Mengubah Perilaku Belanja

Confessions_of_a_ShopaholicDalam salah satu episodenya, Oprah Show pernah menayangkan sepasang manula merasa sangat tersiksa karena kecanduan belanja. Pasangan ini merasa, kehidupan mereka dirampas oleh tumpukan ‘barang belanjaan’ yang mereka beli. Nyaris tak ada sejengkal pun dari ruangan di rumah mereka yang kosong. Sampai  di lorong-lorong rumah penuh dengan barang-barang, yang juga tak mereka ketahui fungsinya. Rumah mereka berubah menjadi gudang tumpukan sampah seberat sepuluh ton. Dan tanpa mereka sadari, hal ini berlangsung selama puluhan tahun.

Seorang desainer interior yang diutus Oprah, melibatkan 100 orang tenaga kebersihan untuk membersihkan rumah pasangan ini. Butuh waktu, selama waktu selama dua pekan, dan tujuh pekan agar sang desainer bisa mengubah rumah yang mereka dambakan menjadi bersih. Lantas, usai direnovasi, apakah gaya hidup pasangan itu akan berubah atau tetap dengan pola hidup lamanya?

Singkat cerita, setelah setahun berlalu, sang desainer interior kembali ke rumah kliennya, untuk melongok kondisi rumah. Rupanya pasangan ini telah berubah karena gaya hidupnya, tidak seperti dulu lagi. Tak lagi nyandu belanja, menyimpan ‘sampah’. Ya, kondisi rumah itu 95 persen masih sama keadaanya dengan setahun silam.

Kisah menarik soal kebiasaan belanja dituturkan Shopie Kinsella dalam novelnya berjudul Confessions of a Shopaholic. Cerita yang kemudian diangkat ke layar lebar, Maret lalu, dengan judul yang sama. Diperankan Isla Fisher sebagai Rebecca Bloomwood, seorang jurnalis yang digambarkan sebagai penggila belanja. Ia selalu tergoda untuk membelanjakan uangnya untuk barang-barang bermerek. Profesinya sebagai jurnalis, tak menolong gaya hidupnya Rebecca. Kemelut pun terjadi,  meski ia telah berhemat. Kartu kreditnya diblokir dan ia mulai dikejar-kejar hutang. Ia pun akhirnya menyerah dan pulang ke rumah orangtuanya untuk menenangkan diri.

Di penghujung cerita, Rebecca yang tertarik menuliskan kemalangan tetangga yang ditipu perusahaan asuransi. Tak dinyana, artikelnya mengguncang dunia. Tawaran tampil di salah satu stasiun teve pun berdatangan. Dengan penampilan alakadarnya, Rebecca akhirnya tampil sebagai sosok baru yang terbebas dari jeratan hutang bank. Tak hanya itu, sejak saat itu pula, ‘gadis bersyal hijau’ bertemu pujaan hatinya Luke Brandon (Hugh Dancy).

Kisah di atas merupakan gambaran seseorang konsumen yang merasa terkekang akibat ‘latah’ untuk selalu belanja, tanpa berpikir panjang. Dan dari cerita ini, terungkap sekelumit peran ‘desainer’ –yang tak lain adalah kita selaku konsumen— sebagai perubah alias pencipta perilaku dalam menjalani hidup.

Diakui atau tidak, krisis ekonomi global ternyata mampu mengubah perilaku sebagian besar konsumen, termasuk Indonesia. Kini, konsumen lebih memilih berbelanja di toko dan pasar-pasar tradisional. Dari data studi ShopperTrends 2009 oleh The Nielsen, tercatat took-toko tradisional dipilih untuk membeli makanan, meningkat menjadi 13 hingga 25 persen dari total konsumen. Sementara pasar-pasar tradisional dipilih sebagai tempat untuk membeli daging dan ikan segar, naik menjadi 60 persen. Padahal pusat perbelanjaan modern tumbuh subur, mulai dari kelas menengah hingga kelas premium. Bahkan kini, Indonesia telah memiliki Harvey Nichols, peritel premium. Hadir pula Grand Indonesia, sebuah mega mal terbesar yang menjadi landmark Indonesia. Juga Plaza Indonesia, Plaza Senayan dan Senayan City, yang mengklaim sebagai mal kelas dunia.

“Dari segi produk, di kalangan menengah ke atas tidak ada perubahan. Namun, di kelas menengah ke bawah, terjadi peralihan ke merek-merek dan produk yang lebih murah,” jelas Yongky Surya Susilo, Director Retailer Service PT AC Nielsen Indonesia.

Dan memang, keberadaan pasar modern akan tetap tumbuh sesuai dengan kebutuhan konsumen modern, baik di kota besar maupun kota kecil. Tak cukup disitu, konsepnya pun diubah guna mendongkrak image, pelayanan, sekaligus solusi hiburan bagi konsumen. “Saat ini, komposisi perbandingan persentase antar pasar tradisional dengan modern adalah 64:36. Secara total kategori kebutuhan konsumen, termasuk komoditas, estimasi pasar modern hanya memberikan kontribusi 10 persen,” kata Yongky.

Paling tidak, gambaran perilaku belanja serta kecendrungan belanja yang mulai bergeser bukan berarti akan mematikan aktivitas para penggila belanja. Karena sejatinya, keberadaan kaum shopaholic tak terlepas dari adanya upaya kapitalisasi industri yang terus menghadirkan ‘surga belanja’. Setuju atau tidak, kondisi ini pula yang pada akhirnya menggiring para konsumen untuk kembali menelaah diri sendiri agar berlaku bijak dalam berbelanja. [view]

artikel ini ditulis dan dimuat untuk VIEW edisi Mei 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s