AS Kobalen : Pancasila adalah Harga Mati

Pekerja keras, tekun dan jujur adalah karakternya. Kepeduliannya terhadap sesama umat manusia mengisi aktivitas kesehariannya. Dalam aktivitas sosialnya itu, ia tak membedakan suku, agama, ras dan golongan. Semua itu hanya untuk menunaikan apa yang ada dalam Pancasila. Karena baginya di negeri ini Pancasila adalah harga mati.

Ya, dialah A.S Kobalen SE, MBA, MBSM, M.Phil (46). Lahir dan dibesarkan di tengah keluarga yang serba kekurangan tak lantas membuat dirinya menyerah dengan keadaan. Pahit getir kehidupan yang dijalaninya menjadikan Kobalen sebagai sosok yang kuat hingga saat ini. Berkat ketekunannya dalam bekerja dan menempuh ilmu, ia pun berhasil menyabet empat gelar sekaligus dalam waktu 3,5 tahun saja sewaktu kuliah di India. Sosok pejuang hak asasi manusia itu, kini dipercaya sebagai Ketua Umum Gerakan Masyarakat Sanathana Dharma Nusantara (Gema Sadhana), sebuah sayap Partai Gerindra yang baru saja dikukuhkan pada November 2011 lalu.

Gerakan yang dimotorinya merupakan bukti nyata dukungan umat Hindu, Budha dan Konghucu untuk bersama-sama berjuang membesarkan dan memenangkan Partai Gerindra. “Selama ini kita masih dianggap minoritas di negeri ini. Tapi di Partai Gerindra anggapan itu tidak ada. Untuk itulah, meski jumlahnya kecil, kami akan berjuang sekuat tenaga menghimpun kaum Hindu, Budha untuk berjuang bersama membesarkan dan memenangkan Gerindra,” ujar pria kelahiran, Medan 12 Januari 1966 ini.

Keterlibatannya di Partai Gerindra berangkat dari adanya kesamaan misi yang selama ini diperjuangkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pasalnya, selama ini, keberadaanya sebagai kaum minoritas selalu saja tak dianggap dan bahkan semakin tertindas. Dan ketika menyatakan diri bergabung di Partai Gerindra, Kobalen pun tak tanggung-tanggung melepaskan semua jabatan keagamaannya, karena ia tak ingin mencampuradukan antara agama dan politik. Meski apa yang tengah ditekuninya di panggung politik merupakan bagian dari ‘dharma’ seorang manusia untuk negara dan bangsa. Maka tak heran bila ia pun dipercaya untuk menjabat Ketua Bidang Pengabdian Masyarakat di Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra.

Tak dimungkiri, berdirinya Gema Sadhana memang tak terlepas dari aktivitas dirinya sebagai seorang ‘guru’ di komunitas umat Hindu, khususnya Hindu Tamil. Sejatinya, ide untuk mendirikan organisasi kemasyarakat yang menaungi masyarakat Hindu dan Budha ini sudah lama terbersit, ketika Kobalen mulai terjun ke dunia politik. Namun, setelah memperjuangkan di beberapa partai hasilnya nihil. Akhirnya mau tidak mau ia harus mengubur untuk sementara impian itu.

Setelah ia bergabung di Partai Gerindra, rupanya gayung bersambut, dukungan begitu luar biasa baik dari para pendiri partai maupun kader-kader yang ada di daerah. Di Partai Gerindra seakan ia mendapat darah segar untuk menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila yang seakan sudah mati di negeri ini. Pun dengan konsep ‘bhineka tunggal ika’ yang secara bahasa dan dalam catatan sejarah berasal dari bahasa dan ajaran Hindu, sepertinya bangsa ini lupa akan hal itu. “Hal ini terlihat dari masih saja terjadi perlakuan diskrimanasi terhadap kaum minoritas baik agama, suku, etnis maupun golongan,” tandasnya sambil menyontohkan, betapa banyaknya masyarakat etnis Tionghoa di daerah Sewan, Tangerang yang tidak memiliki Akta Kelahiran gara-gara dia orang Tionghoa.

Menurutnya, perlakukan itu hanyalah contoh kecil yang terjadi di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang banyak partai memperjuangkannya sebagai harga mati. Tapi baginya, Partai Gerindra yang memayungi Gema Sadhana tidak sekadar memperjuangkan NKRI, tapi juga menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai harga mati dalam hidup bernegara dan berbangsa. “Selama ini banyak tokoh yang bicara soal Pancasila, tapi hanya dalam taraf retorika, tak pernah mengaplikasikannya, karena tak memahami makna Pancasila itu sendiri. Tak heran bila perlakuan diskriminasi masih terjadi pada diri kita yang minoritas,” tandas alumni Lemhannas angkatan XLIV tahun 2010 ini.

Setidaknya, Gema Sadhana yang dinahkodainya itu kini sudah berdiri di 16 propinsi. Sementara itu, selain menjalankan aktivitas sosial di beberapa daerah, Gema Sadhana pun terus membentuk kepengurusan di daerah propinsi maupun di kabupaten/kota. Salah satu aktifitas yang baru saja dilakukan adalah pembuatan Akta Kelahiran warga keturunan Tionghoa di Sewan, Tangerang sebanyak 500 KK yang akan diserahkan pada perayaan imlek nanti.

“Disamping tentunya ada beberapa program kegiatan lainnya dalam rangka advokasi terhadap kaum Hindu dan Budha,” ujar ayah tiga anak ini yang juga perihatin masih banyak umat Hindu yang tak memiliki Kitab Suci Wedha.

Kobalen yakin, masyarakat Hindu dan Budha di Indonesia –yang selama ini merasa trauma, dan alergi bahkan takut untuk terjun ke politik— dengan adanya Gema Sadhana di bawah payung Partai Gerindra akan lebih berani lagi dan bangkit. Sehingga keterwakilan mereka di parlemen pun bisa memperjuangkan nasib kaumnya sekitar 20 juta penganut yang masih dianggap minoritas.

Setidaknya Pemilu 2014 merupakan kesempatan bagi umat Hindu dan Budha untuk bisa tampil dan memperjuangkan nasibnya. “Kalau bukan kita siapa lagi yang berjuang,” kata lulusan Master Philsafat dari Institut Hindu Dharma Negeri, Denpasar ini.

* Catatan : Artikel ini ditulis dan dimuat di Majalah GARUDA, edisi 13/Januari/2012

Advertisements

2 thoughts on “AS Kobalen : Pancasila adalah Harga Mati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s