Lebih Dekat Dengan Sufmi Dasco Ahmad: “Suara Pemilih Ditiup Angin”

Kiprahnya di panggung politik praktis masih terbilang baru. Namun jiwa nasionalisme telah mendarahdaging. Pun dengan semangat dan tanggungjawabnya yang tak pernah lepas darinya. Meski dirundung berbagai masalah sekalipun. Tak menyurutkan tekadnya memperjuangkan nasib rakyat lewat jalur politik.  

Hal inilah yang diyakini Ir Sufmi Dasco Ahmad, SH, MH (43), Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Keterlibatannya di partai politik berawal ketika 2008 lalu, ia diajak Muchdi Pr dan teman bisnisnya Fadli Zon untuk ikut membantunya dalam proses pendirian partai. Tentu saja, mendengar ajakan itu, Dasco demikian sapaan akrabnya, sempat terkaget-kaget. ”Jujur saja, saya sebelumnya belum pernah terjun ke politik, bahkan tak ada latar belakang partai politik di keluarga,” akunya.

Tapi karena pria kelahiran Bandung, 7 Oktober 1967 ini terlanjur dikenal oleh orang-orang yang mengajaknya itu. Setidaknya, aktifitasnya di beberapa organisasi yang diikutinya menjadi pertimbangan Muchdi dan Fadli untuk merangkulnya. Pun dengan kapasitasnya sebagai pengusaha konsultan keamanan dan manajemen resiko yang tak diragukan lagi, kelak akan banyak membantu. Terbukti, kepiawaiannya itu dirasakan manfaatnya oleh civitas partai hingga kini.

Lulusan Fakultas Teknik Universitas Pancasila Jakarta ini mengembangkan beragam usaha, diantaranya  bergerak di bidang konsultasi keamanan dan manajemen resiko, percetakan security printing di bawah bendera Pasopati Group. Selain itu, ayah satu anak ini pun menjalankan bisnis jual beli mobil. ”Kalau sekarang, selain mengembangkan usaha itu, saya pun harus ngurus partai,” ujar Ketua Alumni Fakultas Teknik Universitas Pancasila ini.

Memang, sebelum terjun ke partai politik, Dasco sudah aktif di Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) duduk sebagai Sekretaris Komisi Disiplin. Di induk organisasi olahraga cabang pencak silat inilah, ia kerap bertemu dengan Prabowo Subianto selaku Ketua Umum dan Muchdi Pr sebagai Ketua Harian IPSI. Termasuk posisinya di Dewan Penasehat Komando Nasional Resimen Mahasiswa, tentunya ada kaitannya dengan aktifitas pembinaan watak generasi muda yang digerakan kalangan militer.

Setelah mempelajari garis perjuangan dan beragam program yang dicanangkan Prabowo pada partai yang akan dibentuknya itu, Dasco pun menyanggupinya untuk terlibat langsung.  Maka tercatatlah ia sebagai salah satu pendiri partai Gerindra dan dipercaya menjadi Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan.

Lalu, seperti apa kipranya, sebagai orang yang diamanahi mengurus dinamika organisasi dan anggota di Partai Gerakan Indonesia Raya ini? Di bawah ini perbincangan Hayat Fakhrurrozi dari GARUDA bersama pemilik Pasopati Group ini saat ditemuinya di salah satu hotel di Jakarta, awal Juni lalu. Berikut petikan wawancaranya:

Bisa ceritakan aktifitas keseharian Anda saat ini?

Aktifitas keseharian saya selama ini, tentunya saya cari makan. Bersama kawan-kawan mengembangkan usaha di bidang manajemen keamanan dan manajemen resiko. Ada juga percetakan khusus security printing. Saya juga seorang bisnis jual beli mobil. Dan sejak tiga tahun lalu, saya ikut mengurus partai Gerindra.

Di luar itu, saya juga ngurus organisasi olahraga pencak silat. Lalu menjadi Ketua Alumni Fakultas Teknik Universitas Pancasila. Saya juga menjadi penasehat di beberapa organisasi kepemudaan, diantaranya Komando Nasional Resimen Mahasiwa. Selain itu saya juga masih harus menyelesaikan program doktoral (S3) –yang macet karena kesibukan saya— di salah satu universitas.

Lantas, kapan Anda mulai terjun ke politik?

Awalnya pada tahun 2008, saya diajak sama Pak Muchi Pr dan Pak Fadli Zon. Saat itu mereka mengajak saya bergabung untuk mendirikan partai bersama Pak Prabowo. Jujur saja, sebelumnya saya tidak pernah berpolitik. Bahkan di keluarga pun tak ada latar belakang partai politik.

Apa yang membuat Anda akhirnya mau terjun ke politik?

Adanya semangat yang sama, persepsi dan perjuangan yang sama untuk membawa perubahan menuju rakyat dan bangsa yang adil, makmur dan sejahtera. Jadi Cuma karena semangat yang sama itu akhirnya saya mau bergabung.

Setelah bergabung, apa yang Anda lakukan?

Saya dipercaya sebagai Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan yang mengurusi masalah koordinasi struktur organisasi dan sayap partai serta persoalan keanggotaan. Selain itu saya juga duduk di badan pemenangan pemilu.

Politik itu sendiri menurut Anda?

Politik itu ruwet, maag saya kambuh melulu setelah terjun di politik. Memang, saya tidak membayangkan sebelumnya, kalau politik itu begitu ruwetnya. Sehingga waktu pencalegan, saya pun tidak minat mencalonkan, karena pasti tambah ruwet. Dan pastinya tidak enak. Salah sedikit disemprotnya banyak, uang yang didapat tak seberapa.

Lalu kenapa akhirnya Anda tetap bertahan?

Ini masalahnya tanggungjawab, periode kepengurusan itu harus diselesaikan hingga akhir.

Soal perkembangan keanggotaan Gerindra saat ini?

Kalau dulu, jangankan cari anggota, cari pengurus saja susah. Dan alhamdulillah pada waktu verifikasi KPU 2008, kita yang ditargetkan seribu anggota setiap kabupaten/kota, kita bisa memenuhinya. Kita mempunyai 12 juta anggota waktu itu. Tapi secara nasional pemilih kita hanya 4,7 juta. Hal ini dikarenakan banyak anggota kita yang tak masuk DPT (Daftar Pemilih Tetap). Selain itu ada banyak anggota yang suaranya ditiup angin di TPS.

Bagaimana dengan perolehan suara Gerindra?

Jika dilihat dari perolehan kursi setiap daerah, boleh dibilang hampir relatif sama rata-rata antara 7 – 10 persen dari jumlah pemilih. Hanya saja, perolehan di daerah antara DPR dan DPRD provinsi dan kabupaten/kota tak berbanding lurus. Ada yang dapat kursi untuk DPR daerah hingga satu fraksi, tapi di DPR pusat tak dapat. Pada Pemilu 2009 kemarin banyak suara kita yang hilang, tertiup angin tak jelas kemana. Padahal sebenarnya daerah yang tak dapat kursi, posisi kita ada di urutan suara berikutnya.

Lalu apa yang akan dilakukan?

Dari pengalaman Pemilu 2009 kemarin, kita tengah mendata kembali dengan program KTA-nisasi. Untuk data pastinya baru bisa kita ketahui enam bulan lagi, karena hingga saat ini masih berlangsung. Selain itu, sesuai instruksi Ketua Dewan Pembina, kita juga melakukan pengkaderan yang sudah berjalan dari pusat dan daerah. Dimana gunanya adalah untuk mencetak kader-kader yang militan mandiri dalam rangka mempersiapkan mereka untuk sudah dari sekarang menyiapkan saksi, memonitor DPT. Semua itu, untuk berjaga-jaga agar di 2014 nanti tak terulang lagi kalau di TPS tidak ada saski. Selain itu, para kader di kabupaten/kota pun wajib koordinasi dengan struktur, untuk mengkomparasi antara jumlah KTA dengan data DPT sementara. Sehingga diketahui antara pemilik KTA yang masuk dan yang tidak terdata. Jika terjadi demikian, maka kader harus segera berkordinasi dan melaporkan hal tersebut.

Target Gerindra sendiri di 2014?

Ya pasti tinggi, kita akan berusaha sekuatnya bagaimana caranya agar target kita tercapai. Paling tidak setara dengan perolehan minimal agar kita bisa mengusung calon Presiden sendiri sebesar 20 persen. Kalau lebih dikiranya kita muluk-muluk, jadi minimal di angka itu.

Untuk mencapai target di 2014, apa yang digalakkan?

Tentunya ini menyambung dari program Pak Prabowo yang merangkul berbagai kalangan seperti bergabungnya beberapa parpol. Begitu pula bergabungnya ormas-ormas yang simpati dengan Pak Prabowo. Selain itu, kita juga ada pilar-pilar partai yaitu sayap. Semua itu dalam rangka kita mengakomodir semua golongan dengan berbagai aspirasi untuk bergabung. Semoga dengan itu pula anggota kita bisa bertambah.

Seperti apa kondisi Gerindra?

Kalau dilihat dari umurnya memang baru 3 tahun tentu masih ada kekurangan dibanding dengan partai yang sudah lama eksis. Tapi setiap ada perbedaan pandangan, dinamika organisasi, atau persoalan-persoalan lain, untungnya bisa terselesaikan, karena kita punya perekatnya. Kita punya calon pemimpin Pak Prabowo yang sekaligus menjadi Ketua Dewan Pembina. Setiap masalah bisa dengan cepat terselesaikan, karena kita loyal pada beliau. Persoalan apapun. Itulah bedanya dengan partai lain. Kita tidak ada perseteruan. Nah, itu yang membuat partai ini berjalan sesuai dengan role-nya.

Bagaimana dengan kader Gerindra yang duduk di parlemen?

Saya bangga kepada mereka yang tetap komitmen menjalankan program partai dan program rakyat meski pun ruwet. Mereka satu komando, tidak seperti partai lain. Banyak di partai lain kader yang membangkang Ketua Umum atau Dewan Pembinanya. Dan akhirnya saya masih betah untuk berbagi tanggungjawab. Mereka berjuang di parlemen, saya ngurus di dalam partai.

Tentu semua itu kaitannya dengan kepemimpinan Prabowo, komentar Anda?

Ya. Beliau orang yang konsisten, tegas dan tidak terlalu banyak pertimbangan. Dan yang tak kalah pentingnya, ketika beliau salah, maka beliau tak ragu-ragu dan malu mengakuinya bahwa dia keliru. [G]

Biodata singkat:

Ir. Sufmi Dasco Ahmad, SH, MH

Tempat tanggal lahir:

Bandung, 7 Oktober 1967

Jabatan:

– Sekretaris Komisi Disiplin Ikatan Pencak Silat Indonesia 2007-2011

– Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan DPP Partai Gerindra 2008-2014

– Ketua Alumni Fakultas Teknik Universitas Pancasila, Jakarta

– Dewan Penasehat Komando Nasional Resimen Mahasiswa

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA, Edisi Juni 2011

Advertisements

One thought on “Lebih Dekat Dengan Sufmi Dasco Ahmad: “Suara Pemilih Ditiup Angin”

  1. Pingback: Banten III (Kab. & Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan) | Litsus Caleg DPR 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s