Anak Agung Bagus Jelantik Sanjaya: Ikut Memperbaiki Kondisi Bangsa

Tak sedikit pelaku usaha yang tertarik dengan dunia politik. Meski sebelumnya, ranah politik nyaris tak pernah disentuhnya. Tapi kenyataannya, tak sedikit pula dari mereka akhirnya mendedikasikan dirinya di panggung politik praktis. Yang pasti, tujuannya utamanya hanya satu, ikut serta memperbaiki kondisi bangsa.

Ya, setidaknya itulah yang melatari pengusaha sekaligus aktifis berbagai kegiatan sosial, ekonomi serta spiritual asal Bali, Anak Agung Bagus Jelantik Sanjaya (59), terjun ke dunia politik. Lagi pula keterlibatannya di partai politik bukanlah secara kebetulan atau sekedar ikut-ikutan. Kesamaan visi, misi serta persepsi yang diusung Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) inilah yang membawanya bergabung pada 2008 silam.

Memang sosok Anak Agung Bagus Jelantik tak hanya dikenal sebagai seorang kerabat kerajaan Karangasem Bali, tapi lebih dari itu, pamornya sebagai penggerak ekonomi kerakyatan sudah tak asing lagi. Tak salah memang, ketika Gerindra meminangnya untuk berjuang bersama melalui jalur politik. Terlebih setelah mengetahui dan mempelajari apa yang diperjuangkan Prabowo Subianto selaku pendiri partai dalam membangun kembali Indonesia Raya, selaras dengan cita-citanya. ”Saya menemukan kesamaan persepsi dengan Gerindra,” aku pria kelahiran Denpasar, 24 April 1952 ini.

Seakan mendapat kekuatan luar biasa, ketika apa yang diperjuangkannya itu mendapat dukungan dari Partai Gerindra. Gung Bagus Jelantik –sapaan akrabnya— pun maju sebagai calon legislatif pada Pemilu 2009 lalu. Sebagai pendatang baru, cucu dari Raja Karangasem, Bali itu harus bersaing dengan politisi ternama seperti I Wayan Koster dan Made Urip di Daerah Pemilihan (Dapil) Bali. Rupanya keberpihakannya pada petani, peternak, nelayan dan pengrajin di tanah kelahirannya itu membawanya lolos sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI dengan raihan suara sebesar 11.460 suara.  Saat ini, ia duduk sebagai anggota Komisi IV yang membidangi pertanian, pertanahan, kehutanan dan kelautan.

Jauh sebelumnya, lewat beragam kegiatan ekonomi kerakyatan, ia bersama rekan-rekannya berhasil membentuk kelompok usaha kerajinan, kelompok tani, koperasi kerakyatan –yang masih dipantaunya hingga kini. Seperti di lingkungan tempat tinggalnya, Puri Maharani Denpasar, Bali, ayah empat anak ini terus membina dan mengajarkan langsung kepada para pengrajin mulai dari desain, pemilihan bahan, pengendalian kualitas, penerapan teknologi hingga penguasaan pasar. ”Saya harap perajin Bali mampu bersaing di pasar lebih luas,” ujar pelaku bisnis kerajinan sekaligus pemilik dari Besakih Factory –yang kini diteruskan oleh putranya— yang dirintisnya sejak 1975 silam.

Kini dengan menjadi bagian dari partai politik, penggiat sekaligus Ketua Forum Kemitraan Pengembangan Ekonomi Lokal Bali, ini bisa memaksimalkan apa yang menjadi perjuangannya selama ini. Program kerjasama Bappenas, UNDP dan UN Habitat yang digerakkan sejak 2002 lalu itu setidaknya menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan masyarakat di kawasan pulau Dewata –yang selama ini menjadi perjuangan partai Gerindra. Di samping itu, ia pun tercatat sebagai Ketua Bidang Pengembangan Pangan dan Holtikultura Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Bali sejak 2008.

Bahkan, di sela kesibukannya sebagai wakil rakyat, tanpa harus selalu membawa bendera partai atau organisasi, secara pribadi Gung Bagus Jelantik pun selalu menyempatkan waktu untuk membina kelompok tani, termasuk yang ada di luar Bali. ”Kita tengah mengaplikasikan penggunaan pupuk organik berupa kompos hasil inovasi anak bangsa yang diberi nama Tiras pada kelompok tani yang kita bina di beberapa wilayah di Bali dan Jawa Barat,” ujar pengusaha yang dipercaya sebagai salah satu anggota Dewan Pakar Masyarakat Agribisnis dan Agroindustri (MAI) ini.

Sebagai wakil rakyat, dengan kapasitas dan pengalamannya itu, bersama rekan-rekannya di Komisi IV ia tengah memperjuangkan nasib para petani terhadap melambungnya harga pupuk, padahal kualitasnya rendah. Menurutnya, kebijakan pemerintah terhadap bidang pertanian yang tumpang tindih kian memperparah kondisi negeri –yang pernah dijuluki negara lumbung pangan— ini. ”Tidak adanya sinergi antar departemen terkait untuk bersama membangun negeri ini dikarenakan tidak adanya rasa tanggungjawab para pelaksananya. Bisa jadi rasa nasionalisme mereka sudah luntur tergerus liberalisasi ekonomi,” sindirnya.

Sontak, sikap vokalnya di Komisi IV DPR-RI itu, tak jarang membuat instansi yang menjadi mitra kerjanya terpengarah. Namun baginya lantas tak cukup hanya dengan menyindir atau bahkan menghujat saja tanpa ada solusi yang diberikan kepada mitra kerjanya. Lewat berbagai kesempatan ia pun kerap mengajak para pengambil kebijakan untuk mencoba beberapa solusi alternatif seperti yang disodorkan Partai Gerindra.

Untuk memfokuskan diri pada tugas kedewanan, istri dari Anak Agung Ayu Masningsih ini tak lantas harus duduk di jajaran pengurus partai baik di pusat maupun di daerah. Baginya sebagai kader sekaligus penasehat DPD Gerindra Bali –yang duduk di DPR-RI— dengan melihat perkembangan partai Gerindra di Bali yang terus meningkat rasanya sudah memberi kebanggaan sendiri. Pun dengan adanya dukungan serta kiprah keluarga besarnya mulai dari istri, anak serta menantunya di sayap partai menjadi sumber energi yang tak tergantikan dalam berpolitik. [G]

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk majalah GARUDA, Edisi Juni 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s