Suria Ati Kusumah: Memberdayakan Perempuan Indonesia

Rupanya, ada sejarah tersendiri antara keluarga besarnya dengan Prof Sumitro Djojohadikusumo. Termasuk ketika akhirnya ia bertemu dengan Prabowo Subianto dalam wadah perjuangan yang sama. Konon ayahnya merupakan teman baik sekaligus mitra kerja sang Begawan ekonomi Indonesia itu pada masa revolusi dulu.

Memang, ayahnya lebih banyak di belakang layar ketika berjuang bersama Prof Sumitro Djojohadikusumo. Mulai dari perjuangan mendirikan partai sosialis, ketika mendirikan yayasan Unkris hingga sampai difitnah berideologi kiri. Semua itu ia ketahuinya dari buku agenda harian sang ayahnya dan beberapa cerita dari kakak-kakaknya. Bahkan masih ingat dalam benaknya, semasa kecilnya ia kerap menerima telepon dari sang Profesor sebelum disambungkan ke ayahnya. “Sering banget saya terima telepon darinya, nanyain bapak waktu itu. Jadi memang Tuhan telah mengaturnya, bahwa akhirnya bisa ketemu dengan anaknya juga,” ujarnya mengenang masa kecilnya.

Kini, Suria Ati Kusumah (45) berjuang bersama cita-cita Prabowo dalam memajukan kaum perempuan Indonesia lewat Perempuan Indonesia Raya (PIRA), salah satu sayap yang ada di Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Keterlibatannya di Partai Gerindra dan beberapa sayapnya yang ada tak lepas dari aktivitas Ati sebelumnya di Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) khususnya di Komite Wanita HKTI. “Saya dulu aktif di HKTI sebelum masa kepemimpinan Pak Prabowo, dan ternyata setelah beliau memimpin, namaku masih tercantum di jajaran pengurus,” ujar perempuan kelahiran Jakarta, 7 Oktober 1966 ini.

Dari wadah HKTI inilah akhirnya ia bisa bertemu langsung dengan orang yang kerap diceritakan keluarganya, khususnya sang ayah. Perempuan yang sebelumnya meretas karir di industri musik dan broadcast ini kerap tampil sebagai pemandu acara atau memandu lagu kebangsaan Indonesia Raya di setiap acara HKTI. Termasuk di kegiatan Partai Gerindra di awal-awal kelahiran partai berlambang kepala burung garuda ini. Pernah suatu ketika, dalam sebuah acara, mantan Danjen Kopassus itu memanggilnya untuk sekadar memastikan bahwa dirinya adalah putri dari Pieter Suriadirja, teman ayahnya.

“Waktu itu saya tengah ngemsi acara partai,” ujar aktivis program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) wilayah Tangerang Selatan yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PIRA Provinsi Banten ini.

Sebagai kader partai, khususnya dari kalangan perempuan sudah tak diragukan lagi. Tak sekadar karena mengenal dengan baik keluarga besar sang Ketua Dewan Pembina, Prabowo Subianto, tapi karena kebulatan tekad dan niat untuk mengabdikan diri pada bangsa dan Negara lewat jalur partai. Keterlibatannya tak sekadar ikut-ikutan, Ati pun kerap hadir dalam berbagai kegiatan partai maupun sayap-sayap yang ada jauh sebelum sejak partai itu resmi berdiri.

“Kalau bicara loyalitas kader, apa yang diutarakan Pak Prabowo dalam setiap kesempatan bahwa seleksi alam itu benar adanya. Ada yang baik, ya akan terus tambah solid, ada juga yang merasa ada maunya namun tak terpenuhi, ya akan melipir sendiri,” tegas mantan atlit Kempo ini.

Hal itu ia buktikan sendiri, meski ia gagal dalam ajang pemilu legislatif  2009 silam, namun ia tetap berada dalam barisan Gerindra. Kala itu, ia mendapat tiga tawaran formulir calon legislatif (caleg) tingkat pusat, provinsi dan atau kabupaten. Ati pun memilih mencalonkan diri untuk DPRD Provinsi Banten dari Daerah Pemilihan (Dapil) Kabupaten Tangerang. Sayang, meski sudah bekerja keras, rupanya keberuntungan belum berpihak padanya. Tapi semua itu tak lantas membuatnya pupus harapan atau bahkan mundur teratur. “Sekarang malah tambah gregetan ingin terus mengabdi dan membesarkan partai bersama kader yang lain,” tekadnya.

Tak heran bila, perempuan yang juga masuk dalam jajaran Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Wanita Tani HKTI bidang Informasi dan Komunikasi ini terus membuat strategi komunikasi dalam meraih massa. Beberapa program tengah ia godok bersama rekan-rekannya baik di Wanita Tani HKTI maupun di PIRA untuk memberdayakan perempuan Indonesia. Pun dengan kondisi internalnya yang dinilainya masih agak rapuh dan kurang menyatu. Padahal menurutnya, potensi perempuan di tubuh Gerindra begitu besar. “Karena memang belum sinergi dengan baik, sehingga kelihatannya masih didominasi kaum laki-laki, padahal perempuan di Gerindra potensi banget,” ujarnya.

Untuk itu, ibu dua anak ini kerap mengingatkan pada seluruh kader, khususnya kaum perempuan untuk tampil layaknya seperti besi berisi bukan hanya menjadi besi kosong. Menurutnya, jangan hanya tampilan fisiknya saja tapi tidak ada isinya.  Pasalnya, selama ini ‘besi-besi’ itu belum kuat dan rapuh karena tidak ada isinya. Bukan karena umurnya baru tiga tahun, tapi ia melihatnya masih tingginya ego masing-masing kader. “Mustinya, ketika sudah satu komando, maka jangan sampai masih terlihat pada berceceran,” harapnya. [G]

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA, Edisi Desember 2011

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s