Saifuddin Donodjoyo: Memaknai Pancasila dengan Benar

Dunia politik bukanlah hal yang baru baginya. Meski memang, peran politik yang dilakoninya sekarang sedikit berbeda saat ia masih aktif di dunia kemiliteran –yang lebih mengedepankan politik bernegara. Kini, ia menjalani politik praktis sebagai politisi Senayan di bawah bendera Partai Gerindra.

Baginya, Gerindra adalah satu-satunya partai yang dinamis karena sebuah gerakan. Partai ini menantangnya untuk merubah ‘nasib’ kehidupan bangsa. Gerakan ini layaknya ‘hijrah’ yang menawarkan kepada rakyat untuk bisa bangkit, punya jati diri untuk bersaing di mata dunia.

Tampilnya Saifuddin Donodjoyo (57), di panggung politik bukan datang begitu saja. Awalnya, lepas dari dinas kemiliteran, purnawirawan Angkatan Darat ini meneruskan studinya program doktoral di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Ia yang sebelumnya bertugas di Dinas Pembinaan Mental Angkatan Darat ini akhirnya diminta untuk mengurus masjid Attien Jakarta Timur. Tugasnya pun selesai tak lama sejak meninggalnya Presiden Soeharto. Meski demikian, aktivitas dakwahnya terus berlanjut, hingga akhirnya diminta oleh beberapa rekannya untuk menyusun konsep Gerakan Muslimin Indonesia Raya (Gemira). “Waktu itu saya belum tahu soal partai Gerindra,” ujar pria kelahiran Magelang, 11 November 1954 ini.

Menjelang pemilu 2009, ia pun kembali diminta oleh Fadli Zon, Ahmad Muzani dan Muchdi Pr untuk ikut membidani Partai Gerindra besutan Prabowo Subianto. Lalu ia pun diminta maju sebagai calon legislatif di daerah pemilihan (dapil) DKI Jakarta I. Tak dinyana, kerja kerasnya membuahkan hasil manis. Ia pun berhasil melenggang ke Senayan dengan mengantongi 7.614 suara. “Waktu itu, saya tidak ada niat untuk menang, saya hanya ikuti aturan sementara hasilnya saya serahkan pada kuasa Allah,” ujar pendiri Forum Islamic Center Jakarta ini merendah.

Kini, dua tahun sudah ia menjalani tugasnya sebagai wakil rakyat di Senayan dan duduk di Komisi VIII yang membidangi urusan kesejahteraan sosial. “Setelah terpilih, saya pun mencoba untuk selalu hadir dalam rapat-rapat fraksi, komisi hingga paripurna. Saya juga mau makan gaji halal, bukan sekadar jadi dewan saja,” kata salah satu Ketua Kelompok di Komisi VIII ini.

Menurutnya, bidang kesejahteraan sosial ini menyerap anggaran lebih dari Rp 50 triliun, dimana Rp 37 triliun, ada di pos kementrian agama. Untuk itu, Saifuddin tengah memperjuangkan agar kementrian agama agar bisa merubah pola penyelenggaraan haji. Pasalnya selama ini penyelenggaraan ibadah haji itu menyedot anggaran lebih dari Rp 30 triliun sendiri. “Harusnya dana itu bisa diberdayakan, didayagunakan sehingga berhasil guna, bukan dihabiskan. Selama ini kurang maksimal, malah ada hal yang salah kaprah,” tegasnya sambil mencontohkan pengelolaan dana optimasi masyarakat yang ada dalam pelaksanaan penyelenggaraan haji.

Doktor bidang manajemen sumberdaya manusia ini pun meminta agar kementrian kembali ke khittahnya untuk mengurusi persoalan kehidupan beragama. Jangan hanya urusan haji saja yang memakan waktu hampir enam bulan, tapi masih banyak urusan agama, pembinaan agama yang selama ini masih kurang berjalan dengan maksimal. “Karena ini amanah dari UUD 1945, untuk itu fungsi kementrian ini harus diperbaiki,” tegasnya.

Selain itu, permasalahan yang tengah disorotinya adalah soal keberadaan Kementrian Sosial yang selama ini masih dalam tataran charitysaja. Pun dengan keberadaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang seharusnya mampu mengelola dana bantuan yang begitu besar untuk menangani bencana. Selama ini masih ada bantuan luar negeri yang belum sampai ke daerah bencana. Konon, dikarena adanya aturan di Kementrian Keuangan mengenai perjalanan dana bantuan. Untuk itu, menurutnya, Gerindra akan terus mendesak kementrian dan badan Negara yang terkait masalah ini bersinergi.

Begitu pula dalam pengelolaan zakat, dimana selama ini kerap menimbulkan masalah. Sehingga dengan disahkannya UU Zakat belum lama ini diharapkan kejadian dan ketidakbecusan dalam pelaksanaannya tidak terulang kembali. Padahal menurutnya, agama islam menganjurkan dalam penyaluran zakat hendaknya muzaki yang harus mendatangi langsung para mustahik. Bukannya orang fakir miskin (penerima) datang ke orang kaya yang hendak berzakat. “Dengan mendatangi langsung, bisa terjadi dialog, ada sentuhan dari si kaya pada si miskin, tentunya si miskin merasa dimuliakan sehingga lebih tepat sasaran,” terangnya.

Dan yang membuatnya tak habis pikir adalah persoalan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak yang selama ini masih kurang optimal, bahkan anggarannya pun kecil hanya sekitar Rp 200 miliar. “Padahal tugasnya cukup besar. Negara ini baik kalau perempuannya baik. Perempuan untuk baik perlu pembinaan. Bagaimana mau maksimal kalau anggarannya kecil,” ujarnya keheranan.

Bicara soal kesejahteraan, ayah tiga anak ini menitikberatkan pada apakah harapan kalangan bawah selama ini tersalurkan atau tidak. Pasalnya ini baru harapan saja, bukan materinya. Menurutnya, kalau harapan ini tersalurkan maka bisa berjalan, jangan sampai hanya sekadar pencitraan saja. “Inilah arahan dari Ketua Dewan Pembina, Pak Prabowo untuk terus mengkritisi masalah kesejahteraan sosial selama ini rakyat merasa sejahtera tidak. Memang yang kaya tambah seratus tapi yang miskin membengkak dua juta,” ujar purnawira berpangkat kolonel ini.

Untuk itu ia mengajak kepada seluruh elemen masyarakat untuk memaknai Pancasila dengan benar. Menurutnya, kalau kita merasa berketuhanan yang Maha Esa, harusnya kita punya nilai rasa kemanusiaan yang adil dan beradab. Dari rasa berketuhanan itu diwujudkan dalam hablum minallah dan hablum minannas, demi persatuan Indonesia. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan itu cara musyawarah. Hasilnya untuk keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. “Harusnya begitu, tapi sekarang ini banyak parsial-parsial. Mudah-mudahan Gerindra kelak dipercaya bisa mewujudkan itu semua dan mampu merubah nasib bangsa,” pungkasnya. [G]

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA, Edisi Desember 2011

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s