Mimpi Sang Pemimpi

foto by dok. MILES

“Tanpa mimpi dan harapan, orang-orang macam kita akan mati…” [Arai dalam “Sang Pemimpi”]

Inilah adaptasi sinema dari novel fenomenal Sang Pemimpi karya Andrea Hirata sebagai lanjutan dari film sebelumnya Laskar Pelangi. Sebagai lanjutan, Sang Pemimpi mengambil setting di era tahun 80-an ini mengisahkan masa remaja Ikal, anak keluarga pekerja rendahan di Perusahaan Negara Timah di Pulang Belitung, bersama Arai sepupunya dan Jimbron sahabatnya. Karena tak ada sekolah menengah di kampungnya, Ikal dan dua sahabanya itu harus merantau ke kota pelabuhan Manggar.

Di Manggar inilah petualangan masa remaja, Ikal (Vikri Septiawan) dan dua sahabatnya Arai (Rendy Ahmad) Jimbron (Azwir Fitrianto) banyak mewarnai jalan cerita dari Sang Pemimpi yang tak lain menggambarkan sosok Arai yang mampu membangun mimpi-mimpi Ikal dan Jimbron. Petualangan remaja yang dipenuhi dengan mimpi-mimpi inilah yang membuat mereka bisa bertahan hidup mandiri di kota Manggar. Meski harus membanting tulang dengan bekerja paruh waktu sepulang sekolah. Dan adegan-adegan yang kerap mengundang tawa pun banyak ditemui di episode ini. Tiga sekawan yang kerap dijuluki ‘brandalan’ oleh Pak Mustar, sang Kepala Sekolah tak membuat mereka jera dan menyerah untuk meraih mimpi-mimpinya. Meski, lagi-lagi sosok Ikal, kerap digambarkan sebagai sosok yang mudah menyerah dibanding dengan kedua sahabatnya Arai dan Jimbron.

Memang di awal cerita pertemuan Ikal kecil (Zulfani) dan sepupunya Arai kecil (Sandy Pranatha), membawa penonton seakan bertanya kemana teman-teman kecil Ikal? seperti Mahar dan Lintang. Tentu saja, cerita episode masa kecil Ikal dalam Sang Pemimpi ini, paling tidak cukup menarik sekedar untuk mengenang kembali di film sebelumnya Laskar Pelangi, meski ada perubahan tokoh masih tetap kocak dan kerap mengundang tawa. Bagaimana tidak, ketika Arai sholat berjamaah di mushola melafadzkan ‘Amin’ begitu panjang dibanding yang lain. Atau ketika Jimbron yang bermimpi ingin menjadi kuda yang kuat.

Dan memang, di film ini, frame kehidupan dewasa Ikal (tentunya masih diperankan Lukman Sardi) dan Arai (Nazril Irham/Ariel Peterpan) hanya ditayangkan di menit-menit akhir. Meski episode kehidupan Ikal di Bogor dijadikan sebagai pembuka film besutan Riri Riza ini.

Penasaran? mungkin bagi yang sudah membaca novelnya alur cerita yang disuguhkan mungkin akan tak asing lagi, meski bisa jadi daya visualisasi kita dengan pembuat film akhirnya berbeda. Dan bagi yang belum sama sekali membaca novelnya, inilah lanjutan film Laskar Pelangi yang masuk dalam jajaran box office nasional yang telah membukukan angka 4,6 juta penonton dan pernah diputar di 20 event festival film internasional dan memboyong banyak perhargaan. Akankah Sang Pemimpi mampu sukses seperti sekuel sebelumnya? untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu tentunya kembali pada seberapa kuat apresiasi kita (penonton) untuk membantu mewujudkannya.

Mulai hari Kamis (17/12) film produksi Miles dan Mizan Production ini tayang di bioskop di seluruh nusantara… meski –mengutip percakapan Ikal dan kedua sahabatnya dalam film ini– ada larangan dari pak Mustar bahwa “menonton bioskop itu haram hukumnya.”

Perlu diingat, film ini tidak seperti film sebelumnya, pasalnya Sang Pemimpi dilabeli 15+, jadi maaf, film ini ditujukan untuk kalangan remaja bukan segala umur seperti film sebelumnya. [hay]

Advertisements

2 thoughts on “Mimpi Sang Pemimpi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s