Nur Iswanto: Politik itu Perjuangan

Hidup adalah perjuangan. Tak ada sesuatu yang bisa diraih tanpa perjuangan. Kerja keras yang sungguh-sungguh dilandasi dengan keteguhan hati, diyakini akan membuahkan hasil yang baik. Sikap hidup ini yang melandasi perjalanan hidup H Nur Iswanto, SH, MH, politisi kawakan Partai Gerindra asal Sumatera Selatan yang kini duduk di kursi DPR/MPR RI.

Dengan penuh perjuangan, ia mengaku harus menunjukkan kemampuan dan kepercayaan diri, jika dirinya mampu memperjuangkan aspirasi masyarakat. Walaupun pada dasarnya, ia sadar perjuangan itu takkan pernah berhenti, sebab sebagai anggota parlemen, perjuangan lebih besar telah menunggu. Ia tak hanya dituntut menyuarakan aspirasi dari daerah pemilihannya, tapi juga aspirasi seluruh rakyat Indonesia.

Menurutnya, terjun ke dunia politik, juga merupakan suatu perjuangan. “Diawali dengan mencari kekuasaan, setelah berkuasa baru bisa merubah keadaan. Tentunya perubahan yang positif. Tanpa berpolitik perjuangan akan percuma. Karena dalam berpolitik, apapun masalahnya, seberapapun keterbatasannya, kapanpun masanya kalau kita yakin dan dilandasi dengan kesungguhan niat, pasti kita bisa mengatasinya. Karena politik itu perjuangan,” papar Nur.

Bagi Nur, apa yang ditegaskannya bukanlah sekedar slogan atau janji manis semata. Namun lebih memperlihatkan sebuah semangat dan optimisme hidup dalam menghadapi kondisi bangsa yang selalu berubah. Tak salah kemudian, ia memantapkan diri terjun ke dunia politik praktis. Tentunya dukungan keluarga besar menjadi kekuatan tersendiri dalam menjalani aktifitasnya di ranah politik yang penuh intrik.

Karirnya di panggung politik dilakoninya sejak masa orde baru lalu. Kala itu pria kelahiran Lahat, 7 November 1961 ini bergabung di Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Ia pun menjadi satu-satunya kader PAC (Pengurus Anak Cabang) yang diikutsertakan pendidikan dan latihan politik tingkat nasional. Saat terjadi perpecahan di tubuh partai berlogo kepala Banteng, ia lebih memilih kubu Megawati. Pada pemilu 1999, ia pun terpilih sebagai anggota DPRD Propinsi Sumatera Selatan dari PDI-Perjuangan. Namun menjelang berakhirnya masa jabatannya ia bersama 15 orang rekannya dipecat karena tak sejalan dengan partai saat pemilihan gubernur.

Perubahan arah angin politik terus ia ikuti. Menjelang pemilu 2004, ia digandeng oleh KH Zainudin MZ untuk bergabung ke partainya Partai Bintang Reformasi (PBR). Rupanya kepiawaiannya menggalang massa masih diandalkan. Dalam pemilu 2004 itu, ia terpilih kembali menjadi anggota DPRD Propinsi Sumatera Selatan. Namun lagi-lagi, ia harus berpikir ulang untuk terus bisa memperjuangkan aspirasi konstituennya. Setelah ditinggalkan dai sejuta umat, sepertinya partai yang menjadi kendaraan politiknya itu tak bakal lolos. Sejalan dengan itu, ayah empat anak ini pun diminta temannya untuk mengembangkan Partai Gerindra, bentukan Prabowo Subianto. Tak tanggung-tanggung, ia didaulat oleh Prabowo menjadi Ketua DPD Partai Gerindra Sumatera Selatan.

Kerja kerasnya selama kurang dari setahun menegakkan partai berlambang kepala burung garuda di Sumatera Selatan membawa hasil yang menggembirakan. Lewat pemilu 2009, dibawah kepemimpinannya, Partai Gerindra berhasil mengantarkan dua orang anggota DPR-RI, 6 orang anggota DPRD Propinsi dan 49 orang anggota DPRD Kabupaten/Kota dari 15 kabupaten/kota. ”Dari dua dapil yang ada di Sumsel, Partai Gerindra diwakili masing-masing satu anggota, saya dari dapil dua dan Pak Edhy dari dapil satu,” terangnya yang mengantongi 41.447 suara dalam pemilu lalu.

Memang, bagi politisi kawakan sepertinya bukanlah hal yang sulit untuk meraih simpati masyarakat Sumatera Selatan. Selain pamornya sebagai politisi lokal, massa pendukung yang sudah mengakar serta nama besar Prabowo –yang membidani partai Gerindra— menjadi pemikat untuk mendulang suara kala itu. Terlebih ia pun didukung empat saudaranya yang mengikuti jejaknya di panggung politik dalam gerbong yang sama. Namun tentunya kepercayaan rakyat kepadanya dan Partai Gerindra harus terus dijaga dan ditingkatkan.

Untuk itu, ia pun rela mondar mandir Jakarta Palembang menemui konstituennya. Selain mengurusi keperluan partai, tak jarang Nuris yang juga anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR ini terjun ke pelosok pedesaan yang ada di dapilnya guna menjaring aspirasi. ”Senin sampai Jumat bertugas sebagai anggota di Jakarta, Sabtu Minggu saya ngantor di Palembang, semua itu dalam rangka memperjuangkan aspirasi rakyat yang ada di dapil,” tandasnya.

Salah satu yang tengah diperjuangkannya sebagai anggota Komisi V –yang membidangi Infrastruktur, dan Perhubungan— adalah mengupayakan pengembangan jalur Kereta Api sebagai alat transportasi massal di Sumatera Selatan. Menurutnya, moda transportasi Kereta Api di Sumatera Selatan penyumbang terbesar secara nasional, hampir 50 persen. ”Jadi jangan coba-coba tidak diperhatikan,” tegasnya. []

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA, Edisi Juli 2011
  • Nur Iswanto meninggal dunia pada Rabu, 5 Maret 2014.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s