PT Pos Indonesia Menjelajahi Hingga Pelosok Negeri

Dalam jejaring sosialnya, Pos Indonesia suatu ketika menuliskan, “Pos Indonesia menyediakan solusi handal dalam mail, logistic dan jasa keuangan dengan menggunakan jejaring bisnis dan infrastruktur terluas dan terpadu serta mengembangkan hubungan kolaboratif.”

Memang, Pos Indonesia boleh saja berbangga dengan kemampuannya bertahan selama 265 tahun. Namun sepertinya perusahaan ini tak boleh lama-lama tenggelam dengan romantisme masa lalu. Pasalnya, sejarah panjang Pos Indonesia tidak terlepas dari kepentingan pemerintah selaku pemilik dan posisi strategis sebagai agen pembangunan yang wajib dipertahankan.

Diakui secara bisnis, pasar Pos Indonesia sebagai perusahaan perposan sudah tergerus cukup dalam oleh hadirnya teknologi komunikasi mutakhir. Tak pelak, revolusi komunikasi yang terjadi sejak era 1990-an membuat peta bisnis komunikasi berubah total. Sejak maraknya penggunaan surat elektronik (email) di awal 1990-an, industri pos pun mulai tersisih. Disusul munculnya handphone yang dilengkapi fitur short message service (SMS) satu dekade terakhir, membuat perusahaan ini ketar ketir. Ditambah lagi dengan hadirnya media jejaring sosial dan ditopang perangkat komunikasi super canggih saat ini memaksa Pos Indonesia untuk mengambil peran yang cocok agar bisa bertahan di pasar yang kian sempit pula.

Untunglah, Pos Indonesia memiliki daya saing yang kuat dan mampu mengantisipasi kondisi pasar yang terjadi. Perubahan diawali dengan mengubah status dari Perusahaan Umum (Perum) menjadi Perseroan Terbatas (PT) pada tahun 1995 merupakan titik awal Pos Indonesia menghadapi kompetisi di binis jasa perposan. Berbagai pembenahan manajemen dan strategi dalam menentukan positioning bisnis hingga memetakan kekuatan pelanggan yang sudah dimiliki sejak puluhan tahun. Keuntungan lain yang dimiliki Pos Indonesia adalah tingkat kepercayaan pelanggan terhadap layanan. Semua itu kembali bermuara pada satu titik yakni kualitas layanan.

Perkembangan teknologi yang sebelumnya dianggap pesaing, oleh Pos Indonesia dijadikan sebagai partner. Berbagai inovasi yang ada pada lini bisnis utama jasa perposan, Pos Indonesia dalam memenangkan persaingan dengan mengandalkan kekuatan yang dimiliki yang tersebar seantero nusantara. Di lini ini, ada banyak lahan basah yang telah dimanfaatkan Pos Indonesia. Salah satunya adalah layanan billing statement dari kalangan perbankan, provider telekomunikasi dan lembaga keuangan. Ada juga Admail Pos yang mampu memproduksi surat pos secara missal dengan hanya menyerahkan data base untuk dikirim ke berbagai alamat. Ada pula Pos Ekspress yang dikenal tepat waktu dan bergaransi. Business Improvement jenis layanan ini dinilai mampu memberi kontribusi yang cukup besar bagi perusahaan plat merah ini.

Layanan Pos Indonesia dalam industri perposan tak melulu surat menyurat. Bisnis layanan pengiriman uang sekelas ‘wesel’ –yang begitu melekat dengan Kantor Pos—  kini tampil lebih instan dan canggih. Pos Indonesia memanfaatkan teknologi untuk menopang pengiriman uang dengan menggangdeng perusahaan remittans kelas dunia, Western Union sejak sepuluh tahun lalu. Upaya ini, selain memberi efisiensi karena tidak melibatkan ‘tukang pos’ juga mampu meningkatkan value Pos Indonesia sebagai agen Western Union terbesar dan terluas jaringannya di Indonesia.

Menurut Direktur Utama Pos Indonesia, I Ketut Mardjana, dari produk remitansi ini, Pos Indonesia membukukan pendapatan sebesar Rp 336,2 miliar pada akhir September 2011. Padahal target tahun ini pihaknya hanya mematok Rp 326 miliar. “Pengiriman uang domestik sebesar Rp 1,25 triliun perbulan dan luar negeri sebesar Rp1 triliun, ini merupakan peluang besar,” ujar di Jakarta beberapa waktu lalu.

Selain remitansi, Pos Indonesia berhasil menembus target pendapatan dari PosPay –produk transaksi pembayaran berbagai tagihan maupun angsuran seperti  rekening telepon, seluler, listrik, dan kredit— sebesar Rp 364,89 miliar dari target 2011 sebesar Rp 348,76 miliar. Melihat peningkatan pendapatan serta peluang yang ada, Ketut mengatakan, Pos Indonesia berencana akan menerbitkan kartu pembayaran atau electronic money pada 2012 mendatang.

Sementara secara keseluruhan, tahun ini Pos Indonesia memproyeksikan laba sekitar Rp 127 miliar, yang ditopang oleh kenaikan pendapatan sekitar Rp 2,977 triliun, naik 11,68 persen dibandingkan tahun sebelumnya sekitar Rp 2,678 triliun. Seiring dengan naiknya pendapatan, beban usaha pun diperkirakan naik sekitar 10 persen menjadi Rp 2,850 triliun. Sedangkan untuk tahun 2012 mendatang, Pos Indonesia mengincar laba sekitar Rp 1,82 miliar dengan pendapatan sekitar Rp 3,42 triliun.

Demi memberikan kepuasan layanan pada pelanggan, Pos Indonesia tetap menjaga Layanan Pos Universal (LPU) di daerah-daerah yang secara ekonomis tidak layak bisnis. Untuk itu, perseroan mengelontorkan subsidi sekitar Rp 808 miliar yang akan digunakan untuk menyediakan dan mempertahankan kapasitas layanan pos di 2.278 unit Kantor Cabang Pembantu LPU di 11 divisi regional yang tersebar di seluruh Indonesia.

Business Improvement

Dalam menghadapi persaingan pasar global, Pos Indonesia kembali meluncurkan inovasi terbarunya dengan membuka kotak pos di bawah laut. Kotak pos bawah laut yang diresmikan pada hari jadi Pos Indonesia ke 265 di Pantai Amed, Karangasem, Bali itu merupakan kotak pos yang pertama di Indonesia dan kedua di dunia setelah di perairan laut Australia.

Konon, dipilihnya pantai Amed sebagai lokasi kotak pos bawah laut senilai Rp 25 juta itu karena pantai tersebut sudah sangat dikenal dengan keindahan pemandangan bawah lautnya. Kotak pos tersebut berbentuk gapura khas Bali dan berwarna putih. Kotak tersebut rencananya akan dipasang di kedalaman sekitar 10 meter. Untuk bisa mengirimkan surat ke kota pos itu, pengrimnya harus yang bisa menyelam. Sementara ‘tukang pos’ yang bertugas mengambil surat-surat tersebut adalah para penyelam di Pantai Amed.

“Untuk ongkos kirimnya Rp 10 ribu saja, lengkap dengan cap khusus dan amplop khusus tahan air, serta bisa dikirim ke alamat mana saja bahkan sampai ke luar negeri,” kata Direktur Utama PT Pos Indonesia, I Ketut Mardjana usai meresmikan Kotak Pos bawah laut Oktober silam.

Bisnis yang paling menjanjikan dari Pos Indonesia adalah logistik. Meski gempuran dari perusahaan sejenis begitu kuat. Namun dengan jaringan yang luas hingga ke pelosok negeri, Pos Indonesia berpeluang besar memperebutkan market yang besar. Geliat bisnis logistik yang sepintas dikuasai pemain luar, rupanya menjadi tantangan tersendiri bagi Pos Indonesia untuk merebut pasar, khususnya di dalam negeri.

Untuk itu, dalam mengantisipasi persaingan dan mendapatkan tarif yang kompetitif Pos Indonesia pun tengah mempersiapkan sebuah perusahaan regulated agent (RA). Upaya memasuki bisnis RA, tak lain sebagai bagian dari strategi pengembangan bisnis. Pasalnya, menurut I Ketut Mardhana, dari pada menggunakan jasa perusahaan RA, mendingan Pos Indonesia menjadi perusahaan RA sekalian.

Pos Indonesia sendiri, sudah memiliki sejumlah mesin x-ray (pemindai) di beberapa daerah. Begitu juga dengan kantor di Bandara Soekarno-Hatta juga ada. “Pertimbangan kami, ada baiknya kami menjadi perusahaan RA sendiri ketimbang kami menggunakan jasa perusahaan RA yang ada saat ini. Dengan demikian kami bisa menghemat biaya,” katanya.

Di samping itu, Pos Indonesia juga berencana mendirikan perusahaan kargo bersama PT Garuda Indonesia Tbk. Perusahaan tersebut akan berbentuk patungan untuk mengoperasikan pesawat kargo khusus –yang ditargetkan terbentuk pada pertengahan 2012. Pasalnya, selama ini pengiriman kargo Pos Indonesia melalui pesawat udara setiap harinya sebanyak 50 ton. Angka ini hanya 0,01 persen dari total kargo di Indonesia.

Menurut I Ketut Mardjana, pembentukan perusahaan khusus kargo dengan Garuda Indonesia akan memperkuat lini logistik. Di sisi lain, selama ini pengiriman kargo Pos Indonesia sebanyak 90 persen telah dibawa dengan pesawat milik Garuda, sehingga untuk merealisasikan perusahaan patungan khusus kargo adalah hal mudah. Rencananya, Kantor Pos Besar Pasar Baru –yang menempati lahan 4 hektar— akan digunakan sebagai kantor operasionalnya.

Perusahaan ini nanti akan melayani pengiriman barang ke wilayah barat dan timur, seperti Jakarta-Aceh atau Jakarta-Papua. “Potensi kargo di Jayapura itu sangat besar, ini harus dimanfaatkan. Paling cepat pertengahan 2012 sudah bisa direalisasikan,” tandasnya.

Kepuasan Konsumen

Dalam industri jasa pengiriman, kepuasan konsumen menjadi penting. Perusahaan mana pun betul-betul menjaga layanannya. Termasuk Pos Indonesia yang terus melakukan ekspansi di jalur yang menjadi core business-nya maupun peluang bisnis baru. Semua itu bermuara pada satu titik yakni kepuasan konsumen.

Untuk menuju muara tersebut, tentunya tantangan yang dihadapi Pos Indonesia tidaklah mudah. Selain perkembangan teknologi yang terus melesat, persaingan global terus memaksa perusahaan jasa perposan tertua di negeri ini untuk berbenah dan melakukan gebrakan-gebrakan jika tidak mau ditinggalkan pelanggannya.  Bermunculannya perusahaan jasa pengiriman sejenis, baik lokal maupun asing –yang menggandeng perusahaan lokal—  bagi Pos Indonesia harus dihadapi dengan melakuan improvement di segala lini. Termasuk melakukan ekspansi wilayah pelayanan Pos Indonesia yang tidak hanya meliputu wilayah nusantara saja, tapi telah mampu menjangkau internasional. Tentunya hal itu memungkinkan Pos Indonesia untuk bisa go international. [QA]

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah QUALITY ACTION, Edisi 02/Desember 2011

 

 

 

Advertisements

One thought on “PT Pos Indonesia Menjelajahi Hingga Pelosok Negeri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s