Noura Dian Hartaroni: Hidup adalah Pengabdian Paripurna

Aku ingin hidup seperti pohon Nyiur, yang mana setiap bagian dari tubuhnya bermanfaat untuk kehidupan manusia. Itulah kutipan yang tertuang dalam akun blognya bertajuk serat lazuardi dalam kolom profilnya. Karena menurutnya, hidup adalah pengabdian paripurna –sebagaimana ditulisnya di akun jejaring sosial facebook atas nama dirinya.

Adalah Noura Dian Hartaroni. Sosok wanita berparas cantik dan anggun yang kini duduk sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia dari fraksi Gerindra. Keterlibatan perempuan kelahiran Blitar, 17 Desember 1968 pada dunia politik berawal dari aktifitas sebelumnya di Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) di bawah naungan Prabowo Subianto.

Lewat wadah HKTI inilah, lulusan Manajemen Universitas Pancasila Jakarta ini mengaku lebih dekat dan merasakan perjuangan kaum petani. Terlebih setelah dia mendengar langsung pidato Prabowo Subianto tentang gagasannya menjadikan Indonesia yang mandiri membuat ia kian mantap untuk terjun di panggung politik. ”Saya menangis mendengar pidato Pak Prabowo,” kenangnya.

Sejak saat itu, anak keenam dari tujuh bersaudara dari keluarga pemilik kebun kopi ini memilih Gerindra sebagai kendaraan politiknya. Di partai berlambang kepala burung garuda ini, Noura didapuk sebagai Wakil Sekretaris Jenderal.

Penampilannya di panggung politik tak sia-sia. Noura berhasil melenggang ke Senayan setelah bertarung ketat dengan sejumlah politisi senior seperti Pramono Anung (PDIP) dan Anas Urbaningrum (Partai Demokrat) di Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Timur VI yang meliputi Tulungagung, Kediri dan Blitar –kota kelahirannya. Luar biasa, di dapil itu, Noura berhasil mengantongi 23.106 suara.

Baginya, meski jalan menuju kursi parlemen ini termasuk yang paling berat dalam perjalanan hidupnya, namun itulah yang harus dilaluinya. ”Saya masuk di DPR ini seperti sudah ada jalannya,” tutur anggota Komisi VI yang membidangi perdagangan, perindustrian, investasi, BUMN dan UKM ini.

Dengan menjadi penyambung lidah rakyat, perempuan penyuka musik jazz dan bossanova ini mengaku mendapat firasat dari sholat tahajud yang ia jalani selama tiga tahun terakhir. Saat itu, ia memutuskan untuk meninggalkan keduniwaian. “Saya ini hanya seorang hamba Allah,” ujar perempuan murah senyum yang tinggal di kawasan Ciganjur Jagakarsa ini.

Nah, bila suatu saat bersua dengannya, tak usah sungkan untuk bertanya seputar geliat usaha kecil dan menengah atau soal perkembangan industri dan perdagangan Republik ini, pasti ia akan paparkan dengan penuh antusias. [g]

Artikel ini ditulis dan dimuat untuk majalah GARUDA, Edisi Maret 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s