputar kepedulian terhadap anak jalanan, Rachel pun harus terjun menyapa calon pemilih di daerah pemilihan Jawa Barat II yang meliputi Kabupaten Bandung dan Bandung Barat. “Suami tahu, saya selalu mencari tantangan baru. Sekarang saya coba terjun ke politik. Dia pun mendukung,” tegasnya.

Meski masih awam tentang dunia politik, Rachel menilai, dunia seni peran –yang digeluti sebelumnya— dan panggung politik tak jauh beda. Terlebih selama ini, sebagai pelaku seni, dia merasa gerah dengan kondisi carut-marut negeri ini. “Dulu aku kan hanya bisa ngoceh di depan teve, mudah-mudahan bila terpilih, aku mau ikut mengubah kondisi bangsa ini. Meski belum memiliki ilmu yang tinggi, toh sebenarnya seni peran dan politik tak jauh berbeda,” jelas Rachel yang siap menanggalkan keartisannya untuk sementara waktu bila terpilih nanti.

Sebagai seorang pesohor yang tengah bertarung menarik simpati masyarakat di pesta demokrasi tahun ini, Rachel pun tak langsung melepaskan sisi keartisannya begitu saja. Di beberapa kesempatan, ibu satu anak ini tampil dengan dandanan lebih berani. Paling tidak, pesona aktris bertubuh mungil ini masih kuat memancar.

*Artikel ini ditulis dan dimuat untuk VIEW edisi Maret 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s