Venna Melinda: Saatnya Bangkit dari Keterpurukan

Siapa bilang, politisi perempuan tak berjiwa kritis. Terlebih bagi mereka yang melekat pada dirinya sebagai selebritis. Kiprahnya di dunia politik tak sekedar mengandalkan popularitas semata. Semua itu bisa dibuktikan lewat keseriusannya sebagai wakil rakyat yang terus bersikap kritis.

Dua tahun sudah Venna Melinda berkantor di gedung wakil rakyat Senayan. Integritas dan kredibilitasnya sebagai politisi perempuan patut diacungi jempol. Anggapan miring sebagian kalangan tentang politisi selebriti –khususnya kaum perempuan— hanya sekadar ’pemanis’ parlemen perlahan-lahan sirna. Sikap kritisnya acap kali membuat kawan maupun lawan politiknya berdecak kagum. Tak hanya itu, ia pun kini dipercaya masuk di komisi yang konon selalu didominasi politisi senior.

Semua itu ditunjuk perempuan berparas cantik berusia 39 tahun ini dengan kerja keras dan berkualitas. Betapa tidak, kini sehari-harinya Venna dipenuhi jadwal dari rapat ke rapat. Tak sekadar duduk, dengar lalu pergi berlalu begitu rapat usai. Venna kerap menyampaikan pemikiran kritisnya. Tentu saja, Venna pun tidak lantas asal ngomong. Ia mengaku hanya bicara pada permasalahan yang benar-benar sudah dikuasainya. Termasuk ketika berbincang-bincang dengan Quality Action saat ditemui di ruang kerjanya.

Tentunya, setelah menjalani aktifitasnya sebagai anggota DPR sejak dua tahun silam ini, menurut Venna di satu sisi ada kesamaan yakni keenakan yang sama tapi di sisi lain ada perbedaan yang mencolok seperti tak ada waktu untuk bersikap santai. Ia harus lebih sering berfikir keras karena dihadapkan berbagai persoalan baru yang tengah terjadi di negeri tercinta ini. ”Semua itu saya jalani dengan enjoy, dan selama ini saya merasa happy dengan tugas ini, meski banyak yang harus saya pelajari,” ujar perempuan kelahiran Surabaya, 29 Juli 1972 ini.

Memang, sejauh ini masih ada dikotomi bagi selebriti yang terjun ke politik. Ada sementara kalangan yang masih meragukan kemampuan selebriti, apalagi perempuan. Tentunya, ini diperlukan sosialisasi. “Perempuan juga punya potensi. Kita bisa sejajar dengan laki-laki. Paradigma bahwa politik itu menjurus keras, kasar, sudah saatnya ditinggalkan. Saatnya kita berpolitik dengan santun dan elegan,” tegasnya.

Menyikapi hal ini, Venna lebih memilih mengambil positive side dari para politisi baik di komisi maupun di partai. Baginya menjadi politisi itu bukan sekadar pintar saja, tapi harus dibekali dengan kejujuran dari dalam hati. Bukan sekadar lips service saja, tanpa ada bukti nyata. Mengingat selain beban kerjanya yang tak mudah, eksistensi Venna sebagai politisi pendatang baru di DPR harus berhadapan dengan politisi kawakan, termasuk yang memiliki latar belakang militer. Namun semua itu tak lantas membuatnya melempem untuk menyuarakan amanat rakyat.

Untuk itu, ketimbang membalikkan paradigma pengamat politik yang kerap menilai artis sebagai pemanis, menurut Venna mendingan konsentrasi terhadap bagaimana menjalankan program pendidikan politik kepada para penerus bangsa. “Jadi artis bukan hanya pemanis, kita juga punya kemampuan, semua itu bergantung pada bagaimana kita menyikapinya,” ujarnya diplomatis.

TUGAS BERAT

Sejak lima bulan lalu, Venna harus menerima mandat untuk masuk ke komisi I yang membidangi pertahanan keamanan, alutsista, informasi dan komunikasi. Boleh jadi, tugas ini lumayan berat dibanding dengan posisi sebelumnya di komisi X yang telah dijalani selama satu setengah tahun. Memang, mandat yang diberikan padanya merupakan tugas berat. Namun sejauh ini, Venna merasa tertantang dan ada banyak pelajaran diperoleh selama ini. ”Saya anggap, inilah kuliah saya berikutnya sebagai wakil rakyat ini,” ujarnya.

Salah satu yang tengah menjadi fokusnya adalah kasus pencurian pulsa. Menurut Venna dengan kejadian ini tentu saja, tidak saja masyarakat yang dirugikan sebagai pelanggan, tapi kredibilitas perusahaan operator telekomunikasi di tengah kompetisi global. Begitu juga dengan industri kreatif semacam Ring Back Tone (RBT), yang merupakan bagian dari hasil karya inovasi produk yang diciptakan anak bangsa dalam menghadapi persaingan industri musik di pentas dunia.

Menurutnya, apa yang dilakukan pemerintah dalam menyikapi kasus pencurian pulsa ini patut diacungi jempol, meski masyarakat harus bersabar. Pasalnya, penyelesaian kasus ini tak semudah membalikkan tangan. Butuh keseriusan dan kehati-hatian dalam menyikapinya dalam rangka memenuhi kepuasan pelanggan dalam hal ini masyarakat. Venna mengingatkan pemerintah selaku regulator dan perusahaan operator, untuk memikirkan bagaimana mekanisme pengembalian pulsa masyarakat yang tersedot. Sehingga ke depannya tidak ada ketimpangan, diskriminasi kepada pelanggan.

”Jangan karena saya misalnya yang anggota DPR, lalu cepat diurusnya, sementara masyarakat biasa malah berlarut-larut dalam penangannya. Inikan bagian dari kualitas pelayanan prima terhadap konsumen,” ujar Venna yang mengaku harus mengurus berjam-jam ketika ia mengetahui pulsanya tersedot.

Permasalahan lain yang tengah ia soroti adalah TVRI yang konon dinilainya masih jauh dari mutu yang diharapkan masyarakat selama ini. Memang kata Venna, TVRI tidak bisa disamakan dengan televisi swasta nasional yang lebih kreatif, inovatif dan kompetitif. Dalam pandangannya, TVRI dengan coverage yang luas ke seluruh pelososk negeri, harus benar-benar menjadi alat pemersatu bangsa bukan sekadar corong pemerintah.

Selain itu, perlu adanya restrukturisasi dan upaya peningkatan mutu sumber daya manusia pada lembaga penyiaran publik ini. ”Wajar memang, lembaga ini masih didominasi pegawai-pegawai lama. Untuk itu diperlukan penyegaran, peningkatan mutu pegawainya, sehingga TVRI bisa bersaing,” ujar mantan None Jakarta 1993 ini.

Ketika ditanya soal mutu manusia Indonesia, Venna merasa prihatin dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dimana  posisi Indonesia merosot jauh ke 124 dari 187 negara. Padahal laporan Badan Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nation Development/UNDP-PBB) tentang indeks pembangunan manusia pada 2010, masih menempatkan Indonesia di peringkat 108 dari 169 negara. “Memprihatinkan ya, IPM kita rendah sekali. Perlu kerja keras dan cerdas untuk bisa bangkit dari keterpurukan ini,” ujarnya.

Menurut Venna, maju mundurnya sebuah bangsa sangat bergantung pada kualitas sumber manusianya. Semakin bermutu manusianya, semakin maju bangsa itu. Celakanya, mutu manusia di negeri ini masih tergolong buruk. “Kita harus bangkit dari keterpurukan ini,” tegasnya.

Pasalnya, IPM merupakan ukuran keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa dengan melihat tiga indikator utama, yakni pembangunan ekonomi, kesehatan, dan pendidikan. Artinya, pembangunan yang dilakukan membuka peluang bagi penduduk untuk hidup lebih sehat, lebih berpendidikan, dan dapat hidup lebih layak. Dan indek itulah yang menjadi dasar klasifikasi sebuah negara menjadi negara maju, negara berkembang atau negara terbelakang.

Lebih Happy

Parasnya yang cantik serta bentuk tubuhnya yang tinggi semampai, kerap menjadi pusat perhatian di lingkungan parlemen. Terlebih, sebelum terjun ke panggung politik, Venna telah dikenal sebagai selebriti. Tak sekadar piawai melenggak lenggok di panggung catwalk dan di depan kamera, mantan Puteri Indonesia 1994 ini populer sebagai instruktur salsa. Kini semua itu sudah ditinggalkannya dan fokus menjalankan amanah sebagai wakil rakyat.

Diakuinya, secara materi sebagai wakil rakyat, jauh berbeda dengan profesi sebelumnya itu. Namun ada ’sesuatu’ yang lebih berarti yang diraihnya dibanding ketika ia terjun di pentas panggung hiburan. Venna merasa lebih happy, terlebih ketika usai menemui konstituennya di daerah ada kebahagiaan tersendiri. Padahal dulu, kata Venna, dirinya selalu dikejar-kejar rasa takut, tidak tenang dan kemrungsung kalau ada sepatu baru tapi tidak beli. ”Finally happy saja,” ujar istri Ivan Fadilla ini.

Ya, sebelumnya Venna yang mengawali panggung akting lewat film Catatan Si Boy II akhirnya harus fokus ke studinya. Tak lama kemudian ia mengikuti ajang pemilihan Abang None Jakarta 1993 dan terpilih sebagai pemenangnya. Disusul kemudian keluar sebagai Puteri Indonesia di tahun 1994. Sejak saat itulah karirnya di pentas hiburan kian menanjak, wajahnya kerap muncul di beberapa sinetron produksi Multivision Plus seperti Bella Vista 1 dan Bella Vista 2. Ia pun pernah membintangi sinetron Bulan Bukan Perawan, Opera Jakarta, Tersanjung 5 dan Maha Pengasih.

Di luar itu, Venna pun pernah merambah bisnis kebugaran dengan membuka studio senam khususnya Salsa. Dari hobi Salsa itu, Venna pun dikenal sebagai istruktur salsa dan telah mengeluarkan album bertajuk ’Exotic Dance’. Pada tahun 2004, ibu dua anak ini meliris album perdana bertitel The Other Side of Me. Tak hanya itu, bintang iklan produk pelangsing tubuh ini juga meluncurkan buku berjudul Venna Melinda’s Guide to Good Living. Buku yang mengupas kehidupan yang seperti dijalaninya saat ini, disertai tip lengkap guna menjaga kebugaran tubuh.

Kini di tengah  kesibukannya sebagai wakil rakyat, Venna tetap menyempatkan diri untuk bercengkrama dengan keluarga. Biasanya agar tidak kehilangan waktu bersama keluarga khususnya anak-anak, Venna kerap mengajak anaknya turut serta ikut menyambangi konstituennya saat masa reses. Tujuannya tak lain adalah untuk mengenalkan dan sekaligus merasakan secara langsung pada anak-anak apa yang dirasakan dan dialami masyarakat. “Supaya mereka juga tahu perjuangan dan tugas ibunya,” ujarnya. [QA]

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah QUALITY ACTION, Edisi 02/Desember 2011

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s