Lebih Dekat Dengan Permadi, Sang Soekarnois Sejati

Warna hitam itu warna Tuhan. Warna dasar yang tidak bisa dibayangkan. Hitam juga menunjukkan konsisten. Hanya orang yang berbaju hitam saja yang sama dengan bayangannya, yakni hitam. Antara apa yang ada di dalam hati, apa yang dipikirkan, dan diucapkan serta perilakunya tak ada bedanya. Tak sekedar serba hitam agar tampil beda, tapi memang sudah menjadi jalan hidupnya sebagai seorang spiritualis.

Begitulah filosofi Permadi (71), politisi kawakan –yang terkenal vokal ini— akan warna hitam yang sudah melekat dengan dirinya. Bagi seorang penghayat kepercayaan ini, dalam warna hitam itulah, konsep Jawa manunggaling kawulo lan gusti (bersatunya manusia dan Tuhan) bisa terjadi. Menurutnya, ilmu tertinggi sebelum manunggaling kawulo lan gusti adalah saka paraning dumadi (dari mana kita berasal dan ke mana kita akan kembali). Warna hitam itu pula yang menjadikan dirinya tetap konsisten dan komitmen dengan perjuangannya sebagai seorang Soekarnois sejati.

Tampil serba hitam, tidak berarti lembaran hidupnya dekat dengan dunia hitam. Namun diakuinya, di dunia luar sana ’pengalaman hitam’ telah banyak menggemblengnya menjadi seorang yang ajeg dalam pendirian, ajaran serta misinya menjadikan dirinya sebagai penyambung lidah Soekarno. Meski untuk itu, ia harus membayar mahal. Kerap dituduh sebagai pelaku makar pada jaman Soeharto. Keluar masuk penjara akibat orasi-orasinya yang selalu mengumandangkan semangat Soekarno. Bahkan ia pun harus rela keluar dari partai politik berlambang kepala banteng bermoncong putih yang dibesarkan keluarga besar Bung Karno. Semua itu hanya karena ia ingin tetap konsisten dengan tekadnya sebagai penyambung lidah Soekarno.

Sebelum berkarir di panggung politik, pria kelahiran Semarang, 16 Mei 1940 ini sejak usia remaja, sudah dikenal sebagai orator ulung dari panggung ke panggung. Terlebih, ketika ia tengah menempuh pendidikan di kampus Universitas Indonesia (UI). Bahkan selepas dari kampus UI, aktifitas politiknya kian nampak berdiri di barisan oposisi saat meletus perlawanan di masa-masa awal era orde baru tahun 1966. Pun termasuk hari ini, di ’era reformasi’ yang dianggapnya malah sudah mengkhianati UUD 1945. Komentar  maupun orasinya dalam berbagai kesempatan kerap membuat kuping pemerintah panas. Bahkan termasuk kawan maupun lawan politiknya di Senayan, kerap disentilnya.

Meski kerap mendapatkan penolakan dalam memperjuangkan keberpihakannya terhadap nasib wong cilik, tak lantas membuat Permadi menyerah begiu saja. Memang, komentarnya selalu membuat banyak pihak jengah, namun semua itu dilakukannya demi kebaikan bangsa ini. Tapi akhirnya ia harus keluar dari lingkungan yang dinilainya sebagai ’lingkaran setan’ demi menjaga perjuangannya. Hal ini dibuktikan ketika ia masih menyandang sebagai anggota dewan, merasa muak dengan perilaku rekan sejawatnya yang tak mencerminkan sebagai wakil rakyat yang terhormat. Menurutnya, kelakuan mereka baik saat di dalam maupun di luar gedung dewan, sama sekali tak mencerminkan sebagai wakil rakyat, tapi malah penghianat rakyat, mulai dari persengkongkolan hingga perselingkuhan. ”Inilah puncaknya, yang membuat saya harus keluar dari Senayan,” tegas ayah dari empat orang anak ini.

Kini, selepas keluar dari Senayan, ia pun bergabung dengan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) sebagai salah satu anggota Dewan Pembina. Konon, bergabungnya ke partai bentukan Prabowo ini bukan karena faktor kebetulan, tapi lebih pada kesamaan visi dan misinya untuk membangun negeri ini lebih baik. ”Bergabungnya saya ke Gerindra bukan kebetulan tapi sudah takdir Gusti Allah, untuk melanjutkan perjuangan sebagai penyambung lidah Bung Karno,” tandas suami dari Dewi Noorjanti yang dinikahinya pada tahun 1971 silam.

Lantas seperti apa pemikiran Permadi yang diperjuangkan lewat Gerindra sebagai gerbong politiknya? Berikut ini perbincangan Hayat Fakhrurrozi dari GARUDA, saat menemuinya di ruang kerjanya di Kantor DPP Partai Gerindra, di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

Bisa diceritakan awal mula Anda terjun ke dunia politik?

Sejak kecil saya ini Soekarnois. Saya pun terlahir sebagai seorang aktifis. Dulu jaman Soeharto saya pernah dijebloskan ke penjara sebagai pelaku makar. Saya pun pernah dikenai dua Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Tapi anehnya kedua BAP itu hilang. Ternyata, saya dapat informasi BAP itu dihilangkan atas perintah Soeharto.

Singkat cerita, akhirnya jelang era reformasi saya diminta gabung dengan keluarga idola saya, Bung Karno untuk ikut memperjuangkan nasib wong cilik. Saya pun berhasil menjadi anggota dewan untuk dua periode, tapi memasuki tahun ke sembilan sebagai wakil rakyat, saya keluar karena muak dengan perilaku DPR.

Apa yang membuat Anda gabung dengan Gerindra?

Awalnya, saya diminta oleh Mas Prabowo untuk menemaninya ziarah ke makam Bung Karno. Saya kaget sekaligus senang, seorang anak begawan ekonomi, mantu Suharto ujug-ujug mengajak saya ke makam Bung Karno. Ada apa ini? Akhirnya saya pun mengantarnya ke sana. Di sana pula saya digombali Prabowo.

Maksudnya?

Ya, dia bilang, setelah saya amati dari orasi, pidato dan aktifitas pak permadi, ternyata Anda adalah Soekarnois dua ribu persen. Wuih, siapa yang tidak senang dibilang begitu. Tapi dia melanjutkan omongannya, Saya Prabowo memerlukan Soekarnois sejati seperti anda. Akhirnya tanpa pikir panjang, tidak mikirin gaji, popularitas sebagai anggota dewan terhormat, saat itu juga saya keluar dari DPR dan langsung menerima lamaran Prabowo untuk masuk ke Gerindra. Otomatis saat itu juga saya harus keluar dari PDI-P, karena dulu saya menjadi DPR dari partai itu.

Proses masuknya Anda sendiri ke Gerindra seperti apa?

Ya itu tadi, saya dilamar oleh Prabowo untuk masuk ke Gerindra. Sama seperti dulu saya gabung ke PDI-P.

Setelah masuk ke Gerindra, apa tugas Anda?

Saya diminta Prabowo menjadi salah satu anggota Dewan Pembina partai. Saya pun bagian dari Badan Seleksi Organisasi (BSO) Geridra. Sejak saat itu juga, saya langsung aktif berkantor dari pagi hingga sore hari. Boleh dibilang, saya adalah satu-satunya anggota Dewan Pembina yang aktif setiap hari ngantor. Bahkan boleh dicek di daftar tamu sana, saya lebih banyak menerima tamu dari pada pengurus.

Selain sebagai anggota Dewan Pembina, dan tim BSO, apa saja yang Anda lakukan di Gerindra?

Di Gerindra ini, saya ingin menjadikan Prabowo sebagai Soekarno muda, bukan lagi Soekarno kecil. Sampai saat ini, di Gerindra saya seperti amplop dan perangko, dimana prabowo pergi pasti ada saya di sana. Saya akan terus mendampinginya hingga dia menjadi orang nomer satu di Indonesia.

Seperti apa kontribusi Anda terhadap Gerindra?

Selain itu saya akan mendampingi Mas Prabowo menjadi orang nomer satu di negeri ini. Karena dialah pemimpin masa depan. Boleh jadi saya ini seperti alarm sekaligus tempat berkonsultasi bagi dia. Seperti saat dia maju sebagai calon wapres, pemilu 2009 lalu, meski saya marah sekali waktu itu tapi mau diapakan lagi. Lalu saat ribut soal koalisi, saya katakan kepadanya bahwa saya tak setuju dan meminta dia untuk sadar dengan perjuangan awal dan kondisi internal partai.

Memang, Gerindra besar bukan karena saya, tapi karena kiprah Prabowo. Keberadaan saya juga untuk terus menguatkan visi dan misi Mas Prabowo soal ekonomi kerakyatan, menanamkan kembali rasa nasionalisme, mengembalikan hak milik rakyat dan bangsa mulai dari pertanian, kehutanan dan kekayaan negeri yang kini banyak disedot ke luar negeri.

Memang seperti apa pemimpin yang dibutuhkan bangsa ini?

Pemimpin Indonesia yang akan datang itu bukan seperti Bung Karno, juga bukan seperti Pal Harto. Kalau seperti Bung Karno, tidak mungkin. Bung Karno terlalu humanis, berbudaya yang selalu mengampuni musuhnya, hingga akhirnya tak disadari pada menusuknya dari belakang. Kalau seperti Pak Harto juga tidak bisa, karena terlalu otoriter mengandalkan kekerasan yang pada akhirnya membinasakan banyak rakyat, kekayaan habis begitu saja. Pemimpin Indonesia harus memiliki dua karakter Bung Karno dan Pak Harto dalam satu orang dalam sisi baiknya. Kesempatan pertama itu ada pada Prabowo.

Dialah yang bisa menggabungkan semuanya itu untuk memimpin Indonesia menjadi pemimpin dunia. Bung Karno itu pemimpin internasional, Pak Harto itu pemimpin regional asean, jadi kalau Prabowo bisa menghimpun keduanya dia akan menjadi pemimpin dunia. Indonesia akan menjadi mencusuar dunia, seperti yang dikatakan jaman revolusi dulu oleh Soekarno berkali-kali.

Lantas apakah semua itu bisa terwujud?

Mas Prabowo harus bisa. Ya, saya selalu yakinkan itu seperti ia dulu mendirikan Gerindra dulu. Karena sekarang Mas Prabowo bukan Soekarno kecil lagi, tapi Soekarno muda yang sudah saatnya tampil menjadi pemimpin masa depan Indonesia.  [G]

Artikel ini ditulis dan dimuat untuk majalah GARUDA, Edisi April 2011

Advertisements

5 thoughts on “Lebih Dekat Dengan Permadi, Sang Soekarnois Sejati

  1. masa sih galau mulu ir kamu… hehehehe oke deh nanti coba saya tengok2 blog barumu… maaf baru balas… hmmm iya saya lupa masukin foto2nya.. menyusul deh 🙂

  2. Saya nggak yakin Permadi itu Sukarnois sejati.Dia harus terbitkan buku tentang ajaran Sukarno itu bagaimana, apa itu trisakti. Saya nggak pernak baca buku karangan Permadi soal ajaran Sukarno

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s