Earthvolution, Adibusana Bernuansa Baru

foto by fernandez

foto by fernandez

Fashion sudah menjadi identitas gaya hidup masyarakat modern. Beragam ide-ide baru bermunculan, salah satunya fenomena global warming. Adalah ‘bumi’ yang tampil sebagai jiwa dari kreasi, disebut-sebut sebagai nouvelle couture alias gaya adi busana bernuansa baru.

Mel Ahyar –perancang busana yang meraih Coupe de Coeur dari perancang ternama dunia Emanuel Ungaro pada 2006 lalu— menyuguhkan koleksi terbarunya bertema Earthvolution. Sebuah rancangan yang menggunakan volume, struktur dan konstruksi baru pada pola, teknik dan gaya rancangannya. Gaya ini boleh dibilang baru, karena mengedepankan keindahan yang inspiratif bagi dunia mode dan ciri khas tersendiri.

Lewat Earthvolution, 35 rancangan eksklusif dibagi empat babak plus sebuah gaun penutup. Dimana setiap sekuennya menggambarkan perubahan bentuk kehidupan yang juga direfleksikan lewat metamorfosa volume pakaian dari masa ke masa. Ice Era atau jaman es menjadi bagian dari Earthvolution yang menampilkan pakaian bervolume gaya zaman Barok, beralih ke rancangan longgar tahun 20-an sampai siluet pakaian masa sekarang. Didominasi warna-warna bening es, koleksi mengalir ke rancangan serba putih di atas bahan polos dengan detil bunga kain, yang mengalami distorsi bentuk. Sekuen berikutnya Earth Begins, kumpulan rancangan gaun pendek bervolume dan berstruktur tegas. Bermain detil lipit, lipat dan draperi dalam beragam bentuk, vertikal sampai horizontal.

Babak ketiga menampilkan koleksi Twister, layaknya sebuah bencana yang tengah melanda, koleksi ini hadir dengan pola tak seperti biasanya. Dalam rancangan yang memancarkan warna bergradasi dari coklat hingga hitam ini, gaun dirancang diskonstruktif dengan bahan linen kasar seperti karung. Terdapat detil lipit-lipit dan draperi yang menjadi daya tarik koleksi berpola tak lazim ini. Sekuen keempat hadir dengan rancangan ala Mutant, dimana bumi bertransformasi mencari keindahan baru. Koleksi gaun bustier yang dideformasi menjadi bentuk baru menjadi keunggulan babak terakhir ini. Desainer kelahiran Palembang, 22 Februari 1981 ini, menghadirkan gaun dengan bentuk pinggul yang digeser ke depan atau menyamping. Ada juga gaun, dari depan seolah tampak dari belakang sampai rancangan bustier yang menghadap samping.

Sebagai pamungkasnya, ditampilkan Fallen Angel, gaun pendek warna putih bervolume seperti gaya pakaian yang membuka peragaan. Gaun ini merefleksikan sebuah siklus kehidupan, sekaligus menggambarkan simbol harapan yang datang dari sang dewi penyelamat bumi. “Ketika bumi lahir, alam memberikan keindahannya. Di saat manusia hadir, alam lalu dirusaknya. Pada waktu kita peduli, bumi kembali menampakkan kecantikannya,” kata Imelda Ahyar, sang perancang sekaligus pemilik label Mel Ahyar Couture. [view]

Artikel ini ditulis dan dimuat untuk VIEW Edisi Juni 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s