Mahkotadewa Indonesia, Menduniakan Herbal

Dunia mengakui, Indonesia memang kaya dengan kaya akan sumberdaya alam, termasuk herbal. Bahkan sejak jaman dulu kala, tanaman-tanaman ini menjadi komoditi. Bahan-bahan alam itu banyak digunakan sebagai anti oksidan atau lebih dikenal dengan obat alternatif yang biasa disebut pengobatan herbal. Tak heran bila Indonesia menjadi salah satu negara produsen ‘jamu’ terbesar.

Memang, istilah atau sebutan jamu lebih membumi di negeri ini dibanding dengan istilah herbal. Sehingga wajar, ketika kata herbal mulai digunakan, seakan ada kebangkitan di industri jamu secara keseluruhan. Dan selama ini, herbal lebih dikenal berasal dari negeri China. Apalagi ketika produk-produk herbal China itu bebas diperdagangkan di pasaran obat. Padahal, sejatinya negeri ini kaya akan herbal. Salah satunya tanaman Mahkota dewa (Phaleria macrocarpa)

Tanaman obat ini memiliki khasiat luar biasa. Setidaknya, banyak penderita penyakit ringan seperti gatal-gatal, pegal lini atau demam hingga penyakit kelas berat semisal kanker, diabetes merasa terbantu. Tak hanya itu, tanaman ini pun berkhasiat untuk penyembuhan organ hati atau jantung, hipertensi, rematik serta asam urat. Tak heran bila, berdasarkan pengalaman yang tadinya tidak ada harapan untuk sembuh, tanaman ini bagai ‘dewa penyelamat’.

Setidaknya itulah mahkota dewa, tanaman perdu berbuah warna merah menyala yang mengandung zat alkaloid, saponin, flavonoid dan polifenol banyak digunakan dunia pengobatan. Tanaman –yang konon berasal dari daratan Papua— oleh orang Jawa Tengah dan Yogyakarta dikenal dengan makuto dewo, makuto rojo, atau makuto ratu. Di daratan China –yang dikenal dunia herbalnya, tanaman ini dinamai Pau yang artinya obat pusaka.

Melihat besarnya potensi yang ada di bumi pertiwi ini, upaya back to nature pun kian marak digadang-gadangkan banyak pihak. Mulai dari yang lingkupnya hanya home industry hingga berskala pabrikan. Termasuk yang dilakukan oleh Ning Harmanto yang mengembangkan puluhan aneka produk herbal di bawah bendera PT Mahkotadewa Indonesia. “Tentu saja kita juga menggunakan tanaman herbal atau rempah lainnya, tidak hanya mahkota dewa. Hingga kini sudah ada enampuluh produk dengan merek sendiri dan kita juga membuat produk untuk pihak lain,” kata Ning Harmanto, President Director PT Mahkotadewa Indonesia.

Menurut Ning, obat herbal yang diproduksinya dalam bentuk kapsul, teh, madu, dan racikan. Sebut saja Kapsul Made dan Kapsul Madeca, produk berbahan dasar mahkota dewa ini merupakan produk awal dan menjadi andalan hingga kini. Khasiat dari obat herbal ini mampu mengatasi darah tinggi, tumor, dan kanker. “Kini seiring dengan berkembangnya teknologi dan riset dan pengembangan yang terus kita lakukan, produk andalan kita tidak sekadar mahkota dewa,” terangnya.

Karena memang produknya belum bersifat massif, maka setidakya pabrik ‘rumahan’ miliknya mampu memproduksi jenis Kapsul Madeca ini sebanyak 3000-5000 setiap bulannya. Belum lagi kapsul lainnya serta jenis obat herbal berbahan yang lainnya. Sebut saja lima produk jenis teh semisal Ostea+, the berbahan dasar daun sukun –yang kini menjadi andalan barunya— sudah mampu diproduksi sebanyak 10.000 pak per bulannya.

Standar Internasional

Meski berawal dari Kelompok Wanita Tani (KWT) Bunga Lili yang dibentuk 1999, lalu kini menjelma menjadi badan usaha sejak 2003 silam. Bukan lantas hanya menjadi pabrikan herbal ecek-ecek, tapi perusahaan ini tercatat sebagai perusahaan herbal pertama di Indonesia yang meraih sertifikasi Standar Keamanan Pangan Dunia atau yang dikenal dengan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) yang diraihnya pada tahun 2005 lalu.

Sistem kendali mutu HACCP sendiri awalnya dikembangkan oleh Badan antariksa Amerika Serikat/NASA (1960) untuk mengontrol makanan Astronot. Dimana system ini akhirnya berkembang dan digunakan pada awalnya untuk makanan kaleng, yang memang sangat kritikal masalah keamanan pangannya. Dan baru pada awal tahun 1990-an, sistem ini di kenal umum untuk industri makanan di seluruh dunia.

Menurut Ning, setidaknya, dengan diraihnya sertifikat HACCP ini, produk Mahkotadewa Indonesia pun layak disejajarkan apa yang diterapkan dalam sistem kendali mutu produk bersertifikat ISO 9000. Pasalnya, sistem yang ada di HACCP pada akhirnya diadopsi oleh ISO 9000:2000. Sebut saja pada tataran proses melakukan analisa bahaya, menentukan titik kendali kritis, menetapkan batas-batas titik kendali kritis, prosedur monitoring, tindakan koreksi, prosedur verifikasi, dan dokumentasi.

Selain itu, guna meyakinkan konsumen akan produk herbal, sertifikat irradiasi dari BATAN telah diraih produsen herbal ini pada tahun 2004. Sertifikasi ini menjamin semua produk telah melalui proses irradiasi untuk pangan serta menjamin produk tidak mengandung jamur, bakteri dan kapang serta aman di konsumsi. Sertifikasi Irradiasi pangan ini diterapkan di lebih kurang 50 negara di dunia dan telah ditetapkan secara komersial selama puluhan tahun di Amerika Serikat, Jepang dan beberapa Negara Eropa.

Dan untuk menghasilkan produk yang berkualitas sesuai, Mahkotadewa Indonesia didukung sumberdaya manusia handal yang terbagi dalam tim manajemen, ahli medis, apoteker dan Research & Development (R&D). Pasalnya, menurut Ning, sejak awal membangun usaha ini, pihaknya sudah peduli dengan kualitas produk. Misalnya, mulai dari pemilihan bahan baku, perlakuan terhadap bahan, pengolahan, kontrol kadar air hingga ke tahap packaging. “Dengan diraihnya sertifikat HACCP ini mempermudah untuk mendapatkan sertifikat SNI untuk produk kita, dan saat ini semua jenis produk kita sudah ber-SNI,” terangnya.

Tentu saja, untuk mendapatkan bahan baku yang berkualitas, pihaknya pun harus berburu ke daerah penghasil herbal berkualitas pula. Dengan merangkul para petani untuk menyiapkan bahan yang dicari secara langsung. Sinergi ini dinilai saling menguntungkan, disatu sisi petani mendapatkan lapangan pekerjaan, disisi lain suplai akan bahan baku pun aman terkendali sesuai standar yang telah ditetapkan.

Semua itu menurut Ning, berangkat dari visinya untuk menjadi perusahaan penyedia produk herbal berkualitas. Yang pada akhirnya bermuara pada tujuannya memberikan layanan dengan kualitas terbaik bagi konsumen service for excellence (memberikan layanan yang terbaik).

Pengembangan produk

Mahkotadewa Indonesia sepertinya tak pernah puas dengan produk herbal yang ada. Kini, perusahaan herbal ini mengembangkan produk teh berbahan daun sirsak dan daun sukun. Boleh jadi, untuk daun sirsak, kata Ning sudah banyak yang mengembangkannya dalam berbagai produk. Berbeda dengan daun sukun yang belum banyak diketahui kalangan awam. Inovasi produk teh daun sukun ini merupakan terobosan luar biasa. Produk dengan nama Ostea+ ini terbuat dari daun Sukun, daun Angelica dan aneka herbal pilihan lainnya berkhasiat untuk menjaga kesehatan tulang, jantung, ginjal, dan hati serta menurunkan kolesterol dan menyembuhkan asam urat. “Selain sudah terdaftar sebagai produk SNI, kedua teh ini sudah kita patenkan,” tandasnya.

Kehadiran Ostea+ dan Sirsakti ini seakan memberi energi baru buat Mahkotadewa Indonesia untuk menggebrak pasar. Pasalnya selain selama ini produk Made dan Madeca hanya menyasar pada orang yang terkena sakit kanker saja, produk ini mendapat respon yang tinggi dan membangkitkan pasar herbal kembali yang sempat terpuruk.

Guna meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas produk, Ning mengungkapkan rencananya untuk bekerjasama dengan pabrikan teh ternama, Sariwangi dalam hal produksi. “Kita ingin produk ini menjadi mass product, makanya kita akan bekerjasama dengan Sariwangi, hingga kini masih taraf pembicaraan seperti apa mekanismenya, semoga saja terwujud,” harapnya.

Selain itu, menurut Ning, Mahkotadewa Indonesia juga tengah mengembangkan resep masakan berbumbu herbal. Sebelumnya, pihaknya telah memenangkan UKM Pangan Award 2011 untuk inovasi kategori produk Bumbu Masak yaitu Seasoning dan Soupning –yang merupakan perpaduan aneka herbal dan bumbu dapur. Ning juga tengah menjajal resep masakan bersantan dan berbahan daging alias mengandung kolesterol. Diantaranya baso herbal, rendang herbal, dan sop daging yang sangat aman dari kolesterol.

“Setidaknya, kedepan masakan-masakan unggulan Indonesia seperti rendang, kita buat dengan bumbu herbal, salah satunya dengan menambahkan Oste+. Mudah-mudahan ini mendorong inovasi dunia kuliner dimana selama ini orang masih kuatir dengan makan-makanan bersantan,” katanya.

Di pentas global, menurut Ning, ternyata herbal Indonesia mendapat acungan jempol. Bila selama ini hanya Negara China, Malaysia dan Singapura yang menjadi kiblatnya, perlahan dunia mulai mengarah ke Indonesia. Hal ini dibuktikan kala dirinya menjadi pembicara di depan peserta dari 33 negara dalam sebuah ajang internasional di Kuala Lumpur Malaysia yang mengangkat soal herbal. “Nah, sekaranglah saatnya kita menduniakan herbal Indonesia,” pungkasnya. [QA]

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah QUALITY ACTION, Edisi 02/Desember 2011

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s