Lebih Dekat Dengan Fadli Zon, Berpihak pada Rakyat Kecil

Dikenal sebagai sosok eksekutif muda yang cinta tanah air. Salah satu kecintaannya, ditunjukkan dengan merelakan sebagian penghasilannya untuk membangun perpustakaan yang mengoleksi buku-buku tua dan benda-benda budaya bersejarah.

Di tengah kesibukannya, ia masih mendedikasikan waktu, pikiran dan tenaganya untuk kepentingan bangsa dan rakyat negeri ini. Beragam aktifitas dilakoninya, termasuk di jalur partai politik dan organisasi massa yang berpihak kepada rakyat kecil.

Sebagai aktifis politik, Fadli Zon (40), sudah tak asing lagi. Popularitas politisi muda ini sudah disandangnya sejak masa kuliah hingga kini. Bahkan jauh sebelum itu, sosok Fadli Zon remaja dikenal sebagai pelajar yang sarat prestasi. Sejak kecil, Fadli memang tak sekedar dikenal jenius dan suka membaca tapi juga terjun di berbagai organisasi dan dunia tulis menulis.

Panggung politik praktis pun dilakoninya sejak jaman kuliah, lewat parlemen jalanan. Kala itu, ia tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Rusia, Fakultas Ilmu Bahasa, Universitas Indonesia ini kerap memimpin demonstrasi dalam isu-isu nasional maupun internasional. Selain terlibat dalam parlemen jalanan, Fadli yang pernah menjadi Sekjen dan Presiden Indonesian Student Association for International Studies (ISAFIS) (1993-1995) ini, menggeluti dunia jurnalistik –yang ditekuninya hingga sekarang.

Sikap kritisnya mengantarkan dia menjadi anggota MPR RI (1997-1999) dan aktif sebagai asisten Badan Pekerja Panitia Adhoc I yang membuat GBHN.  Di tahun 1998, bersama para seniornya, seperti Yusril Ihza Mahendra, Hartono Mardjono, MS Kaban dan Farid Prawiranegara, mendirikan Partai Bulan Bintang (PBB). Di partai ini, Fadli termasuk politisi termuda yang didapuk sebagai salah satu ketuanya. Namun, karena ada masalah internal yang bertentangan dengan hati nuraninya, ia pun hengkang dari partai itu pada tahun 2001.

Lepas dari aktifitas partai, tak membuat Fadli vakum dengan dunia politiknya. Sembari melanjutkan studi di The London School of Economics and Political Science (LSE) Inggris dalam bidang studi pembangunan. Di kampus ini ia ikut beberapa organisasi seperti Association for the Study of Ethnicity and Nationalism (ASEN) dan menjadi aktivis di LSE Stop the War Coalition (2002-2003) yang menentang invasi Amerika Serikat ke Irak.

Sekembalinya dari London, Fadli terjun ke dunia profesional di sejumlah perusahaan multinasional. Diantaranya, ia pernah menjadi Direktur Umum PT Golden Spike Energy Indonesia Ltd (2002-2005), sebuah perusahaan minyak dan gas swasta. Hingga kini ia masih bekerja pada perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Tidar Kerinci Agung, dan PT Padi Nusantara yang bergerak di bidang pertanian.

Perhatian dan kedekatannya dengan kaum petani mengantarkan dirinya aktif di Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) sebagai Ketua Hubungan Luar Negeri dan Organisasi Internasional (2004-2009). Pada kepengurursan HKTI periode 2010-2015, dibawah kepemimpinan Prabowo Subianto, kali ini ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal. Selain itu, beragam aktifitas yang berkaitan dengan pertanian hingga budaya dilakoninya. Semisal menjadi Anggota Dewan Gula sejak 2005 lalu, Dewan Redaksi Majalah Tani Merdeka dan Dewan Redaksi Majalah Horison, majalah sastra dan budaya.

Rupanya, meski sejak 2001 aktifitas kepartaian ditinggalkannya tak lantas membuatnya berhenti melibatkan diri dalam dunia politik. Ditengah kesibukannya sebagai pelaku usaha dan aktifis politik, jiwa nasionalismenya terpanggil, kala melihat kondisi dan keadaan panggung politik serta pemerintahan yang carut marut. Lahirlah Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) –yang menjadi kendaran politik bagi mereka yang memiliki keberpihakan kepada rakyat kecil. Politisi sekaligus akademisi yang tengah menyelesaikan program doktoralnya di kampus almamater ini, dipercaya menjabat Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra.

Lantas, seperti apakah keterlibatan Fadli Zon, kolektor koin kuno ini di Gerindra? Prtengahan April lalu, kepada Hayat Fakhrurrozi dari GARUDA, ia memaparkan keterlibatannya seputar didirikannya partai berlambang kepala burung garuda ini. Berikut petikan wawancaranya:

Sebagai profesional sekaligus politisi seperti apa keseharian Anda?

Saat ini selain sibuk di dunia usaha, saya juga tengah mengambil S3 di Universitas Indonesia (UI). Selain itu saya juga mengajar, di beberapa mata kuliah bidang sejarah. Disamping itu, saya juga aktif di HKTI dan menjadi redaktur di beberapa majalah serta mengurusi perpustakaan pribadi ini yang menampung 50 ribu buku tua, keris, koin, badik, tombak, piringan hitam dan fosil. Sementara di partai, saya menjabat sebagai Wakil Ketua Umum bidang politik dan keamanan. Jadi hari-hari saya cukup sibuk, hari ini urusan petani, besok urasan kantor, besoknya lagi soal budaya, seni dan yang lainnya. Nah kalau politik sih setiap hari.

Bisa ceritakan kapan Anda mulai aktif di dunia politik?

Berangkat dari dunia aktifis jaman mahasiswa dulu. Meski masih tingkat satu, saya sudah beberapa kali memimpin demonstrasi. Selain terlibat dalam parlemen jalanan, saya juga aktif di Indonesian Student Association for International Studies (ISAFIS). Setelah lulus tahun 1997, saya diangkat menjadi anggota MPR RI 1997-1999 dan terlibat dalam Badan Pekerja Adhoc I yang menyusun GBHN. Di sinilah saya sering bertemu dan berkomunikasi dengan Mba Tutut, Ginanjar, termasuk SBY.

Setahun kemudian, saya mendirikan Partai Bulan Bintang (PBB) bersama Yusril, Farid Prawiranegara, MS Kaban dan Hartono Mardjono. Tapi karena ada kasus internal saya keluar. Karena memang, saya berangkat dari idealisme, masalah korupsi di partai itu yang membuat saya keluar dan melanjutkan studi ke London.

Lantas aktifitas politik Anda berhenti?

Meski tak berpartai, saya tetap terlibat dalam masalah-masalah aktual dunia politik.

Bisa diceritakan seperti apa itu?

Sepulangnya dari studi dari London, saya aktif di lembaga studi, saya membantu Pak Prabowo di tahun 2004 dalam konvensi Partai Golkar. Kemudian pada tahun 2007 sewaktu ada kasus Pak Hasyim yang dituduh mencuri arca, padahal waktu itu memang niatnya pak Hasyim untuk menyelematkan benda bersejarah milik bangsa. Yang jelas di Indonesia ini untuk berbuat baik selalu saja disalahkan.

Akhirnya waktu itu saya ngomong pada Pak Hasyim untuk mendirikan partai. Karena partai itu alat perjuangan yang efektif di Indonesia. Waktu itu, Pak Prabowo tak sependapat, karena memang masih menjadi dewan penasehat Golkar. Nah, seiring berjalannya waktu, pada saat ada event Sea Games di Thailand diadakan pertemuan bersama para tokoh di Thailand untuk membicarakan rencana pendirian partai ini.

Apa arti partai politik bagi Anda?

Sekali lagi, partai politik itu alat perjuangan yang efektif di Indonesia. Tapi sayangnya banyak partai politik yang dimanfaatkan oleh aparatur partai untuk kepentingan pribadi.

Lalu bagaimana dengan Partai Gerindra?

Partai Gerindra hadir untuk mengoreksi terhadap keadaan itu. Kita melihat keadaan negeri kita. Kok negara Indonesia yang kaya ini rakyatnya miskin. Saya kira ini karena ada kesalahan pada kepemimpinan dan haluan.

Memang ada masalah apa soal kepemimpinan dan haluan negara kita?

Masalah kepemimpinan nasional, kita lihat tidak memiliki pemimpin yang kuat lagi. Untuk itu kita perlu sosok pemimpin yang kuat untuk mengembalikan Indonesia seperti dulu. Kalau pemimpin pusat lemah maka pemimpin di bawah juga lemah. Jika pusat kuat, bawahan pun akan kuat. Masalah kedua yaitu masalah haluan yang menyangkut arah tujuan untuk mensejahterakan, memakmurkan rakyat, bukan untuk demokrasi. Selama ini haluannya masih hanya untuk demokrasi. Padahal demokrasi hanyalah salah satu cara. Kadang berhasil, kadang tidak. Tujuan kita memakmurkan rakyat supaya menikmati kemerdekaan.

Lalu seperti apa mestinya kepemimpinan yang dibutuhkan Indonesia?

Indonesia perlu strong leadership (pemimpin yang kuat), tentunya kolektif dan tidak feodal. Ciri kepemimpinan yang kuat itu adalah mempunyai integritas, hidupnya, cita-citanya menyatu dengan kepentingan Indonesia. Memiliki visi yang jauh ke depan. Selain itu memikirkan generasi mendatang. Selain itu harus jujur dan mempunyai keberpihakan ke rakyat kecil. Orang boleh kuat punya visi, tapi kalau hanya berpihak ke yang kuat buat apa? Rakyat kecil seperti nelayan, petani, pedagang kaki lima akhirnya makin tersisih. Padahal selama ini mereka sudah termarginalkan.

Siapakah sosok pemimpin seperti itu?

Sosok pemimpin seperti itu, antara lain ada pada diri Pak Prabowo. Beliau punya intergritas, sangat merah putih dan berpihak kepada rakyat kecil. Untuk itu sebagai partai Gerindra harus bekerja keras untuk mewujudkan itu. Peluang ini terbuka, karena Pak Prabowo adalah termasuk tokoh yang sangat populer dan diharapkan rakyat.

Lalu apa yang dilakukan Gerindra?

Sekarang ini di usianya 3 tahun, Gerindra tentu belum seperti partai lain yang sudah mapan. Jadi Gerindra harus ekstra bekerja keras seperti konsolidasi internal menyangkut penguatan DPD, DPC, PAC hingga ke ranting. Dengan adanya penguatan organisasi kita harapkan konsolidasi partai semakin kuat. Disamping itu membangun jaringan dan komunikasi dengan segala elemen masyarakat. Inilah yang dilakukan saat ini, apalagi kita juga tengah menjalani verifikasi.

Menjelang 2014, peluang Prabowo dan Gerindra seperti apa?

Berdasar survey yang dilakukan beberapa lembaga survei, Pak Prabowo masih populer. Namun itukan masih sangat sementara dan bergantung pada tahun-tahun mendatang. Sementara untuk partai, cukup tidak cukup waktu yang ada harus cukup. Di 2014 mendatang Gerindra bisa meraih suara besar, karena pelung itu terbuka. Namun tentunya itu tantangan bagi kami di kalangan internal sendiri. Karena kader-kader kita di DPR pusat dan DPRD sebagai ujung tombak partai jika mereka loyal dengan visi misi gerindra, dan manivesto partai, saya yakin rakyat akan berpihak. Tapi kalau aparatur partai dan DPR-DPRD hanya memikirkan diri sendiri, tanpa memikirkan rakyat, kita akan kesulitan untuk meraih simpati rakyat.

Lantas bagaimana kondisi kader yang ada di DPR dan DPRD saat ini?

Saya kira, saat ini sebagian besar anggota DPR dan DPRD kita masih mempunyai kesetiaan pada manivesto, perjuangan partai, karena kalau tidak kita jaga bisa saja terjadi penyelewengan bahkan penghiatan pada perjuangan partai.

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk majalah GARUDA, Edisi Mei 2011

Mohammad Taufik : Politik Pilihan Hidup Saya

Dunia politik digelutinya sejak masa muda hingga kini. Hitam putih panggung politik yang mewarnai perjalanan hidupnya. Ia merasa ditempa hingga menjadi politisi sejati. Karena itu, sepanjang hidupnya nyaris tiada henti mengikuti irama dalam proses politik. Baginya politik itu sudah menjadi pilihan hidupnya.

Adalah Muhammad Taufik (54), politisi kawakan yang mendedikasikan hidupnya untuk politik –yang kini tengah diamanahi sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra DKI Jakarta. Pada pemilu 2009 lalu, Taufik berhasil mengantarkan partai Gerindra meraih enam kursi di DPRD dua kursi di DPR pusat. Tak hanya itu, berkat kepiawaiannya, menjadikan Gerindra sebagai partai yang diperhitungkan semua kalangan, baik di dalam maupun di luar parlemen. ”Gerindra selalu di depan dalam segala hal,” ujar pria kelahiran Jakarta, 3 Januari 1957 ini.

Keterlibatannya dalam dunia politik dimulai semasa duduk di bangku kuliah dengan aktif di organiasi intra maupun ekstra. Selain sibuk menjadi Ketua Senat Mahasiswa, Taufik pun aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Di sinilah, kiprahnya sebagai aktifis mahasiswa begitu menonjol. Bahkan saking sibuknya di organisasi, ia harus rela menyelesaikan masa studinya hingga enam tahun lamanya.

Selepas menyelesaikan kuliah, selain berkutat di dunia usaha, Taufik pun terjun langsung ke politik praktis dengan bergabung di Partai Golongan Karya. Kemudian di era reformasi, lulusan Universitas Jayabaya ini pun bergabung dengan Partai Keadilan dan Persatuan (PKP) –yang didirikan Edi Sudrajat. Namun di tahun 1999, ia mungundurkan diri dari aktifitas partai politik dan memilih berada jalur independen dengan mendirikan sebuah lembaga studi bersama rekan seperjuangannya bernama Pusat Pengkajian Jakarta. Meski menyatakan mundur, ia tak lantas meninggalkan kehidupan politiknya. Lewat LSM ini, tetap mengawal proses politik, khususnya kebijakan-kebijakan pemerintah ibukota.

Kesempatan untuk terus terlibat dalam proses politik kembali datang, ketika ia mengikuti seleksi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta. Setelah dinyatakan lolos menjadi anggota KPU, ia pun terpilih sebagai Ketua KPU DKI Jakarta. Di lembaga inilah taji Taufik dalam menjalankan dan mengawal proses politik kembali diuji. Tak sedikit ujian dan cobaan yang dialaminya sebagai pimpinan KPU DKI Jakarta.

Usai menjalankan tugas sebagai pimpinan KPU DKI Jakarta, Taufik kembali terjun ke dunia politik praktis dengan bergabung di Partai Gerindra. Bergabungnya Taufik di partai ini bukan tanpa alasan atau sekedar latah layaknya politisi kambuhan. Rupanya, apa yang menjadi manivesto perjuangan partai sejalan dengan apa yang selama ini diperjuangkannya. Maka naluri sebagai orang yang mendedikasikan hidupnya untuk politik, tergerak ikut mewujudkan cita-cita luhur pendiri partai. Di partai bentukan mantan Danjen Kopasus, Prabowo Subianto ini, Taufik dipercaya untuk memimpin DPD Gerindra DKI Jakarta.

Hingga di usia partai yang ketiga tahun, kepemimpinan Taufik dalam mengorganisir Gerindra DKI Jakarta patut diacungi jempol. Betapa tidak, berbagai program terus digalakkan untuk memacu kader sebagai mesin partai. Tak hanya itu, komunikasi politik baik intern maupun antar partai terus dilakukan dalam menggalang kekuatan menghadapi proses politik, mulai dari lokal maupun nasional. ”Kita gencar mengkomunikasikan berbagai hal baik internal maupun antar partai,” ujar ayah tiga anak ini.

Menurutnya, ini dilakukan tak sekedar untuk kepentingan sesaat tapi demi kelangsungan pendidikan politik dan kehidupan demokrasi di negeri ini. Terlebih ketika menghadapi suksesi baik pemilukada maupun pemilu. Proses politik terdekat adalah pemilukada DKI Jakarta 2012 mendatang. Tak tanggung-tanggung, untuk menghadapi pesta demokrasi tingkat lokal ini, ia membentuk Panitia Bersama (Panbers) di bawah komandonya, bersama Partai Golkar, Partai Damai Sejahtera, dan Partai Hanura. ”Bahkan kini beberapa partai lain berminat untuk gabung, tak heran bila Panbers ini mengarah pada koalisi,” ujar pelaku usaha media ini.

Sementara menjelang Pemilu 2014 nanti, ia bersama jajaran partainya telah berhasil melakukan verifikasi hingga ke tingkat ranting, sebagaimana  yang diinstruksikan DPP Gerindra. Untuk menunjang menghadapi suksesi nasional 2014 mendatang, Taufik pun gencar menjalankan program KTA-nisasi sebagai strategi pemenangan partai baik pemilukada 2012 maupun pileg dan pilpres 2014.

Setidaknya, meski mematok hanya sepuluh persen dari jumlah pemilih pada pemilu 2009 lalu sebanyak tujuh juta, program KTA-nisasi itu dinilai akan mampu mewujudkan target perolehan kursi pada pemilu legislatif 2014 mendatang. ”Kita menargetkan DKI bisa meraih empat kursi di DPR dan delapan belas kursi di DPRD,” katanya.

Di luar hiruk pikuk aktifitas politik, Taufik pun mengembangkan bisnis media yang sudah digelutinya sejak lulus kuliah. Sementara untuk menjaga stamina dan kesehatan sebagai politisi, Taufik selalu menyempatkan diri untuk berjalan kaki –yang telah menjadi rutinitas— saban pagi hari selama setengah jam. ”Tak usah berolahraga yang berbiaya mahal, cukup jalan kaki setiap pagi hari saja,” tuturnya. [G]

Artikel ini ditulis dan dimuat untuk majalah GARUDA, Edisi Mei 2011

Lebih Dekat Dengan Permadi, Sang Soekarnois Sejati

Warna hitam itu warna Tuhan. Warna dasar yang tidak bisa dibayangkan. Hitam juga menunjukkan konsisten. Hanya orang yang berbaju hitam saja yang sama dengan bayangannya, yakni hitam. Antara apa yang ada di dalam hati, apa yang dipikirkan, dan diucapkan serta perilakunya tak ada bedanya. Tak sekedar serba hitam agar tampil beda, tapi memang sudah menjadi jalan hidupnya sebagai seorang spiritualis.

Begitulah filosofi Permadi (71), politisi kawakan –yang terkenal vokal ini— akan warna hitam yang sudah melekat dengan dirinya. Bagi seorang penghayat kepercayaan ini, dalam warna hitam itulah, konsep Jawa manunggaling kawulo lan gusti (bersatunya manusia dan Tuhan) bisa terjadi. Menurutnya, ilmu tertinggi sebelum manunggaling kawulo lan gusti adalah saka paraning dumadi (dari mana kita berasal dan ke mana kita akan kembali). Warna hitam itu pula yang menjadikan dirinya tetap konsisten dan komitmen dengan perjuangannya sebagai seorang Soekarnois sejati.

Tampil serba hitam, tidak berarti lembaran hidupnya dekat dengan dunia hitam. Namun diakuinya, di dunia luar sana ’pengalaman hitam’ telah banyak menggemblengnya menjadi seorang yang ajeg dalam pendirian, ajaran serta misinya menjadikan dirinya sebagai penyambung lidah Soekarno. Meski untuk itu, ia harus membayar mahal. Kerap dituduh sebagai pelaku makar pada jaman Soeharto. Keluar masuk penjara akibat orasi-orasinya yang selalu mengumandangkan semangat Soekarno. Bahkan ia pun harus rela keluar dari partai politik berlambang kepala banteng bermoncong putih yang dibesarkan keluarga besar Bung Karno. Semua itu hanya karena ia ingin tetap konsisten dengan tekadnya sebagai penyambung lidah Soekarno.

Sebelum berkarir di panggung politik, pria kelahiran Semarang, 16 Mei 1940 ini sejak usia remaja, sudah dikenal sebagai orator ulung dari panggung ke panggung. Terlebih, ketika ia tengah menempuh pendidikan di kampus Universitas Indonesia (UI). Bahkan selepas dari kampus UI, aktifitas politiknya kian nampak berdiri di barisan oposisi saat meletus perlawanan di masa-masa awal era orde baru tahun 1966. Pun termasuk hari ini, di ’era reformasi’ yang dianggapnya malah sudah mengkhianati UUD 1945. Komentar  maupun orasinya dalam berbagai kesempatan kerap membuat kuping pemerintah panas. Bahkan termasuk kawan maupun lawan politiknya di Senayan, kerap disentilnya.

Meski kerap mendapatkan penolakan dalam memperjuangkan keberpihakannya terhadap nasib wong cilik, tak lantas membuat Permadi menyerah begiu saja. Memang, komentarnya selalu membuat banyak pihak jengah, namun semua itu dilakukannya demi kebaikan bangsa ini. Tapi akhirnya ia harus keluar dari lingkungan yang dinilainya sebagai ’lingkaran setan’ demi menjaga perjuangannya. Hal ini dibuktikan ketika ia masih menyandang sebagai anggota dewan, merasa muak dengan perilaku rekan sejawatnya yang tak mencerminkan sebagai wakil rakyat yang terhormat. Menurutnya, kelakuan mereka baik saat di dalam maupun di luar gedung dewan, sama sekali tak mencerminkan sebagai wakil rakyat, tapi malah penghianat rakyat, mulai dari persengkongkolan hingga perselingkuhan. ”Inilah puncaknya, yang membuat saya harus keluar dari Senayan,” tegas ayah dari empat orang anak ini.

Kini, selepas keluar dari Senayan, ia pun bergabung dengan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) sebagai salah satu anggota Dewan Pembina. Konon, bergabungnya ke partai bentukan Prabowo ini bukan karena faktor kebetulan, tapi lebih pada kesamaan visi dan misinya untuk membangun negeri ini lebih baik. ”Bergabungnya saya ke Gerindra bukan kebetulan tapi sudah takdir Gusti Allah, untuk melanjutkan perjuangan sebagai penyambung lidah Bung Karno,” tandas suami dari Dewi Noorjanti yang dinikahinya pada tahun 1971 silam.

Lantas seperti apa pemikiran Permadi yang diperjuangkan lewat Gerindra sebagai gerbong politiknya? Berikut ini perbincangan Hayat Fakhrurrozi dari GARUDA, saat menemuinya di ruang kerjanya di Kantor DPP Partai Gerindra, di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

Bisa diceritakan awal mula Anda terjun ke dunia politik?

Sejak kecil saya ini Soekarnois. Saya pun terlahir sebagai seorang aktifis. Dulu jaman Soeharto saya pernah dijebloskan ke penjara sebagai pelaku makar. Saya pun pernah dikenai dua Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Tapi anehnya kedua BAP itu hilang. Ternyata, saya dapat informasi BAP itu dihilangkan atas perintah Soeharto.

Singkat cerita, akhirnya jelang era reformasi saya diminta gabung dengan keluarga idola saya, Bung Karno untuk ikut memperjuangkan nasib wong cilik. Saya pun berhasil menjadi anggota dewan untuk dua periode, tapi memasuki tahun ke sembilan sebagai wakil rakyat, saya keluar karena muak dengan perilaku DPR.

Apa yang membuat Anda gabung dengan Gerindra?

Awalnya, saya diminta oleh Mas Prabowo untuk menemaninya ziarah ke makam Bung Karno. Saya kaget sekaligus senang, seorang anak begawan ekonomi, mantu Suharto ujug-ujug mengajak saya ke makam Bung Karno. Ada apa ini? Akhirnya saya pun mengantarnya ke sana. Di sana pula saya digombali Prabowo.

Maksudnya?

Ya, dia bilang, setelah saya amati dari orasi, pidato dan aktifitas pak permadi, ternyata Anda adalah Soekarnois dua ribu persen. Wuih, siapa yang tidak senang dibilang begitu. Tapi dia melanjutkan omongannya, Saya Prabowo memerlukan Soekarnois sejati seperti anda. Akhirnya tanpa pikir panjang, tidak mikirin gaji, popularitas sebagai anggota dewan terhormat, saat itu juga saya keluar dari DPR dan langsung menerima lamaran Prabowo untuk masuk ke Gerindra. Otomatis saat itu juga saya harus keluar dari PDI-P, karena dulu saya menjadi DPR dari partai itu.

Proses masuknya Anda sendiri ke Gerindra seperti apa?

Ya itu tadi, saya dilamar oleh Prabowo untuk masuk ke Gerindra. Sama seperti dulu saya gabung ke PDI-P.

Setelah masuk ke Gerindra, apa tugas Anda?

Saya diminta Prabowo menjadi salah satu anggota Dewan Pembina partai. Saya pun bagian dari Badan Seleksi Organisasi (BSO) Geridra. Sejak saat itu juga, saya langsung aktif berkantor dari pagi hingga sore hari. Boleh dibilang, saya adalah satu-satunya anggota Dewan Pembina yang aktif setiap hari ngantor. Bahkan boleh dicek di daftar tamu sana, saya lebih banyak menerima tamu dari pada pengurus.

Selain sebagai anggota Dewan Pembina, dan tim BSO, apa saja yang Anda lakukan di Gerindra?

Di Gerindra ini, saya ingin menjadikan Prabowo sebagai Soekarno muda, bukan lagi Soekarno kecil. Sampai saat ini, di Gerindra saya seperti amplop dan perangko, dimana prabowo pergi pasti ada saya di sana. Saya akan terus mendampinginya hingga dia menjadi orang nomer satu di Indonesia.

Seperti apa kontribusi Anda terhadap Gerindra?

Selain itu saya akan mendampingi Mas Prabowo menjadi orang nomer satu di negeri ini. Karena dialah pemimpin masa depan. Boleh jadi saya ini seperti alarm sekaligus tempat berkonsultasi bagi dia. Seperti saat dia maju sebagai calon wapres, pemilu 2009 lalu, meski saya marah sekali waktu itu tapi mau diapakan lagi. Lalu saat ribut soal koalisi, saya katakan kepadanya bahwa saya tak setuju dan meminta dia untuk sadar dengan perjuangan awal dan kondisi internal partai.

Memang, Gerindra besar bukan karena saya, tapi karena kiprah Prabowo. Keberadaan saya juga untuk terus menguatkan visi dan misi Mas Prabowo soal ekonomi kerakyatan, menanamkan kembali rasa nasionalisme, mengembalikan hak milik rakyat dan bangsa mulai dari pertanian, kehutanan dan kekayaan negeri yang kini banyak disedot ke luar negeri.

Memang seperti apa pemimpin yang dibutuhkan bangsa ini?

Pemimpin Indonesia yang akan datang itu bukan seperti Bung Karno, juga bukan seperti Pal Harto. Kalau seperti Bung Karno, tidak mungkin. Bung Karno terlalu humanis, berbudaya yang selalu mengampuni musuhnya, hingga akhirnya tak disadari pada menusuknya dari belakang. Kalau seperti Pak Harto juga tidak bisa, karena terlalu otoriter mengandalkan kekerasan yang pada akhirnya membinasakan banyak rakyat, kekayaan habis begitu saja. Pemimpin Indonesia harus memiliki dua karakter Bung Karno dan Pak Harto dalam satu orang dalam sisi baiknya. Kesempatan pertama itu ada pada Prabowo.

Dialah yang bisa menggabungkan semuanya itu untuk memimpin Indonesia menjadi pemimpin dunia. Bung Karno itu pemimpin internasional, Pak Harto itu pemimpin regional asean, jadi kalau Prabowo bisa menghimpun keduanya dia akan menjadi pemimpin dunia. Indonesia akan menjadi mencusuar dunia, seperti yang dikatakan jaman revolusi dulu oleh Soekarno berkali-kali.

Lantas apakah semua itu bisa terwujud?

Mas Prabowo harus bisa. Ya, saya selalu yakinkan itu seperti ia dulu mendirikan Gerindra dulu. Karena sekarang Mas Prabowo bukan Soekarno kecil lagi, tapi Soekarno muda yang sudah saatnya tampil menjadi pemimpin masa depan Indonesia.  [G]

Artikel ini ditulis dan dimuat untuk majalah GARUDA, Edisi April 2011

Rachel Maryam Sayidina : Terus Bersikap Kritis

Siapa bilang politisi perempuan tak berjiwa kritis. Terlebih bagi mereka yang melekat pada dirinya sebagai selebritis. Kiprahnya di dunia politik tak sekedar mengandalkan popularitas semata. Semua itu bisa dibuktikan lewat keseriusannya sebagai wakil rakyat yang terus bersikap kritis.

Itulah yang ditunjukkan Rachel Maryam Sayidina (30), aktris yang kini tengah berjuang di panggung politik sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) –yang ditekuninya sejak 2009 hingga 2014 nanti— yang bernaung di bawah bendera Partai Gerindra. Memang, kehadirannya di tubuh Fraksi Gerindra maupun gedung DPR tak sekedar menjadi pemanis belaka. Sikap kritisnya acap kali membuat kawan maupun lawan politiknya berdecak kagum. Tak hanya itu, ia pun menyelami komisi yang konon selalu didominasi politisi senior.

Sebagai anggota dewan, Rachel, demikian sapaan akrabnya, memang dikenal cukup berani. Ternyata, sikap kritisnya itu telah menjadi bagian dalam hidupnya, jauh sebelum dirinya terjun ke dunia politik praktis. ”Awalnya saya tak tertarik politik. Tapi memang, sejak dulu saya rakin mengkritisi sesuatu yang terjadi di lingkungan kita,” tandas aktris yang mengawali karir aktingnya dalam film Eliana, Eliana (2001)

Rupanya, tanpa disadari sikap kritisnya itu mengantarkannya kepada ajakan dari berbagai pihak untuk bergabung dalam aktifitas partai politik. Termasuk Partai Gerindra, yang kala itu tengah menjaring calon-calon legislatif yang siap bertarung di Pemilu 2009 lalu. Akhirnya, setelah melakukan komunikasi yang intensif dengan Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Ahmad Muzani, pilihan jatuh pada Partai Gerindra yang melamarnya untuk menjadi calon legislatif di daerah kampung halamannya.

”Saya diminta menjadi caleg dari Gerindra. Saya merasa mantap untuk bergabung dengan Gerindra, karena visi misi Gerindra memiliki kesamaan dengan saya,” tegas Ibu dari Muhammad Kale Mata Angin (5) yang mengaku sempat ditawari partai selain Gerindra.

Aktris cantik yang kian populer lewat film Arisan! (2003) ini akhirnya berhasil lolos sebagai anggota dewan dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Barat II dengan raihan suara sebanyak 25.540 suara. Sebuah pencapaian yang cukup signifikan bagi seorang pendatang baru di arena politik negeri ini.

Setelah dinyatakan lolos, Rachel memilih masuk di Komisi I yang membidangi pertahanan, alutsista, infomasi dan komunikasi. Boleh jadi, pilihannya masuk ke Komisi I merupakan sebuah pilihan yang lumayan berat. Mengingat selain beban kerjanya yang tak mudah, eksistensi Rachel sebagai politisi pendatang baru di DPR harus berhadapan dengan politisi kawakan, termasuk yang memiliki latar belakang militer.

Namun semua itu tak lantas membuatnya melempem untuk menyuarakan amanat rakyat. “Saya orang yang suka tantangan. Saya ingin membuktikan kalau perempuan juga bisa bersaing di komisi I yang selama ini terkesan komisi laki-laki,” tandas perempuan kelahiran Bandung, 20 April 1980 ini.

Bicara soal pertahanan, menurutnya, kondisi bangsa saat ini masih banyak yang harus dinilai dari berbagai persoalan termasuk masalah pertahanan. Selama ini pemerintah kerap membeli alat utama sistem senjata (alutsista) yang manfaatnya kurang dan melakukan pemborosan. Selain itu, kata lulusan Sekolah Tinggi Perhotelan Bandung (NHI) ini, struktur militer di Indonesia juga perlu dirampingkan agar anggaran yang diturunkan dapat lebih berguna.

Tentunya, setelah menjalani aktifitasnya sebagai anggota DPR sejak dua tahun silam ini, menurut Rachel di satu sisi ada kesamaan yakni keenakan yang sama tapi di sisi lain ada perbedaan yang mencolok seperti tak ada waktu untuk bersikap santai. Ia harus lebih sering berfikir keras karena dihadapkan berbagai persoalan baru yang tengah terjadi di negeri tercinta ini.

”Setidaknya saya ingin tetap fokus di komisi I. Di sini saya banyak mendapat pengetahuan baru. Saya pun berniat akan mencalon kembali di periode mendatang. Saya ingin menjadi pemain, bukan lagi pengamat,” ujar aktris peraih Piala Citra Aktris Pendukung terbaik 2004 ini. [G]

Artikel ini ditulis dan dimuat untuk majalah GARUDA, Edisi April 2011

Jamal Mirdad: Berbicara dari Hati ke Hati

Sebagai figur publik, ketertarikan Jamal Mirdad (51) di panggung politik bukan sekedar latah atau mengikuti tren belaka. Memang, saat itu pamor selebriti seakan menjadi ’magnet’ tersendiri bagi banyak partai untuk menarik simpati masa. Namun, lebih dari itu, penyanyi sekaligus aktor layar lebar kawakan ini telah lama terjun ke dunia politik praktis. Setidaknya, ia pernah mendirikan atau aktif di kepengurusan salah satu partai politik. Sayang, partai yang dibidaninya tak lolos verifikasi.

Perjuangannya tak lantas berhenti sampai disitu. Semangat untuk memperjuangkan amanah suara rakyat terus berkobar dalam dirinya. ia pun bergabung ke Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan mencalonkan diri sebagai legislator. Upayanya berbuah manis. Ia pun berhasil melenggang ke Senayan, setelah berhasil mengumpulkan 34.674 suara di Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah I meliputi Kabupaten Semarang, Kendal dan Salatiga.

Tak hanya ketika kampanye, pria kelahiran Kudus, 7 Mei 1960 ini menemui konstituennya. Tapi, sampai saat ini, saban masa reses tiba, ia kerap mendatangi masyarakat yang menjadi konstituennya. Dalam pertemuan itu pelantun tembang laris, Yang Penting Hepi ini mengajaknya berbicara dari hati ke hati dan mengetuk keikhlasan hati mereka untuk menyampaikan persoalan yang dihadapi. ”Karena itu janji saya sewaktu kampanye dulu. Saya harus balik, dong. Mereka kan, yang memberi amanah. Ya, mungkin ketemu bersama, bikin acara syukuran,” ujar suami dari Lidya Kandou ini.

Aktor yang populer lewat film Ramadhan dan Ramona (1992) bersama istrinya itu, kini duduk di Komisi X. Di komisi yang membidangi  masalah pendidikan, seni, pemuda, olahraga dan pariwisata ini, Jamal merasa percaya diri dengan tugas yang diembannya. Di komisi ini, ia banyak bertemu kolega lama yang sebagian berasal dari kalangan seniman dan artis. Ia pun meminta masyarakat jangan menyangsikan kemampuannya.

Salah satu yang menjadi sorotannya sebagai anggota dewan, adalah perfilman nasional –yang tengah menjadi perbincangan banyak pihak. ”Masyarakat harus aktif memberikan masukan kepada para pelaku industri film, temaruk artis dan sutradara termasuk produser,” ujarnya.

Jamal pun berjanji, dalam kapasitasnya sebagai wakil rakyat –yang pernah bergelut di industri film— akan serius memperjuangkan agar pendapatan para pekerja industri film ditingkatkan. ”Sejauh ini pendapatan para pekerja film itu sangat minim, padahal mereka bekerja seharian,” tandasnya.

Perkawinannya dengan aktris cantik, Lidya Kandao (48), meski pernah bikin heboh negeri ini, namun hingga kini mereka tetap langgeng. Bahkan dua putrinya, Nana Mirdad dan Naysila Mirdad mengikuti jejak mereka terjun di panggung hiburan. Keduanya yang kerap menghiasi layar kaca, seakan tengah saling beradu pamor. Malah, jika tak ada aral melintang, konon perjalanan bahtera keluarga Jamal – Lidya bakal disinetronkan. Konon ide itu muncul dari kedua putrinya yang kian diperhitungkan di jagat hiburan. [g]

Artikel ini ditulis dan dimuat untuk majalah GARUDA, Edisi Maret 2011

Noura Dian Hartaroni: Hidup adalah Pengabdian Paripurna

Aku ingin hidup seperti pohon Nyiur, yang mana setiap bagian dari tubuhnya bermanfaat untuk kehidupan manusia. Itulah kutipan yang tertuang dalam akun blognya bertajuk serat lazuardi dalam kolom profilnya. Karena menurutnya, hidup adalah pengabdian paripurna –sebagaimana ditulisnya di akun jejaring sosial facebook atas nama dirinya.

Adalah Noura Dian Hartaroni. Sosok wanita berparas cantik dan anggun yang kini duduk sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia dari fraksi Gerindra. Keterlibatan perempuan kelahiran Blitar, 17 Desember 1968 pada dunia politik berawal dari aktifitas sebelumnya di Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) di bawah naungan Prabowo Subianto.

Lewat wadah HKTI inilah, lulusan Manajemen Universitas Pancasila Jakarta ini mengaku lebih dekat dan merasakan perjuangan kaum petani. Terlebih setelah dia mendengar langsung pidato Prabowo Subianto tentang gagasannya menjadikan Indonesia yang mandiri membuat ia kian mantap untuk terjun di panggung politik. ”Saya menangis mendengar pidato Pak Prabowo,” kenangnya.

Sejak saat itu, anak keenam dari tujuh bersaudara dari keluarga pemilik kebun kopi ini memilih Gerindra sebagai kendaraan politiknya. Di partai berlambang kepala burung garuda ini, Noura didapuk sebagai Wakil Sekretaris Jenderal.

Penampilannya di panggung politik tak sia-sia. Noura berhasil melenggang ke Senayan setelah bertarung ketat dengan sejumlah politisi senior seperti Pramono Anung (PDIP) dan Anas Urbaningrum (Partai Demokrat) di Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Timur VI yang meliputi Tulungagung, Kediri dan Blitar –kota kelahirannya. Luar biasa, di dapil itu, Noura berhasil mengantongi 23.106 suara.

Baginya, meski jalan menuju kursi parlemen ini termasuk yang paling berat dalam perjalanan hidupnya, namun itulah yang harus dilaluinya. ”Saya masuk di DPR ini seperti sudah ada jalannya,” tutur anggota Komisi VI yang membidangi perdagangan, perindustrian, investasi, BUMN dan UKM ini.

Dengan menjadi penyambung lidah rakyat, perempuan penyuka musik jazz dan bossanova ini mengaku mendapat firasat dari sholat tahajud yang ia jalani selama tiga tahun terakhir. Saat itu, ia memutuskan untuk meninggalkan keduniwaian. “Saya ini hanya seorang hamba Allah,” ujar perempuan murah senyum yang tinggal di kawasan Ciganjur Jagakarsa ini.

Nah, bila suatu saat bersua dengannya, tak usah sungkan untuk bertanya seputar geliat usaha kecil dan menengah atau soal perkembangan industri dan perdagangan Republik ini, pasti ia akan paparkan dengan penuh antusias. [g]

Artikel ini ditulis dan dimuat untuk majalah GARUDA, Edisi Maret 2011

Lebih Dekat Dengan Ahmad Muzani, Sang Pemberani

Tegas, cerdas dan berani selalu ditampilkan oleh sosok politisi Senayan ini. Betapa tidak, setiap rumor politik yang terjadi selalu disikapinya dengan santun. Terlebih di saat panggung politik yang kian ramai pasca ditolaknya Hak Angket Mafia Pajak. Dimana Partai Gerindra sebagai kendaraan politiknya menjadi ’buah bibir’ di semua kalangan. Ia pun harus pintar mengatur lalu lintas politik yang mendadak sibuk.

Keberadaan H Ahmad Muzani (43), pengusaha sekaligus politisi muda ini di Partai Gerindra tak disangsikan lagi. Sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Partai Gerindra, Muzani kerap menjadi narasumber terpercaya bagi pencari berita dalam mendapatkan informasi. Pun dengan lawan maupun kawan politik di Senayan, Muzani kerap menjadi incaran. Selain dekat dengan semua petinggi partai, pria kelahiran Tegal, 15 Juli 1968 ini tidak pelit dalam memberikan informasi berkaitan dengan aktifitas partainya. Termasuk yang tengah menjadi perbincangan banyak orang, yakni gonjang-ganjing koalisi dan reshuffle kabinet. ”Kami berkesimpulan sementara, wacana reshuffle dan evaluasi koalisi cukup sampai di sini. Saya sudah mencium gelagat itu beberapa waktu lalu. Ini lagu lama syair baru,” tegasnya.

Kiprahnya di organisasi telah ditekuninya sejak usia remaja di kota kelahirannya. Selain aktif di organisasi sekolah, Muzani pun pernah memimpin Pelajar Islam Indonesia (PII). Lepas dari dunia bangku sekolah, Muzani melanjutkan pendidikan di Universitas Ibnu Khaldun Jakarta, mengambil jurusan Komunikasi. Dari sanalah akhirnya, Muzani menggeluti dunia jurnalistik. Dimulai dari menjadi wartawan majalah Amanah, beberapa tahun kemudian menjadi penyiar Radio Ramako. Lalu Muzani pun dipercaya memegang stasiun radio di kawasan Serang Banten, sebagai direktur Radio Ramaloka.

Lantaran memiliki jaringan yang luas di berbagai kalangan, Muzani pun bergabung sebagai manager di salah satu perusahaan –yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit— milik Prabowo Subianto. Otomatis, Muzani pun ikut aktif di Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) –yang pada akhirnya, ayah dari empat anak ini bergabung di dalamnya, termasuk menjadi bagian dari Partai Gerindra. Sekarang ia pun dipercaya sebagai Sekjen partai berlogo kepala garuda.

Sebelumnya, dunia politik praktis ditekuninya saat ikut membidani partai bentukan dai kondang Zainuddin MZ yakni Partai Bintang Reformasi (PBR) dan sempat menjabat sebagai Wakil Sekjen. Menjelang pemilu 2009 lalu, pria yang suka menyantap makanan daerah ini bergabung ke Partai Gerindra. Lewat Partai Gerindra inilah, ia mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dari daerah pemilihan (dapil) Lampung I yang meliputi Bandar Lampung, Lampung Barat, Lampung Selatan, Tanggamus, Pesawaran, dan Metro.

Upayanya tak sia-sia, suami dari Himmatul Aliyah ini akhirnya berhasil melenggang ke Senayan periode 2009-2014, dengan raihan suara yang signifikan yakni 24.723 suara. Kini, politisi yang gemar jogging saban pagi hari ini duduk di Komisi I yang membidangi soal pertahanan, luar negeri dan informasi. Selain diamanahi untuk menjabat sebagai Wakil Ketua Fraksi Gerindra, anggota dewan bernomor  A21 ini juga didapuk sebagai Ketua Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR-RI –salah satu badan kelengkapan yang ada di DPR. Sementara di luar urusan kepartaian dan parlemen, Muzani pun menjabat Wakil Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin).

Di Partai Gerindra inilah, menurut Muzani, pihaknya –baik yang ada di gedung wakil rakyat maupun di luar— kerap memberikan catatan terkait dengan masalah pembangunan yang dijalankan pemerintahan selama ini. ”Termasuk tentang jalan keluar terhadap masalah tersebut,” ujarnya.

Muzani mencontohkan, misalnya tentang arah pembangunan yang dinilai terlalu kuat pada kemauan pasar. Padahal, negara harus lebih kuat lagi di dalam mengambil peran di dalam proses pembangunan dengan cara memberdayakan BUMN sebagai pilar penting dari pergerakan pertumbuhan ekonomi. Lalu, memaksimalkan sumber daya alam untuk pemanfaatan yang sebesar-sebesarnya bagi pembangunan rakyat.

”Apakah mungkin misalnya produksi alam kita tidak dijual ke luar negeri, tapi untuk bahan bakar pabrik pupuk kita? Pupuk itu bisa dihasilkan untuk petani, ketersediaan pupuk yang memadai,” tandasnya.

Di sela-sela kesibukannya mengatur arah angin politik, majalah GARUDA dengan Muzani dalam berbagai kesempatan, berikut ini petikan dialog seputar rumor deal-deal politik yang ada.

Konon kabarnya Gerindra diajak gabung ke koalisi, bagaimana sikap Partai Gerindra terkait dengan itu?

Kami tidak ada deal-deal dengan Demokrat atau berpikir kemungkinan akan masuk koalisi. Memang, kami diajak masuk dalam koalisi. Tapi kami belum menerima langsung atau menolak. Pertama, kami memberikan syarat. Dengan syarat tersebut, kami menunggu respon SBY, apakah diterima seluruhnya atau sebagian atau ditolak, belum direspon. Kedua, kami belum tahu portofolio. Ketiga, kami belum menyerahkan nama-nama. Karena itu, hari ini posisinya seperti itu, nothing saja.

Apakah ini imbas dari penolakan Gerindra terhadap usulan Hak Angket Mafia Pajak beberapa waktu lalu?

Kami tegaskan keputusan paripurna DPR beberapa waktu lalu, tidak ada iming-iming atau deal-deal politik. Kalaupun ada itu sedekah politik. Sampai sekarang tidak ada komunikasi SBY dan Prabowo Subianto.

Lantas, bagaimana kepastian Gerindra jika diminta masuk dalam koalisi?

Diakui memang, pembicaraan ke arah itu sudah mengerucut. Masalahnya, kalau mengambil bagian di koalisi, ingin keberadaan kita memberikan nilai tambah. Kita tidak hanya menggenapkan atau mengganjilkan jumlah dan tidak memberi perubahan apa-apa dari masa pemerintahan yang hanya tinggal tiga setengah tahun ini. Sebaliknya, opsi tidak mengambil bagian dari koalisi, juga kita pikirkan. Tiga setengah tahun ini kan yang tersisa efektif itu dua setengah tahun. Apa yang bisa kita berbuat?

Kalau memang harus bergabung dalam koalisi, apa yang membuat Gerindra ingin bergabung?

Setidaknya, ada yang ingin kita sumbangkan bagi kebaikan bangsa. Kalau hal ini tidak dapat persetujuan yang bahurekso (penguasanya), ya sudah. Buat Gerindra berada di dalam maupun di luar pemerintah, sama saja. Di luar kekuasan berarti tugas kita mengontrol agar pemerintahan lebih efektif. Kalau di dalam, bagaimana kita bisa efektif, bagaimana untuk (membangun) demokrasi. Hanya beda peran saja, yang satu mengeritik, yang satu dikritik.

Kabarnya Gerindra ditawari posisi menteri?

Itu saya benarkan. Tapi tadi (soal dua opsi), itu adalah sikap dan pandangan kami. Hal itu sudah kami sampaikan beberapa catatan atau prasyaratnya.

Lalu soal reshuffle kabinet, apakah akan terjadi?

Tidak akan terjadi. Karena SBY kesulitan dalam komunikasi dengan Partai Golkar dan PKS. Tapi di sisi lain, belum ada jaminan PDIP dan syarat dari Gerindra. Sehingga presiden kesulitan, feeling kami reshuffle tidak akan terjadi.

Lantas apa makna isu reshuffle yang belakangan santer diperbincangkan?

Pada akhirnya, isu reshuffle ini dijadikan instrumen untuk menguji loyalitas menteri-menteri dalam koalisi, kalau itu tercapai.

Catatan:

Artikel ini ditulis dan dimuat untuk majalah GARUDA, Edisi Maret 2011