Lebih Dekat Dengan Hashim Djojohadikusumo: “Indonesia Harusnya Lebih Baik”

Sukses menjadi pengusaha kaya, tak lantas membuatnya lupa dengan kondisi negerinya. Darah nasionalisme mengalir begitu deras dalam hidupnya. Tak heran di tengah kesibukannya mengelola bisnis, ia pun terjun langsung ke dunia politik dan berbagai aksi sosial serta gerakan buruh, tani dan nelayan. Semangat keberpihakannya pada rakyat kecil terus dikobarkan lewat gerakan ekonomi kerakyatan.

Putra begawan ekonomi Indonesia, Prof Dr Soemitro Djojohadikusumo ini tak sekedar mewarisi kepiawaian sang ayah dan kakeknya dalam berbisnis. Rupanya rasa nasionalisme yang ditanamkan sang ayah, mengantarkannya terjun ke politik praktis. Hal ini dibuktikan dengan keikutsertaan dia dalam membidani lahirnya Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) bersama sang kakak, Prabowo Subianto tiga tahun silam.

Keterlibatannya di pentas politik, bukan sekedar latah atau ikut-ikutan di tengah euforia politik pasca reformasi. Bagi pria yang menimba ilmu politik dan ekonomi di Panoma College, Claremont, California, Amerika Serikat ini ada dua alasan yang membuatnya terjun ke ranah politik. Diantaranya, ayah tiga anak ini merasa heran dengan kondisi ekonomi Indonesia. Menurutnya, dari segi ekonomi Indonesia harusnya lebih mapan dari negara-negara tetangga seperti India atau Vietnam. ”Heran saya, kok kita bisa kalah dengan negara Vietnam,” tegas Hashim yang pernah masuk dalam jajaran sepuluh besar orang terkaya di Asia oleh majalah Globe Asia.

Pria kelahiran Jakarta, 5 Juni 1954 ini pun turut perihatin dengan perkembangan politik negeri yang kian tak karuan. Hashim menegaskan, Pancasila sebagai dasar negara kian tersisihkan bahkan dilupakan oleh elit politik dalam menjalankan aktifitas politik maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. ”Kita harus membela Pancasila, karena saya nasionalis. Saya yakin tanpa Pancasila Indonesia hancur,” tandasnya.

Seperti apa pandangan Hashim –yang pernah berbisnis di lebih dari 40 negara di lima benua lewat beberapa perusahaannya ini— ketika melakoni aktifitasnya di panggung politik di bawah bendera Partai Gerindra? Kepada Hayat Fakhrurrozi, dari GARUDA, Ketua Badan Seleksi Organisasi (BSO) Partai Gerindra ini memaparkan pandangannya di sela kesibukannya menghadiri Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Partai Gerindra beberapa waktu lalu. Berikut petikan wawancaranya.

Menurut Anda, sebagai pengusaha dan politisi, seperti apa keadaan ekonomi Indonesia saat ini?

Bagi orang seperti saya, pengusaha yang dianggap kaya, Indonesia itu surga. Apalagi bagi pengusaha, ada banyak kesempatan untuk usaha di segala bidang. Tapi kita kan tidak boleh egois, untuk diri sendiri, kita harus lihat secara umum. Saya prihatin, yang menikmati pembangunan di negeri ini segelintir orang saja di kalangan atas. Sementara di kalangan menengah bawah belum tentu menikmati. Lihat saja, banyak infrasturktur rusak, pendidikan, ekonomi, dan sebagainya. Masalah kesehatan, misalnya untuk mendapatkan ruangan, layanan kesehatan, obat-obatan susah dan mahal lagi. Bagi kami pengusaha kaya tak masalah, tapi bagaimana dengan masyarakat umum.

Apakah ada yang salah dengan ketidakmerataan ini?

Saya lihat statistik pemerintah ada yang tidak beres. Makanya beberapa waktu lalu, rapat antara pemerintah dan DPR yang membahas APBN dibubarkan, karena Menteri Keuangan pakai statistik kemiskinan Rp 7.000, BPS (Badan Pusat Statistik) pakai angka Rp 12.000 – 13.000. Sementara Bank Dunia Rp 17.000. Coba yang bener yang mana? Yang jelas yang dipakai Menteri Keuangan itu yang salah.

Kalau dengan hitungan Rp 7.000 berarti Rp 210.000 per bulan. Kalau 25 hari kerja, maka hanya Rp 175.000. Berarti orang yang berpendapatan Rp 250.000 per bulan bukan miskin. Tapi banyak yang berpenghasilan Rp 250.000 mengaku miskin, harusnya kan tidak miskin dengan hitungan itu. Ternyata pemerintah memakai kategori lain hampir miskin. Padahal yang hampir miskin saja sudah miskin. Dan yang hampir miskin itu sebanyak 45 juta orang ditambah lagi yang miskin sekitar 30 juta orang. Jadi sebenarnya hampir miskin sebenarnya miskin. Kan ini tidak bener?

Apa yang salah dimata Anda?

Yang salah terus terang ini alokasi APBN. Ini salah urus, salah dipakai. Bayangkan APBN mengalokasikan sebesar Rp 21 triliun untuk perjalanan pejabat negara baik pemerintah dan DPR. Ada pula bantuan sosial sebesar Rp 60 triliun, untuk apa? Ini yang dikaji oleh tim kita. Kesalahan lainnya, bank pemerintah yang menyalurkan kredit salah sasaran. Misalnya Bank Mandiri, tiga tahun yang lalu, mengucurkan kredit Rp 19 triliun untuk pembangunan apartemen dan perumahan mewah 2300 unit, disaat para petani, pedagang kecil tidak dapat  bantuan kredit sama sekali. Kan ini aneh. Contoh lain, misalnya BRI, di 2008 lalu, berhasil menghimpun dana Rp 31 triluyn dana deposito, tapi hanya Rp 2 triliun yang disalurkan ke pedesaan. Sisanya kemana? Padahal masyarakat kita banyak yang tinggal di desa. Begitu juga dengan BRI yang banyak tersebar di desa-desa.

Gerindra bukan partai yang anti kapitalisme, saya juga kan seorang kapitalisme, saya kan pedagang, pengusaha. Tapi, boleh saja pengusaha dipersilahkan bangun perumahan dan apartemen mewah, tapi jangan dari bank pemerintah tapi bank swasta dan asing.  Saya kira masing-masing direksi bank BUMN tidak bersalah, karena tidak ada arahan dari pemerintah. Nah jika nanti Gerindra berkuasa, kita akan arahkan Kementrian BUMN sebagai pembina yang memberikan arahan kepada bank pemerintah untuk memberikan kredit pada rakyat kecil.

Sebetulnya inikan kaitannya dengan pilihan kebijakan? Apakah Anda melihat ini akibat dari penerapan sistem neolib?

Justru ini, kita lebih banyak lunak terhadap kekuatan-kekuatan asing. Itulah bentuk lemahnya posisi kita yang terlalu neolib. Untuk itu, kedepan kita harus pakai kekuatan negara untuk mengendalikan ekonomi. Terus terang, saya lihat belum tentu semua yang dilakukan negara itu keliru. Contoh negara Singapura, 75 persen ekonominya dikuasi negara. Mereka punya Singapur Airline, itu milik negara, karena 75 persen sahamnya milik negara. Setiap tahun, profitnya terus meningkat. Tak heran bila (maaf) menurut saya Singapura itu surga bagi penguasaha dan para kapitalis. Tapi coba lihat, rakyatnya kan sejahtera, meski negara kapitalis tapi 70 persen ekonomi Singapura itu dimiliki negara.

Jika dianalogikan dengan sebuah perahu, apakah nahkoda pemerintahan kita yang tidak punya arah?

Apakah tidak punya arah? Penguasa kita tidak bodoh. Mereka ada banyak pilihan. Dan mereka memilih suatu sistem pasar bebas. Karena bebas, akhirnya ya bebas saja, contoh sektor pertanian kita, hanya 2,5 persen dari APBN padahal 60 persen masyarakat kita ada di pedesaan dan tidak adanya perlindungan sama sekali buat petani. Nah, kalau kita lihat di Amerika, Jepang, Korea, atau negara maju lainnya, justru para petani dilindungi, diberikan subsidi. Kok di Indonesia, negara berkembang bukan industri, belum kaya apalagi punya industri maju, kok tidak dilindungi. Ini memang sengaja, mungkin penguasa negara kita sudah ambil pilihan pertanian tak perlu lagi. SBY dan Boediono kan tidak bodoh. Saya heran dengan mereka itu?

Apakah karena tidak ada keberpihakan?

Nah itulah. Karena tidak berpihak kepada rakyat banyak. Sebagai orang penguasaha kaya, karena memang kaya dan sejahtera, terus terang kalau saya tidak punya hati nurani saya hanya memikirkan diri sendiri dan terima apa adanya kondisi perekonomian seperti ini. Tapi terus terang, saya sangat perihatin dengan keadaan ekonomi kita. Keadaan politik pun demikian, karena penguasa sekarang tidak Pancasilais. Kenapa? Padahal Pancasila itu perekat bangsa, tanpa Pancasila, bangsa kita akan hancur. Bahkan bisa terpecah belah minimal delapan negara. Dengan Pancasila, kaum minoritas rela bergabung ke NKRI, tapi sekarang pemerintah sepertinya tidak mendukung, apalagi membela Pancasila. Tak heran bila banyak keributan yang dipicu masalah suku dan agama. Ini yang membuat saya kecewa, pemerintah mengabaikan tanggungjawabnya untuk membela Pancasila sebagai ideologi negara.

Jadi sebetulnya negera ini merindukan figur pemimpin seperti apa?

Ya. Negeri ini merindukan pemimpin yang kuat dan tegas. Jangan liat kiri kanan siapa yang populer. Seorang pemimpin harus memikirkan dan menjaga keutuhan bangsa. Kan begitu. Saya pikir pimpinan nasional sekarang kurang dari segi itu.

Jadi pemimpin kita tidak tegas?

Bukannya tidak tegas. Tapi tidak mau dan tidak ingin menegakkan hukum.

Anda pernah belajar politik, apa yang bisa dilakukan untuk mengembalikan bangsa ini berdaulat dari segi ekonomi dan politik?

Saya ambil contoh tahun 1960 – 1965, ada tokoh kulit hitam, Martin Luther King, yang memperjuangkan hak-hak kulit hitam di Amerika. Saya banyak belajar dari perjuangan dia. Begitu pula dengan para negarawannya yang tegas dan berani menegakkan hukum, membela yang lemah. Meski pun pada waktu itu juga ada penolakan dari para penguasa daerah (negara bagian) saat kaum kulit hitam menuntut keadilan. Jadi perlu perjuangan untuk memaksa pimpinan nasional kita agar berani untuk menegakkan hukum membela kaum lemah yang juga bagian dari rakyat Indonesia.

Apakah ini yang membuat Anda terjun ke politik?

Ya, saya ikut mendirikan Partai Gerindra dengan dua alasan. Pertama, Indonesia harusnya lebih bagus dalam segi ekonomi, tapi kok kalah dengan Vietnam, India, dan China. Heran saya, kok bisa kalah dengan negara Vietnam. Kedua, saya turut perihatin dengan perkembangan politik bangsa kita yang kian tak karuan. Kita harus membela Pancasila, karena saya nasionalis. Saya yakin tanpa Pancasila Indonesia hancur. Saya yakin itu. Indikasinya jelas. Saya sendiri termasuk dari kaum minoritas, tapi saya ini orang Jawa yang mayoritas. Tapi kan kita tidak boleh menggunakan istilah mayoritas, minoritas. Semua sama statusnya, seharusnya tidak ada pilih kasih. Kalau itu terjadi, Indonesa bakal hancur.

Lalu apa yang dilakukan Gerindra?

Sebagai partai nasionalis. Bisa dilihat dari manivesto perjuangan kita, Pancasila adalah harga mati, final. Gerindra didirikan untuk membela dan melestarikan Pancasila. Kita tidak jauh-jauh, kenapa Belanda bisa menjajah negara kita selama 3,5 abad. Karena kita diadu domba belanda. Syukur pada akhirnya kita disatukan oleh Pancasila. Tapi sekarang ini, sepertinya pemerintah Indonesia tidak peka.

Apakah hal ini harus lewat parpol?

Terus terang saya sudah capek jadi pengamat. Pak Prabowo juga sudah bosan jadi penonton. Saya kira Gerindra ingin jadi penentu nasib bangsa. Maka kita harus ke ranah politik, kita harus masuk ke parpol dan ke ranah DPR. Dari situ, kita bisa menentukan.

Apa yang dilakukan Gerindra menjelang 2014?

Kita sekarang sedang ikut pilkada di beberapa daerah. Kita mampu bersaing dan tampil jadi pemenangnya. Mudah-mudahan ini sebagai pertanda bahwa arah masyarakat sudah menuju ke kita. Memang, partai kita masih baru berumur tiga tahun, tapi seiring dengan itu, kita terus berbenah diri untuk kemudian membenahi kondisi bangsa dan negara ini. [G]

Hashim Soemitro Djojohadikusumo

Jakarta, 5 Juni 1954

Jabatan:

– Ketua Badan Seleksi Organisasi Partai Gerindra

– Anggota Dewan Pembina Partai Gerindra

– Ketua Dewan Pembina GERBANG

– Ketua Umum Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi)

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA, Edisi Agustus 2011

Advertisements

7 thoughts on “Lebih Dekat Dengan Hashim Djojohadikusumo: “Indonesia Harusnya Lebih Baik”

    • Pak Hashim , thn 2009 saya menulis di inbox pak Prabowo bahwa 2014 adalah beliau yg akan menjadi RI1, dan ternyata beliau kalah tipis dari pak Jokowi, terus terang menurut saya kekalahan beliau 100% karena KEBODOHAN team, seandainya saya menjadi ketua team sukses pak Prabowo dari sekarang saya GARANSI 2019 Presiden RI adalah beliau dgn catatan seluruh team yg ada HARUS MUNDUR karena semua BER AURA JAHAT.salam

  1. Karena Bapak mempunyai Hutan Pinus di Aceh! kami siap membantu kalau Bapak mau buat pabrik nya dan Siap menghadap .Wss Erdy

  2. dear Recipient,
    We offer you Commerce Legal Service for Corporate, Licensing for Foreign Investment, Patent, Insolvency Legal Service, Alternative Dispute Resolution, Commerce dispute on Commerce court, Suspention Payments of Debts, Crossborder Insolvency, Merger and Accuisition Custodian Legal Service, Company Liquidation, etc
    ●Our Attorney and Expertise fee were affordable and mostly on project based●

    Call us on : +62-81-662-1978
    +62-8121-555-797
    ■email : adjisaka.lawoffice@gmail.com
    Office at Pedurungan Lor, Kota Semarang
    Semarang – Central Java

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s