Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

”Kita adalah apa yang kita pikirkan.” Demikian kata orang bijak. Bila kita berpikir kita adalah bangsa yang berdaulat, maka kita menjadi bangsa berdaulat.

Sejatinya, posisi Indonesia dilihat dari aspek perekonomian harusnya sejajar bahkan lebih baik dibanding dengan negara-negara yang memiliki kekayaan alam yang setara. Namun, sepertinya Indonesia masih harus tertatih mengejar ketertinggalan. Perkembangan di Indonesia sejak beberapa dekade terakhir menunjukkan suatu anomali. Pertumbuhan industri primer dan industri hilir sangat pesat sedangkan industri sekunder (hulu dan antara) pertumbuhannya kurang pesat dan tidak dapat mengimbangi pertumbuhan industri primer dan industri hilir. Keadaan ini mengakibatkan sebagian besar produk hasil industri primer tidak diolah di dalam negeri, melainkan diekspor padahal nilai tambah produk primer sangat kecil dibandingkan dengan nilai tambah produk hilirnya. Disamping itu bahan baku untuk industri hilir bergantung dari impor sehingga struktur industrinya sangat rentan. Inilah yang membuat Indonesia tak berdaya.

Tentu keadaan ini apabila dibiarkan akan makin merugikan bangsa dan negara karena nilai tambah sumber daya alam yang menjadi sumber kemakmuran tidak diperoleh di dalam negeri tapi terjadi di luar negeri. Hal inilah yang menjadi sebab kenapa negara-negara yang memiliki sedikit sumber daya alam atau bahkan tidak memiliki sumber daya alam, tetapi rakyat dan negaranya jauh lebih makmur dibandingkan dengan Indonesia.

Menurut Prabowo Subianto –yang sekaligus sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra— pergerakan dan perjuangan mencapai Indonesia yang berdaulat, masyarakat adil dan makmur dalam kerangka wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) layaknya sebuah peperangan dan pertarungan antarbangsa. Perang ini bernama perang ekonomi untuk menguasai sumber daya alam dan pasar. Dan negeri ini harus menang untuk berdaulat dalam penguasaan dan pengelolaan sumber daya alam yang dimiliki. Maka negeri ini butuh tekad bersama membangun keyakinan, kesadaran bersama dan menyatukan langkah untuk bergerak dan berjuangan memenangkan peperangan yang baru ini.

Sejatinya, lahan Indonesia sangat luas untuk dikelola. Lantas, agar rakyat tak lagi menjadi kuli di negeri sendiri, mau tidak mau kedaulatan ekonomi yang menjadi ruh demokrasi ekonomi harus terus digelorakan kembali. Diantaranya adalah melalui upaya penciptaan nilai tambah yang tinggi dari kelimpahan dan kekayaan sumber daya alam untuk kemajuan bangsa merupakan salah satu program pembangunan ’Membangun kembali Indonesia Raya’ untuk memberantas kemiskinan, kelaparan, dan kebodohan serta mengejar ketertinggalan bangsa kita dibanding dengan negara lain.

Inilah yang dinamakan program prioritas pembangunan nasional –yang akan dikembangkan dan diimplementasikan— yang diusung oleh Prabowo Subianto sebagaimana yang termuat dalam bukunya Membangun Kembali Indonesia Raya, Haluan Baru Menuju Kemakmuran (2009).

Menurutnya, hal ini dilakukan karena perhatian utama dan sasaran strategis dalam rangka mengimplementasikan stratgei utama membangun sumber atau mesin pertumbuhan ekonomi berkualitas dan diharapkan menjadi ’lokomotif’ atau pendorong untuk program lainnya. Juga disebut prioritas, karena diharapkan dengan program ini hasil pembangunan sudah dapat dirasakan paling tidak dalam waktu 1-2 tahun sejak program dijalankan.

Pasalnya Indonesia dengan segala kekayaan alam yang sangat melimpah, tapi  kemiskinan dan pengangguran masih saja mewarnai kehidupan bangsa ini. Memang, bila ditelusuri lebih lanjut, baru dirasakan permasalahan dan hambatan yang seluruhnya bermuara pada hambatan struktural, kebijakan dan penyimpangan sistematis. Untuk itu diperlukan strategi dan skala prioritas untuk bisa mengurai hambatan dan permasalahan sehingga mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Program-program prioritas itu antara lain: Peningkatan lahan sawah baru 2 juta hektar, peningkatan luas lahan jagung 1 juta hektar, Pembangunan pabrik baru pupuk urea, Pembangunan pabrik baru pupuk NPK milik petani, Peningkatan pasokan dan alukasi bahan baku Gas untuk pabrik pupuk, Percepatan perbaikan infrastruktur pertanian dan pedesaan, Akselerasi produk bioethanol dari Ubi Kayu, Pengembangan perkebunan Aren untuk produksi bioethanol, Akselerasi pembangunan pabrik ethanol dari Ubi Kayu, Pembangunan kilang dan penyulingan minyak mentah, Pengembangan penyulingan dan industri pengolahan (refinary) Tembaga, Nikel, dan Alumunium, serta Membangun industri hilir berbasis pangan dan energi.

Kedaulatan Pangan
Menurut Prabowo –putra begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo— untuk mencapai kedaulatan pangan yang berasal dari sektor pertanian pangan komoditas beras yang bersifat segera adalah meningkatkan produksi beras domestik minimum dua juta ton namun akan lebih lagi bila dapat ditingkatkan sekitar tiga juta ton. Target selanjutnya adalah mempertahankan sekaligus meningkatkan produksi beras nasional sehingga Indonesia menjadi negara pengekspor beras.

Tentu bukan hal yang mustahil, apalagi target peningkatan produksi beras tambahan baru, minimal tiga juta ton bisa dicapai. Setelah menjadi negara pengekspor beras, maka langkah selanjutnya adalah membangun kedaulatan beras, yaitu mengembangkan kemampuan domestik untuk memproduksi sarana produksi input pertanian terutama pupuk, benih, dan obat-obatan. Selama ini, produksi sarana produksi input didominasi barang impor dan oleh perusahaan asing.

Dr Ir Endang S Thohari, MSc, menegaskan, agar dapat lebih efektif, pengelolaan lahan baru padi ini perlu ditangani secara integratif. Posisi dan peran petani tetap menjadi sentral dan pokok karena mereka yang mengelola lahan sawah dan ladangnya. Sementara sistem manajemen pengelolaannya, yang direncanakan akan di bawah manajemen BUMN, bertanggungjawab dalam penyediaan sarana produksi input, penggilingan padi, fasilitas pengolahan, pembiayaan serta pemasaran produk beras petani. Dengan pengelolaan yang terintegrasi, maka berpotensi menghasilkan tambahan hasil pengolahan padi berupa sekam, jerami, dan dedak padi yang dapat dimanfaatkan untuk pembangkit listrik, bahan bangunan rumah pedesaan, pakan ternak, serta minyak dedak yang bernilai ekonomi tinggi.

Menurutnya, jika diasumsikan produksi padi GKP (gabah kering panen) rata-rata lahan sawah baru mencapai lima ton per hektar saja, maka jumlah padi yang bisa dihasilkan sebanyak 10 juta ton GKP atau setara 6.3 juta ton beras (rendemen 63 persen). Lalu dengan asumsi harga beras 500 dolar per ton, dapat dihasilkan sebesar 31,5 triliun per tahun. Jika perkiraan biaya input antara usaha tani beras (untuk pupuk, benih, pestisida, obat-obatan dan input lainnya) sebesar 35 persen saja, maka program ini dapat menciptakan nilai tambah sebesar 65 persen dari nilai outputnya. Ini artinya, menyumbang pada produk domestik bruto sektor pertanian komoditas padi sebesar Rp 20,5 triliun sendiri. Sungguh sumbangan pertumbuhan ekonomi nasional yang sangat signifikan.

Bila satu orang petani diasumsikan dapat mengelola dua hektar sawah, maka jumlah petani yang bekerja mencapai satu juta orang. Program ini berpotensi menyerap dan menciptakan lapangan pekerjaan baru, bagi para pengangguran sebanyak ini. Sementara bila diasumsikan satu petani rata-rata mempunyai dua orang anak, maka jumlah orang yang dapat dihidupi sebanyak empat orang untuk tiap dua hektar atau totalnya empat juta orang.

Kemudian untuk pangan Jagung dengan ketersediaan lahan yang masih terbuka luas, baik lahan tidur, tidak dimanfaatkan, maupun lahan-lahan terlantar –lahan kritis atau lahan bekas hutan— target peningkatan produksi nasional sebesar dua juta ton setahun mestinya bukan satu hal yang sulit. Agar tidak mengganggu dan berkompetisi dengan lahan padi di sawah dan ladang, maka pengembangan lahan jagung baru juga masih berpotensi tinggi. Dengan pembukaan lahan jagung baru hanya satu juta hektar, dengan tingkat produktifitas sekitar tiga ton per hektar karena budidaya dengan input moderat misalnya, setiap tahun dapat ditingkatkan produksi tambahan baru jagung nasional sebesar tiga juta ton.

”Program pembukaan lahan jagung baru satu juta hektar ini diharapkan dapat langsung mendukung swasembada jagung nasional dalam waktu yang tidak terlalu lama. Pembukaan lahan jagung baru ini dapat dilanjutkan dan ditingkatkan terus tiap tahun untuk mengisi permintaan pasar dunia yang potensinya sangat besar,” ujar Ketua harian Perempuan Indonesia Raya (PIRA) yang sekaligus Ketua Koperasi Indonesia Mawar Melati (KIMM) ini.

Pembangunan pabrik baru pupuk urea dan NPK juga menjadi program prioritas. Sampai saat ini petani masih dihadapkan pada persoalan kelangkaan pupuk dan mahalnya harga pupuk, terutama urea maupun NPK. Secara mendasar hal ini disebabkan karena produksi pupuk nasional, terutama urea, belum mampu secara mandiri memenuhi kebutuhan pupuk urea nasional. Dengan perkiraan kebutuhan urea 2,5 kuintal per hektar saja setiap tahun diperlukan paling tidak 12,5 juta ton urea untuk luas tanam sekitar 50 juta hektar, baik untuk tanaman pangan, perkebunan, maupun perikanan. Sementara produksi urea nasional saat ini masih sekitar 5,9 juta ton. Jadi terlihat betapa masih kurangnya produksi pupuk urea nasional.

Pembangunan pabrik baru pupuk urea sebesar 50 persen dari potensi diatas, maka diperlukan pembangunan satu unit lagi pabrik pupuh urea dengan kapasitas satu juta ton per tahun. Untuk pembangunan pabrik tersebut diperkirakan butuh biaya investasi sebesar 4 triliun. Jika dibanding dengan besaran subsidi urea tahun 2008 saja yang mencapai Rp 7,5 triliun dan tahun 2009 sebesar Rp 8,5 triliun, maka biaya investasi di atas dapat dikeola secara lebih cerdas dan lebih ekonomis.

Sementara pupuk majemuk NPK –produk input pertanian lain— yang dapat meningkatkan produktifitas budidaya pertanian dengan relatif lebih cepat dan lebih tinggi. Setidaknya berdasarkan pengalaman petani, aplikasi pupuk BPK secara seimbang mampu meningkatkan produksi sekitar 30-40 persen per hektar. Tapi, potensi permintaan pupuk jenis ini justru lebih diminati petani kebun dan industri perkebunan seperti kelapa sawit, karet bahkan tebu.

Lagi-lagi, pakar pertanian ini menegaskan kebijakan dan progran tersebut mensyaratkan kemauan politik, keberpihakan efektif, untuk memriorotaskan pasokan bahan baku gas ke pabrik daripada untuk langsung diekspor ke luar negeri. Seharusnya, dengan peningkatan nilai tambah yang jauh lebih tinggi bila bahan baku gas diolah dulu menjadi pupuk, kerugian perbedaan harga domestik dan ekspor ini dapat dieliminasi. ”Terlebih dari gas alam ini bisa dihasilkan berbagai jenis produk seperti pupuk, tekstil, plastik dan produk lain yang nilai tambahnya lebih besar daripada langsung hanya diekspor sebagai gas alam,” ujarnya.

Kemudian ketersediaan dan klualitas infrastruktur yang memadai merupakan prasyarat bagi berkembangnya kegiatan ekonomi di suatu wilayah. Saat ini kondisi infrastruktur, terutama yang melayani pertanian di daerah pedesaan sudah kurang efektif dan kurang memadai karena banyaknya sarana dan prasarana infrastruktur yang rusak atau kurang perawatan. Salah satunya irigasi pedesaan.

Kedaulatan Energi
Program prioritas membangun kembali kedaulatan energi lewat akselerasi produksi bioethanol dari Ubi Kayu. Negara Indonesia memiliki tanah pertanian yang luas dan cocok untuk budidaya tanaman singkong secara besar-besaran. Luas lahan yang ditanami Ubi Kayu di Indonesia saat ini masih relatif rendah. Menurut BPS, pada tahun 2008 saja, luas panen Ubi Kayu baru hanya 1,22 juta hektar dengan produksi sekitar 20,8 juta ton. Dan jika setiap satu hektar kebun Singkong mampu menghasilkan Ubi Kayu sebanyak 40 ton per tahun. Sementara setiap satu ton Ubi Kayu akan mengasilkan 0,16 kiloliter bioethanol, maka setiap satu hektar akan menghasilkan 6,4 kiloliter per tahun.

Selain singkong, Aren merupakan salah satu akternatif untuk sumber bahan bakar nabati atau biofuel untuk menghasilkan bioethanol yang sapat menggantikan bahan bakar premium. Aren dapat ditanam di lahanm yang kurang subur atau bahkan lahan kritis, karena tanaman ini relatif tidak membutuhkan air yang banyak, justru sebaliknya aren mampu menyimpan, mempertahankan kondisi air dan tanah tempat tumbuhnya. Sehingga Aren berfungsi sebagai tanaman konservasi tanah dan air serta dapat sebagai tanaman reboisasi. Sifat ini tidak dimiliki oleh tanaman lain sumber bioethanol. Tanaman ini bisa dikembangkan di lahan-lahan yang tersebar di Kalimantan, Sulawesi dan Papua.

Diperkirakan Aren mampu menghasilkan 20 ton bioethanol per hektar per tahun. Sebagai perbandingan, Brasil yang telah mengembangkan ethanol selama puluhan tahun, berdasar laporan FAO (2009), produksi ethanolnya pada tahun 2007 adalah sebsar 19.000 juta liter.

Di sisi lain, untuk memenuhi kebutuhan BBM dalam negeri, Indonesia masih harus mengimpor BBM sebesar kurang lebih 30 persen dari total kebutuhan dalam negeri. Menurut data ESDM nilai impor nasional pada tahun 2007 lebih dari 8,26 miliar dolar atau sekitar Rp 80 triliun. Pemerintah melalui Pertamina pada tahun 2009 saja mengimpor premium sebanyak 55,5 juta barel, solar skitar 73 juta barel serta minyak tanah sebanyak 36 juta barel. Pabrik bioethanol bisa dijalankan untuk jangka waktu lebih dari 20 tahun. Dengan begitu, sebanyak 544.527 orang dapat dihidupi setiap tahun untuk selama lebih dari 20 tahun.

Indonesia saat ini mengimpor BBM dalam jumlah besar sekitar kurang lebih 350.000 barel per hari yang menguras anggaran dan devisi negara. Untuk mengurangi pemborosan, alangkah baiknya apabila anggaran dan dana subsidi –baik langsung maupun bantuan tidak langsung— disisihkan sebagian untuk dipakai membangun kilang minyak. Sebagin kecil dana subsidi tersebut hanya sekitar Rp 18 triliun diperkirakan sudah cukup untuk membangun satu kilang minyak.

Disamping itu, untuk keperluan energi listrik, salah satu sumber energi alternatif terbarukan –yang dimiliki negeri ini— yang berpotensi untuk dikembangkan adalah panas bumi (geothermal). Apalagi keberadaan Indonesia di atas sabuk vulkanik yang membentang dari Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara hingga ke Sulawesi Utara dengan total potensi sumber daya energi panas bumi sebesar 27.000 MW.

Begitu pula dengan budidaya pangan terutama padi menghasilkan produk sisa bermacam-macam, termasuk sekam. Sekam sampai sekarang masih belum dimandaatkan sama sekali kecuali dibakar dan dipakai sedikit sekaliu untuk budidaya jamur. Padahal potensi produk sekam ini sangat besar. dengan tingkat produksi padi sebsar 63,5 juta ton (2009) maka sekitar 30 persennya adalah berupa sekam atau setara dengan 19 juta ton sekam per tahun.

Berdasarkan informasi dari pabrik pembangkit listrik dari sekam yang telah beroperasi, untuk bisa menghasilkan listrik sebesar 1 MW per tahun hanya dibutuhkan 9.500 ton sekam. Dengan produksi sekam sebesar 19 juta ton, maka potensi produksi listrik bila menggunakan sekam adalah sekitar 2.005 MW. Potensi ini sangat menjanjikan karena dapat dikembangkan dalam ukuran kecil dan sedang di daerah-daerah produsen utama padi nasional.

Prabowo dalam bukunya tersebut memaparkan disamping itu, program prioritas tersebut harus didukung oleh program lain dalam jangka pendek, yaitu antara lain; Reorientasi keuangan dan perbankan nasional, Peningkatan pendapatan pemerintah, Pengendalian pertumbuhan dan pemerataan distribusi penduduk. Tentunya program-program pokok dan prioritas tersebut akan dilaksanakan bersamaan dengan program dan kegiatan pembangunan sektoral atau bidang lainnya, sebagai bagian yang utuh dan tak terpisahkan dalam proses pembangunan nasional. Pelaksanaan program prioritas ini berangkat dari pemikiran untuk dapat menciptakan lapangan pekerjaan dan usaha baru yang sangat besar untuk mengatasi pengangguran dan kemiskinan, di samping itu tentunya program-program ini akan menciptakan output ekonomi yang sangat besar dan berdampak luas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan adil merata.

”Tidak dapat disangkal bahwa membangun ekonomi kerakyatan membutuhkan adanya komitmen politik (political will), tetapi menyamakan ekonomi kerakyatan dengan praktek membagi-bagi uang kepada rakyat kecil, adalah sesuatu kekeliruan besar dalam perspektif ekonomi kerakyatan yang benar,” tegasnya. [G]

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA, Edisi September 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s