Anahata Villas & Spa Resort, Perpaduan Antara Modern dan Tradisional

Alam yang hening, semerbak aroma rempah, gemercik air sungai serta kicau burung yang bersautan menyatu menghadirkan sensasi ketenangan dan kenyamanan tersendiri.

Inilah yang ditawarkan Anahata Villas & Spa Resort. Tempat peristirahatan yang berlokasi di ’jantung’ pulau Dewata, Ubud, Bali siap memanjakan para tamunya. Tak sekadar tampak indah mempesona, tapi di kawasan mampu menghadirkan kualitas ketenangan bagi tubuh, pikiran dan jiwa.

Ya, menempati salah satu sudut tepian sungai Petanu, Anahata Villas & Spa Resort merupakan hotel spa kelas dunia. Dikelilingi hutan tropikal alami, ditambah aliran air sungai dan hawa sejuk membuat tamu betah berada di lingkungan yang alami ini.
Boleh jadi, saat ini Anahata tengah menjadi tempat favorit di Ubud. Pasalnya, selain menyediakan penginapan di keheningan alam, Anahata juga menawarkan beragam aktifitas penunjang kesehatan seperti yoga, spa, taichi hingga healthy food. Tak hanya itu, fasilitas serta layanan holistik yang mengutamakan kepuasan tamu ini, memadukan antara unsur modern  dan tradisi kearifan lokal. Anahata menawarkan ragam paket seperti, Ubud Breeze, Family Holiday, Family Holiday Special, Romantic Package (honeymoon), Yoga Package, dan Spa Package.

Dengan berbagai paket yang ditawarkan, mulai dari paket hemat (yoga) Rp 1,9 juta per orang untuk tiga hari dua malam, paket honeymoon (bulan madu) seharga Rp 4,8 juta untuk tiga hari dua malam, dan paket untuk liburan keluarga spesial seharga Rp 6,5 juta untuk tiga hari dua malam. Dengan tarif itu, para tamu akan mendapatkan welcome massage, makan pagi, tea time, airport transfer, dan beberapa kegiatan yang ada di resort seperti yoga yang menjadi program unggulan dari Anahata. “Kita memang ambil di middle price, namun fasilitas yang didapat para tamu, rasanya sebanding bahkan lebih dari uang yang mereka keluarkan,” ujar Onnie Djatmiko, owner Anahata Villas & Spa Resort.

Menurutnya, mungkin karena saking banyaknya layanan serta fasilitas yang didapat para tamu, setiap akhir pekan, pihaknya harus menolak tamu. Sementara para hari kerja, tingkat huniannya mencapai 40 persen. Onnie menegaskan, pada bulan biasa, sebulan tingkat hunian Anahata dapat mencapai high season hingga 80 persen. Adapaun low season-nya sekitar 45 persen. Lain lagi bila masa liburan sekolah atau libur nasional, Anahata selalu full book.

Lost Paradise

Sebuah keniscayaan, ketika ketenangan dan kenyamanan yang menjadi impian bagi sebagian besar masyarakat perkotaan susah didapatkan, mereka lantas berlomba mencarinya. Alam pedesaan yang natural kerap menjadi pelarian bagi sebagian kalangan yang mendambakan ketenangan. Meski harus merogoh kocek dalam-dalam, tak menyurutkan para pencari ketenangan untuk menyambanginya. Tak heran bila setiap weekend, lokasi-lokasi peristirahatan penuh terisi. Dan tentunya ini menjadi peluang bisnis yang menjanjikan. Anggapan Ubud sebagai kawasan ‘lost paradise’ kian menambah rasa penasaran para pesohor baik domestik maupun mancanegara.

Keberadaan Anahata di salah satu kawasan ‘lost paradise’ yang ada di Indonesia menjadi nilai tersendiri. Tak tanggung-tanggung, Onnie selaku pemilikpun menyulap kawasan lembah sungai Petanu Anahata tempat peristirahatan yang mengusung ketenangan bagi tubuh, pikiran dan jiwa. “Kita sama-sama tahu, Bali menjadi ikon dunia, sementara kawasan Ubud Bali sendiri banyak yang menyebutnya sebagai lost paradise,” ujar perempuan kelahiran Surabaya, 5 Mei 1970 ini.
Anahata mulai beroperasi pada November 2004 silam. Onnie Djatmiko, sang pemilik, mengaku ide membangun Anahata berangkat dari hobi menata ruangan, membuat resep masakan dan melakukan yoga. Lahan seluas 3,5 hektar yang menjadi lokasi Anahata itu dibelinya dari rekan suaminya yang berkebangsaan Australia. Bersama sang suami, Peter Djatmiko, ia pun membangun vila dengan konsep keseimbangan antara tubuh, pikiran dan jiwa dengan nama Anahata. “Nama Anahata berasal dari bahasa Sansekerta, yang berarti cinta, kasih sayang dan keharmonisan dalam yoga,” ujar ibu dua anak ini.

Terdiri dari dua belas vila dan dua rumah spa bergaya modern yang menyatu dengan alam pegunungan Ubud, Bali. Masing-masing vila terdiri dari bangunan 200 meter yang terbagi dalam tiga lantai yang memiliki karakteristik masing-masing. Kamar tidur utama berada di lantai tiga, ruang keluarga dan ruang makan serta dapur terletak di lantai dua, dan dua kamar tidur terletak di lantai satu. Pada setiap kamarnya dilengkapi dengan kamar mandi pribadi.

Tidak hanya itu, masing-masing bungalow dilengkapi dengan kolam renang pribadi dan taman seluas 120 meter persegi. Untuk menambah kesan homy, setiap vila dilengkapi dengan penyejuk udara, minibar, fasilitas TV satelit dengan saluran premium, DVD player, X-Box player, hingga save deposite box dan masih banyak fasilitas lainnya lagi baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. Dengan demikian, menurut Onnie, orang akan mendapatkan lebih banyak privasi dan layanan yang lebih personal, jika mereka tinggal di vila dibandingkan kalau menginap di hotel normal.

Sementara untuk aktivitas yoga, Anahata memiliki dua studio, masing-maing berkapasitas 15 dan 50 orang. Dalam perjalanannya, kedua studio itu kurang mampu memenuhi permintaan pelanggan. Tak heran bila di setiap event-nya, Anahata selalu membatasi peserta. Bukan saja karena kapasitas yang kurang, tapi lebih pada upaya untuk memenuhi kepuasan konsumen. Studio yoga yang berkapasitas 50 orang juga sebenarnya merupakan ruang multifungsi. Di ruang ini kerap pula dialihfungsikan sebagai meeting room atau acara seminar yang digelar Anahata.

Selain menyediakan kolam renang pribadi di setiap unitnya, tersedia pula kolam renang utama ukuran internasional. Anahata juga menerima pembuatan wedding chappel bagi pelanggan yang hendak melangsungkan pernikahan di tengah keheningan alam lembah sungai Petanu. Untuk ukurannya tentunya berdasarkan permintaan. “Dalam rangka memberikan yang terbaik untuk pelanggan, Anahata juga menyediakan wedding chapel bagi mereka yang ingin menikah di lokasi kami, tentunya by request,” ujarnya.

Strategi Pemasaran

Bagi Onnie, dua tahun pertama membuka Anahata, strategi pemasaran yang dilakukannya adalah aktif menawarkan jasa penginapan, yoga dan spa hingga ke luar negari. Rupanya, diam-diam demand dalam negeri tak bisa dianggap sebelah mata. Ternyata market ini memberi peluang yang sama besarnya bagi Anahata. Selain menjalin kerjasama dengan asosiasi biro perjalanan, Onnie pun terus menggenjot market dengan cara jemput bola. Dan memang, selama ini komposisi tamu Anahata antara domestik dan mancanegara 50:50. “Saya lebih menerapkan soft sales dan strategi jemput bola dalam hal pemasaran,” ujarnya.

Menurutnya, dengan strategi seperti itu, karyawan tak harus digenjot terus-terusan untuk mendapatkan calon pelanggan. Selain itu, sistem jemput bola  kerap dilakukannya baik secara pribadi melalui jalinan pertemanan maupun kepada korporat. Disamping menjalin kerjasama dengan biro perjalanan untuk menarik pelanggan, Onnie juga melakukan kerjasama dengan beberapa fashion desainer dan media. Onnie pun memanfaatkan hubungannya dengan guru-guru yoga dari seluruh dunia untuk ikut mempromosikan Anahata.

Diakuinya, strategi menjemput bola itu meski di masa yang boleh jadi dikatakan septi pengunjung, Anahata tetap ramai dikunjungi tamu. Memang, tamu yang datang lebih banyak dari komunitas yoga. “Terus terang memang, yoga menjadi tema sentral dari Anahata,” tandasnya.

Menyergap Jakarta

Sukses mengembangkan hotel spa di Ubud, naluri bisnisnya bicara untuk melakukan business improvement yang smart. Dan sejak Agustus 2008, akhirnya Onnie pun menghadirkan Anahata Wellness Center di FX Lifestyle X’Nter, di bilangan Sudirman Jakarta. Dengan mengusung tagline My way to a healthy lifestyle, Anahata Wellness Center –yang terletak di lantai f2— menawarkan sebuah konsep baru untuk meraih keseimbangan tubuh, pikiran dan jiwa di satu tempat.

Upaya Onnie sebagai pemilik ‘memboyong’ suasana alami, nyaman dan eksotis –seperti induknya di Bali— ke tempat ini tak lain sebagai penyegar di tengah kesibukan kaum urban. Tempat  ini  menyediakan berbagai fasilitas yang dapat menenangkan pikiran memberikan kebugaran tubuh seperti yoga, spa, ruangan konsultasi gizi, ruangan seminar, ruangan refleksi dan restoran. Tiap ruangan perawatan didesain indah dan mempunyai privasi tersendiri misalnya berupa akses terpisah untuk tamu.

Menurutnya, dengan hadirnya Anahata di lokasi premium sekelas FX Plaza, menjadikan Anahata lebih dekat dengan masyarakat. Tentunya ini tantangan tersendiri bagi Anahata dalam memperkenalkan healthy lifestyle kepada masyarakat. “Meskipun berada di pusat perbelanjaan modern, Anahata tetap tampil dengan konsep back to nature yang menawarkan spa dan yoga seperti Anahata yang di Ubud,” ujarnya.

Quality Service

Dalam menjalankan bisnis ini, Anahata memiliki standarisasi sendiri. Semua itu bermuara pada demi terpenuhinya kepuasan pelanggan. Standarisasi kita selalu berupaya untuk melakukan yang terbaik kepada pelanggan. Meski memang, untuk menerapkan sistem manajemen mutu memerlukan biaya tinggi. Sementara animo masyarakat untuk mendapatkan layanan total wellness hingga saat ini masih minim. Untuk itu, Anahata memberlakukan medium price, sehingga terjangkau oleh konsumen dan masyarakat pun menjadi aware terhadap gaya hidup sehat. Selain itu kita juga menerapkan sistem subsidi silang dari paket-paket yang ada. “Kita ini bukan sekadar mencari uang, tapi lebih pada layanan pada manusia. Jadi memang, bisnis yang dikembangkan Anahata ini unik,” tegasnya.

Meski demikian, tak lantas standar mutu yang diterapkan asal-asalan, apa adanya. Tapi secara paripurna dalam meraih kepuasan pelanggan. Anahata telah menetapkan quality control terhadap bahan baku treatment, standar quality management dalam hal layanan konsumen hingga penetakan pricing. Seperti penggunaan bahan baku produk perawatan, Anahata menerapkan bukan bahan siap saji, tapi fresh product yang benar-benar baru diracik secara last minute. “Mungkin sepintas, standar mutu yang kita terapkan terlihat absurd, tapi kita sudah menentukan prosedur ini, dan hasilnya akan seperti ini,” terang Onnie sambil mencontohkan prosedur pembuatan beberapa racikan ramuan spa yang menggunakan bagan-bahan segar seperti buah-buahan segar dan berkualitas.

Hasilnya, pelanggan pun merasa puas dan tak segan untuk kembali sembari membawa rekan sejawat atau calon konsumen yang penasaran dengan pelayanan Anahata. Pasalnya selain menerapkan mutu pelayanan, Anahata pun memperlakukan sama pelanggannya. Memang, oase yang dibawa Anahata tampak mewah dan berkelas, tapi sejatinya Anahata tak mengelompokan golongan konsumen alias tamu. “Tamu yang datang ke Anahata mendapatkan pelayanan sama, kita tidak ada penggolongan konsumen. Siapapun yang datang, apakah dia tamu lokal, bule, ibu rumah tangga, wanita karir, pengusaha, socialite ataupun pejabat, berarti orang itu memiliki aware terhadap wellness,” paparnya.

Baik Anahata Ubud maupun Anahata Jakarta, menerapkan manajemen mutu yang sama. Tentu saja, untuk menjaga mutu tersebut, tak segan-segan Onnie harus turun langsung, mulai dari menyambut para tamu hingga meracik bahan-bahan untuk treatment sekalipun. Semua itu dilakukannya sebagai bentuk totalitas pelayanan sekaligus men-training karyawannya.

Selain terjun langsung, sharing keahlian dan pengetahuan, Anahata pun kerap mengadakan pelatihan-pelatihan dengan mendatangkan para master yoga, taichi, salsa, massage, spa dan lain sebagainya.  Di samping sebagai ajang promosi dengan mendatangkan ‘pakar’ ke Anahata, seluruh karyawan pun dilibatkan. Sehingga dengan sendirinya peningkatan mutu SDM dapat terukur sesuai standar yang diinginkan.

Dan memasuki tahun keempat ini, menurut Onnie, khusus Anahata Wellness Center masih fokus dulu dalam meraih positioning di pasar wellness industry. Sementara untuk induknya, Anahata Villas and Resort Spa Ubud, Bali –yang genap 7 tahun beroperasi— tengah mempersiapkan pengembangan lahan dan major renovation yang akan dilakukan pada tahun depan. “Saya tidak ingin bisnis yang saya kelola justru menjadi tak terurus dengan baik jika terlalu cepat diperbesar dalam waktu singkat. Karena perlu diingat, bisnis ini tak melulu untuk meraih untung tapi lebih layanan pada manusia,” pungkasnya. [QA]

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah QUALITY ACTION, Edisi 02/Desember 2011

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s