Empat Tahun Gerindra, Terus Bergerak untuk Rakyat

Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) berjuang untuk membangun masa depan Indonesia yang sejahtera, aman, adil dan memberi kepastian masa depan kepada generasi penerusnya. Perjuangan itu menjadi komitmen dan tanggungjawab Partai Gerindra. Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto kerap mengutarakan sikap perjuangan itu dalam berbagai kesempatan.

Sebagai bentuk komitmen perjuangan tersebut, urai Prabowo, Partai Gerindra akan terus mengedepankan delapan program aksi sebagai program konkret untuk mensejahterakan rakyat. Seluruh progam aksi itu memiliki parameter, ukuran, dan target yang jelas. Untuk mengaplikasikannya, Partai Gerindra akan terus menjaga dan memegang teguh sikap moral serta membela rakyat. Sehingga perjuangan itu benar-benar bersih tanpa iming-iming ataupun deal-deal tertentu.

Kedelapan program aksi itu adalah menjadwalkan kembali pembayaran utang, menyelamatkan kekayaan negara untuk menghilangkan kemiskinan, melaksanakan ekonomi kerakyatan, delapan program desa, memperkuat sektor usaha kecil, kemandirian energi, pendidikan dan kesehatan, menjaga kelestarian alam dan lingkungan hidup.

Tak dipungkiri, selama empat tahun perjalanan Partai Gerindra telah banyak mengalami kemajuan yang signifikan baik secara eksistensi sebagai organisasi partai politik maupun dari kedelapan program aksi yang digadang-gadangkan selama ini. Begitu pula dengan manfaat dari program aksi yang dicanangkan, setidaknnya telah mampu mendongkrak dan gaungnya dirasakan rakyat. Betapa tidak, sebagai contoh kecil dan sederhana namun dibutuhkan kemauan serta pemahaman bersama adalah program ‘revolusi putih’. Sebuah gerakan minum susu bagi anak Indonesia itu kian membumi di seluruh penjuru nusantara.

“Dalam empat tahun ini telah banyak kemajuan yang dicapai, dan yang jelas kita akan terus berjuang dan bergerak untuk rakyat,” ujar Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra, Prof Dr Ir Suhardi, M.Sc di sela-sela kunjungannya menghadiri perayaan HUT Kabupaten Sinjai pada penghujung Februari lalu.

Diakui olehnya, setelah empat tahun menjalankan delapan program aksi yang dicanangkan Partai Gerindra, ada beberapa hal yang belum bisa dilakukan, seperti menjadwalkan kembali pembayaran utang luar negeri. “Karena kita belum berkuasa, untuk itu kita terus berjuang agar bisa merealisasikan program tersebut,” ujarnya.

Menurut Suhardi, salah satu target yang berhasil dilakukan oleh Partai Gerindra adalah penghapusan UU No 9/2009 tentang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP). Bagi Partai Gerindra, UU BHP itu tidak selaras dengan UUD 1945. “Alhamdulillah kita berhasil di tingkat Mahkamah Konstitusi (MK), pada tanggal 30 Maret 2010, MK membatalkan undang-undang itu,” jelasnya.

Meski demikan, guru besar Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta ini masih kuatir pembatalan UU BHP itu hanya sekadar ganti baju. Untuk itu Partai Gerindra akan terus mengawasi keputusan MK tersebut. “Memang kita masih kuatir, jangan sampai undang-undang itu hanya ganti baju saja,” tegasnya.

Ekonomi Kerakyatan

Sepertinya istilah ekonomi kerakyatan sudah identik dengan Partai Gerindra. Program yang lebih mengedepankan keberpihakan pada rakyat merupakan jawaban atas berbagai ketimpangan sistim perekonomian yang dianut Indonesia selama ini. Dan sejak berdiri, Partai Gerindra terus berkomitmen untuk memperjuangkan ekonomi kerakyatan dalam rangka mengembalikan kejayaan negara. Hal ini didasari atas kenyataan bahwa berdasarkan data BPS 2011, sekitar 38,52 juta penduduk Indonesia masih menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian, perkebunan dan perikanan.

Menurut Prabowo bangsa Indonesia harus berdaulat dengan kekuatan bangsanya. Dan sistim ekonomi kerakyatan merupakan solusi bagi negeri ini untuk kembali bangkit dan sesuai falsafah Pancasila dan UUD 1945. “Saya sejak dulu berkomitmen dengan ekonomi kerakyatan, di saat orang berfikir untuk menjadi ekonomi liberal. Tapi kini sudah banyak yang diam-diam mengkampanyekan ekonomi kerakyatan itu, meski terkesan malu-malu,” kata putra Begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo ini.

“Saya tidak anti kapitalis, saya suka jika banyak orang kaya di negeri ini. Yang saya tidak mau adalah, jika kekayan Indonesia terus menerus ke luar negeri, sementara petani dan nelayan kita serta segenap rakyat Indonesia masih hidup dalam suasana kemiskinan. Orang boleh membangun mall dan hotel dimana-mana, tetapi yang membangun itu harus menggunakan uangnya sendiri. Bukan uang rakyat dengan menggunakan pinjaman kredit di bank, sementara ketika rakyat mengajukan kredit ke bank, sulit untuk mendapatkannya. Saya tak ingin seperti itu. Semua rakyat Indonesia harus mendapatkan layanan yang sama dan memadai,” tegas Prabowo.

Beragam konsep kegiatan penerapan delapan program aksi bidang perekonomian tengah dijalankan di berbagai daerah. Boleh jadi, manfaat penerapan ekonomi kerakyatan dalam rangka memperkuat sektor usaha kecil kian dirasakan oleh rakyat kecil khususnya petani, nelayan, pedagang kecil. Contoh kecil adalah seperti yang dilakukan kader Perempuan Indonesia Raya (PIRA) yang tengah menggalakkan koperasi di berbagai daerah dalam rangka menggerakkan perekonomian masyarakat.

Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Tengah, Abdul Wachid yang juga anggota Komisi IV DPR-RI ini mengakui, bahwa program aksi dalam rangka menggerakkan perekonomian rakyat kecil yang dicanangkan Partai Gerindra banyak dilakukan oleh kader PIRA. Seperti yang ada di daerahnya, pihaknya bersama kader PIRA mendirikan koperasi simpan pinjam bagi pedagang kecil yang kerap terjepit bank plecit (rentenir). Memang, pinjaman yang disalurkan tidak begitu besar, hal ini disesuaikan dengan kebutuhan modal pedagang sayur, bumbu atau jajanan pasar.

Diakuinya, selama ini masyarakat Jawa Tengah khususnya yang berprofesi pedagang bakulan, petani, nelayan, pengrajin genteng selalu terkendala dengan kesempatan dan akses untuk mendapatkan modal usaha. “Kalaupun ada, ya macam bank plecit (rentenir) yang bunganya tinggi. Nah kita coba rangkul mereka untuk mendapatkan modal tanpa harus pusing dengan besarnya uang yang harus mereka kembalikan,” ujarnya.

Koperasi yang dikelola ibu-ibu rumah tangga itu memberikan pinjaman mulai dari Rp 200 ribu hingga Rp 2 juta dengan bunga yang sangat rendah, jauh dari suku bunga bank, apalagi rentenir. “Jadi kalau mereka pinjam 200 ribu, cukup mengembalikan 210 ribu dan dicicil empat kali, berbeda dengan bank plecit yang selisihnya bisa mencapai 20 puluh ribu,” jelasnya.

Rupanya program ini mendapatkan animo yang cukup besar dari masyarakat. Bahkan untuk di daerah Jepara saja, kini perputaran uang yang disalurkan sudah mencapai lebih dari Rp 100 juta. Tidak hanya itu tanpa diminta, lanjutnya masyarakat yang telah merasakan manfaat program ini secara sadar malah ingin bergabung menjadi anggota. “Tak jarang ketika saya bertemu dengan mereka (pedagang) meminta kaos atau atribut Gerindra agar bisa dipakai pada saat berdagang,” selorohnya.

Revolusi Putih

Program yang tak kalah fenomenal adalah Revolusi Putih yang merupakan bagian dari delapan program aksi bidang pendidikan dan kesehatan. Boleh jadi, selain program ekonomi kerakyatan yang diusung Partai Gerindra, Revolusi Putih juga mampu hadir sebagai program yang cukup membumi. Pasalnya, gerakan minum susu untuk anak Indonesia dari usia dini hingga remaja ini kini terus dilancarkan para kader Gerindra di pelosok negeri.

Memang, menurut Prabowo gerakan minum susu ini sudah lama dicanangkan Partai Gerindra sejak dua tahun silam, namun gaungnya baru sekarang. Tak dipungkiri, pada awalnya banyak kalangan yang menganggap enteng gerakan tersebut, tapi bagi Gerindra gerakan minum susu merupakan program kerja yang sangat strategis. Faktanya, kini gerakan serupa dilakukan banyak pihak. Karena sadar atau tidak, data menyebutkan untuk kawasan Asia Tenggara saja, Indonesia berada di posisi terbawah dalam hal konsumsi susu.

“Kita jangan melihat hasilnya sekarang. Tunggu 10 sampai 15 tahun mendatang, jika gerakan ini simultan, yakinlah generasi kita akan menjadi generasi yang mumpuni. Hal itu juga sudah dilakukan India dan China,” tegas Prabowo Subianto.

Diakuinya, gerakan Revolusi Putih ini, terinspirasi dari India yang telah menerapkan program itu sejak 20 tahun yang lalu. Padahal, sebelumnya India dikenal sebagai negara miskin dan terbelakang. Tapi lihat sekarang, India telah menjadi negara industri baru yang maju di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Sementara di China, gerakan ini sudah dimulai sejak tahun lalu.

Boleh jadi, faktor kemiskinan yang memaksa sebagian masyarakat jarang mengkonsumsi susu. Hal ini menyebabkan daya beli susu yang kurang. Itu disebabkan pengaruh faktor harga susu yang mahal, dan faktor di dalam industri susu Indonesia yang tidak bisa membidik semua kalangan. Oleh karenanya, dalam setiap kesempatan, Prabowo dan Partai Gerindra mengajak setiap elemen masyarakat, untuk menyisihkan sebagian rejekinya untuk membeli susu cair kemasan kecil secara rutin, dan berikan kepada anak-anak kecil yang kurang mampu di komunitas masing-masing.

Sementara bagi Saifuddin Donodjoyo, anggota DPR-RI dari Fraksi Gerindra menilai Gerakan Revolusi Putih tak ubanya sebagai gerakan ‘hijrah’ rakyat Indonesia yang masih enggan minim susu, apapun alasannya. “Gerakan minum susu merupakan program strategis Gerindra dalam pembangunan manusia Indonesia yang handal sebagaimana yang dilakukan Jepang, India dan China,” tegasnya.

Jauh sebelum gerakan ini dicanangkan Partai Gerindra, program serupa telah dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Sinjai dengan memproduksi susu sapi produksi masyarakat setempat berlabel Susu Sinjai (SuSin) dibawah pimpinan Bupati Andi Rudiyanto Asapa, SH, LLM –yang tak lain adalah Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Sulawesi Selatan.

Ya, program minum susu bagi anak-anak di daerah tersebut telah dimulai sejak tahun 2004. Bahkan kini, susu lokal bermerek Susin itu sudah dibungkus dengan kemasan industri yang tentunya lebih higienis. Kini sebaran susu kemasan yang dibagikan gratis kepada anak sekolah TK dan SD di seluruh wilayah Kabupaten Sinjai itu sudah merambah hingga ke ibukota propinsi Sulawesi Selatan, Makassar.

“Walaupun harganya lebih murah karena merupakan produk lokal, SuSin yang kami berikan gratis kepada anak-anak kurang mampu itu diproduksi dengan kontrol dan uji kualitas yang sangat ketat di Kabupaten Sinjai. Kami bertekad gerakan ini berkesinambungan dan berharap mendapat respon nyata dari pihak lain demi mewujudkan revolusi putih bagi peningkatan kualitas generasi masa depan negeri kita,” ujar Rudiyanto yang baru-baru ini juga merilis pupuk organik berlabel Garuda Hambalang pada perayaan HUT Kabupaten Sinjai, Senin (27/2) lalu.

Menyikapi hal ini, Prabowo Subianto merasa bangga dengan terobosan yang dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Sinjai. Pasalnya, apa yang tengah digalakkannya itu sudah dilakukan oleh masyarakat daerah itu. “Mungkin dari sekitar 490 bupati dan walikota di Indonesia, baru Sinjai yang melakukan hal itu,” ujar Prabowo Subianto saat melantik pengurus DPD Partai Gerindra Sulawesi Selatan, beberapa waktu lalu.

Derasnya Dukungan dan Tantangan

Tak dipungkiri lagi gaung program Partai Gerindra ditopang dengan nama besar Prabowo Subianto mulai membahana. Faktanya jutaan anak negeri mau menyempatkan diri berdiskusi lewat pertemuan maupun melalui jejaring sosial yang tengah digandrungi masyarakat. Tak hanya kalangan elite politik ibukota, supir angkot, tukang ojek, buruh bangunan, petani garap, penikmat warung kopi, aparatur desa di seluruh pelosok nusantara ini tengah asyik berbincang tentang ‘gerakan’ Partai Gerindra dan sosok Prabowo.

“Saya bangga, sebab negeri ini memiliki tokoh terbaiknya yang telah berjanji akan berdiri tegak diatas kekuatan kaki sendiri. Bukan kekuatan asing dan kapitalisme yang telah mencekik leher rakyat negeri ini,” ujar Slamet seorang petani bawang asal Losari, ketika berbincang dengan Garuda beberapa waktu lalu.

Boleh jadi, aneka ragam perbincangan seputar Partai Gerindra dan Prabowo Subianto bukan sekadar sebagai bentuk dukungan masyarakat terhadap partai berlambang kepala burung garuda ini maupun terhadap sosok calon presiden 2014 ini, tapi merupakan tantangan yang harus dihadapi.

Hal ini ditegaskan oleh Ketua PIRA, Dr Ir Endang Setyawati Thohari, DESS, M.Sc, bahwa setalah empat tahun Partai Gerindra bergerak bersama rakyat, maka partai beserta mesin-mesin partai harus tetap menjaga ritme solidaritas agar bisa memenangkan setiap laga percaturan sosial politik di Indonesia. Pertanyaan mendasarnya adalah kemenangan yang kita raih, apakah dapat memberikan kemanfaatannya bagi kemakmuran rakyat Indonesia dan sukses untuk membangun kembali Indonesia raya. “Inilah tantangan kita bersama,” ujarnya.

Menurut dia, tantangan yang lebih besar adalah ketika kemenangan itu benar-benar Gerindra raih. Apakah Gerindra dapat merubah sistem dan menjadi lebih baik? “Karena perubahan adalah tantangan, maka tantangan itu sudah dijawab oleh Gerindra dengan delapan program aksi,” tuturnya. Karena tantangan itulah, Gerindra terus bergerak untuk rakyat. [G]

* Catatan : Artikel ini ditulis dan dimuat di Majalah GARUDA, edisi 15/Maret/2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s