Tessa Mariska: Totalitas untuk Pengabdian

Terlahir sebagai penyanyi sekaligus aktris, tak ayal sosoknya kerap tampil di panggung hiburan. Tak jarang pula, sosok perempuan berparas cantik ini kerap menjadi incaran partai politik untuk menggandengnya tampil di hadapan publik. Lama sudah ia bergelut dengan aktifitas partai politik, membuat ia pun terpikat untuk menyelami dunia politik.

“Saya bukan sekedar latah atau mengikuti tren semata, tapi didorong oleh panggilan jiwa. Terlebih setelah mempelajari dan menyelami visi misi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) yang kini menjadi kendaraan politiknya, ” kata Tessa Mariska (32). Meski embel-embel keartisannya kerap dipertanyakan banyak pihak. Namun semua itu tak membuat penyanyi dangdut yang telah menelorkan tiga album ini mengurungkan niatnya untuk tetap terjun di panggung politik.

Menurutnya, ketika ia diajak seorang temannya untuk bergabung di partai bentukan Prabowo Subianto ini merasa langsung terpanggil. Seakan mendapat kehormatan bisa bergabung dengan partai yang memiliki visi misi yang mulia yakni mengembalikan Indonesia di mata dunia sebagai macan Asia. Betapa tidak, sosok Prabowo yang menyadarkan dirinya berbuat sesuatu untuk negeri yang dicintainya ini.

”Ketika saya pelajari visi misi dan perjuangan dari partai Gerindra, saya langsung terenyuh. Jujur, sebelumnya banyak partai lain pun memaksanya untuk gabung, tapi hati saya sudah ada di Gerindra,” terang perempuan cantik kelahiran Medan, 12 Juni 1978 ini.

Setelah bergabung, semangat untuk ikut serta dalam memperjuangkan amanat suara rakyat pun terus berkobar dalam dirinya. Tessa pun maju dalam pemilu legislatif 2009 lalu di Daerah Pemilihan (dapil) Jawa Timur VIII. Meski memang, ia yang saat pencalegan dulu menggunakan nama aslinya Yenni Chaidir, harus puas suaranya berada di urutan kedua. Namun lagi-lagi hasil itu tak membuatnya pupus harapan. Malah membuat hatinya kian mantap untuk terus berkarir di dunia politik. ”Itu tantangan buat saya untuk bisa tampil lebih baik,” tegas perempuan peraih penghargaan Citra Generasi Pembangunan Indonesia 2009 ini.

Betapa tidak, sejak menyatakan diri untuk total di panggung politik, Tessa –yang tercatat sebagai Sekretaris Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) Banten— rela meninggalkan dunia hiburan yang telah membesarkan namanya. Kini aktifitasnya, selain mengembangkan usaha yang dirintisnya bersama keluarga, ia pun fokus berkutat di Partai Gerindra. Selain menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Satuan Relawan Indonesia Raya (Satria), Tessa pun menjadi salah satu staf ahli khusus di Fraksi Gerindra DPR-RI.

Baginya politik itu luas dan mencakup semua sendi-sendi kehidupan. Ekonomi mau mapan, ketahanan pangan mau baik, keamanan mau stabil, kehidupan sosial budaya mau baik semuanya ditentukan dari politik. Dimana pada akhirnya dengan politik itu bisa mengambil sebuah kekuasaan baik eksekutif, legislatif hingga yudikatif. Tentunya kekuasaan itu untuk pengabdian pada rakyat. ”Dan orang politik itu dituntut kemampuannya, intelektualnya, wawasannya, interaksinya, komunikasinya, dan yang penting kebijaksanaanya,” urai salah seorang dari 30 perempuan penerima anugerah Women of The Year 2010 ini.

Untuk itu, Tessa pun terus menempa dirinya belajar ilmu politik dari para seniornya dalam setiap kesempatan seperti Permadi, Fadli Zon, Ahmad Muzani dan termasuk dengan Prabowo sendiri. Menurutnya, banyak pelajaran yang didapat saat berinteraksi dengan para politisi kawakan dalam berbagai kegiatan partai –yang memperjuangkan kepentingan masyarakat lemah, nelayan, petani, buruh yang kian tersingkir di negeri sendiri.

Selain belajar langsung dengan tokoh politik, Tessa pun tengah menyelesaikan studi ilmu politiknya di salah satu perguruan tinggi. Tak hanya itu, di tengah padatnya aktifitas partai, ibu satu anak ini pun tengah melanjutkan program magister (S2) bidang Ekonomi. Setidaknya itulah upaya dalam menyempurnakan totalitas untuk pengabdiannya pada rakyat. ”Semua itu sebagai bekal saya untuk lebih menguatkan diri dalam berkarir di jalur politik,” aku aktris yang sudah membintangi beberapa film layar lebar dan puluhan sinetron ini.

Dalam pengamatnnya, kemampuan para politisi baik yang ada di parlemen maupun di partai sangat variatif, tergantung dari latar belakangnya. Sebagai pendatang baru di pentas politik, terlebih berlatar belakang artis, tak lantas membuatnya menyerah dengan keadaan tersebut. Menurutnya, yang terpenting adalah mau belajar dan tahu langkah awalnya yakni niat. Pasalnya, langkah pertama itu akan lebih baik dari seribu langkah di belakangnya. Makanya langkah pertama harus tepat dan baik juga benar. ”Niat saya sederhana saja, saya mau melakukan pengabdian pada rakyat,” tuturnya.

Menurutnya, belum cukup sekedar niat saja tanpa rasa percaya diri dalam mengimplementasikan niat itu. Untuk itu, mau tidak mau yang harus dilakukan adalah mencurahkan tenaga, pikiran dan waktu untuk kepentingan rakyat. Dan yang terpenting lagi, dalam melakoninya itu harus tetap dalam jalur yang benar dan ditentukan partai. Sejatinya, kalau semua itu dijalani rel yang benar sekalipun harus berpeluh keringat, atau merangkak dari bawah sekalipun akan tetap nyaman dan sampai pada tujuan. ”Kita harus sungguh-sungguh, berjalan lurus saja, pasti tidak akan sulit. Bisa jadi rumit kalau kita keluar dari relnya,” pungkasnya. [G]

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA, Edisi Juli 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s