Lebih Dekat dengan Prof DR Ir Suhardi, M.Sc: Memilih Pemimpin Tidak Boleh Instan

Indonesia kini, sungguh memprihatinkan bukan hanya karena sebagian masyarakat hidup di bawah garis kemiskinan, tapi juga beragam persoalan sosial dan bencana alam datang silih berganti. Tidak hanya itu, berbagai masalah politik yang timbul saat ini, menambah beban sosial dalam kehidupan sehari-hari. ”Hal ini tidak terlepas dari berbagai komentar yang dilontarkan para pemimpin partai politik, anggota parlemen yang saling serang dan saling menyudutkan,” kata Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Prof Dr Ir Suhardi, MSc di ruang kerjanya di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Menurut pakar kehutanan ini, masyarakat harus sadar akan pentingnya pendidikan politik dan proses berpikir agar tidak salah menilai sosok seorang pemimpin yang akan dipilihnya. ”Kita harus sadar, tidak boleh memilih pemimpin secara instan. Jangan hanya karena dijanjikan sesuatu lantas memilih seseorang yang nyatanya tak bisa berbuat apa-apa. Masyarakat harus betul-betul paham bahwa nasib bangsa ini berada di tangan mereka dengan cara-cara demokratis,” papar pria kelahiran Klaten, 13 Agustus 1952 ini.

Karena itu, meski belum begitu lama terjun di panggung politik, Suhardi mengaku sedih melihat kondisi politik Indonesia yang tidak lagi menjunjung tinggi asas-asas demokrasi. Ia mengaju agak sulit memahami bagaimana bisa suara rakyat begitu mudahnya dibeli dengan uang. ”Bayangkan saja jika untuk jadi bupati, perlu dana besar, sehingga jika terpilih nanti yang dipikirkan bukan bagaimana menjalankan program kerjanya tapi bagaimana supaya dana yang dikeluarkan bisa segera kembali,” kata alumnus College of Forestry, University of the Philippines Los Banos (UPLB), Philipina.

Namun caruk maruknya masalah politik di tanah air, tak membuat ayah tiga anak ini ingin berhenti sampai di sini. Masalah yang ada bahkan, makin menumbuhkan semangat juangnya untuk mengantai partai yang dipimpinnya melaju pesat di 2014 nanti. ”Saya berharap Gerindra bisa membuat gerakan dengan merangkul petani dan nelayan, sebab sesungguhnya mereka adalah aset bangsa ini,” jelas profesor yang aktif mengembangkan beragam organisasi yang fokus pada pemberdayaan kehutanan, pertanian dan ketahanan pangan masyarakat, khususnya tani dan nelayan.

Lantas apa yang membuatnya hingga kini masih aktif di panggung politik? Kepada Hayat Fakhrurrozi dan juru foto Kemal Firdaus dari GARUDA, lelaki yang selalu tampil sederhana ini berkisah. Berikut petikan wawancaranya:

Apa yang membuat profesor memilih terjun ke dunia politik?

Bermula dari keprihatinan saya terhadap lingkungan dan nasib petani yang selalu bernasib buntung. Ditambah nasib sial itu adalah takdir dari stuktur ekonomi yang ada. Dimana untuk memperbaiki nasib petani harus didahului perubahan sistem ekonomi. Nah, sistem ekonomi kerap kali ditentukan kekuatan politik. Intinya, politik adalah panglima, termasuk menentukan nasib petani.

Kenapa demikian?

Saya pernah jadi Dirjen, tapi usulan saya selalu dimentahkan. Misalnya saya sudah usul ini jangan impor, pangan jangan impor, ternyata malah impor. Rupanya, selaku Dirjen pun ternyata sulit sekali memberikan keputusan. Tetap yang memberi keputusan pejabat di atas saya. Dan keputusan pejabat itu ternyata keputusan politik. Dari situlah akhirnya saya merenung bahwa semua itu harus melalui politik.

Kapan akhirnya Anda memilih untuk terjun ke panggung politik?

Berbagai pengalaman baik saat di HKTI maupun di Dewan Ketahanan Pangan Nasional kian membuat saya frustasi. Akhirnya awal tahun 2007, saya mengajak sejumlah rekan membangun partai politik baru. Nah, Ketua Umum HKTI, Prabowo Subianto, yang saat itu masih tercatat anggota Partai Golkar turut kami ajak. Waktu itu nama partai yang kami bentuk adalah Partai Petani dan Nelayan. Beberapa waktu kemudian, saya pun dipanggil oleh Prabowo untuk membahas rencana pembentukan partai. Nah, menjelang verifikasi partai, akhirnya Prabowo ikut gabung meski masih tetap dibalik layar dan mengganti nama partai menjadi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Saya selaku pengusul pun ditunjuk sebagai Ketua Umumnya. Alhamdulillah, hanya dalam waktu dua minggu menjelang penutupan verifikasi partai, Gerindra akhirnya lolos sebagai peserta Pemilu 2009. Jadi mau tidak mau, saya pun pensiun dari pegawai negeri.

Sejauh ini Gerindra identik dengan sosok Prabowo sebagai tokoh terkenal, lalu apa strategi Gerindra?

Siapa pun mengenal dan mengagumi Pak Prabowo. Dan siapapun akan mengatakan Gerindra itu ya Prabowo. Sementara saya sendiri nyaris tak dikenal masyarakat. Inilah untungnya saya, sehingga saya bisa dengan leluasa untuk bertemu dan bertanya di masyarakat hingga kalangan bawah. Saya sering ke pasar, naik ojek atau ngobrol dengan tukang bangunan, dan kalau ditanya soal Gerindra atau Prabowo, mereka memberikan tanggapan positif. Jadi nggak salah dong kami jadikan Pak Prabowo sebagai ikon sekaligus jagoan dari Gerindra.

Lalu apa yang dilakukan Gerindra menghadapi Pemilu 2014?

Selain terus merapatkan barisan internal melalui pendidikan kader mulai dari tingkat pusat hingga seterusnya ke bawah. Pada pemilu mendatang, kami tidak mau kecolongan lagi, selain hanya disiapkan dalam satu tahun kurang, juga belum punya kader banyak, belum punya saksi. Untuk 2014 nanti, kami sudah punya enam juta saksi, setidaknya akan ada sepuluh orang saksi dari kami di setiap TPS dengan alamat yang berbeda.

Berapa anggota Gerindra saat ini?

Kami dulu punya 13 juta pemegang KTA (kartu tanda anggota). Tapi nyatanya kami hanya 4,2 persen di DPR. Entah kenapa kok begitu. Untuk di provinsi kami memperoleh 10 persen kursi. Berarti mirip dengan jumlah pemegang KTA. Di Jawa Tengah misalnya, 9 persen, Jawa Timur  10 persen, di Jawa Barat 9 persen, dan DKI 7 persen.

Apa saja yang dilakukan Gerindra pada kader-kadernya di usia yang ke 3 ini?

Secara bertahap kami melakukan pendidikan politik, meski kami tidak bisa menjamin 100 persen bisa tercapai, tapi sosialisasi hingga ke bawah terus berkesinambungan. Di DPD kami punya 130 pengurus yang secara bertahap melakukan pengkaderan hingga ke ranting-ranting. Intinya kami masih punya waktu yang cukup panjang dibanding 2009 lalu. Kalau kemarin yang paling belakang menentukan caleg, pemilu nanti kami ingin yang terdepan.

Lantas apa yang ditawarkan Gerindra untuk bisa sukses 2014?

Kami tetap mengedepankan delapan aksi program yang akan kita publikasikan terus menerus ke semua lini. Kedelapan aksi program itu jelas ada parameternya, ada ukurannya, ada targetnya. Setidaknya, Partai Gerindra mampu mengembalikan dan menyadarkan kembali akar keindonesiaan yang berawal dari masyarakat pedesaan sebagai petani dan nelayan. Yang pada akhirnya, mereka pun mengetahui partai mana yang mampu memperjuangkan dan mewujudkan kesejahteraan yang nyata.

Artikel ini ditulis dan dimuat untuk majalah GARUDA, Edisi Februari 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s