Gaun Pengantin Laser Cutting

chennyhanGaun, tak hanya terbuat dari beragam keindahan jenis kain dan kristal semata, melainkan suatu bentuk pengabdian bagi kebahagiaan seseorang. Itu sebabnya setiap gaun diwujudkan tak hanya lewat keahlian semata, melainkan dari lubuk hati sanubari. Terlebih gaun pengantin, sebuah busana yang selalu akan dikenang seumur hidup oleh penggunanya. Membuat gaun pengantin dengan detil-detil yang menawan, menjadi prioritas utama para desainer. Salah satunya Chenny Han yang mengaplikasikan lewat teknik laser cutting.

Tak sekadar indah, cantik dan anggun. Tapi hasil akhirnya pun begitu rapi, presisi dan tak terbatas. Itulah gambaran gaun pengantin bergaya unfinished yang memakai teknologi laser-cutting. Dengan teknik ini, Chenny Han, mampu menghasilkan berbagai ornamen dari kain yang dipotong secara sangat rapi sehingga tidak ada lagi bulu-bulu halus di sekeliling ujung kain.

Sebanyak duabelas gaun putih cantik, anggun dan eksklusif dengan teknik inovatif itu dihadirkan Chenny Han dalam peragaan busana bertajuk Laser Me Beautiful, di Jakarta beberapa waktu lalu. Pembuatan detil hiasan yang rumit, namun indah itu sebelumnya pernah dilakukan Chenny dengan bantuan kristal-kristal mahal dari Eropa, benang emas maupun media selain kain. Sebut saja koleksi gaun pengantin berlampu, gaun pengantin dari kertas, gaun pengantin batik white on white hingga gaun pengantin tiga dimensi.

Pada koleksi terbarunya ini, Chenny Han menampilkan beberapa ornamen penghias yang eksklusif sebagai pencipta keindahan busana. Diantaranya adalah ratusan bunga sutera, surai-surai yang rapi, seperti barisan mie raksasa, kotak-kotak kecil seolah kain berjendela hingga barisan komet berekor ukuran mini yang begitu artistik. “Teknik potong laser menghasilkan ornamen-ornamen yang jauh lebih rapih, mengurangi pemborosan kain serta memiliki akurasi ukuran yang sangat presisi dan konsisten. Dimana, hal ini sangat mustahil dilakukan bila menggunakan cara manual,” ujar pemilik rumah mode Chenny Han fashion and Bridal. [view]

tulisan ini ditulis dan dimuat untuk majalah VIEW edisi April 2009

Advertisements

Bincang-bincang Bersama Wanda Hamidah

caleg-wandaSiapa yang tak kenal Wanda Hamidah. Wajahnya kerap hadir di layar kaca, ketika masih berprofesi sebagai presenter berita pada salah satu stasiun televisi nasional. Jauh sebelum itu pun, paras cantiknya selalu menghiasai halaman majalah remaja dan wanita, ketika masih berkecimpung di dunia modeling –yang digelutinya sejak usia remaja. Kini, perempuan yang berprofesi sebagai notaris itu menjajal kemampuannya di panggung politik. Lewat Partai Amanat Nasional (PAN), Wanda maju sebagai calon anggota lesgislatif (caleg) untuk provinsi DKI Jakarta pada Pemilu 2009 yang digelar 9 April 2009.

Memang, banyak kalangan menilai, tampilnya perempuan kelahiran Jakarta, 21 September 1977 di panggung politik ini bukan sekadar latah atau ‘ujug-ujug’ seperti kalangan selebriti lainnya. Aktivitas politiknya dibangun sejak menjadi mahasiswa. Tak itu saja, Wanda pun mengakui, menjadi saksi tewasnya empat rekan mahasiswa Trisakti dalam peristiwa Reformasi 1998. Usai menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum Universitas Trisakti, Wanda bergabung dengan PAN.

Meski pada awalnya ia hanya menjadi simpatisan dan juru kampanye saja, tapi pada akhirnya ia pun membulatkan tekad, terjun di dunia politik praktis secara all out. Tak sekadar menjadi petinggi partai, perempuan yang menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Komisi Nasional Perlindungan Anak ini, menjadi caleg DPRD DKI Jakarta ‘nomor urut satu’ untuk daerah pemilihan Jakarta Selatan.

caleg-wandahLantas, seberapa jauh kepiawaian ibu dari tiga anak ini untuk bisa melenggang ke gedung dewan nanti. Pun program yang bakal digelontorkan bila dirinya terpilih menjadi anggota dewan kelak. Berikut, perbincangan VIEW dengan penerima penghargaan Artis Peduli Hukum dan HAM dari Menteri Hukum dan HAM, April 2008 silam disela-sela peluncuran buku Pidato-Pidato yang Mengubah Dunia di Jakarta beberapa waktu lalu.

VIEW: Kenapa Anda tertarik dengan dunia politik?

WANDA: Karena dari dunia politik inilah, segala aspirasi rakyat bisa disampaikan. Dan dunia politik juga menjadi alat untuk menyelamatkan Indonesia.

VIEW: Sejak kapan ketertarikan Anda pada politik?

WANDA: Ketertarikan saya untuk terjun ke politik praktis diawali sejak menjadi aktivis mahasiswa. Sementara pilihan terhadap parpol yang kini saya geluti karena dilandasi pada platformnya, diantaranya penghargaan pada pluralisme. Jauh sebelum itu, saya sudah terbiasa melahap buku karya tokoh politik dunia sejak di bangku SMP. Bahkan ketika mahasiswa saya punya mimpi bahwa Indonesia memiliki parpol selain yang tiga dulu itu (PPP, Golkar dan PDI).

VIEW: Sebagai aktivis politik, dari sekian banyak tokoh politik, siapa saja yang Anda kagumi?

WANDA: Jujur, saya mengagumi tokoh politik seperti Martin Luther King, Imam Khomeini, Mahatir Muhammad, hingga Soekarno. Termasuk sosok Ali Sadikin pun saya kagumi.

VIEW: Anda pun kini mencalonkan diri sebagai calon anggota dewan terhormat di DPR/MPR,  apakah ini aji mumpung?

WANDA: Bukan. Karena harus dicatat, saya terjun di dunia politik praktis sudah lama, sejak saya lulus kuliah tahun 2000 silam. Jadi ini, jelas-jelas bukan aji mumpung.

VIEW: Sebagai selebriti, banyak kalangan menilai modal Anda hanyalah popularitas, komentar Anda?

WANDA: Sah-sah saja orang berpendapat seperti itu. Dan saya akui, popularitas juga bagian dari modal saya, selain kemampuan yang saya miliki.

VIEW: Dan kenapa sepopuler Anda, hanya maju ke tingkat provinsi?

WANDA: Karena saya tidak mau sesuatu yang instan, saya ingin berkarir di politik itu bukan karena aji mumpung saya sebagai public figure. Memang, tak dipungkiri banyak orang yang mengenal saya sebagai seorang artis, tapi bukan berarti tak banyak orang mengenal saya di panggung politik.

VIEW: Lalu apa yang sudah Anda lakukan?

WANDA: Selain terus belajar seputar seluk beluk dunia politik praktis, sebagai politisi tentunya saya harus mendekati dan mendengar suara konstituennya. Dan yang saya lakukan sekarang ini adalah menghadiri pertemuan-pertemuan kaum ibu-ibu atau door to door, karena memang saya ingin memperjuangkan mereka.

VIEW: Kenapa Anda menerapkan sistem door to door?

WANDA: Ya, supaya masyarakat lebih kenal siapa calon yang akan mewakili mereka, sehingga mereka juga bisa bertanya langsung pada saya. Saya sangat sedih melihat kenyataan dalam masyarakat banyak, yang enggak tahu siapa calegnya.

VIEW: Anggapan bahwa pentas selebriti di panggung politik hanya sebagai pemanis, komentar Anda?

WANDA: Bisa jadi begitu. Memang banyak artis kan manis-manis… hehehe… Tapi janganlah meremehkan kemampuan artis. Meski saya sendiri tidak mengaku sebagai artis, kan banyak masyarakat yang menganggap saya sebagai artis. Jadi lihat saja nanti, bahwa artis pun bukan sekadar pemanis. [view]

Tulisan ini ditulis dan dimuat untuk majalah VIEW edisi April 2009

Selebriti di Panggung Politik

caleg1Lain dulu, lain sekarang. Dulu, kehadiran artis hanya sekedar sebagai penggembira dan penghibur saat kampanye di gelar. Kini, mereka ikut terjun langsung di panggung politik. Fenomena ini bukan barang baru, mengingat pada Pemilu 2004 lalu, ada sekitar 25 artis yang maju sebagai calon anggota legislatif (caleg). Dan, sejumlah artis, terbukti sukses di kancah pemilihan kepala daerah beberapa bulan lalu, seperti Dede Yusuf, Rano Karno dan Dicky Chandra.

Diakui atau tidak, tampilnya para artis di pentas politik dalam pesta demokrasi yang bakal di gelar 9 April nanti, cukup menyita perhatian. Paling tidak, sosok yang biasanya ‘wara-wiri’ di layar kaca itu, lebih dikenal masyarakat. Entah mengatasnamakan popularitas atau kualitas, sejumlah partai politik (parpol) pun seakan-akan ‘latah’ berlomba mengusungnya. Bermodal popularitas yang disandangnya, diharapkan akan mendongkrak suara parpolnya. Sederer artis pun digadang-gadang sejumlah parpol, sejak beberapa bulan lalu.

Diantara para pesohor yang maju sebagai caleg dalam pemilu kali ini, tercatat nama Tantowi Yahya, Nurul Arifin, Jeremi Thomas, Bangkit Sanjaya dan Dharma Oratmangun sebagai kader di Partai Golkar. Sementara artis yang menjadikan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sebagai gerbong politiknya, Marissa Haque, Evie Tamala, Lyra Virna, Ferry Irawan, Okky Asokawati, Ratih Sanggarwati, Emilia Contessa, Denada, Mieke Wijaya, Kristina, Rahman Yacob, dan Soultan Saladin.

Partai Amanat Nasional (PAN) –partai yang dianggap banyak mengawal kalangan selebriti untuk maju ke gedung dewan, sejumlah nama seperti Eko Patrio, Mandra, Derry Drajat, Tito Sumarsono, Mara Karma, Adrian Maulana, Ita Mustafa, Popy Maretha, Ikang Fauzi, Maylaffaiza, Henidar Amroe, Raslina Rasidin, Marini Zumarnis, Primus Yustisio, Cahyono, Lucky Emuardi, Intan Savila, Ferry Soraya dan Wanda Hamidah.

Sedangkan, di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), terdapat Sonny Tulung, Rieke Dyah Pitaloka, Edo Kondolongit, dan Miing Bagito. Di partai Demokrat, ada Komar, Venna Melinda, Inggrid Kansil, Tere, Angelina Sondakh, dan Adji Massaid. Dan, di Partai Damai Sejahtera (PDS) tercatat nama Thessa Kaunang, Ricky Jo, Tamara Geraldine dan Ronny Pangemanan. Sementara di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menggandeng Teuku Firmansyah dan Gita KDI.

Selain partai besar, sejumlah partai baru, pun mengusung kalangan selebriti, diantaranya Muchsin Alatas, Gusti Randa dan Anwar Fuady yang bergabung di Partai Hanura. Begitu pula dengan Partai Gerindra yang memilih Rachel Maryam dan Tessa Mariska. Nama aktor kawakan, El Manik diusung oleh Partai Matahari Bangsa (PMB). Sementara artis –yang telah lama vakum— Yuyun Sukowati muncul sebagai caleg di bawah bendera Partai Indonesia Sejahtera (PIS).

Dari sejumlah selebriti tersebut, paling tidak terdapat 20 orang artis yang bertarung di daerah pemilihan (dapil) Jawa Barat yang terbagi dalam 11 dapil. Sementara yang lainnya tersebar di dapil yang memiliki suara signifikan seperti DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Lampung, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Riau.

Meski pada kenyataannya, tak sekadar cibiran yang didapat, ‘nama beken’ para artis pun menjadi kendala. Namun hal itu, tak menyurutkan artis untuk tetap maju menjadi caleg dan bersaing dengan tokoh-tokoh popular lainnya. Akankah para selebriti itu mampu membuktikan bisa mendulang suara dalam pemilu nanti? Ataukah hanya sekadar menjadi ‘politisi pajangan’ untuk memeriahkan pesta demokrasi berbiaya besar ini.

Soal itu, sejumlah petinggi parpol yang menampung selebriti, menepisnya. Mereka berani menjamin bahwa para artis yang terpilih, kelak akan mampu melaksanakan tiga fungsi anggota legislatif, seperti legislasi, anggaran dan pengawasan. “Diakui, popularitas artis menjadi salah satu aspek yang dipertimbangkan, disamping aspek pendidikan dan intelektualitas. Dan caleg artis diyakini mampu menjalankan tiga fungsi itu,” jelas Ketua DPP Partai Demokrat, Syarif Hasan.

Hal senada diungkap Sekjen Partai Hanura, Yus Usman, bahwa partainya tak semata mengandalkan popularitas artis, tapi juga memperhatikan pendidikan, kompetensi, dan kemampuan mereka dalam bersosialisasi. “Walaupun dia artis populer, tapi kalau tak punya pendidikan memadai, kemampuan bermasyarakat kurang, kami tak rekrut,” katanya.

Bahkan beberapa waktu lalu, Soetrisno Bachir, orang nomer satu di tubuh PAN pun sempat berseloroh mengenai keberadaan artis di panggung politik, “Artis juga untuk menjadi hiburan, supaya politik yang kotor itu dapat cerah.” Dan memang, munculnya kalangan selebriti di ranah politik pemilu kali ini, harus diakui memberi warna tersendiri pada kelangsungan kehidupan demokrasi di tanah air. [view]

Tulisan ini ditulis dan dimuat untuk VIEW edisi April 2009